Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 November 2009

NOVIYANTO AJI JADI RAJA


Ayahanda:
Anakku, lihatlah duniamu yang sekarang ini, semua berada pada puncaknya, ada kalanya manis dan indah bukan? Tetapi ketahuilah, bahwa puncak itu tak kan ada jika di bawahnya tak ada landasan yang kuat yang mendungkungnya. itulah ibarat rakyat kecil, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya yang saat ini ada pada dirimu. Mereka adalah: tanganmu, kakimu, kepalamu, hidungmu, telingamu, matamu, mulutmu.

Bunda:
Oleh sebab itu, jikalau Tuhan memang mentakdirkan dirimu menjadi raja atas rakyat kecilmu, janganlah kau lupa kepada mereka yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan warisan nenek moyangmu. Maka, cintailah dan hargailah rakyatmu, terutama mereka yang begitu mencintai dan menghargaimu. Nah, Anakku Noviyanto Aji, setelah ini akan kau bawa kemana mereka? Yah, itu semua tergantung kamu, Anakku...

Noviyanto Aji:
Ayah dan bunda, mohon ampun bila keputusan saya tak sesuai dengan keinginan ayah-bunda, namun demi pertimbangan kemanusiaan: saya berkeberatan untuk menerima mahkota dan singgasana kerajaan.
Bagi saya tidaklah penting siapa yang duduk di atas singgasana dan menjadi raja, sebab kunci pelepas kesengsaraan kaum pribumi, yaitu seluruh bangsa kita tidak terletak pada soal: siapa yang menjadi raja, namun jawaban atas satu pertanyaan: siapakah yang mau berjuang membebaskan rakyat kita ini dari kemiskinan, kebodohan, keruwetan dan segala permasalahan ini. Sejatinya, selama saya bisa mengejawantah pada rakyat saya, itulah sebenar-benarnya raja yang melebihi segala raja.

Kamis, 26 November 2009

IBU....

Aku lahir dari perut ibu..
(bukan kata org...memang BENARKAN !!!.... ..)

Bila dahaga, yang susukan aku.....ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku....ibu

Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu

Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut....Ibu

Bila bangun tidur, aku cari....ibu

Bila nangis, orang pertama yang datang ....ibu

Bila ingin bermanja, aku dekati....ibu

Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu

Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu

Bila nakal, yang memarahi aku....ibu

Bila merajuk, yang membujukku cuma....ibu

Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....ibu

Bila takut, yang menenangkan aku....ibu

Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu

Aku selalu teringatkan ....ibu

Bila sedih, aku mesti telepon....ibu

Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu

Bila marah.. aku suka meluahkannya pada...ibu

Bila takut, aku selalu panggil... "ibuuuuu! "

Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu

Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga....ibu

Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku....ibu

Bila aku ada masalah, yang paling risau.... ibu

Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu

Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...ibu

Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal.....ibu

Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku....ibu

Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu

Yang selalu memuji aku.....ibu

Yang selalu menasihati aku....ibu

Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ....ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri....

Bila senang, aku cari....pasanganku

Bila sedih, aku cari....ibu

Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku

Bila gagal, aku ceritakan pada.....ibu

Bila bahagia, aku peluk erat.....pasanganku

Bila berduka, aku peluk erat.....ibuku

Bila ingin berlibur, aku bawa....pasanganku

Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu

Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku

Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"

Selalu.. aku ingat pasanganku

Selalu.. ibu ingat aku

Setiap saat... aku akan telepon pasanganku

Entah kapan... aku ingin telepon ibu

Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku

Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:

"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja....masih ingatkah kau pada ibu?

tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".

Berderai airmata jika kita mendengarnya. .......

Tapi kalau ibu sudah tiada....... ...

IBUUUU...RINDU IBU.... RINDU SEKALI....

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....

Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....

Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....

Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya......

Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya......

dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya...

NOTE: INI KEMARIN AKU DIKIRIMI PUISIA LEWAT EMAIL OLEH TEMANKU. SEMOGA KALIAN MENGHORMATI IBU KALIAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT.

Jumat, 07 Agustus 2009

SINOPSIS: TUHAN DI BAWAH KEDUA TELAPAK KAKIKU


Buku ini menampilkan sebuah perjalanan spiritual anak manusia dalam mencari identitas diri. Pada awal perjalanannya semula berupa kegundahan dan kenekatan setelah cintanya terhadap Kayla terombang-ambing antara kenyataan dan maut. Saat itulah cemburu tiba-tiba mengamuk. Kehidupan sang tokoh yang tenang tiba-tiba terusik oleh keterancaman janji-janji yang tiada terealisasi. Berbekal motor butut peninggalan ayahandanya serta modal pas-pasan, sang tokoh kemudian melakukan perjalanan jauh hingga daya tahannya terkuras habis.

Selama melakukan perjalanan berkeliling ia sering didera cemooh, pujian, lapar dan dahaga, kepanasan, kehujanan, serta sakit. Sebaliknya, bertemu orang-orang di bawahnya justru menjadi penghilang dahaga. Mengesampingkan urusan pribadi adalah penghibur laranya.

