Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2010

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag VI-TAMAT)

Ibu Guru Yanti telah tiada. Ia dimakamkan di pinggiran desa. Semua warga menolak jasad Ibu Guru Yanti, menurut mereka Ibu Guru Yanti tidak layak dimakamkan di desa Mayapada mengingat perbuatannya yang tidak dibenarkan oleh para wali murid. Di mata penduduk desa, nama Ibu Guru Yanti tidak berarti, bahkan desa tersebut mengharamkan nama Ibu Guru Yanti disebut-sebut. Sampai kapan? Sampai selama-lamanya. Mereka mengatakan Ibu Guru Yanti adalah aib bagi penduduk desa. Bahkan ketika dimakamkan tiada seorang pun yang datang melayat, begitu pula keluarga Ibu Guru Yanti terkesan cuek.

Lalu siapa yang memakamkan? Justru yang peduli dengan jenasah Ibu Guru Yanti adalah orang-orang dari luar , mereka mengurus dengan ikhlas, ada diantaranya pihak kepolisian, pihak rumah sakit, sopir ambulance dan penggali makam.

Namun demikian tidak semua orang menjauhi Ibu Guru Yanti. Seminggu usai pemakaman, beberapa orang nampak menziarahi makam. Mereka menangis di pusara pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Mereka tak lain keluarga Rikno: ayah Rikno, ibu Rikno, Nenek Rikno, Bibi Rikno, dan Rikno.

Di hadapan pusara Ibu Guru Yanti, mereka berdoa dengan khusyuk. Usai memimpin doa sang ayah mulai berbicara:

"Kau, adalah pahlawan kami. Darimulah sekarang Rikno mengetahui kebenaran. Kau, adalah kejujuran. Walau kejujuran yang kau jalani terasa pahit, tetapi kau tidak pernah mengeluh. Pengorbananmu terhadap kejujuran sangatlah kami hormati. Kau rela mati demi kejujuran. Kau tidak mempedulikan nyawamu walau sebenarnya kau sudah tahu resikonya. Kau, yah, kau adalah pahlawan kami. Telah banyak yang kau perbuat bagi keluarga kami. Meski kami belum pernah bertemu dengan dirimu, wajahmu tetap bersinar di hati kami. Kejujuranmu itulah yang membuat kami membuka mata lebar-lebar." Kata Ayah Rikno.

"Ibu Guru Yanti yang terhormat, yang kami cintai, kau bagai oase di padang tandus. Meski secuil kejujuran yang kau sebarkan, tetapi hal itu telah banyak memberi kami penerangan. Kini, kami menjadi sadar, bahwa tak selamanya kebenaran itu harus ditutup-tutupi. Dengan kejujuranmu itulah sekarang anak kami dapat mengetahui arti sebuah kebenaran akan mem*k. Kami yakin suatu hari kelak anak kami akan selalu mengingat kebaikan yang kau berikan, kami yakin kelak Rikno akan menghormati pengorbanan para guru dan pendidik, bila dewasa nanti dia juga akan tahu betapa mahalnya artinya sebuah kejujuran dan kebenaran. Dan karena kebenaran itulah Rikno sudah mengetahui apa itu mem*k, dan dengan pengetahuan serta pemahaman yang kau berikan ke anak kami, kami pun yakin suatu hari nanti dia akan semakin menghargai yang namanya perempuan. Ibu Guru Yanti, kau adalah pelita bagi kami. Jasa-jasamu takkan pernah kami lupakan." Ucap janji sang ibu.

"Rikno, anakku, adakah kata-kata yang hendak kau sampaikan pada Ibu Guru Yanti?" Tanya sang ayah.
Rikno mengangguk.

"Ada yah..."

"Apakah itu Rikno?" Sahut Sang Ibu.

"Rikno sangat berterima kasih kepada Ibu Guru Yanti atas kebaikan yang pernah beliau berikan. Sampai mati kebaikanmu akan selalu kupegang." Kata Rikno.

"Yah, kau dengar sendiri kan Ibu Guru Yanti. Betapa Rikno tak bisa melupakan jasa-jasamu. Karena kaulah dia sekarang sudah menjadi dewasa. Bukan kami, tapi kau. Kami justru hanya menjadi penghalang bagi perkembangannya. Kami adalah sebuah kebohongan yang selalu tersebar dimana-mana. Kami tak ubahnya kutu loncat yang ketika digusah akan pencolotan, tapi ketika musuh tidak kelihatan kami akan diam-diam mengambil hak orang lain. Memang benar apa yang telah kau lakukan, kejujuran sangat mahal harganya. Buktinya kami tidak bisa menjelaskan mem*k pada anak kami, padahal sebenarnya kami tahu. Kami adalah tukang tipu, selalu memojokkan orang, selalu menyusahkan orang, tak pernah serius menanggapi setiap permasalahan. Parahnya, kami adalah orang-orang munafik yang tak tahu diri. Tidak seperti kau, kau sangat berani menyatakan kejujuran. Kau berani menerjang bahaya. Kami semua tunduk padamu, tunduk terhadap pahlawan bangsa. Semoga arwahmu tenang di sisiNya. Amin."

Setelah itu Sang Ayah menyanyikan Hymne Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, semua orang luluh dalam keharuan:
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Disusul dengan lagu Padamu Negeri dan semua orang ikut mengiringkannya:
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami (TAMAT/NOVI)

NB: Saya melihat sebuah ketakutan masih membayangi wajah-wajah mereka, kejujuran dan kebenaran akhirnya terhenti sesaat; dia bagaikan senjata Pasopati yang hendak membumi-hanguskan segalanya. Yah, mungkin bukan sekarang, mungkin nanti, bila mereka telah mengetahui makna kejujuran dalam hatinya. Namun saya yakin masih banyak kejujuran di negeri ini, walaupun itu secuil.

Kamis, 10 Desember 2009

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag IV)

Berita ibu guru menurunkan rok dan cdnya seketika menggemparkan desa. Para murid yang kebakaran jenggot akibat ulah bu guru langsung melaporkannya ke orang tua masing-masing. Para wali murid pun serempak berdemo. Mereka mendepak sang guru beramai-ramai. Yanti, demikian namanya tak kuasa menahan derita yang sedang dihadapi. Bu Guru Yanti diusir warga desa, karena dianggap telah mengajarkan pornografi kepada murid-muridnya. Sementara hanya satu anak yang tak bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Dialah Rikno. Karena kebaikan serta kejujuran sang guru itulah Rikno menjadi tahu yang namanya mem*k. Tetapi hal tersebut lantas diartikan banyak orang sebagai perbuatan yang tidak lazim. Yang membuat sang guru harus terlunta-lunta tanpa tempat tinggal.
Berhari-hari sang guru harus mengais makanan dari sampah. Ia seketika menjadi tunawisma "dadakan".
"Kasihan ibu guru Yanti ya," kata Rikno kepada bibinya.
"Sudah kamu tidak usah mikirin itu. Itu semua kan akibat perbuatannya sendiri," sambut sang bibi.
"Lho, kenapa kok bibi malah berkata seperti itu. Bukankah semua ini akibat dari ulah Rikno. Kalau Rikno tidak bertanya soal mem*k, mungkin ibu guru tidak akan menunjukkannya pada Rikno. Dan sekarang Rikno jadi tahu apa itu mem*k."
"Kamu sendiri kenapa tanya-tanya hal-hal yang tidak perlu begitu. Dan sekarang lihat ibu guru Yanti. Di sana sini dia tidak mendapat tempat. Dia sekarang menggelandang."
"Kalau Rikno tanya pada bibi, apakah bibi akan memberitahu?" Rikno membalas ucapan bibinya dengan tangkas.
Seketika mulut sang bibi seperti terkunci rapat. Kata-kata ponakannya seperti bola api panas yang meluncur mengenai dirinya.
"Memang benar Rik, tak semua orang dapat berbicara jujur. Negeri ini memang sedang dilanda krisis kejujuran. Moral semua orang pada rusak, tak terkecuali pemimpin kita. Kalau saja pemimpin kita dan orang-orang yang duduk di kursi terhormat itu mau meluangkan kejujurannya, mungkin negeri ini tidak akan seperti ini. Hanya kejujuranlah modal utama untuk membentuk karakter bangsa ini. Maafkan bibi ya karena telah salah menilaimu."
"Ah, tidak masalah bi. Rikno juga minta maaf jika telah kurang ajar terhadap bibi. Oh iya, bi, terus bagaimana dengan ibu guru Yanti. Apa perlu beliau kita tampung di sini?"
"Rikno, ssstt..." Sang bibi segera meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Apa? Apa maksud bibi ssst..."
"Sudah jangan diteruskan. Yang terjadi biarlah terjadi."
"Tapi Rikno belum paham."
"Apa kamu tidak mengerti dengan adat. Karena adatlah kita dapat beradaptasi dengan masyarakat. Dan apabila adat sudah bertindak, maka jangan sekali-kali kita berani untuk memainkannya."
"Apa maksud bibi?" Rikno masih belum paham.
"Ibu guru Yanti saat ini tengah menjalani hukuman adat. Dia tak boleh dibantu siapapun."
"Jadi...ja...ja...di...beliau dibiarkan begitu saja!" Seru Rikno.
"Huss, kamu jangan berpikiran begitu. Kalau kita bantu, nanti kita sendiri yang akan kena adab dari adat itu."
"Lalu bagaimana dengan kata-kata ibu soal kejujuran tadi. Mana...mana...?"
Sang bibi segera menundukkan kepala mendengar suara keponakannya yang masih lugu tersebut. (Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Selasa, 01 Desember 2009

Dari Mana Kita Peroleh Info Bencana ?

Assalaamu'alaykum Wr. Wb,

Bencana mestinya bisa membuat kita mawas diri, terutama kita sebagai orang yang beriman. Terlepas dari apakah ini azab atau ujian dari Allah SWT, yang jelas Allah sedang menurunkan tanda-tanda kebesarannya. Kalau kita mau memikirkan dan mau "melihatnya".
Gempa di Sumatra Barat kemarin dan hari ini sangat menarik. Saya menerima sms dari adik yang isinya sbb: Coba kita perhatikan waktu gempa utama yang terjadi kemarin, jam 17:16 WIB. Sekarang, coba kita simak Quran Surat 17 (Al Isra) ayat 16:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَافَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَاتَدْمِيرًا"

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkankepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
Kemudian gempa susulan terjadi pukul 17.38. Kita buka Quran Surat 17 (Al Isra) ayat 38:

كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيٍّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا"

Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.
"Saya jadi tergelitik.. .. Gempa susulan lagi yang terjadi tadi pagi di Kerinci (perbatasan Sumatra Barat-Jambi) , kejadiannya pada pukul 8.52. Dengan bergetar... saya coba buka Quran Surat 8 (Al Anfal) Ayat 52:

كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَفَرُواْ بِآيَاتِاللّهِ فَأَخَذَهُمُ اللّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُالْعِقَابِ"

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.
SUBHANALLAH
rom: Azrif Irdam Zahir, Sent: Friday, October 02, 2009 9:20 AM

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag III)

Rikno sekarang disekolahkan ayahnya di desa. Dia ikut bibinya. Tetapi Rikno sudah mulai paham mengenai keadaan di luar sana yang seperti hukum rimba. Orang salah ngomong saja langsung dihakimi, seperti halnya dirinya. Hanya ingin tahu arti mem*k saja semua orang langsung memarahi dan mengumpatnya. Padahal dia benar-benar tidak tahu yang artinya mem*k. Hingga dia memasuki tahun ajaran baru di TK, rasa penasaran Rikno semakin menjadi-jadi. Cuma kali ini Rikno sadar akan posisinya. Yah, dia tak lagi berharap mengetahui jawaban dari orang-orang terdekatnya atau keluarganya. Sebab hal itu nantinya justru akan menambah masalah lagi. Sebenarnya rasa penasaran RIkno sangat besar dan ingin sekali menanyakan prihal mem*k ini ke bibinya. Tetapi lantas dia urungkan.

“Aku takut jika bertanya ke bibi, nanti masalah akan kembali panjang. Di sana saja aku sudah diusir ayah. Masa di sini juga harus diusir lagi. Ah, biarlah nanti aku tanyakan kepada bu guru saja. Mungkin bu guru bisa membantu kerisauanku.” Kata Rikno.

Masa orientasi sekolah TK sudah selesai. Kini Rikno memulai ajaran baru sebagai siswa kelas Nol Besar. Besar harapan Rikno di sekolah barunya ini dia akan menemukan jawaban dari pertanyaannya tersebut.

Saat bu Yanti membuka ajaran pertama, dia kemudian bertanya kepada murid-muridnya.

“Hayo anak-anak, ada yang pengin bertanya?”