Dengan profesinya sebagai jurnalis, sang tokoh melibatkan diri dalam pertarungan batin yang maha dahsyat. Kini perjalanannya bukan lagi mengenai pertarungan cinta, bahwa baginya martir cinta hanyalah sebuah judul yang cocok untuk lagu-lagu cengeng. Bukan pula tentang pemberontakan serta kebebasan yang kerap didamba-dambanya, melainkan mengenai jagat manusia yang sarat akan sejuta pemikiran dan permasalahan. Bahwa semua yang dilahirkan memulai hidup tanpa mempunyai sesuatu tak terkecuali tubuh maupun nyawanya sendiri. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Bahwa semua pasti akan mati, itu pasti. Tapi kapan dan bagaimana kematian tidaklah penting dan tak perlu kisruh memikirkannya. Siapa yang siap, itulah intinya.

Banyak hal-hal yang disajikan oleh sang tokoh; dari keberagaman sosial, budaya, serta ideologi suatu kelompok. Pun penceritaan sejarah manusia dihaturkannya dengan kepekaan tinggi. Mengenai keimanan sang tokoh, tentu penyajiannya disampaikan dengan sangat gamblang, dinamis serta progresif. Sang pengarang dalam tokoh rupanya tidak mempersonifikasi diri sendiri sebagai pengarangnya langsung, atau bahkan si tokoh adalah orang lain, itu bisa saja terjadi. Tapi yang pasti tokoh ini menjadi saksi inteletual atas kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang dialami di tengah perjalanan hidupnya. Dia membuat seolah-olah perjalanannya begitu mudah sehingga dapat dilakukan oleh semua orang tanpa suatu kepayahan apapun.

Perjalanan ini telah memberi ruang pemahaman bagi sang tokoh tentang satu makna yang tak diperkirakan sebelumnya. Ia sadar ternyata menjadi manusia itu tidak gampang. Kita hanya cukup menjadi manusi...tanpa huruf ‘A besar’. Sebab huruf ‘A’ adalah milik Allah. Dari sini perjalanannya kemudian melenceng dari yang direncanakan. Dari kekesalan cinta menjadi kerinduan yang membahana di dinding-dinding arasy. Dari permberotakannya menuju kebebasan justru kian mendekatkannya kepada Yang Dicintai. Demikian pula permasalahan yang ditemuinya membuatnya menjadi sosok pemabuk yang sakitnya hanya dapat disembuhkan dengan permohonan cinta yang suci dan tulus terhadap Sang Kekasih. Bahkan dari kedua telapak kakinya ia merasa ditampakkan (tajalli) Al-Haq.

Selasa, 23 Desember 2008

Aku, Omar Hen

(sebuah apologi)

Oleh: Hujan

Pelarian ini begitu melelahkan. Betul, kupikir-pikir demikian. Aku, Omar Hen, bapakku langit dan ibuku bumi. Puluhan tahun aku sudah berlari, melarikan diri dari identitasku sendiri.

Aku sudah lelah untuk berlari dan sembunyi. Tapi kenyataannya, sekarang aku sudah letih. Dan tak punya semangat lagi untuk melanjutkan kesendirianku.

Aku kesepian. Di dalam pelarianku, aku kesepian. Omar Hen, anak langit dan bumi ini kesepian sepanjang jaman.

Didalam pengasinganku, aku selalu berpikir, kenapa ini semua aku lakukan? Apakah aku begitu pegecut untuk menghadapi kenyataan, sehingga harus memutuskan membunuh diri dan hidup menjadi orang lain, orang lain yang hingga hari ini masih asing dan agaknya akan terus terasa asing. Oh Tuhan, aku Omar Hen, lelaki sepuh dan misterius. Lelaki yang tak mengerti apa sebenarnya yang ingin kucari.

Dulu aku pernah buat kesalahan. Tapi kesalahan itu tak begitu saja menjadi alasan untukku pergi melarikan diri. Mungkin kesalahan itu fatal. Dan itu membuatku menjadi orang yang tidak percaya pada siapapun, bahkan pada diri sendiri. Kesalahan itu membuatku hilang dalam kesuraman sejarah masa silam. Aku kesepian. Aku Omar Hen, hanya berteman pada langit yang menjadi bapakku, dan bumi yang menjadi ibuku.

“Kau harus selesaikan permainan ini Omar,”
“Belum saatnya,”
“Kau harus pulang,”
“Nanti saja,”
“Kau sudah renta Omar, tak pantas lagi untuk sembunyi, sudahlah, kau pasrah saja,”
“Tidak, aku masih kuat. Aku masih kuat untuk berlari dan menemukan tempat persembunyian baru lagi,”
“Kau mesti menyerah, dunia sudah berubah, semua sudah terdokumentasi pada relif tertatah. Sejarah tinggal sejarah. Semua orang sudah melupakanmu, melupakan kebodohanmu,”

Aku terdiam. Bayangan masa silam itu menghampiriku.

Aku, Omar Hen, bapakku langit ibuku bumi. Sekarang aku dipaksa menyerah dan menanggung malu pada diri sendiri? Tidak! Aku harus bertahan, menyembunyikan rahasiaku, serapat mungkin. Bahkan dari kemungkinan bayangan masa silam yang berkhianat.

“Aku Omar Hen yang asli!”
“Kau?”
“Iya,”
“Gila!”
“Aku tidak gila, kalian salah, aku tak pernah mati, aku selalu hidup dan terus berperang melawan diri sendiri!”
“Mana mungkin. Omar Hen sudah tewas berpuluh tahun yang lalu. Sekarang, bahkan dia telah menjadi pahlawan. Pahlawan di hati rakyat semesta. Kau, orangtua, jelek dan pikun, pulanglah, dan simpan ocehan subversifmu itu,”

Sejak itu, aku tak berani lagi mengaku sebagai si Omar Hen yang asli, Omar Hen yang berbapakkan langit dan beribukan bumi, pendekar negeri, yang gagal dan melarikan diri saat revolusi terhenti. Sebab bila aku berani mengaku sebagai aku lagi, maka mereka akan segera memasukkan ke dalam bui. Aku diancam, aku dipaksa untuk tidak mengaku, bahwa aku adalah aku, sekian puluh tahun yang lalu.

“Omar Hen itu pemberani, dia menentang iblis kapitalis dengan seorang sendiri,”
“Betul, dia mengorbankan dirinya, demi rakyat semesta,”
“Tak mungkin dia masih hidup,”
“Dia sudah mati, mati dalam keadaan terhormat dan dengan rasa khidmat yang tinggi pada tanah dan air,”
“Omar Hen adalah pahlawan di hati kami,”
“Jangan ganggu, dan coba mengaku-aku,”
“Omar Hen sudah mati, buku sejarah manapun menuliskan itu,”
“Dia pahlawan yang menghilang bersama keberaniannya, namun semangatnya tetap ada dan hadir di hati kami,”
“Sana, pergi!”
“Pergi, atau kami panggil polisi,”

Sepertinya, aku memang ditakdirkan sendiri. Menjadi zombie, keliaran bebas sebagai Omar Hen yang terus berlari, entah dari apa.

“Kalau kau memang Omar Hen, muncullah dan mengaku saja,”
“Omar Hen itu satria, dia bukan pengecut. Paling tidak begitulah kata sejarah,”

Aku paling tahu siapa Omar Hen. Sebab aku, Omar Hen yang berbapakkan langit dan beribukan bumi, adalah pendekar penentang iblis kapitalis. Aku masih ingat pertempuran itu. Meski sudah berpuluh-puluh tahun, aku masih ingat dengan jelas sekali. Lebih jelas dari sejarah yang dituliskan pusat dokumentasi negeriku sendiri. Bagiku, penulis sejarah tentangku sama sekali tak mengenalku.

Baiklah, aku Omar Hen, bertanggung jawab meluruskan kesalahan itu. Tapi bagaimana bisa? Sekarang, untuk mengaku saja aku tak bisa. Aku dipaksa untuk menutup mulutku ini. Padahal, berpuluh tahun yang lalu, apapun yang keluar dari mulutku ini selalu di dengar rakyat semesta. Oh Tidak. Benarkan aku bukan Omar Hen? Omar Hen yang berbabakkan langit dan beribukan bumi. Omar Hen yang bertarung melawan iblis kapitalis. Omar Hen yang tiba-tiba menghilang, bahkan dari ingatanku sendiri.

Aku pernah berpikir untuk membawa mati rahasia ini. Tapi tidak mungkin. Apa kata bumi, jika nanti mereka menerima jasadku, sementara rahasia yang selama ini selalu turut kemana aku pergi belum juga dibongkar. Apa kata langit yang akan menerima rohku, jika aku datang padanya, dalam keadaan nista? Tidak istikomah. Tidak sesuai dengan arah sejarah?

Aku tak pernah lagi berpikir untuk membawa mati rahasia ini. Aku harus mencari seseorang yang mau mendengar kisahku, yang mau percaya bahwa aku adalah Omar Hen, si anak hilang yang dianggap mati dan diberi gelar pahlawan.

Tapi siapa? Siapa yang sudi mendengar kisahku ini? Hantu? Hantu teman-temanku? Teman-temanku seperjuangan yang telah mati, namun tak mendapatkan gelar apapun dari sejarah? Sungguh aku tak mau membuat mereka kecewa dua kali. Aku tak akan mengisahkan ini kepada mereka. Mereka lebih tahu apapun soal sejarahku dibandingkan aku sendiri.

Kisah ini harus kubongkar! Tidak bisa tidak! Semuanya harus jelas. Sekarang aku sudah mau mati. Aku mau pergi dalam keadaan bersih. Aku mau ada orang yang mendengarkan kisahku. Mengakui bahwa akulah si Omar Hen, anak langit dan bumi yang pergi bertempur melawan iblis kapitalis, namun hilang…

Iya, aku ingat sekarang. Aku ingat ada di mana aku saat pertempuran itu terjadi. Aku melihat teman-temanku pergi menyerahkan kepalanya. Iya, mereka pergi dengan harapan bisa memenangkan pertempuran lewat pengorbanan mereka. Ah… tapi di mana aku?

Aku tak melihat diriku diantara mereka. Ah… ada di mana aku? Mengapa aku tak ada di sana pada saat eksekusi mati dilakukan kepada teman-temanku. Aku, aku menghilang… aku menghilang di dalam ingatanku. Oh, Tuhan, aku Omar Hen. Bagaimana mungkin aku melupakan bagian yang itu? Bagian yang menentukan apakah aku ini seorang pejuang atau pecundang.

Betul-betul aku tak bisa mengingat itu. Tapi aku mau mengisahkan ini semua kepada orang lain. Aku berjanji akan mengisahkan seluruh peristiwa menyeramkan itu semua, tanpa ada yang dikurang-kurangi dan ditambah-tambahi.