Semua murid diam. Tak ada yang berani bertanya. Saat itu kegundahan Rikno timbul tenggelam.

“Ini waktunya aku bertanya. Siapa tahu ibu Yanti bisa menjawabnya!” Seru Rikno.

“Hayo anak-anak siapa yang mau bertanya, kalau tidak ada ibu hitung tiga kali. Satu….dua…tiii…”

“Saya bu…” terdengar jawaban dari belakang bangku.
Rupanya Rikno yang mengacungkan tangan. Semua mata memandang pada anak berumur 5 tahun tersebut. Anak yang duduk di bangku depan serempak menoleh ke belakang, berharap ingin tahu pertanyaan yang diacukan temannya itu.

“Anu bu, Riknomau tanya, tapi ibu jangan marah ya…”

“Lho buat apa ibu marah, lha wong kamu aja belum bertanya!” Seru Ibu Yanti.

“Tapi…tapi…”

“Rikno ga usah takut, bilang saja apa yang mau kamu tanyakan.”

“Biasanya kalau Rikno bertanya demikian ini, semua orang pada marah ke Rikno.”

“Rikno, tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Semua pertanyaan pasti ada jawabannya. Mungkin mereka marah karena sedang capek saja.”

“Bukan itu bu, kata mereka pertanyaan Rikno ini tidak sopan.”

“Rikno apa kata ibu barusan. Kamu tidak perlu takut. Ibu pasti akan menjawabnya sebisa mungkin. Ayo ngomong saja ke ibu ada apa?” Desak Ibu Yanti.

“Rikno cuma pengin tahu sebenarnya mem*k itu apa?”

“Apa, Rik…” Seketika raut wajah sang ibu guru menjadi memerah.
Rikno sudah merasa bahwa pertanyaannya bakal memicu polemik. Dia sadar apa yang diucapkanya tidak sopan. Tetapi dikarenakan rasa keingintahuan Rikno yang besar, maka dia memberanikan bertanya ke gurunya, tak peduli apakah pertanyaannya itu sopan atau tidak.

“Kamu yakin dengan pertanyaanmu itu Rik?” Sang guru bertanya balik ke Rikno.

Rikno mengangguk dengan pandangan mata serius.

“Halah, ga usah dijawab bu. Wong cuma Rikno aja kok. Masa cuma nanya hal-hal yang tidak berbobot gitu.” Sahut teman-teman Rikno sekelas.

“Iya bu, pertanyaan Rikno sungguh lucu. Masa cuma nanya mem*k. Lucu banget.”

“Emang kalian tahu apa itu mem*k?” Ibu guru balik bertanya ke murid satu kelas. Seketika itu suasana yang tadinya hingar bingar menjadi hening. Semua anak saling beradu pandangan. Mencari-cari jawaban yang pas, tetapi justru mereka sendiri tidak tahu yang namanya mem*k.

“Gimana apa kalian tahu apa itu mem*k?”
Semua anak membisu. Sebagian menggeleng kepala.

“Rikno , apa kamu yakin pengin tahu apa itu mem*k.”

“Iya bu.” Jawab Rikno mantab.

“Apa kamu sudah siap mental?” Tanya ibu guru Yanti.

“Iya bu. Rikno sudah siap lahir dan batin.

“Baiklah kalau itu kemauanmu. Ibu tidak akan menjelaskan padamu, sebab kamu sendiri pasti tidak akan mengerti. Ibu akan menunjukkannya padamu.”

Semua anak baik Rikno tak sabar menanti detik-detik mendebarkan itu.

“Rikno…” kata Ibu guru Yanti dengan yakin sambil berdiri di depan Rikno, “kalau kamu pengin tahu yang namanya mem*k. Ini dia mem*k.” Seketika itu si ibu guru membuka rok dan cdnya tepat di depan Rikno dan murid-murid satu kelas lainnya. Dia lalu menunjuk ke arah mem*k yang dimaksud.

“Akh…akhh…ibu guru jorok….ibu guru jorok..” Seketika ruangan kelas menjadi hingar. Para murid saling berhamburan keluar. Mereka yang melihat ulah sang ibu guru tidak tahan, lari tunggang langgang, kecuali Rikno.Dengan penuh kesabaran dan rasa keingintahuan yang sangat tinggi, Rikno memperhatikan meme*k sang ibu guru.

“Jadi ini yang dinamakan mem*k itu?” Tanya Rikno.
Ibu guru Yanto mengangguk.

“Jadi ini yang membuat Rikno keluar ke muka bumi ini?”

“Iya Rikno. Dari sinilah kamu, ibu, dan orang tua sedunia ini dilahirkan. Jadi kamu sudah tahu kan yang namanya mem*k!” Jawab ibu guru yang kemudian menutup kembali auratnya dengan cd dan menurunkan roknya. (Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag II)

Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah tidak sabar untuk menunjukkan makna mem*k yang sebenarnya kepada anaknya.

Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.

“Nah, itu dia yang namanya mem*k!”

“Gajah itu mem*k,” Rikno garuk-garuk kepala, “wah besar sekaleeee…”

“Husy, bukan gajah, tapi ituuuu….”

“Yang mana yah…” Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.

“Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,” jawab ayahnya sedikit geram.

“Yang mana, apa yang panjang itu!” Seru Rikno.

“Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.”

“Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.” Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.

“Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.” Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.

Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.

“Ah, ini dia,” celetuk sang ayah, “monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.”

“Rik…Rik…sini cepat!” Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.

“Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,”

“Kenapa dengan mereka yah.”

“Lihat saja dulu.”

“Sudah yah.”

“Ya itu mem*k.” Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, “hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.”

“Yah…yah…” Rikno menarik baju ayahnya, “Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?”

“Oh duasar anak guob…” buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.

“Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.” Rikno menggeleng.

“Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.” Rikno mengangguk.

“Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.” Rikno mengangguk paham.

“Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?” Rikno menggeleng.

“Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.”

“Sudah yah, jadi itu ya yah.”

“Ya nak, itu yang namanya mem*k.” Sahut ayahnya.

“Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.” “Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.” Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, “Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.”

Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.

“Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?”

“Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.”

“Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.”

***

Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.

Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.

“Bapak siapa?”

“Hei, anak kecil, kamu siapa juga?”

“Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.” Celetuk Rikno dalam hati. “Bapak siapa kok?” Rikno bertanya merengek.

“Saya anggota dewan.”

“Apa itu anggota dewan?” Rikno balik bertanya.

“Wakil rakyat.” Jawab sang pejabat singkat.

“Jadi bapak tahu segalanya.” Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.

Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.

“Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.”

“Pak, boleh Rikno bertanya?”

“Silahkan!”

“Tapi bapak jangan marah ya.”

“Tergantung pokok pembahasannya.”

“Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.”

“Tidak…tidak…kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.”

“Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.”

“Iya, apakah itu?” Sang pejabat penasaran.

“Apa itu mem*k, Pak?” Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.

“Diamput…dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.”

“Tuh kan bapak pasti marah.”

“Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh…akkhhh…panggil orang tuamu, cepat!” Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.

“Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!”

“Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo…..” sang ayah memanggil dengan gusar.

Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.

“Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?” Rikno mengangguk.

“Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.” Ancam sang ayah. Dan…tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.

“Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.” Ancam ayahnya.

“Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!” Ancam ibunya.

(Bersambung lagi coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Jumat, 27 November 2009

Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)

Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.
"Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa toh, Cu!" Seru sang nenek penasaran.
"Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?"
"Apa???" Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, "dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?"
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
"Riri...Riri...kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua." Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
"Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga."
"Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua."
"Ada apa toh tole?" Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
"Ndak kok bu..."
"Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek." Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
"Rikno...Rikno...cuma pengin tahu....ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!"
"Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!"
"Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?"
"Hah," plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, "dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi," plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
"Hua....hua...hua..."
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
"Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu."
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
"Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?"
"Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab." Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata "pornografi" semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
"Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?" Tanya ayahnya.
"Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?" Tuding Riri.
"Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?"
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
"Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!" Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
"Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok."
"Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya..."
"Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya."
"Percaya kok yah."
"Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?"
"Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?"
"Hmm...jadi itu yang kamu tanyakan." Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
"Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?"
Rikno menggeleng.
"Ya, dari mem*k itu." Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
"Bagaimana kamu sudah paham?" Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
"Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?" Rikno balik bertanya.
"Hmmm...gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?"
Rikno mengangguk.
"Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu."
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)

NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.

Kamis, 26 November 2009

Seorang Ibu Tahu Apa yang Terbaik Buat Anaknya...

Pulang dari Kediri naik bus. Lihat ibu-ibu naik dari Jombang membawa dua anaknya yang masih kecil. Saya punya nama panggilan buat mereka. Yang kecil saya namai Eki. Umur 1 tahun. Yang besar saya panggil Pasha. Umurnya 2 tahun. Awalnya biasa-biasa saja. Tak lama Pasha tiba-tiba menangis. Entah siapa yang mengganggu, dia merengek kepada ibunya. Rupanya si ibu ini bukan seorang yang sabar.

Dengan lantang dia mengancam anaknya begini:
"Husy, jangan nangis..." katanya sambil meletakkan jari telunjuk di mulutnya.
Tapi Pasha tetap saja rewel dan tak mau berhenti.

Dan...plok...tiba-tiba mendarat tamparan di pipi Pasha karena geramnya si ibu.

Saya cuma bisa istighfar melihatnya.
Ya Allah, apa benar yang dilakukan si ibu ini?

Si anak belum juga reda tangisannya. Malah menjadi-jadi. Rengekannya, kalau boleh saya artikan, sampai membuat seisi penumpang terbangun.
Mungkin si ibu saking jengkel dan malunya, dia kembali melemparkan berpuluh-puluh ancaman dan makian. Dari yang saya kutip begini:
"Kalau kamu masih berani, akan ibu lempar sekarang juga dari bus." Ancamnya.
Padahal saat itu bus melaju cukup kencang.

Saya khawatir kalau ancaman itu benar-benar jadi kenyataan. Apalagi si ibu dan anaknya duduk di deretan kursi paling belakang, tepat di samping pintu. Sedang saya berada di sebelahnya.

Mendengar ancaman si ibu, saya pun mulai pasang kuda-kuda. Kalau hal itu sampai terjadi saya siap menyelematkan nyawa Pasha. Tapi rupanya semua itu hanya gertakan sambal saja. Mungkin cuma ingin menakut-nakuti si bocah. Namun demikian ancaman itu semakin bertambah kencang. Si bocah yang tak mau diam terus-terusan dihujani ancaman yang menurut saya tidak pantas didengar.

Salah satunya ini:
"Kamu kalau masih belum diam, ibu turunkan di sini. Ibu sudah ga mau menganggapmu sebagai anak. Dasar bandel. Lihat adikmu saja diam."
Plok...suara tamparan kembali menimpa mulut Pasha kecil.

Aih...benar-benar kasar kata-kata si ibu. Saya terus bertanya, kira-kira apa sudah benar cara mendidik ibu ini. Mungkinkan si kecil mau menuruti kata-kata ibunya, walau sebenarnya sangat merugikan dirinya.

Berulang kali saya memutar otak, menyalahkan pringai si ibu dan ketidakberdayaan Pasha dan Eki, yang tak lama ikut menangis karena tak tahan mendengar omelan ibunya kepada kakaknya.

Eki yang nangis juga tak luput dari omelan si ibu:
"Kamu juga, kalau ikutan nangis, nanti ibu buang di sini biar ditemu orang lain. Biar saja sekalian ibu tidak memiliki anak-anak seperti kalian tidak apa-apa"

Ya Allah, seketika pikiran saya langsung lemas. Apa tidak salah kata-kata si ibu ini. Masakah karena menangis saja mereka mau dibuang. Saya memang berusaha tidak mempedulikan, tetapi telinga saya sepertinya tak bisa dibohongi. Setiap dialog yang terjadi antara si ibu dan anak-anaknya, selalu masuk ke telinga kanan dan kemudian merangsek memasuki hati nurani. Berkali-kali saya menyumpahi si ibu. Tapi kemudian ada kekuatan lain yang merong-rong pendalaman saya. Katanya begini: seorang ibu tahu apa yang dilakukan, apa yang terbaik bagi anak-anaknya?

Benarkah itu? pikiran saya tetap tidak menentu.

Tak lama seorang penjual tahu naik.
"Tahu...tahu..."

Si anak kembali merengek, meminta dibelikan tahu. Sebaliknya si ibu malah marah.
"Kan sudah ada. Ga usah beli."

Rengekan Pasha kembali memuncak. Si ibu malah berang. Berkali-kali mulutnya ditampar agar diam.
Plok...

Yah, ditampar lagi, kata saya dalam hati. Kasihan benar nasib anak ini. Mungkinkah dia nasibnya akan seperti Ari Hanggara, sebuah peristiwa memilukan hati semua orang dimana akibat kemarahan orang tuanya, Ari Hanggara kemudian tewas.

Aku harus turun tangan, pikir saya waktu itu. Kalau si ibu tidak membelikan "tahu" itu, biar saya yang membelikannya. Tetapi sekali lagi ada rasa yang lain yang membuat saya menghentikan langkah. Yah, secara tiba-tiba saja rasa itu kembali menyeruak tajam dan berkata demikian, "seorang ibu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya?"

Duh, Gusti, apalagi ini...

Benar juga, saya pikir saya orang yang perlu campur tangan. Saya sekedar orang lain. Tidak sepatutnya saya campur tangan untuk urusan seperti ini, kecuali memang hal ini sangat emergency. Sepintas saya melihat memang tidak darurat. Cara penanganan si ibu menurut saya masih dalam batas kewajaran, tetapi iya begitu, dalam batas wajar yang tetap saja tidak wajar bagi hati nurani saya.

Apa mungkin saya harus membelikan "tahu"?

Tak lama si penjual tahu yang mengetahui rengekan si anak, tiba-tiba dia memberikan sebuahnya gratis.
Apa yang terjadi? Si ibu malah menolaknya.

Loh...loh...mana ini yang benar, pikir saya.

Si ibu berkata dengan wajah geram:
"Enggak pak, di tas sudah ada kok."

Saya tidak tahu apakah di tas ada atau tidak atau si ibu sengaja membohongi agar anak-anaknya patuh padanya. Yang jelas pada waktu itu saya bersyukur karena tidak jadi malu. Seandainya waktu itu saya berusaha turun tangan, entah mau ditaruh ke mana muka ini. Masih beruntung si penjual tadi, dia tidak akan malu karena memang profesinya sebagai penjual. Tugasnya menjual dan memberi. Andaikata ditolak atau tidak direken, itu hal yang biasa.

Setelah itu saya terus berpikir, apa yang sebenarnya ada dalam benak si ibu ini. Apakah ini salah bentuk pendidikan yang baik buat anak-anaknya. Dan lagi-lagi kata-kata yang muncul dalam benak selalu sama: seorang ibu tahu apa yang mesti dilakukannya. Seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya.

Benarkah itu? Pikir saya.

Tak lama...sebuah kejadian yang menurut saya ajaib terjadi.
Tak ada rengekan, tangisan, kerewelan di bus yang melaju dari Kediri menuju Surabaya tersebut. Saya heran. Apa yang terjadi?

Saya sempat melihat, Pasha dengan manja merajut ke pundak ibunya. Membelai pipi ibunya dengan manja. Si kecil, si Eki malah ngempong di dada ibunya. Mereka saling akur.

Saya bertanya-tanya dalam hati, lalu dimana semua ancaman tadi, ancaman yang tidak mau mengakui mereka sebagai anak, ancaman menampar dan memukul, ancaman yang hendak membuang mereka. Mana semua itu?

Kembali saya dihadapkan pada perkara semula. Yah...seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya. Kiranya hanya itu jawaban yang bisa saya terjemahkan dengan kejadian ini. Dan sebelum turun, si ibu sempat melemparkan senyum kepada saya. Senyum yang menurut saya sangat aneh dan sekaligus luar biasa. Senyum yang sulit diterjemahkan dengan semua kamus di dunia ini. Senyum yang mengundang hal-hal baru bagi kehidupan saya. Sebuah senyum yang penuh misterius yang sampai sekarang sulit saya tangkap dengan akal pikir saya sebagai seorang bujangan.

Catatan saya dari bus Harapan Jaya
Kediri menuju Surabaya
4 Nov 09. Pukul 15.00

HAI SUARA, AKU SANGAT MENCINTAI DIA...

Cintaku padanya da sangat besar sebesar gunung Mahameru.

Saking besarnya sampai-sampai aku dibuatnya gusar, bingung, sumpek, stress, gila.

Suara: Siapa? Ana?

Aku: Eh, bukan.

Suara: Lalu siapa? Ani?

Aku: Bukan juga.

Suara: Di pesbuk itu banyak, ada Lia Kanzha, apa dia?

Aku: Nganu...emm...bukan dia...

Suara: Trus diapa dong?

Aku: Ada deh!

Suara: Ih, curang deh kamu, masa kamu boleh dengerin suaraku, tapi aku tidak boleh tahu pacarmu...

Aku: coba tebak aja?

Suara: Apa neni widayani?

Aku: Ah, enggak. Dia cuma teman kuliahku.

Suara: Aha, aku tahu tuh, pasti cinta mahar ya.

Aku: Bukan juga. Ah, masa kamu suara tidak bisa menebak sih. Apa kekuatanmu yang selalu disokong oleh angin, bumi, air dan api itu sudah hilang. Kacian deh lu...

Suara: Jangan begitu, aku tetap suara sebagaimana mestinya suara. Aku bisa mengetahui apa-apa yang orang tidak ketahui, yakni melalui tingkah laku mereka.

Aku: Tapi kamu kan tidak bisa menebak hati manusia. Sebab hati manusia itu sehalus sutra dan seluas samudera. Jangankan kamu, para malaikat yang duduk di langit saja tidak bisa tahu bagaimana hati manusia.

Suara: Tapi hati manusia bisa congkak juga, ya...kayak kamu itu!

Aku: Ah, itu perasaanmu saja. Aku biasa-biasa saja kok!!

Suara: Trus siapa dong kekasihmu itu. Apa dia anak orang kaya?

Aku: Ga tuh. Biasa-biasa saja tapi dia hebat sekali.

Suara: Apa dia Novi Kusuma?

Aku: Bukan!!!

Suara: Oh, aku tahu apa dia bernama Astrid Reva Angelica yang mantanmu dulu.

Aku: Salah besar.

Suara: Yah, di bukumu ada juga tulisan soal Kiftiya. Apa dia?

Aku: Wrong! Wrong! Wrong!

Suara: Trus siapa dong pacarmu yang sekarang. Oia aku baru tahu kemarin kamu ke Jogja kan. Trus ketemu cewek. Namanya sangat indah, menggambarkan betapa megahnya alam. Namanya Tunjung Pratiwi kan? Tunjung artinya bunga dan pratiwi berarti bumi pertiwi atau tanah air.

Aku: Emm...apa ya...malu aku ngomongnya. Tapi artinya memang bener itu. Dia bener-bener sosok yang luar biasa.

Suara: Iya kan bener dia. Aku sih no problem kamu sama dia!

Aku: Bukan.

Suara: Hah, bukan juga. Trus siapa dong?

Aku: Kamu mau tahu kekasihku yang telah membuatku jadi seperti ini, yang senantiasa membuatku bingung tujuh keliling, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, yang membuatku seperti terkontaminasi oleh polah tingkahnya dia, yang membuatku tergila-gila sampai nyaris aku dibuat stress, yang membuat seluruh panca inderaku mati rasa, yang membuat tubuhku bergetar hebat manakala dia kusebut namanya, yang membuatku...ah, pokoknya gundah gulana deh!

Suara: Iya, siapa....

Aku: Aku akan beritahu ke kamu, tapi jujur ya kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa.

Suara: Iya aku janji akan menutup suaraku.

Aku: Alah, yang namanya suara tidak bisa ditepati kata-katanya. Kau selalu ada dimana manusia ada. Kadang kau buruk, kadang kau baik hanya sesuai yang kamu ingini.

Suara: Trus maumu aku apa, diam selama-lamanya. Itu namanya kiamat bung...yang namanya kehidupan itu adalah pertumbuhan atau perkembangan. Suara akan selalu ada dimana ada manusia.

Aku: Ya sudah terserah kamu. Sini kubisikkan, dia...oleh orang-orang...dipanggil...Allah. Tapi aku lebih menyukai dia sebagai kekasihku.


Wallahua'lam bissawaf

KALIAN SEMUA PELACUR....

PELACUR YANG BAGAIMANA YANG MENURUT KALIAN BAIK?

APAKAH MEREKA YANG SELALU MELAYANI HASRAT PEMBELINYA...

SELALU MENGELAP SPERMA YANG BERCECERAN DIMANA-MANA....

SLALU TERSENYUM PADA SETIAP ORANG YANG AKAN DAN HENDAK MEMBERINYA UANG....

SUKA DIAJAK CURHAT MANAKALA TAMU MEREKA SEDANG GUNDAH KARENA MENGHADAPI MASALAH KELUARGA DI RUMAH....

APA PELACUR ITU?
KESALAHANKAH...
KETELEDORANKAH...
KEMUNAFIKANKAH...
KEBOBROKANKAH...
KERUWETANKAH....
PENGHIANATANKAH...
KEMUNDURANKAH...

KALAU MEMANG SEPERTI ITU, APA KITA BISA DIGOLONGKAN SEBAGAI PELACUR?

BUKANKAH SEMUA HAL ITU PERNAH TERJADI PADA KITA!

LALU...APA BEDANYA KITA DENGAN PELACUR?

DAN, BOLEHKAH.... JIKA AKU BILANG BAHWA KALIAN SEMUA ADALAH PELACUR!

AKU SUKA MELACUR...

Sudahkah kuceritakan pada kalian kalau aku suka melacur?

Ternyata melacur itu enak, Kawan...

Tahukah kau bagaimana rasanya, Kawan...

Rasanya seperti...apa yah...

Nganu...itu...loh...
se...se...per...ti...:
Kotoran yang lengket pada dinding dan tidak akan hilang utk selamanya

se...se...per...ti...:
Muntahan yang penuh kebahagiaan karena terbebas dr penyakit

se...se...per...ti...:
bugil di tengah pasar tanpa seorang pun yang melihat

se...se...per...ti...:
menggorok leher sendiri dan melihat sidratul muntaha di dalamnya

se...se...per...ti...:
kacung yang disuruh majikan tapi tidak memberatkan sesuatu apapun padanya

se...se...per...ti...:
mendaki ke puncak gunung dengan cara digendong

se...se...per...ti...:
berada di singgasana dan akan turun sesuai keinginan kita

Kawan, tahukah kau bagaimana aku melacur?

AKU MELACUR KETIKA ORANG SUDAH MELUPAKANKU...

AKU MELACUR KETIKA SEMUA KEINDAHAN SERTA KEGLAMORAN TAK BERPIHAK PADAKU...

AKU MELACUR KETIKA IBU SUDAH MENINGGALKANKU...

AKU MELACUR SAAT SUARA-SUARA ORANG SUDAH TAK KUGUBRIS...

AKU MELACUR MANAKALA TIADA ATURAN YANG MENGIKATKU...

AKU MELACUR DAN BENAR-BENAR MELACUR SESUKA DAN SEPUAS HATIKU KETIKA TIADA SESUATU PUN YANG MEMBERATKANKU...

AKU MELACUR KETIKA TIADA LAGI BERPATOKAN KEPADA ARAH...

Kawan, tahukah kalian dengan siapa aku Melacur?

Dia...yang...oleh...orang-orang...dipanggil...ALLAH...

Dia...Kekasihku...

Tanpa menikah aku sudah bisa melacur denganNYA

Tanpa disatukan dengan ikatan aturan yang ada aku sudah berleha-leha denganNYA

Tanpa mendengarkan sumbang-sumbang suara orang aku sudah berdampingan denganNYA

Tanpa mempedulikan ibu, ayah, anak, istri, sodara, teman, aku sudah menyatu denganNYA

Kenapa begitu...karena Dia tak lagi memberatkanku

Kenapa begitu...karena memang harus begitu

Dan karena aku sudah menganggap Dia sebagai Kekasih Abadi

NAMAKU...

NAMAKU...

AKU BUKAN ARI PRASETYA HADI

BUKAN PULA TUDJI MARTUDJI

ATAU NUNGKY W PRABOWO

AKU JUGA BUKAN DEDI SUGIANTO

ATAU BUDI ELYAS

BUKAN JUGA HANIF NASRULLAH

ATAU EKO BUDI NUGROHO

CEK SAJA KTPKU...

NAMAKU...

BUKAN ABDUL MUIS MASDUKI

ATAU RADEN ARIYANTO

JANGANKAN ITU SEMUA NAMA ITU

NAMAKU TETAP...

KAU TIDAK BOLEH MENYEBUTKU AGUS KARTOLO

JANGAN JUGA PANGGIL AKU ANDI WIBOWO

ATAU NAMA YANG MIRIP ANDI SANJAYA

ATAU JIKA DIBALIK ADI ARIYANTO

JANGAN JUGA KAU MEMANGGILKU BAMBANG SMIT KARENA MIRIP DENGAN NAMA AYAHKU

APALAGI BASIR AIDI

AKU YA AKU

KAU TAK BOLEH MENGGANTINYA DENGAN NAMA BUDIAWAN MERDEKA

ATAU BUNGKUSAN NEGARA

ATAU JUGA KRISTANTO WAHYU

INI AKU...MASIHKAH KAU LUPA...