Namun, untuk bagian itu, bagian di mana aku berada saat maut menghampiri teman-temanku, aku tak bisa mengisahkannya. Ini bukan sesuatu yang harus ditutupi. Ini bukan hal yang memalukan. Mereka mati dan aku hidup. Bukan itu ukuran pahlawan dan pecundang. Hanya saja, aku memang tak dapat mengisahkannya. Aku lupa. Itu saja.
Aku tidak ingat dimana aku. Lupa itu hal wajar. Jangankan satria, presiden pun bisa lupa.

Pelarian ini begitu melelahkan. Aku ingin jujur, tapi tak ada yng mau mengerti dan menghargai kejujuranku. Agaknya hari ini rakyat semesta sudah tak lagi percaya dengan fakta. Atau jangan-jangan, mereka sudah tak bisa membedakan mana fakta, mana kebohongan belaka. Ah aku tak ambil pusing soal itu.. Sekarang yang aku pusingkan adalah, aku ingin mati dengan keadaan bersih. Sebersih bayi yang tak memiliki catatan sejarah apapun, kejahatan apapun, kecuali membuat sang ibu sakit dan terluka saat melahirkan.

“Mumpung sejarah kita masih carut marut, kau mengaku sajalah,”
“Aku mau, tapi bagaimana caranya?”
“Kau bisa buat buku sendiri. Sejarah dalam versimu,”
“Sejarah dalam versiku?”
“Tentu saja. Semakin kontroversial, maka bukumu akan semakin laku. Dan itu akan menjadikan kau seagai jutawan baru. Bayangkan, jutawan baru!”
“Hantu kau! Pergi!”

Tiada sesuatu apapun yang ada di balik niat pengakuanku ini. Demi bapakku langit dan ibuku bumi. Aku hanya ingin mengaku, agar semuanya jelas. Agar aku bisa mati dengan sukses. Tenang dan damai.

Aku mengaku karena aku ini adalah Omar Hen. Sosok yang selalu dirindukan, dan dinantikan kehadirannya.

“Tak ada yang menantikanmu bodoh!”
“Sudahlah, kau itu sudah mati. Lebih baik bagimu, kalau kau menganggap semuanya sudah seperti ini,”
“Kau hanya akan memerumit jalannya sejarah,”
“Pengakuanmu hanya akan membuat pengagummu berubah menjadi benci,”
“Kau akan kehilangan penggemar,”

Stop! Berhenti! Aku mengaku karena aku Omar Hen. Aku tak takut apakah nantinya akan ada orang yang merasa tertipu dengan sejarahku. Biarkan saja. Ini semua akan menjadi sejarah baru. Sejarah yang akan selalu diingat bahwa Omar Hen tidak mati. Omar Hen hidup. Namun…

“Hahaha, kenapa kau masih hidup? Kau takut mati ya?”
“Tidak, aku tidak takut. Aku mengerti harga yang harus kubayar,”
“Lantas mengapa kau tak mati?”
“Aku tak mati karena aku menghilang,”
“Kau? Menghilang? Menghilang kemana?”
“Aku menghilang,”
“Kemana?”
“Aku… aku menghilang… begitu saja,”
“Hahaha….Penipu, pengecut!”

Namaku Omar Hen. Aku masih berlari, dari kisah hidupku sendiri. Sebenarnya aku sudah lelah dan ingin mati. Tapi tak bisa. Bukan apa-apa, sebab belum ada orang yang sudi mendengar pengakuanku.

Aku Omar Hen yang asli. Sekian puluh tahun aku berusaha keras menguak kisah ini. Tapi tak bisa. Aku tak berani.

Palmerah, 13 Agustus 2008

Kamis, 11 Desember 2008

AL-HALLAJ -- "ANA AL-HAQ"

Husain ibn Mansur al-Hallaj barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran”, ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid’ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.

Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, “Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, ‘Akulah Kebenaran’, padahal itu kata-kata Allah sendiri!”. Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, “Kata-kata ‘Akulah Kebenaran’ adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir’aun adalah kezaliman.”

Kehidupan Al-Hallaj
Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.

Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj. Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasika n apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur’annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.

Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu.

Al-Hallaj bergaul dengn Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, (Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasan politis lantaran hubungan al-Aqta) Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.

Enam tahun berlalu, dan pada 892M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan setiap hari dihabiskannya dengan puasa dari siang hingga malam hari. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid.

Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menunjukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.
Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.
Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya.

Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.

Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.

Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.

Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, “Akulah Kebenaran” (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi “hewan kurban”. Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. Ia menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginkan tiang gantungan.

Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: “Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh.” Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, “Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka.”

Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan kelas penguasa. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat dan, dengan harapan meraih kekuasaan, berusaha memanfaatkan pengaruhnya pada masyarakat untuk menimbulkan gejolak dan keresahan. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial. Di atas segalanya, berbagai gejolak pun muncul dan sudah pasti berakhir secara dramatis.

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangan nya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Tak lama kemudian, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Demikian, al-Hallaj dibunuh secara brutal. Akan tetapi ia tetap hidup dalam kalbu orang-orang yang merindukan capaian rohaninya. Dengan caranya sendiri, ia telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih Berbagai legenda dan kisah tentang al-Hallaj Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar –penggaru segenap Kalbu– karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.

Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini:
Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan.

Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. “Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak sedemikian jauh dalam waktu singkat”! serunya.

Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

Al-Hallaj terkenal bukan hanya karena keajaibannya, melainkan juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego)-nya dari setiap agama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat wajib, dengan shalat wajib ini ia melakukan wudhu jasmani secara sempurna.

Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya –yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani.
Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, “Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar.”

Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejumlah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid’ah, “Akulah Kebenaran.” Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, “Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain (al-Hallaj) telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian.”

Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, “Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan. ” al-Hallaj di jebloskan ke penjara. Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara mencari-carinya. Mereka heran. Ternyata selnya kosong. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang!

Pada malam ketiga, segala sesuatunya kembali normal. Para sipir penjara itu bertanya, di mana engkau pada malam pertama? ia menjawab, “pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali!”

Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: “Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini,” kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. “Engkau tidak ikut bersama kami?” tanya mereka “Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!” jawabnya

Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua.
“Mengapa engkau tidak sekalian pergi?” tanya mereka.
“Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman,” jawabnya.

Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, “Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!” Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, setiap kali pukulan mengenai tubuhnya terdengar suara gaib berseru, “Jangan takut, putra Manshur.”

Mengenang hari itu, seorang sufi syekh Shaffar, mengatakan aku lebih percaya pada akidah sang algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Sang algojo pastilah mempunyai akidah yang kuat dalam menjalankan Hukum Ilahi sebab suara itu bisa didengar demikian jelas, tetapi tangannya tetap mantap.

Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, “Haqq, Haqq, ana al-Haqq –Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran.”

Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan mengetahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.

Al-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. “Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?” tanya orang-orang. “Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku, ” jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian:
Kekasihku tak bersalah Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,
laksana tuan rumah perhatikan sang tamu Setelah berlalu sekian lama,
dia menghunus pedang dan menggelar tikar pembantaian Inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama bersama dengan singa tua di musim panas.

Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu.

Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, “Apa itu tasawuf?” al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. “Adakah yang lebih tinggi dari ini?” tanya Syibli “Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya! “, jawab al-Hallaj. Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, “Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?”

Al-Hallaj menjawab, “Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik.”

Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, “Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?

Al-Hallaj menjawab “Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya. ”

Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, “Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah.” (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, “Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya! ”

Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah.
“Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?” tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati.

“Mengapa,” tanya mereka, “Engkau membasahi lenganmu dengan darah?” Ia menjawab, “Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah.”

Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, “Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu. ” Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur’an:

“Orang-orang yang mengingkari Hari Kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar.”
Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase “Cukuplah sudah satu kekasih.”

Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Setiap bagian tubuhnya berseru, “Akulah kebenaran”, sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.

Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. Malahan, abu jenazahnya berseru,

“Akulah Kebenaran.”

Al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir, pada hari ketiga ketika abu jenazahnya diterbangkan oleh angin ke sungai. Permukaan air pun terbakar, air mulai naik, dan sang pembantu melakukan apa yang diperintahkannya, permukaan air pun surut, api padam, dan abu jenazah al-Hallaj pun diam.

Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, “Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami.”

Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, “Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?” Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. Keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.(@lang2)

Senin, 17 November 2008

JAMUS KALIMOSODO


Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat
adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).
ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).
ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.
Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.
Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.
artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

NGELMU KYAI PETRUK

Kuncung ireng pancal putih,
Swarga durung weruh,
Neraka durung wanuh,
Mung donya sing aku weruh,
Uripku aja nganti duwe mungsuh.

Ribang bumi ribang nyawa,
Ana beja ana cilaka,
Ana urip ana mati,
Precil mijet wohing ranti,
Seneng mesti susah,
Susah mesti seneng,
Aja seneng nek duwe,
Aja susah nek ora duwe.

Senenge saklentheng susahe sarendheng,
Susah jebule seneng,
Seneng jebule susah,
Sugih durung karuan seneng,
Ora duwe durung karuan susah,
Susah seneng ora bisa disawang,
Bisane mung dirasakake dhewe.


Kapiran kapirun sapi ora nuntun,
Urip aja mung nenuwun,
Yen sapimu masuk angin tambanana,
Jamune ulekan lombok,

Bawang uyah lan kecap,
Wetenge wedhakana parutan jahe,
Urip kudu nyambut gawe.

Pipi ngempong bokong,
Iki dhapur sampurnaning wong,
Yen ngelak ngombea,
Yen ngelih mangana,
Yen kesel ngasoa,
Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi,
Bokong padha bokong,
Pipi dudu bokong,
Onde-onde jemblem bakwan,
Urip iku pindha wong njajan,
Kabeh ora bisa dipangan,
Miliha sing bisa kepangan,
Mula elinga dhandhanggulane jajan.

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji,
Le ngaji nyang be jadah,
Gedang goreng iku rewange,
Kepethuk si alu-alu,
Nunggang dangglem nyengkelit lopis,
Utusane tuwan jenang,
Arso mbedhah ing mendhut,
Rame nggennya bandayudha,
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji,
Patinira kecucuran.

Ki Daruna Ni Daruni,
Wis ya, aku bali menyang Giri,
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi,
Lho ratu kok kadi pak tani?,

Sumber: buku Air Kata-Kata, karangan Sindhunata.