BERAPA KALI KUKATAKAN BAHWA NAMAKU...

JANGAN KAU PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN LAIN SEPERTI DENNI N JA

ATAU DJOKO ADI WALUYO

ATAU RAMA ANDIKA

ATAU DUDUNG DUHITA

ATAU KLASIK HERLAMBANG

ATAU DIDIT ARIEF

ATAU ENDING IRAWAN

ATAU ERWAN QTHINK

ATAU JOKO SETIONO

ATAU SOIM ARDIYANSAH

ATAU AGUS SALIM

SEMUA ITU BUKAN AKU

NAMAKU TETAP SEPERTI KETIKA AKU LAHIR

BEGINI SAJA BIAR KUEJA UNTUKMU

NAMAKU A...D...A...L...A...H...

JANGAN LAGI KAU TAMBAHI ATAU GANTI

SEJAK LAHIR PROCOT DARI BUAH GARBAN IBU AKU SUDAH DIBERI NAMA...

BUKAN MALAH MENJADI SALEH MUKADAR ATAU DHIMAM ABROR

AKU YA TETAP AKU

JEJEGKU YA SEPERTI INI

TIDAK BEDA DENGAN MANUSIA LAIN

TAPI NAMAKU BUKAN VALIANT ALVARIZKY

ATAU ZAMZAMI PUTRA LANGIT

APALAGI JIKA NAMAKU KAU GANTI DENGAN NAMA PEREMPUAN SEPERTI LIA KANZHA

ATAU YULIANI FATIMAH

ATAU NOVI KUSUMA

ATAU WULAN

ATAU INDAH YULIANI

BUKAN...BUKAN...ITU...

NAMAKU TETEP...

INGAT BUKAN IKE MARTHA

ATAU INTANSETYAWARDHANI

ATAU INTAN ANTASARI

NAMAKU SAMPAI KIAMAT, SAMPAI AJAL MENJEMPUT NAMAKU TETAP...

Jumat, 07 Agustus 2009

SINOPSIS: TUHAN DI BAWAH KEDUA TELAPAK KAKIKU


Buku ini menampilkan sebuah perjalanan spiritual anak manusia dalam mencari identitas diri. Pada awal perjalanannya semula berupa kegundahan dan kenekatan setelah cintanya terhadap Kayla terombang-ambing antara kenyataan dan maut. Saat itulah cemburu tiba-tiba mengamuk. Kehidupan sang tokoh yang tenang tiba-tiba terusik oleh keterancaman janji-janji yang tiada terealisasi. Berbekal motor butut peninggalan ayahandanya serta modal pas-pasan, sang tokoh kemudian melakukan perjalanan jauh hingga daya tahannya terkuras habis.

Selama melakukan perjalanan berkeliling ia sering didera cemooh, pujian, lapar dan dahaga, kepanasan, kehujanan, serta sakit. Sebaliknya, bertemu orang-orang di bawahnya justru menjadi penghilang dahaga. Mengesampingkan urusan pribadi adalah penghibur laranya.

Dengan profesinya sebagai jurnalis, sang tokoh melibatkan diri dalam pertarungan batin yang maha dahsyat. Kini perjalanannya bukan lagi mengenai pertarungan cinta, bahwa baginya martir cinta hanyalah sebuah judul yang cocok untuk lagu-lagu cengeng. Bukan pula tentang pemberontakan serta kebebasan yang kerap didamba-dambanya, melainkan mengenai jagat manusia yang sarat akan sejuta pemikiran dan permasalahan. Bahwa semua yang dilahirkan memulai hidup tanpa mempunyai sesuatu tak terkecuali tubuh maupun nyawanya sendiri. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Bahwa semua pasti akan mati, itu pasti. Tapi kapan dan bagaimana kematian tidaklah penting dan tak perlu kisruh memikirkannya. Siapa yang siap, itulah intinya.

Banyak hal-hal yang disajikan oleh sang tokoh; dari keberagaman sosial, budaya, serta ideologi suatu kelompok. Pun penceritaan sejarah manusia dihaturkannya dengan kepekaan tinggi. Mengenai keimanan sang tokoh, tentu penyajiannya disampaikan dengan sangat gamblang, dinamis serta progresif. Sang pengarang dalam tokoh rupanya tidak mempersonifikasi diri sendiri sebagai pengarangnya langsung, atau bahkan si tokoh adalah orang lain, itu bisa saja terjadi. Tapi yang pasti tokoh ini menjadi saksi inteletual atas kejadian-kejadian atau keadaan-keadaan yang dialami di tengah perjalanan hidupnya. Dia membuat seolah-olah perjalanannya begitu mudah sehingga dapat dilakukan oleh semua orang tanpa suatu kepayahan apapun.

Perjalanan ini telah memberi ruang pemahaman bagi sang tokoh tentang satu makna yang tak diperkirakan sebelumnya. Ia sadar ternyata menjadi manusia itu tidak gampang. Kita hanya cukup menjadi manusi...tanpa huruf ‘A besar’. Sebab huruf ‘A’ adalah milik Allah. Dari sini perjalanannya kemudian melenceng dari yang direncanakan. Dari kekesalan cinta menjadi kerinduan yang membahana di dinding-dinding arasy. Dari permberotakannya menuju kebebasan justru kian mendekatkannya kepada Yang Dicintai. Demikian pula permasalahan yang ditemuinya membuatnya menjadi sosok pemabuk yang sakitnya hanya dapat disembuhkan dengan permohonan cinta yang suci dan tulus terhadap Sang Kekasih. Bahkan dari kedua telapak kakinya ia merasa ditampakkan (tajalli) Al-Haq.

Rabu, 14 Januari 2009

OSAMAH BIN LADEN SERUKAN JIHAD ke GAZA

Bagaimana bila pucuk pimpinan Al Qaidah Usamah bin Laden menyerukan agar umat muslim berjihad untuk menghentikan serangan Israel ke Jalur Gaza. Yah, inilah yang diserukan Usamah atau Osama dalam memerangi kekejian bangsa Israel terhadap Palestina.

Reuters menulis, melalui rekaman suara, selain menyerukan jihad, Usamah juga menyesalkan pemerintah Arab yang mencegah aksi penduduknya untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina.

Berita rekaman suara Usamah bin Laden itu disebarkan dari situs Islam yang selama ini selalu menyebarkan rekaman suaranya. Pusat Intelijen Amerika Serikat menyatakan bahwa suara rekaman yang dikirimkan kemarin dipastikan keotentikannya.

"Hanya ada satu jalan untuk membawa kembali Al Aqsa dan Palestina, dan itu adalah jihad di jalan Allah," ujarnya.

Dalam rekaman sepanjang 22 menit itu, Usamah juga menyebut calon musuh besarnya, presiden terpilih AS Barack Obama, akan mendapat warisan masalah yang sangat berat dari George W. Bush.

"Sekarang Amerika telah menjadi pengemis dan ke depan akan semakin tidak berdaya," katanya merujuk pada krisis finansial yang menghancurkan perekonomian AS.

Usamah menegaskan, kebangkrutan ekonomi itulah yang mendorong AS mendukung Israel menggempur Gaza untuk mengalihkan perhatian dunia.

Menanggapi kemunculan kembali musuh besarnya, Gedung Putih menuding dirilisnya lagi pidato Usamah tersebut semakin menunjukkan bahwa terdakwa otak serangan ke WTC pada 11 September 2001 itu telah terisolasi.

"Rekaman itu hanya demonstrasi bahwa dia semakin terisolasi serta ideologi, misi, dan agendanya semakin ditentang dunia," ujar Juru Bicara Gedung Putih Gordon Johndroe kemarin sebagaimana dilansir AP.

Terakhir rekaman pidato Usamah muncul pada Mei 2008, saat Israel memperingati hari berdirinya ke-60. Pada rekaman itu, Usamah juga menyerukan kemerdekaan Palestina.

Minggu, 21 Desember 2008

MENJAUH DAN MENDEKAT

Makhluk hidup memiliki kecenderungan,
Menjauhi sesuatu yang tidak disenangi,
Mendekati sesuatu yang disenangi dan enak,
Itu adalah ciri khas nafsu,
Membuat makhluk mendekati maupun menjauhi,

Tidak ada yang salah dengan itu,
Justru itu adalah benar,
Paling tidak mekanismenya memang seperti itu,
Kalau tidak memenuhi mekanisme seperti itu berarti tidak benar,
Tidak memenuhi kaidah alamiah,

Yang dipermasalahkan dalam agama bukanlah,
Ada tiadanya nafsu,
Namun, bagaimana mengarahkan nafsu itu sendiri,
Baik kecenderungan makhluk untuk mendekat maupun menjauh,

Tumbuhan memiliki daya pembeda mendekati sumber kehidupan,
Ia akan mendekati sumber cahaya dan mendekati sumber makanan,
Itulah yang disebut sebagai daya tarik terhadap apa yang dibutuhkan atau syahwah,
Namun belum bisa menjauh dari apapun yang membahayakan,
Kecuali beberapa jenis tumbuhan,
Yang memiliki karakter hewani,

Hewan memiliki daya pembeda menjauhi bahaya,
Ia akan menjauhi sumber bahaya dan mendekati tempat dimana bahaya itu tiada,
Itulah yang disebut sebagai daya tolak atau gadhab,
Namun belum bisa membedakan dengan pembeda tertinggi,
Kecuali beberapa jenis hewan yang tingkat intelegensinya tinggi,
Yang sedikit memiliki karakter mirip-mirip manusia,

Manusia memiliki daya pembeda lebih tinggi,
Ia dapat membedakan mana sumber bahaya dan mana yang bukan,
Ia dapat membedakan mana sumber kenikmatan dan bukan,
Itulah yang disebut sebagai daya intelektual atau akal,
Namun sering sekali belum bisa membedakan mana yang haq dan bathil,
Karena tingkat fakultasnya masih di nabati,
Maupun hewani,
Termasuk diri saya sendiri ini,

Keinginan manusia untuk memenuhi hasrat seksuil,
Merupakan seuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu ingin berhubungan seksuil,
Ataukah dengan wanita pelacur,
Ataukah dengan wanita simpanan,
Ataukah dengan pegawainya,
Ataukah dengan pasangan syahnya,
Yang syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Keinginan manusia untuk menjauhi apa yang membahayakannya,
Meruapakn sesuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu untuk mempertahankan diri,
Apakah dengan memberontak terhadap tatanan yang telah ada,
Ataukah dengan memberontak terhadap tatanan negara,
Ataukah dengan memberontak terhadap aturan organiasi,
Ataukah dengan meletakkan diri dengan menjalankan tanggungjawab,
Tanggungjawab syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Tidak ada yang salah dengan penggunaan akal,
Pun menempatkan syahwah dan gadhab pada tempatnya,
Yang jadi permaalahan adalah, rukunnya atau kaidah-kaidahnya,

Bahkan dalam olah qolbu-pun harus menggunakan akal,
Karena akal adalah rukunnya,
Bagaimana bisa membedakan mana haq dan bathil apabila tidak dengan akal,
Itulah lobang keterjebakan ahli-ahli spiritual,
Mereka merasa tidak membutuhkan akal pembeda dalam berspiritual,
Jadi sering sekali Iblispun-pun dianggap malaikat,
Karena pada tingkatan yang lebih tinggi, Iblispun bisa berwujud manusia ganteng,
Dan malaikatpun bisa berbentuk garang,

Pembeda, tarik dan tolak,
Pemahaman ini diperlukan,
Seiring dengan prosesi pembersihan qolb,
Dalam tingkatan tertinggi spiritual,
Ma’rifah,
Hanya dapat diperoleh dengan kebersihan qolb,
Namun tanpa akal,
Syaithan dan Malaikatpun sama,
Yang membedakan adalah,
Malaikat mengakui eksistensi manusia,
Sedang Iblis tidak,

Mengenal diri (eksistensi manusia),
Adalah mengenal Allah (eksistensi Tuhan),
Kalau Iblis menghindarkan manusia dari mengenal diri,
Sama pula menghindarkan manusia dari mengenal Tuhan,

Jadi, mengenal diripun harus menggunakan akal,
Namun akalpun harus ada rukunnya,
Dan akal yang terbaik adalah al-Furqon,
Al-Qur’anul Kariim,
Yang dibaca dengan hikmah,
Hikmah adalah ngelmu,
Ngelmu adalah knowledge,
Knowledge hanya diperoleh melalui laku atau doing,
Dengan hikmah,
Dalam hidup inilah kita belajar hikmah,

Hikmah mengenai inti,
Dualitas daya tarik dan tolak,
Manifetasinya dalam wujud kehidupan,

Nafsu itu harus ada,
Namun katanya harus dikekang,
Sebagaimana legenda empat kuda,
Yang menarik kereta,

Empat kuda,
Ammarah, Lawamah, Sufiyah, Muthmainnah
Keempatnya penting sekali,
Untuk menarik kereta kencana Sang Raja,

Siapa bilang nafsu itu tidak boleh,
Justru diperbolehkan, dan diharuskan ada,
Selama kita masih menarik nafas,
Namun bagaimana mengaitkan tali pada keempat nafsu itu,

Konon, inilah simbol dari ikat kepala tradisional Arab,
Untuk mengikat fikiran yang menjadi sarana liarnya keempat nafsu,
Begitu pula inilah simbolisasi dari ikat kepala udeng dalam khazanah tradisional Jawa,
Blangkon sebagai simbolisasi di kraton,

Hampir semua budaya yang dilewati Islam,
Memiliki terminologi akan ikat kepala,
Karena akal berada di kepala,
Bisa mengendalikan atau dikendalikan,
Tergantung dimana memposisikan,

Dikendalikan perut ataukah mengendalikan perut,
Dikendalikan selangkangan ataukah mengendalikan selangkangan,
Nafsu, rentan ditumpangi Iblis,
Nafsu yang tidak terkendali, bisa ditumpangi Iblis,
Nafsu itu bukan Iblis, tapi Iblis bisa menguasai nafsu,

Nafsu inilah yang membawa para pengusaha Arab,
Ziarah ke Puncak di Jawa Barat,
Keliru tempat dalam memasukkan benang ke dalam lobang jarum,
Tidak bisa membedakan mana selangkangan istri dan bukan,
Namun bisa membedakan mana yang bahenol dan mana yang bukan,
Menempatkan akal tidak pada tempatnya,
Sehingga meletakkan daya tarik pada yang bukan tempatnya,
Dan terdorong pada ketertarikan yang bukan pada tempatnya,

Lalu, apakah definisi “pada tempatnya”,
Tergantung ente sendirilah membedakan,
Bukankah hidup ini adalah pembelajaran,
Disinilah kita belajar untuk membedakan,

Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan kekayaan,
Pun untuk menafikkan kemiskinan,
Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan pangkat keduniawian,
Pun untuk mengejarnya tanpa reserve,
Namun bagaimana meletakkan pada proporsinya,
Itulah Pekerjaan Rumah kita semua,

Saat inilah, aku mulai belajar kembali,
Menyadari bahwasanya aku kemaren-kemaren belum bisa mengendalikan nafsu,
Terutama yang berhubungan dengan perut.
Marilah bersama-sama mengendalikan nafsu,
Sebelum nafsu ditumpangi oleh Iblis,
Nafsu yang ditumpangi oleh Iblis,
Akan membawa pada nafsu pemberontak,
Karena kebencian pada sesuatu yang diberontak,
Dan pemberontakan yang paling besar adalah memberontak terhadap Allah,
Namun, kalau kita jeli, apakah mungkin kita benar-benar memberontak terhadap Allah,
Berfikirlah dab, berfikir,

Tidak mungkin,
Kalau bingung,
Cobalah gunakan berfikir pendulum,
Maupun filosofi melar mengkeret Ki Ageng Suryo Mataram,

Kalau sudah ketemu berarti,
Kamu sudah menguasai ilmu Titik,
Titik di bawah titik Ba’
Seberapapun engkau menjauh, engkau akan bertemu dengan titik,
Seberapapun engkau mendekat, engkau akan bertemu dengan titik,

(Sebelumnya dipublikasikan oleh blogger Alang-alang)

Kamis, 20 November 2008

ABAD JURNALISME LHER


Persaingan media saat ini mendekati titik awal sekaligus akhir bagi para jurnalis. Harga jurnalis kian tidak ada harganya. Seorang jurnalis bahkan rela tidak mendapat upah selama 3-4 bulan selama dia masih sanggup berekspresi dengan kebebasannya. Beberapa media kecil juga gulung kuming menghadapi ketatnya kompetisi di dunia informasi tersebut. Sebagian malah gulung tikar karena tidak mendapat tempat dalam persaingan.

Sementara sepak terjang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam dunia jurnalis semakin sulit dijangkau teman-teman jurnalis, dalam hal ini media-media kecil. Dalam sekian periodik PWI bukan lagi menjadi organisasi melainkan sebuah institusi negara yang sah. Saya melihatnya aneh saja, sebab media-media di luar negeri sampai saat ini tidak pernah menjadikan keorganisasian jurnalis sebagai institusi. Kalau banyak organisasi-organisasi jurnalis yang berkembang, itu cuma sebatas organisasi biasa, tidak lebih. Pun mereka juga tidak pernah mendeklarasikan diri agar dapat menjadi institusi yang sah. Sebaliknya di Indonesia, PWI justru dianggap sebuah instansi yang menjadi kiblat jurnalis; dielu-elukan dan disanjung-sanjung. Jika ada jurnalis belum menjadi anggota PWI, maka dia belum bisa dibilang jurnalis sejati. Bahkan sebatas sepengetahuan saya, eksistensi PWI semakin besar tapi juga semakin tidak jelas. Adapun ketetapan hukum, tatanan, aturan dan integritas PWI seolah-olah menjadi sesuatu yang wajib ditaati oleh seluruh wartawan se-Indonesia. Haram hukumnya bagi yang melanggar. Benar-benar menyedihkan. Layaknya anak kecil, profesi wartawan selalu dikaitkan sebagai korban kesialan sebuah aturan. Yang menakjubkan, kini PWI tak lagi sendirian. Beberapa orang yang notabene tak puas dengan kebijakan PWI lantas mendirikan organisasi baru sebagai penyeimbang, pendobrak, pembaharu, dan tandingan. Atau kau boleh menyebutnya: penghibur. Sebut saja Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Wartawan Independen (AWI), Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI), Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), Asosiasi Wartawan Kota (AWK), Federasi Serikat Pewarta, Gabungan Wartawan Indonesia (GWI), Himpunan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI), Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAB HAMBA), Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI), Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI), Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI), Komite Wartawan Indonesia (KWI), Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI), Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia (KOWAPPI), Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI), Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI), Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI), Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK), Persatuan Wartawan Independen Reformasi Indonesia (PWIRI), Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI), Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI), Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS), Serikat Wartawan Indonesia (SWI), Serikat Wartawan Independen Indonesia (SWII).
Yah, setidaknya kini dunia jurnalis tak lagi sepi. Makin banyak organisasi banyak pula bermunculan orang-orang pintar. Tak ayal, independensi pers makin liar saja. Optimisme pers mesti harus ada mengingat iklim keterbukaan dan demokratisasi adalah arah yang mesti dituju bangsa ini di hari-hari mendatang. Walau demikian, tentu kemunculan organisasi jurnalis ini semakin mengukuhkan ketidakpedulian PWI terhadap profesi wartawan sebagai institusi negara yang sah. Bagi para jurnalis-jurnalis non-anggota, menganggap PWI tak ubahnya institusi penghisap darah. Dipakai sekedar untuk gagah-gagahan, penyatu orang-orang inteletual khususnya media-media besar yang memiliki kepentingan, parahnya ketika PWI dijadikan sebagai modal industri. Memang ada ongkos mahal yang harus dibayar insan pers dewasa ini. Persisnya, semenjak era reformasi digulirkan dan membuahkan kebebasan pers–ketika pers yang sejak Orde Baru jadi “pers industri”. Sementara saat ini insan pers mulai menjadi komoditi yang latah, karena setiap orang bisa menerbitkan koran tanpa izin.

Dan, “fenomena amplop” pun semakin mewabah. Istilah jurnalisme Lher pun hadir di tengah-tengah masyarakat sekaligus menjadi sesuatu yang bukan fenomenal lagi, yakni sebuah jurnalisme yang selama ini mendemontrasikan kesan gampangan, main-main–terutama main sana main sini-sikat sana sikat sini, seenaknya (khususnya dalam mengekploitasi kepentingan pribadi demi peruntungan bisnis), memuaskan selera pembaca tanpa mengedepankan substansinya, mengumbar pornografi yang berlebihan demi keuntungan, serta berita bukan lagi menjadi kepatutan tapi sudah menjadi kebutuhan semata. Sebagian kalangan menyebutnya: Inilah abad Jurnalisme Lher.
Para pendidik pers saat ini bisa saja bicara soal filosofi “panggilan hidup” dan “panggilan perut”, sementara tokoh-tokoh dala Dewan Pers boleh bicara mengenai idealisme pers ketika mereka berbicara dalam seminar mengenai Etika Jurnalistik. Mereka dengan sengit berbicara soal kebanggan serta atribut menjadi anggota pers dan konggres demi konggres. Tetapi, pernahkah terpikir oleh mereka, sudah lama majikan pers selalu mengupah wartawan dengan uang segobang sembari bilang (sengaja maupun tidak): “Carilah tambahannya di luar kantor?” Sementara kode etik jurnalis menyebutkan seorang wartawan dilarang menerima amplop–bukannya saya pro wartawan amplop. Sebab saya melihat banyak teman-teman wartawan yang merasakan penderitaan selama menjadi pekerja pers.

Memang, kecilnya gaji seharusnya tak menghalalkan wartawan menggadaikan harga diri untuk menerima apalagi meminta “amplop”. Namun repotnya, di satu sisi wartawan adalah buruh di tepi jalan tapi di lain pihak orang bilang mereka profesional dan idealis. Malah ada yang bilang wartawan termasuk “kelas khusus”. Idealnya, ia adalah agent of modernization, agent of social change, pejuang kebenaran, keadilan dan pembela rakyat kecil yang tertindas. Wartawan seharusnya memiliki wawasan luas dengan banyak membaca dan berdiskusi. Itu memang hanya bisa berarti slogan atau harapan kosong belaka.

Wartawan sendiri kadang tak menyadari hak-hak mereka sebagai “kelas” pekerja alias buruh. Tak berani menggalang solidaritas, apalagi mogok, jika suatu saat hak mereka terabaikan. Apa boleh buat, karena sejak semula mereka bekerja tanpa perlindungan, tak ada ketentuan standar peng-gajian, apalagi asuransi.

Nah, bagaimana jika semua standar kerja dan kode etik sudah diikuti, toh pasien dokter mati atau berita wartawan ternyata salah? Berapa kali para pendidik pers menyuruh kita membolak-balik kode etik jurnalis; mengkaji, mempelajari, memahami, tapi toh kode etik tersebut malah semakin menjerumuskan. Apakah dengan mengikuti prosedur standar dan kode etiknya, seorang dokter dan jurnalis dipastikan dapat menyelamatkan manusia untuk hidup bebas? Apakah dokter yang baik pasti menjamin pasiennya tak akan mati? Apakah wartawan yang baik pasti menjamin khalayak mendapat informasi yang tak terbantahkan? Belum tentu. Pasien mungkin mati dan informasi bisa salah.

Bagi kami keberadaan PWI hanya menjadi institusi negara yang sah tanpa memiliki substansi kuat di dalamnya. Toh, pada kenyataannya PWI tak pernah pro wartawan. Berapa kali teman-teman jurnalis jatuh bangun dalam tuntutan hukum. Seperti halnya kasus majalah Tempo beberapa waktu lalu yang kalah melawan Tommy. Lalu, dimana peran PWI? Saat ini keagungan pers hanya dikotori oleh tangan-tangan orang berkepentingan. Bahkan untuk mendaftar keanggotaan PWI, kata teman saya, sekarang ini kita tinggal menyogok maka esoknya kita sudah masuk keanggotaan. Idealisme pers masa kini sudah hilang. Bobrok. Rusak. Hancur.

Namun demikian masih banyak orang yang yakin dunia pers (kelak) akan menjadi komunitas yang seperti kata orang benar-benar “kelas khusus”. Hanya saja kapan, itulah yang sekarang ini masih diperjuangkan teman-teman pers. Memang untuk merubah image pers dari kesan gampangan atau jurnalisme Lher (julukan pers masa kini) menjadi kelas khusus, modernisasi agensi dan atau pejuang kebenaran, tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Dalam hal ini semua pihak harus turun tangan untuk memperjuangkannya. Tidak dalam sehari, sebulan, atau setahun, tapi butuh waktu lama bahkan bertahun-tahun agar idealisme pers kembali dipercaya masyarakat seperti tempo dulu. Dan tentunya perubahan ini juga diharapkan kalangan pers agar dibarengi dengan kesejahteraan setiap personal. Semoga, yah, semoga saja.