Kamis, 04 September 2008

DUA PEKERJAAN PENULIS

Selama ini mungkin Anda mengira pekerjaan seorang penulis adalah menulis, mengirimkannya kepada penerbit. Kemudian Anda tinggal duduk manis di rumah, bersantai, sambil merem melek membayangkan berapa besar royalti yang akan dibayarkan kepada Anda.

SALAH BESAR. Uraian di atas hanyalah satu dari dua pekerjaan seorang penulis. Pekerjaan lain yang HARUS dilakukan seorang penulis adalah MENJUAL. Ya betul. Anda harus menjual.

Tunggu sebentar! Mungkin ada yang menolak untuk melakukannya. Pikirnya, daripada saya repot-repot menjual buku kesana kemari, mendingan saya menulis buku lagi. Kan lebih banyak buku, lebih banyak royalti. Merem meleknya bisa lebih afdol. Urusan menjual, serahkan saja ke penerbit. Yah, hidup memang pilihan. Anda bisa memilih cara seperti ini. Tetapi sebelum Anda memilih jalan ini, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan.

Jangan biarkan hanya penerbit yang melakukannya untuk Anda. Itu adalah hasil karya yang Anda kerjakan siang malam. Kebanyakan penerbit tidak mengetahui persis yang Anda tulis. Andalah yang tahu persis isi buku Anda. Maka tenaga penjual yang paling hebat adalah Anda sendiri.

Karena Anda yang paling mengetahui isi buku Anda, maka tentu saja Anda mengetahui siapa saja yang mau membeli buku Anda. Jaringan penerbit kemungkinan tidak akan sanggup menggapai semua kalangan. Misalnya Anda menulis buku tentang hobi fotografi. Belum tentu semua orang yang gemar fotografi akan berada di toko buku. Justru mereka sedang asyik memotret di luar. Andalah yang perlu mendatangi mereka, dan menceritakan tentang buku Anda. Andalah yang paling tahu calon konsumen buku Anda .

Ingat bahwa Anda bukan satu-satunya penulis. Misalnya Anda menulis tentang fotografi, ada juga orang lain yang menulis tentang fotografi. Lalu bagaimana orang akan memilih buku Anda. Pesaing Anda juga belum tentu buku tentang fotografi, tetapi juga buku lain. Di era ekonomi sulit seperti ini, orang akan cenderung mengurangi jatah menjual buku. Maka Anda harus aktif menjual buku Anda sendiri.

Sekali lagi, Anda bukan satu-satunya penulis. Penerbit kebanyakan memiliki banyak stok penulis. Kalau ada penulis yang bukunya best seller, penerbit dengan senang hati memberikan waktu dan perhatian lebih untuknya. Dibuatkan acara temu penulis, tanda tangan, konperensi pers, seminar, dll. Bagaimana dengan penulis lainnya, yang justru kebanyakan adalah penulis mid seller, bukunya terjual biasa-biasa saja. Ya, cuma gigit jari. Kecuali kalau Anda mengusahakan sendiri.

Ingat pula bahwa dengan menjual, Anda juga meningkatkan nilai Anda di mata penerbit. Jika buku Anda terjual dengan baik, untuk buku selanjutnya penerbit akan menerima kedatangan Anda dengan senyum manis. Kalau buku Anda tidak laku, penerbit akan berpikir dua, tiga bahkan seribu kali untuk menerbitkan buku Anda. Amit-amit, penerbit tidak akan mau kejeblos dua kali dengan penulis yang sama.

Dengan alasan-alasan di atas, apakah kini Anda berniat menjual buku Anda? Jika ya, berarti Anda benar-benar menjadi seorang penulis sejati.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara menjualnya. Beberapa orang akan dengan sigap memesan buku dari penerbit, kemudian dengan gaya seorang salesman berusaha menjual kepada setiap orang yang ditemui. Bukan seperti itu maksudnya. Cara di atas hanya satu dari pengertian menjual yang dimaksud di sini. Pengertian menjual di sini lebih luas lagi. Pengertian ini akan dibahas dalam tulisan lain.

PASAR BUKU NONFIKSI >> Kiprah Penerbit Menaklukkan Pasar Buku Serius

MEMASARKAN buku-buku nonfiksi, terlebih bertema serius, tebal, tampaknya menjadi momok bagi sebagian besar penerbit di negeri ini. Pengalaman menunjukkan, antusiasme masyarakat mengonsumsi buku-buku semacam ini minim, terlebih jika buku semacam ini dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi.

FAKTA semacam ini pula yang mengindikasikan kurang bergairahnya produksi buku-buku nonfiksi-di luar kategori buku pelajaran sekolah-jika dibandingkan dengan buku-buku fiksi. Sebagai gambaran, data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 eksemplar per judulnya. Angka ini menunjukkan, penjualan buku-buku nonfiksi terbawah tidak lebih dari separuh bagian buku-buku fiksi.

Sekalipun fakta mengungkapkan kondisi betapa tertinggalnya pemasaran buku-buku nonfiksi, hal itu tidak membuat surut langkah sebagian penerbit untuk tetap berkreasi memasarkan buku-buku serius semacam ini. Fakta pun menunjukkan, tidak jarang buku-buku demikian menuai sukses di pasaran.