SUDAH SAATNYA INDONESIA MENGGUGAT MEDIA


Saat ini media sedang digugat. Indonesia yang menggugat. Judulnya: INDONESIA MENGGUGAT MEDIA. Memasuki era reformasi, kini, media seolah disulap menjadi raja segala diraja. Peran media menjadi penentu perkembangan jaman. Yang baik tentu yang mampu membangun bangsa, yang jelek malah sebaliknya. Banyaknya berita-berita peristiwa–dari kecil hingga besar–membuat tayangan tidak tersaring dengan apik. Bahkan terkesan menjerumuskan. Para pengguna informasi ini juga merasa berhak untuk memberi kritik, saran, dan masukan. Seba selama ini peran media sudah kebablasan. Kurang tegasnya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memantau gerak-gerik media membuat sebagian orang risih.

Selama ini masyarakat Indonesia selalu disuguhi tontonan penuh kesombongan dan kebanggan diri media, khususnya media elektronik yang memiliki kedekatan dengan pemirsa karena kemudahan memperoleh informasi. Tayangan-tayangan yang tidak layak–kendati sifatnya straightnews (peristiwa), seharusnya memiliki batasan-batasan tertentu. Berita-berita tentang kebrutalan seperti pembunuhan, pemusnahan massal, perampokan, pencurian hingga tawuran massal yang baru-baru ini kita saksikan, acapkali menyudutkan serta merugikan penonton. Tentu saja hal ini nantinya dapat memicu tindakan-tindakan seporadis yang (mungkin) dapat diikuti atau ditiru.
Sebagai contoh, berita-berita Ryan “Penjagal Manusia” selalu diekspos secara besar-besaran. Dia seolah-olah dijadikan selebriti dadakan untuk melariskan bisnis media. Cara Ryan memutilasi ini pada akhirnya ditiru oleh seorang di Bali yang membunuh korbannya dengan cara memutilasi pula. Ketika ditanya alasannya, dia menjawab ringan saja: Saya melakukannya karena meniru adegan mutilasi Ryan.

Kejadian ini tidak cukup sampai di sini. Kasus eksekusi tiga terpidana mati bom Bali I sempat menjadi berita terheboh bulan ini. Bahkan, hampir semua media menayangkan beritanya. Para redaksi media cetak–koran harian dan mingguan, tabloid dan majalah–saling berlomba mencari angle (sudut pandang) yang bagus untuk melariskan medianya. Paling gencar media elektronik. “Para pemusnah massal” tersebut mendadak dijadikan pahlawan spesial bagi televisi, yang seolah korban-korbannya di Bali adalah semua sampah masyarakat yang perlu dibumi hanguskan. Sampai-sampai seorang anak kecil sempat bertanya kepada orang tuanya karena tayangan yang sering ditontonnya. Begini katanya: Benarkah jika orang itu membunuh puluhan jiwa akan menjadi pahlawan? Pertanyaan ini tentu bukan menjadi tanggung jawab orang tua, tapi juga media sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab untuk meluruskannya.

Yang menyedihkan, sebuah televisi swasta malah membentrokkan pemberitaan tentang perasaan keluarga terpidana mati menghadapi detik-detik eksekusi dengan perasaan korban atau keluarga korban bom Bali I. Pihak media memberi alasan sepele; bukankah sebuah tayangan atau pemberitaan itu harus memiliki keberimbangan berita? Retorika ini tentu ada benarnya bila dilihat dalam kacamata jurnalis. Tetapi bukankah masyarakat juga berhak menuntut berita berimbang yang bagaimanakah yang layak tayang, jadi bukan sekedar berita berimbang yang asal-asalan demi meningkatkan rating, sementara di sisi lain justru merugikan orang banyak, terutama pihak narasumber.

Pada kenyataannya beberapa berita memang sudah memenuhi kelayakan sebagai sebuah informasi, namun tetap saja sebagian pihak sangat menyayangkan pemberitaan semacam itu. Mereka menganggap berita-berita kebrutalan yang menampilkan tokoh-tokoh, dalam hal ini tokoh antagonis seperti Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas, tidak layak untuk konsumsi publik. Kecuali jika memang sifatnya murni informasi tanpa dibubuhi dramatiasi yang berlebih, mungkin hal itu masih dalam batas kepatutan.

Tayangan kebrutalan lain yang baru-baru ini gencar diperbincangkan adalah maraknya tawuran antar mahasiswa. Sebagai seorang intelektual, bukan sepantasnya mahasiswa saling beradu fisik. Bahkan diberitakan akibat tawuran tersebut seorang mahasiswi meninggal dunia setelah mendapatkan serangan jantung saat kampusnya diserang mahasiswa dari kampus lain. Tayangan kebrutalan ini sangat tidak patut. Sebab hanya akan memberi keluasaan kepada pihak-pihak yang sedang berkonflik untuk kemudian melakukan aksi-aksi yang lebih parah. Menjadikan mereka seorang jagoan. Bahwa mahasiswa tanpa perkelahian adalah kuno. Mereka menganggap dunia pendidikan seharusnya menjadi ajang perkelahian bergengsi kawula muda. Yang kemudian kebrutalan-kebrutalan semacam ini menjadi sebuah fenomena yang hukumnya wajib diikuti. Dan, semua itu gara-gara pemberitaan di media.

Anehnya, meski beberapa pihak sangat geram dengan berbagai pemberitaan media, tapi mereka tak sanggup untuk mengoceh. Hal ini dikarenakan terbatasnya ruang gerak bagi mereka untuk bersuara di hadapan media. Akhirnya, tuntutan Indonesia pun membisu dalam ketidakpastian. Sementara pihak media, dalam hal ini yang menjadi tergugat, seolah tidak merasa salah. Bahkan pengusaha media tidak pernah merespon kebutuhan masyarakatnya (pemirsa) karena dia cuma sibuk memikirkan bisnis ratingnya. Pun saat dipertemukan dalam satu ruangan bersama para praktisi dan akademisi, lagi-lagi media selalu menyangkal kekurangannya dan menganggap diri merasa benar. Alasan paling sederhana yang selalu dilantunkan media, mereka menganggap bahwa semua berita sifatnya informasi, mengingat fungsi media itu sendiri adalah sebagai informasi, pendidikan, hiburan dan kontroversi.

Kalau ujung saraf selalu menjadi utama dalam menangkal tuntutan, maka yang terjadi, media bukan lagi menjadi idealisme melainkan sudah mendekati arogansi. Jujur, padahal kalau mau tahu bahwa kebanggan serta kesombongan sebenarnya cermin kelemahan diri, kelompok dan golongan, serta negara. Sebaliknya mengharapkan pujian selalu lebih sulit. Yang ada dalam persediaan untuk pujian hanya satu jenis: terima kasih. Buntut pujian adalah kritik pedas atau permohonan yang mengiba-iba, tergantung pada permukaannya. Makin tinggi pujian yang diinginkan, makin tajam pula buntutnya. Tapi terhadap hinaan adalah tantangan sebuah otomat dalam diri dimana akan menghasilkan segala macam tanggapan, sikap, dan tindakan, yang terkemas dalam sederetan kata. Sekali waktu ada waktunya media harus menumbangkan prinsipnya atau mengalah demi orang banyak.

Kini, masyarakat memiliki hak untuk mempertanyakan peran media di era reformasi. Sudah saatnya Indonesia menggugat media dan menjadi pengadilan tertinggi bila mendapati media nakal dan senang melakukan pelanggaran. Jika melalui suara kita tidak sanggup mendobrak media, kita bisa mengawalinya dari diri sendiri, yakni dengan mematikan tayangan-tayangan televisi yang berbau porno, brutal, dan sadis. Atau, jika itu media cetak, kita tidak perlu membeli koran-koran yang menerbitkan berita-berita “tidak berimbang”. Nah, sekaranglah saatnya Anda menjadi juri sekaligus hakimnya.

Jumat, 14 November 2008

Memasung Kebebasan Demi Sebuah Materi


Teman wanita saya, Kiki, kemarin, memberitahu kelulusannya mendaftar calon perwira TNI AD. Ia berhasil menyelesaikan tes terakhir. Setelah ini, ia melanjutkan pendidikan di Bandung. Betapa getolnya sampai-sampai Kiki rela mengorbankan segala-galanya. Bahkan, kebebasannya pun–barangkali–rela dikorbankan. Setidaknya itu yang saya tangkap dari sorotan matanya.
Tak terhitung berapa banyak waktu Kiki terbuang hanya untuk mempersiapkan mental dan fisik menghadapi tes. Ia rela mengesampingkan urusan pribadi demi meraih cita-cita. Masalahnya, apakah itu termasuk cita-cita (mulia) ataukah sekedar pengharapan untuk meraih kehidupan yang layak. Yang jelas dua-duanya: SALAH.
Di tengah negara yang sedang kalut karena diapit krisis global –apa-apa serba susah–wajar jika banyak orang-orang menginginkan kehidupan layak dikemudian hari. Salah satu pekerjaan yang dianggap mampu mewadahi aspirasi mereka adalah yang berkaitan dengan negara–PNS, Aparatur Negara (POLRI, TNI, JAKSA), BUMN. Tetapi masalahnya tidak semudah itu bagi seseorang mengabdi demi negara?
Coba tengok; berapa juta orang yang gagal–menurut penilaian saya–mengabdi demi negaranya. Kebanyakan dari mereka cuma memikirkan perutnya sendiri. Substansinya tidak jelas. Padahal, untuk mengabdi demi negara dibutuhkan; niat, tekad, semangat yang gigih, tanpa pamrih, siap mati, dan bukan asal-asalan–mengisi formulir pendaftaran, menyelesaikan administrasi, mengikuti tes dan lulus. Saya tidak tahu apakah Kiki memiliki semua kriteria yang saya sebutkan di atas.
Sempat terlintas dalam benak saya beberapa orang memilih mengabdikan diri demi negara, karena sekedar ingin merubah image, itu yang pertama. Yang kedua, mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang ringan tanpa harus bersusah payah. Bahwa kerja demi negara selama ini diartikan (sebagian besar orang) banyak nganggurnya, senang berleha-leha, ongkang-ongkang semaunya. Ketiga, pensiun. Kesemua prinsip “Pengabdian” itu tidak dilandasi oleh keinginan yang jujur dari dalam diri. Ini sama saja dengan memasung kebebasan, yah, membelenggu diri demi sebuah materi. Berbeda kalau mereka melakukannya karena ajakan hati nurani. Bukankah yang dinamakan pekerjaan atau pengabdian atau apalah itu adalah ketika mereka benar-benar menikmati apa dikerjakannya, bukan karena embel-embel ini dan itu. Biarpun mereka bekerja di lingkungan berdisiplin tinggi, tapi jika mereka menikmatinya sudah barang tentu kebebasan-lah yang didapat. Justru betapa miris bila semua orang memasung kebebasannya demi cita-cita–yang acapkali menjerumuskan pikiran.
Memang, tiada seorang pun menginginkan hari tuanya susah; menderita. Sedikit banyak dalam benak mereka pasti tersimpan pikiran untuk membahagiakan keluarganya. Saya pun demikian. Dulu sempat terlintas dalam benak: ah, betapa enaknya bila suatu hari saya bisa menikmati uang pensiun. Saya bisa berleha-leha dan tinggal menunggu mati saja. Rupanya semua itu bualan belaka. Pensiun, menurut saya, adalah berhenti melakukan segala aktivitas–apakah itu bekerja atau berkarya–karena dianggap sudah tidak mampu lagi. Syaratnya: usia tua, cacat, meninggal, atau gila. Jadi, pensiun bukan diartikan berhenti bekerja lantas mendapatkan uang bulanan. Itu kan cuma pernak-perniknya saja.
Begitu juga mengabdi demi negara tidak lantas membuat orang tersebut bergabung dengan instansi pemerintahan, bila itu yang diartikan oleh Kiki. Saya sendiri sebenarnya sangsi apakah kelak Kiki bersedia–bila sudah menjadi perwira–dikirim ke medan laga. Mengingat ia anak semata wayang di keluarganya. Pasti keluarganya sedih melihat sang anak menantang maut. Mati di medan laga memang pahlawan, tapi mati tanpa membawa ideologi adalah sia-sia. Paling tidak yang terjadi; ia akan berusaha menyuap komandannya agar tidak ditugaskan jauh-jauh dari rumah, seperti paklik saya yang dinas di Koramil. Dulu, seusai mengikuti tes kenaikan pangkat, paklik saya sempat ditugaskan ke Madura, sebelumnya di Timor Timur. Itu pun dirasa berat. Nah, karena lokasi Madura dirasa terlalu jauh dari keluarga, ia kemudian menyogok pimpinannya agar kembali ditugaskan di dekat rumah saja. Dan, berhasil.
Inilah sebenarnya kekurangan yang tidak disadari banyak orang. Mereka tidak pernah melihat bahwa apa yang dimauinya kadang tidak sesuai harapan. Semestinya apapun yang diberikan negara buat kita, kita wajib menerimanya. Apalagi bila mereka murni mengabdi demi negaranya. Memang mengabdi demi negara bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada berpuluh-puluh ideologi yang perlu kita kembangkan dan diseriusi. Kadang satu saja belum berhasil, apalagi puluhan. Membayangkannya sudah membuat mata perih. Ah, betapa sulitnya seseorang memenuhi panggilan ibu pertiwi. Kita harus mati-matian mempertahankannya. Dan sebagai sipil yang berprofesi jurnalis tentu saya selalu dihadapkan pada pilihan yang mengacak-acak hati nurani. Tidak semua bisa saya lakukan. Satu hal yang menjadi acuan saya: always keep thinking positif. Kata orang, dengan begitu saya sudah berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Bukankah kata-kata ini yang sering kita dengarkan sewaktu di sekolah dasar. Pak guru sering menggembor-gemborkan dalam pelajaran PPKN mengenai hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Dan ini saatnya negara menuntut haknya, atau kita memiliki kewajiban memenuhi tugas sebagai warga negara yang baik. Bagaimana caranya? Memang sih tidak mudah untuk melakukannya. Perlu tantangan dan perjuangan. Bahkan kalau perlu nyawa taruhannya. Rasanya cocok filosofi yang dianut bangsa Amerika: Jangan tanyakan apa yang bisa dilakukan negaramu, tapi apa yang bisa kau lakukan untuk negaramu.
Kadang kala kita selalu bersikap pesimis dengan apa yang kita lakukan. Bahwa kata pengabdian sering kita persepsikan hanyalah milik orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Bullshit, itu pikiran salah, anggapan keliru. Saya sendiri yang menyalahkan. Untuk mengabdi kepada negara tidak semua orang harus menjadi PNS. Saya pun bisa mengabdi demi negara dengan menggeluti bidang yang saya kuasai. Seorang buruh pabrik bisa mengabdi demi negaranya dengan mengembangkan produksi-produksi pabriknya sebaik mungkin agar dapat dinikmati oleh orang banyak. Bahkan tukang becak sekalipun sanggup mengabdi untuk negaranya. Siapa bilang tukang becak hanya profesi rendahan. Tanpa mereka (orang kecil), toh Anda bukan siapa-siapa. Selama semua pekerjaan dan profesi digeluti dengan serius, maka sebenarnya kita sudah mengabdi demi negara.

Kamis, 13 November 2008

Keluarga Amrozi Aktifkan “Pasukan” Anti Syirik Guna

Mengantasipasi pendangkalan aqidah, keluarga Amrozi dan Ali Ghufron mengaktifkan “pasukan” Anti-Syirik. Sebab, sejak Amrozi dikubur, tanah kuburan banyak dicuri untuk “kesaktian”

Akibat perilaku aneh-aneh sebagian orang, kini, keluarga (alm) Amrozi dan Mukhlas harus mengaktifkan pasukan anti-syirik untuk menjaga kuburan. Sikap ini terpaksa dilakukan akibat banyaknya kejadian aneh semenjak terpidana Bom Bali 1 ini dikubur.
“Semenjak kakak saya dikubur, banyak orang-orang tidak bertanggungjawab mencuri tanah kuburan untuk kesaktian,” ujar Ali Fauzi, adik kandung Amrozi.

Menurut Ali Fauzi, pihaknya, terpaksa harus harus melakukan penjagaan yang akan dilakukan para kerabat dan sahabat terdekat secara bergantian.
Selain itu, menurut Ali Fauzi, sikap pihak keluarganya ini juga sesuai dengan keinginan almarhum beberapa hari menjelang eksekusi mati.

“Jangan sampai nanti kuburan saya dijadikan bahan kesaktian rawe-rontek,” ujar Ali Fauzi menirukan pesan Amrozi beberapa hari sebelum dieksekusi.
Menurut ustad Chozin, kakak kandung Amrozi, semenjak adiknya dikubur, tiba-tiba gundukan tanah kuburan yang tadinya tinggi kini menjadi rata. “Itulah mengapa Amrozi berpesan tidak ingin dikubur di makam umum,” ujar Ali Fauzi. [cha/www.hidayatullah.com]

Minggu, 13 Juli 2008

SATWA JAUH LEBIH UNGGUL KETIMBANG MANUSIA


Dari dulu hingga sekarang dunia fauna selalu mencapai nilai rafting paling unggul ketimbang manusia. Meski satwa tidak mempunyai akal maupun pikiran. Namun, kemampuannya dalam menjalankan berbagai aktivitas tidak bisa dipungkiri lagi. Mereka mampu mengalahkan semua bentuk manusia, yang memiliki watak serta ciri khas berbeda dengan begitu mudahnya. Bahkan, hingga kini diakui oleh para ahli tak ada seorang pun manusia yang sanggup melawan kegigihan serta keuletan para satwa tersebut, baik dalam cabang olah raga, bekerja maupun penggunaan panca indera.

Pada Olimpiade Mexico City tahun 1968, Robert Beamont, seorang atlit berbakat sempat mencucurkan air mata sebagai tanda atas keberasilannya dalam memecahkan kembali rekor bergengsi dalam lompat jarak jauh. Kalau sebelumnya ia berhasil melakukan lompatan sejauh 8.8392 m, maka ditambah dengan 6.35 cm kini lompatannya menjadi 8.9027 m. lompatan menakjubkan Beamont, secara jujur diakui pra ahli sebagai lompatan paling spektakuler dan menantang bahaya. Kesalahan sekecil apapun, pasti akan mengakibatkan fatal bagi dirinya. Sebab hal semacam itu sudah melewati batas ketahanan manusia normal. Tak pelak, bila kesalahan terjadi, semua otot-otonya maupun sendi-sendi tulang akan mengalami kerusakan yang bisa mengakibatkan kelumpuhan bagi dirinya. Namun 17 tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1951, seekor kangguru merah berasal dari New South Wales, Australia, berhasil melakukan lompatan melampaui rekor Robert Beamont, sejauh 12.8016 m.

Lain halnya dengan bangsa kutu, prestasinya dalam hal lompatan terbilang sangat gemilang dan membuat semua orang takjub. Mereka, bangsa kutu yang bukan jenis kutu loncat pun, dapat melakukan gerakan melompat ke udara setinggi 15.24 cm, dan sejauh 0.6096 m sekali laompatan.apabila dilakukan perbandingan antara lompatan kutu dan manusia, maka kutu jauh lebih hebat ketimbang manusia. Bagaimana tidak! Bayangkan saja, kutu yang memiliki tubuh serta bobot amat ringan manakala ditarik sebuah ekuivalen dengan perbandingan lompatan manusia, otomatis lompatan manusia haruslah sejauh 38.6242 m. Itu hal yang mustahil bagi manusia!

Prestasi lain bukan hanya terdapat pada kaum kutu saja, tetapi masih banyak lagi sederet atlit dunia fauna yang memiliki kemampuan berkaliber ‘super’, yang mana mampu menandingi kekuatan manusia.

Dengan tubuh hampir tidak kelihatan, semut yang masuk golongan insekta. Tak ayal, daya penciumannya terhadap, misal gula, bekas kotoran makanan, dan lain-lain, dalam jarak 5 m diakui lebih tajam dibanding manusia yang hanya bisa mencium bau-bauan sejauh tidak lebih dari 5 m. sedangkan dalam hal panjat tebing atau dinding, manusia belum bisa menandingi kelihaian binatang satu ini, yaitu cecak. Kalau seorang PA (Pencinta Alam) melakukan aksi panjat tebing menggunakan masih dibantu dengan tali sebagai pengaman serta ‘point of wall’ untuk tanjakannya. Seekor cecak, tanpa menggunakan pengaman atau pengait sekali pun dapat melakukan panjatan secepat yang dia inginkan.

Sedangkan satwa yang lebih besar sekali pun, tidak menutup kemungkinan juga mempunyai beberapa kelebihan diatas rata-rata manusia dalam hal adu renang atau menyelam. Tanpa dibantu atau justru terkait terhadap badan besarnya, seekor ikan paus menyelam hingga kedalaman 1.127 m dpl. Sebaliknya, siapa pun golongan manusia tidak akan sanggup menahan tekanan air pada kedalaman 701.04 m. Bahkan sangat memungkinkan bagi manusia menghadapi kematian bila tidak menggunakan peralatan khusus selam. Padahal jika dilihat dengan seksama, sebenarnya alat pernafasan yang dipakai oleh ikan paus dan manusia memiliki kesamaan tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama bernafas menggunakan paru-paru, lalu kenapa ikan paus jauh lebih unggul dari manusia!

Jangankan menyelam, dalam hal berenang pun kemampuan manusia masih tertinggal jauh di belakang bangsa air ini. Ikan gergaji yang paruhnya amat lancip, bisa berenang dengan kecepatan 109.4354 km/jam. Sementara manusia harus menerima kekalahannya, yaitu hanya dapat ngebut dengan kecepatan 8.5295 km/jam. Bahkan seekor pinguin pun yang tergolong burung dan bukan ikan, dapat menaklukkan kecepatan manusia soal berenang. Ia, pinguin bisa berenang mencapai kecepatan 35.4056 km/jam.

Kali ini dalam bidang penerbangan, manusia yang tidak memiliki sayap, apabila terbang tercatat tidak pernah memecahkan rekor terbang binatang bersayap ini, yaitu burung. Baik itu soal kecepatan menukik di udara, atau pun terjun bebas. Memang diakui, pada jaman mutakhir ini manusia sudah bisa dibilang hampir mirip kaum burung dalam melakukan penerbangan. Namun, semua jenis penerbangan yang kini dilakukan manusia dipandang sebelah mata oleh kaum burung. Bagaimana tidak! Berbagai penerbangan, baik itu kecepatan menukik atau pun terjun bebas diakui masih jauh tertinggal dengan burung elang yang menukik mencapai batas kecepatan minimal berkisar 362.1024 km/jam. Sedang manusia hanya cukup dengan kecepatan menukik 297 km/jam. Perlu diketahui, penerbangan yang dilakukan burung tidak diperlengkapi peralatan khusus, sebaliknya manusia akan mati tanpa peralaatan terbang yang memadai.

Beberapa contoh perbandingan binatang lain yang kemampuannya dianggap jauh melebihi kekuatan fisik manusia adalah dalam hal lari jarak pendek atau jauh. Atlit berkaki empat ini, yaitu anjing greyhound dan rubah merah mampu memecahkan rekor manusia tercepat, Robert Hayes tahun 1963, atau pun ‘the dream team’ Amerika yang salah satu atlitnya terdiri dari carl lewis dan ben Johnson, yang mana kesemua manusia itu hanya mampu berlari dengan kecepatan rata-rata 43 km/jam. Sedang kedua hewan tersebut bisa berlari mencapai kecepatan 64 km/jam. Namun bagaimana halnya dengan Cheetah, binatang yang masuk dalam kelompok carnivora ini. Ia terkenal sebagai binatang tercepat yang mampu berlari seperti angin dengan waktu kecepataan 90.1233 km/jam. Bahkan kecepatan daya terkam Cheetah bisa mencapai 96.5601 km/jam. Memang diakui para ahli, manusia selalu terjegal oleh rekor dari atlit berkaki empat ini.

Pada masa Zhu Jian Hua, atlit Cina berhasil memecahkan rekor loncatan setinggi 2.3876 m. Namun sekitar tahun 1965, hal itu justru dibantah oleh kangguru merah Australia, ia telah membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan loncatan pada tumpukan kayu setinggi 3.048 m.

Sementara pada tahun 1984, seorang angkat berat pemegang rekor dunia, Alexander Gunyashev mengakui dirinya bisa melakukan angkat berat 464.9322 kg. Layaknya manusia lain, kekuatan Alexander tersebut, ternyata bisa dengan mudah dipatahkan oleh rekor gorila yang mampu mengangkat beban seberat 816.4663 kg.

Dalam cabang ski es, manusia bisa berbangga sedikit, yaitu dengan mengalahkan atlit anjing laut yan hanya memiliki kecepatan meluncur 18.9903 km/jam. Sedangkan pada tahun 1981, Pavel Pegov dari US mampu mengitari arena ski es sejauh 450 m, dengan kecepatan meluncur 49.2459 km/jam. Akan tetapi perlu diketahui, bahwasannya olah raga ski tersebut memerlukan sebuah peralatan khusus guna menunjang prestasi para manusia. Sedang anjing laut sendiri tampil apa adanya, tanpa mengenakan berbagai macam alat ski. Memang dari dulu hingga kini, tak ada seorang manusia pun yang dapat menggungguli kemapuan para satwa. Meski benda-benda teknologi telah diciptakan guna menandingi kemampuan para satwa. Namun kelihaian para satwa dalam berbagai cabang, dinilai jauh lebih hebat ketimbang manusia atau pun mesin.