Buku Batas Nalar karya Donald B Calne terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, misalnya, berhasil mematahkan argumen itu. Buku setebal 458 halaman yang membahas soal wawasan baru tentang hakikat dan peran nalar yang sesungguhnya ini sekarang telah dicetak ulang tiga kali dengan oplah sekitar 8.000 eksemplar, dalam tempo hanya tujuh bulan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila buku tersebut sempat tercatat menjadi salah satu buku laris untuk kategori buku nonfiksi di Pustakaloka edisi bulan Mei lalu.

Larisnya buku-buku dengan tema serius seperti yang terjadi pada buku Batas Nalar ini paling tidak telah memupus anggapan orang selama ini bahwa buku berat atau serius akan sulit terserap oleh pasar. Sebagai gambaran, buku serius yang umumnya merupakan buku nonfiksi bisa terjual 3.000 eksemplar dalam kurun waktu satu tahun sudah tergolong sangat bagus untuk ukuran dunia perbukuan di Indonesia. Umumnya, buku-buku nonfiksi dengan oplah 1.000 hingga 3.000 eksemplar baru terserap seluruhnya oleh pasar dalam waktu tidak kurang dua tahun.

Memang diakui, di belahan dunia mana pun buku nonfiksi sulit menandingi buku fiksi dalam soal jumlah penjualannya. Selain karena isinya kerap dianggap tidak semenarik buku fiksi, target pembacanya pun umumnya khusus dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh buku-buku yang bertutur tentang teori filsafat, mereka yang akan membaca atau membeli buku tersebut hampir bisa dipastikan merupakan kalangan yang sangat terbatas, seperti ahli filsafat, dosen filsafat, mahasiswa yang tengah mengambil mata kuliah filsafat. Buku semacam ini memang tidak menampik kehadiran pembeli dari luar kalangan itu, tetapi dipastikan jumlahnya sangat terbatas.

Hal ini sangat berbeda dengan buku fiksi. Buku fiksi, seperti novel serial teenlit yang saat ini digemari kaum remaja, penjualannya untuk satu judul dengan mudah bisa menembus angka puluhan ribu eksemplar dalam waktu kurang dari satu tahun.

Kendati sulit untuk menandingi omzet penjualan buku fiksi, dengan menarik pengalaman buku Batas Nalar, buku-buku nonfiksi pun tidak tertutup kemungkinan bisa laris di pasar. Persoalannya, apa yang harus dilakukan agar buku-buku serius itu bisa diserap dengan baik oleh masyarakat?

Menurut pengamat perbukuan Frans Parera, paling tidak ada dua kondisi yang perlu diciptakan agar buku bisa diserap secara luas. Pertama, menyangkut aspek psikologis yang di dalam teori pemasaran disebut segmentasi atau pengklasifikasian produk. "Segmentasi itu keluarnya dari kebutuhan psikologis orang," ungkap Parera.

Kedua, menyangkut aspek infrastruktur. Menurut Parera, infrastruktur bisa membuat pemasaran menjadi lebih baik. Jadi, bukan hanya dengan memengaruhi mental orang untuk membeli buku, mendidik orang membeli buku saja, tetapi juga ketersediaan infrastruktur, seperti toko buku dan keseluruhan sistem distribusi. Kedua faktor inilah yang dianggap memengaruhi penyerapan pasar.

Membidik komunitas

Pengalaman berbagai penerbit pun menuturkan hal serupa, betapa memasarkan buku serius atau pemikiran memang tidak mudah. Perlu kiat-kiat tertentu dan penanganan yang khusus pula. "Menurut saya, buku khusus harus dijual dengan cara khusus juga, Tidak bisa mengandalkan dengan penjualan seperti biasanya," kata Antonius Riyanto, Direktur Utama Grup Agromedia, yang membawahkan empat penerbitan, di antaranya penerbit Gagas Media. Cara khusus yang dimaksudkan tidak lagi hanya mengandalkan pola-pola penjualan konvensional dengan menggunakan toko buku sebagai outlet penjualan, tetapi juga mencoba berbagai alternatif pola penjualan lainnya.

Menurut Antonius, langkah pertama yang patut dilakukan dalam memasarkan buku pemikiran atau serius penerbit harus mampu mengidentifikasikan komunitas buku tersebut sehingga mengetahui siapa saja target pembelinya. Penerbit di bawah Grup Agromedia, misalnya, biasa menggunakan iklan di internet dan penyebaran informasi lewat surat elektronik atau e-mail.
"Buku khusus biasanya hanya dicetak sebanyak 1.500 eksemplar, maka jalan terbaik menggunakan internet karena, menurut saya, cara itulah yang memakan dana promosi sedikit. Jadi, kalau buku dicetak sedikit, dana promosinya juga sedikit," kata Antonius menjelaskan.
Tidak berbeda dengan Agromedia, penerbit asal Yogyakarta, Galangpress, pun menggunakan pendekatan komunitas untuk memasarkan buku-bukunya terutama buku-buku yang segmen pasarnya terbatas. Buku Bisik-bisik Remaja, misalnya, peluncurannya tidak di toko buku seperti biasanya, melainkan di sekolah-sekolah.

"Buku itu pasarnya memang anak-anak SMP dan SMA, jadi kami sengaja masuk ke sana (sekolah). Ternyata, respons untuk membeli cukup besar. Kalau di toko buku jumlah anak-anak sekolah yang masuk ke tempat itu lebih sedikit dibandingkan orang umum, otomatis pembelinya juga sedikit," kata Julius Felicianus, pemimpin Galangpress.