Hukum Rokok


Rokok terbukti mengandung berbagai-bagai jenis bahan kimia berbahaya, diantaranya ialah nikotin. Menurut pakar atau ahli kimia, telah jelas dibuktikan bahwa nikotin yang terdapat dalam setiap batang rokok atau pada daun tembakau adalah ternyata sejenis kimia memabukkan yang diistilahkan sebagai candu.

Dalam syara pula, setiap yang memabukkan apabila dimakan, diminum, dihisap atau disuntik pada seseorang maka ia di kategorikan sebagai candu atau dadah kerana pengertian atau istilah candu adalah suatu bahan yang telah dikenal pasti bisa memabukkan atau mengandung elemen yang bisa memabukkan.
Dalam mengklasifikasikan hukum candu atau bahan yang memabukkan, jumhur ulama fikah yang berpegang kepada syara (al-Quran dan al- Hadith) sepakat menghukumkan atau memfatwakannya sebagai benda "Haram untuk dimakan atau diminum malah wajib dijauhi atau ditinggalkan".
Pengharaman ini adalah jelas dengan berpandukan kepada hujah-hujah atau nas-nas dari syara sebagaimana yang berikut ini: "Setiap yang memabukkan itu adalah haram" H/R Muslim.
Hadith ini dengan jelas menegaskan bahawa setiap apa sahaja yang memabukkan adalah dihukum haram. Kalimah kullu (ßõáøõ) di dalam hadith ini berarti "setiap" yang memberi maksud pada umumnya, semua jenis benda atau apa saja benda yang memabukkan adalah haram hukumnya.
Hadith ini dikuatkan lagi dengan hadith di bawah ini: "Setiap sesuatu yang memabukkan maka bahan tersebut itu adalah haram" (H/R al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Hadith di atas ini pula telah menyatakan dengan cukup terang dan jelas bahwa setiap apa saja yang bisa memabukkan adalah dihukum haram. Pada hadith ini juga Nabi Muhammad s.a.w menggunakan kalimah kullu (ßõáøõ) yaitu "Setiap apa saja", sama ada berbentuk cair, padat, debu (serbuk) atau gas.
Mungkin ada yang menolak kenyataan atau nas di atas ini kerana beralasan atau menyangka bahwa rokok itu hukumnya hanya makruh, bukan haram sebab rokok tidak memabukkan. Mungkin juga mereka menyangka rokok tidak mengandung candu dan kalau adapun kandungan candu dalam rokok hanya sedikit.
Begitu juga dengan alasan yang lain, "menghisap sebatang rokok tidak terasa memabukkan langsung". Andaikan, alasan atau sangkaan seperti ini boleh diselesaikan dengan berpandukan kepada hadith di bawah ini: "Apa saja yang pada banyaknya memabukkan, maka pada sedikitnya juga adalah haram" (H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah).
Kalaulah meneguk segelas arak hukumnya haram karena ia benda yang memabukkan, maka walaupun setetes arak juga hukum pengharamannya tetap sama dengan segelas arak. Begitu juga dengan seketul candu atau sebungkus serbuk dadah yang dihukum haram. Secebis candu atau secubit serbuk dadah yang sedikit juga telah disepakati oleh sekalian ulama Islam dengan memutuskan hukumnya sebagai benda yang dihukumkan haram untuk dimakan, diminum, dihisap (disedut) atau disuntik pada tubuh seseorang jika tanpa ada sebab tertentu yang memaksakan atau keperluan yang terdesak seperti darurat kerana rawatan dalam kecemasan.
Begitulah hukum candu yang terdapat di dalam sebatang rokok, walaupun sedikit ia tetap haram kerana dihisap tanpa adanya sebab-sebab yang memaksa dan terpaksa.
Di dalam sepotong hadith sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad s.a.w telah mengkategorikan setiap yang memabukkan itu sebagai sama hukumnya dengan hukum arak.
Seorang yang benar-benar beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w tentulah meyakini bahawa tidak seorangpun yang layak untuk menentukan hukum halal atau haramnya sesuatu perkara dan benda kecuali Allah dan RasulNya.
Tidak seorangpun berhak atau telah diberi kuasa untuk merubah hukum yang telah ditetapkan oleh Allah melalui Nabi dan RasulNya kerana perbuatan ini ditakuti boleh membawa kepada berlakunya syirik tahrif, syirik ta'til atau syirik tabdil.
Hadith yang mengkategorikan setiap yang memabukkan sebagai arak sebagaimana yang di dimaksudkan ialah: "Setiap yang memabukkan itu adalah arak dan setiap (yang dikategorikan) arak itu adalah haram" (H/R Muslim).
Dalam perkara ini ada yang berkata bahwa rokok itu tidak sama dengan arak. Mereka beralasan bahwa rokok atau tembakau itu adalah dari jenis lain dan arak itu pula dari jenis lain yang tidak sama atau serupa dengan rokok.
Memanglah rokok dan arak tidak sama pada ejaan dan rupanya, tetapi hukum dari kesan bahan yang memabukkan yang terkandung di dalam kedua-dua benda ini (rokok dan arak) tidak berbeda di segi syara, karena kedua benda ini tetap mengandung bahan yang memabukkan dan memberi kesan yang memabukkan kepada pengguna atau penagihnya.
Meski sedikit atau banyaknya kandungan yang terdapat atau yang digunakan, yang menjadi perbincangan hukum ialah bendanya yang boleh memabukkan, ada yang dari jenis cair, serbuk atau gas. Apabila nyata memabukkan sama ada kuantitinya banyak atau sedikit maka hukumnya tetap sama, yaitu haram sebagaimana keterangan dari hadith sahih di atas.
Di hadith yang lain, Nabi Muhammad s.a.w mengkhabarkan bahwa ada di kalangan umatnya yang akan menyalahgunakan benda-benda yang memabukkan dengan menukar nama dan istilahnya untuk menghalalkan penggunaan benda-benda tersebut: "Pasti akan berlaku di kalangan manusia-manusia dari umatku, meneguk (minum/hisap/sedut/suntik) arak kemudian mereka menamakannya dengan nama yang lain" (H/R Ahmad dan Abu Daud).
Seseorang yang benar-benar beriman dan ikhlas dalam beragama, tentunya tanpa banyak persoalan atau alasan akan mentaati semua nas-nas al-Quran dan al-hadith yang nyata dan jelas di atas.
Orang-orang yang beriman akan berkata dengan suara hati yang ikhlas, melafazkan ikrar dengan perkataan serta akan sentiasa melaksanakan firman Allah yang terkandung di dalam al-Quran : "Kami akan sentiasa dengar dan akan sentiasa taat".
Tidaklah mereka mau mencontohi sikap dan perbuatan Yahudi yang dilaknat dari dahulu sehinggalah sekarang kerana orang-orang Yahudi itu apabila diajukan ayat-ayat Allah kepada mereka maka mereka akan menentang dan berkata : "Kami sentiasa dengar tetapi kami membantah".
Hanya iman yang mantap dapat mendorong seseorang mukmin sejati dalam mentaati segala perintah dan larangan Allah yang menjanjikan keselamatannya di dunia dan di akhirat.
Kalaulah Nabi Muhammad s.a.w telah menjelaskan melalui hadith-hadith baginda di atas bahwa setiap yang boleh memabukkan apabila dimakan, diminum atau digunakan (tanpa ada sebab-sebab keperluan atau terpaksa), maka ia dihukum sebagai benda haram dan ia dianggap sejenis dengan arak.
Penghisapan kadar nikotin yang terdapat di dalam rokok bukanlah sesuatu yang wajib atau terpaksa dilakukan. Sebaliknya, penghisapan rokok dimulai hanya karena inginmencoba-coba yang akibatnya menjadi ketagihan yang memaksa si penagih melayani kehendak nafsunya.
Dalam hal ini, tanpa sadar ia telah membeli penyakit dan menambah masalah, mengundang kematian dan tidak secara langsung ia telah melakukan kezaliman terhadap diri sendiri.
Bahan yang memabukkan telah disamakan hukumnya dengan arak oleh Nabi Muhammad s.a.w, disebabkan kedua benda ini memberi kesan mabuk dan ketagihan yang serupa kepada penggunanya. Melalui kaidah yang diambil dari hadith Nabi di atas, dapatlah kita kategorikan jenis nikotin yang terdapat di dalam rokok sama hukumnya dengan arak dan semua jenis dadah yang lain.
Kesimpulannya, rokok atau tembakau adalah haram karena nikotin membawa kesan mabuk atau memabukkan apabila digunakan oleh manusia. Bahkan efek nikotin berdampak buruk bagi kesehatan seseorang. Rokok pastinya menambahkan racun (toksin) yang terkumpul di dalam tubuh badan. sehingga menyebabkan sel-sel dalam tubuh seseorang mengalami kerusakan, membuka kepada serangan kuman dan bakteri.
Apabila pengambilan rokok yang mengandungi bahan yang memabukkan dianggap haram karena ia digolongkan sejenis dengan arak, oleh Nabi Muhammad s.a.w maka di dalam hadith dan al-Quran terdapat larangan keras dari Allah dan RasulNya:
Dari Abu Musa berkata : Bersabda Rasulullah saw : “Tiga orang tidak masuk syurga. Penagih arak, orang yang membenarkan sihir dan pemutus silaturrahmi" (H/R Ahmad dan ibn Hibban).
"Mereka bertanya kepada engkau tentang arak dan perjudian, katakanlah bahwa pada keduanya itu dosa yang besar". Al Baqarah:219.
"Hai orang-orang yang beriman, bahwasanya arak , judi, (berkorban untuk) berhala dan bertenung itu adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, sebab itu hendaklah kamu meninggalkannya semuga kamu beroleh kejayaan" (Al Maidah: 90).

Hadith di atas Nabi Muhammad s.a.w telah mengkhabarkan bahawa peminum arak tidak masuk dalam ayat di atas pula, Allah mengkategorikan arak (khamar) sejajar dengan berhala dan bertenung sebagai perbuatan keji (kotor) yang wajib dijauhi oleh akal sehat.
Perkataan "rijs" ini tidak digunakan dalam al-Quran kecuali terhadap perkara-perkara yang kotor dan jelek. Perbuatan yang buruk, kotor, tidak lain berasal daripada perbuatan syaitan yang sangat gemar membuat kemungkaran sebagaimana larangan Allah selanjutnya yang menekankan bahwa: "Sesungguhnya syaitan termasuk hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan judi itu dan menghalangi kamu dari mengingati Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mahu berhenti?" (Al Maidah: 91).
Justru itu Allah menyeru supaya berhenti dari perbuatan ini dengan ungkapan yang tajam : "Apakah kamu tidak mau berhenti?"
Seseorang mukmin yang ikhlas tentunya mengatakan seruan ini sebagaimana Umar r.a ketika mendengar ayat tersebut telah berkata: "Kami berhenti, wahai Tuhan kami, Kami berhenti, wahai Tuhan kami".
Utsman bin 'Affan r.a juga telah berwasiat tentang benda-benda yang memabukkan yang telah diistilahkan sebagai khamar "arak". Sebagaimana wasiat beliau: "Jauhkanlah diri kamu dari khamar (benda yang memabukkan), sesungguhnya khamar itu ibu segala kerosakan (kekejian/kejahatan)" (Tafsir Ibn Kathir Jld.2, M/S. 97).
Ada yang menyangka bahwa rokok walaupun jelas klasifikasinya dengan arak boleh dijadikan obat untuk mengurangkan rasa tekanan jiwa, tekanan perasaan, kebosanan dan mengantuk.
Sebenarnya rokok tidak pernah dibuktikan sebagai penawar atau dapat dikategorikan sebagi obat karena setiap benda haram apabila dibuktikan mengandungi bahan memabukkan maka tidak akan menjadi obat, tetapi sebaliknya sebagaimana hadith Nabi s.a.w: "Telah berkata Ibn Masoud tentang benda yang memabukkan : Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat bagi kamu pada benda yang Ia telah haramkan kepada kamu" (H/R al-Bukhari).
Waail bin Hujr berkata : Bahwa Tareq bin Suwid pernah bertanya kepada Nabi s.a.w tenang pembuatan arak, maka Nabi menjawab. Maka baginda bersabda : Penulis membuatnya untuk (tujuan) pengobatan. Maka Nabi bersabda : Sesungguhnya arak itu bukan obat tetapi penyakit" (H/R Muslim dan Turmizi).