Tak hanya ke sekolah-sekolah, Galangpress juga mengadakan peluncuran-peluncuran buku di tempat-tempat mangkal para waria untuk memasarkan buku-buku bertema waria. "Beberapa waktu lalu kami coba di kota Malang di depan stasiun, tempat mangkalnya waria di sana. Buku yang kami bawa jumlahnya 25 habis dibeli, ternyata pembelinya teman-teman waria di sana," kata Julius menambahkan.

Hal serupa juga dilakukan penerbit ini dalam memasarkan buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang karya Romo Budi Subanar. Buku itu dicoba dipasarkan di toko buku ternyata tidak laku. Namun, setelah dipasarkan di komunitas-komunitas gereja, buku itu akhirnya bisa laku terjual.

Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.

"Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 eksemplar," kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.

Perencanaan promosi

Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang matang.

Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar tersebut. "Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan," tutur Anton.

Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga diungkap Aris Buntarman. "Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas target marketnya berapa?" kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di bidang pemasaran buku.

Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah perang.

Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. "Tugas SPG kami untuk memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung," kata Danang Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.

Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.

"Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik," kata Hermawan menjelaskan.

Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai dengan keinginan pasar.
Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, ia tidak akan menjadi best seller.

Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja.
(WEN/BIP/UMI/Litbang Kompas)

Minggu, 13 Juli 2008

NOVELIST AND JOURNALIST


Novelist and journalist are two-name profession of someone that having a lot similar and differentiate each it. Both novelist and journalist known as the writers, in which having a special characteristic and high intelligence to expressed idea. Novelist are focused the written to the romantic element, for example; love, affair, fight etc. Obviously, the written such like that called by “ literary work “. In addition, the written of journalist taken from the collecting research on the field. Therefore, it is not surprised that the work of journalist next be called news. Some people said even if both professions have a similar as the writer, but it has, possible to get differentiates among them. This can be seen from the style of language used by each novelist and journalist, especially when they are expressed the idea in an every seed sentence. It is indeed that finding a style language of novelist and journalist is hard, unlike opened the flat hand. First, the analyzed of the style must be careful and focused on the logical sentence contraction. The ability of choosing word and the development of the right sentences, if we can divided those conventional system so that we would know the style of each novelist and journalist.
Besides, before analyzing the style of object like novelist and journalist, we should know what is the style mean. Based on Ronald Wardhaugh (1948) style is refers to the selection of linguistic forms (linguistic alternative), it also acts as a set of instruction. Sometimes the style of language in someone contains the messages which convey are not normally in words. So, what is different option of style that having by novelist and journalist?

The style of journalist
Actually, there is some different style of language comparing the journalist and novelist. The written of journalist are intended to the language, later on called press language or journalistic language. Meanwhile, the journalist language has a special style; briefly, simple, solid or compact, swift, unadorned, interesting and clear. Besides, the style of journalistic language is based on the standard language. Standard language that used by journalist is codified in some ways that usually involve the development of such things as grammar and dictionary and possibly a literature. It requires a measure of agreement be achieved about what is in the language and what is not (acceptability) usually it is used for formal matters just like what the journalist has used to.
However, there is system of the journalist needs to be attention. First, Eufimisme is the soft expressing as a replacement of cruel expression, which is inflicting a financial loss or not fun anymore, such as meninggal, bersanggama, tinja, or tuna karya. Second, be thrifty of word, mean the conversation of phrase that used by journalist is not disturb, but the expression of written made the information more complex. For the journalist, the strong and long phrase makes decrease the point of klise expressed. Third, the word that used by journalist is concrete and special.
In the other hand, the style language used by journalist contain of five written forms, which having format and different characters, those are; Straight News, Soft News, Feature, Reportage, and Investigation News. In addition, the format that used cannot mix by opinion of the writer. Every word or phrase must be real, and the data have to authentic.

The style of novelist
Unlike journalist, the written of novelist are intended to the romantic aspect. Most literary work that playing by novelist consist of implicit word, that is very hard to understand. Therefore, to know that word is able to understand by people, the reader must use their feeling and imagination.
Usually, the written of novelist is fiction, which the source or data takes from the feeling of someone, aspiration, judgment, or think, imaginative. The story written by novelist, extremely describe from the imaginative of every people. In fact, sometimes the man of letters or novelist also involved to express his imagine and feeling to the inside, such as dream with an angel or idealism of someone to reach their future. Unlike journalist, which the written mostly focus on one system, that is 5 W + 1 H, mean what, who, why, where, when, and how. Here, the style language of novelist is pressure on the plot. Besides, the word or phrase is a long until hundred of pages, and most of story are emphasize in the plot only, how some stories happen and what kind conflict through the inside.
The style of novelist and journalist is different. Both of them have own style in the written of language. The written a novelist is very difficult to understand, but when the reader successful to interpretation every word written by a novelist, than they will get the moral teaching or massage through the inside. While journalist, most of the written is based only true story that happens to society. Each written or news that used by journalist are complex and flexible to understanding. So that the writer or journalist is able to give an easy explanation and introduction about the news that happen in society. To conclude, even if the profession between novelist and journalist are same as a writer, but the style of language among them obviously different.