Senin, 03 November 2008

KETIKA PLURALISME RAJA JAWA DIPERTARUHKAN OLEH TAHTA


28 Oktober kemarin, menjadi peringatan bersejarah kian bersejarah. Peringatan Sumpah Pemuda yang dilakukan di alun-alun Yogyakarta diwarnai peristiwa penting, yakni deklarasi Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon Presiden 2009. Dengan alasan panggilan ibu pertiwi, Sri Sultan mendeklarasikan diri masuk dalam bursa pencalonan Pilpres 2009. Benarkah Raja Jawa itu murka dengan ketidakbecusan pemerintah dalam mengurus rumah tangganya? Seandainya benar lalu apa yang musti dilakukan Sang Raja?
Teka-teki kesediaan Sri Sultan maju sebagai Presiden 2009, akhirnya terjawab sudah. Selama ini Sri Sultan dinilai banyak kalangan nggelembosi alias tidak serius. Tapi setelah deklarasi dibacakan Sri Sultan, sebaliknya, hai kalian, para kandidat presiden harus bersiap-siap menghadapi lawan yang tangguh dan sepantaran dengan kalian.
Seorang teman berkata kepada saya demikian: saya rasa perpolitikan Indonesia tahun 2009 akan semakin menarik. Sri Sultan adalah tokoh yang digadang-gadang bakal membuat Indonesia berubah. Semenjak runtuhnya kepemimpinan orde lama dan orde baru, hingga 10 tahun masa reformasi, bangsa ini cenderung lari di tempat. Bangsa ini selalu mengimpikan datangnya gong, si Messias, si Imam Mahdi, si Ratu Adil. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Kekuatan yang mampu mengubah seluruh bangunan dan isi alam pikiran, tak kunjung muncul. Setiap kali muncul orang bertopeng Ratu Adil, dari kampung mana pun, negara mana pun, dengan segala macam jubah dan kopiah, membawa cita-cita perubahan, disambut dan diterima, untuk kemudian kembali beku dalam penungguan pada penopeng Ratu Adil baru yang kurang lebih membosankan. Mereka seolah tahu bagaimana mengatasi keadaan dan melakukan perubahan, padahal tidak. Mereka tak pernah tahu bagaimana padi ditanam, tiang rumah didirikan, tak pernah mengerti bagaimana kondisi wong cilik. Hanya berkelahi ide pemikiran yang diajarkan, dan sekodi wejangan agar jadi kekasih Tuhan, menjadi semakin bukan manusia. Mengibakan. Selama ini masyarakat sudah tidak percaya dengan partai politik yang katanya menjadi motor atau mesin perjuangan bangsa. Bullshit. Pun kandidat yang ditawarkan setiap partai membuat bosan; tokohnya, ya, itu-itu saja. Puihh!
Lalu apa hubungannya Sri Sultan Hamengkuwono dengan Ratu Adil?
Saya tidak berani bilang apakah dia Ratu Adil atau bukan. Terlalu dini untuk melangkah ke arah sana. Kalau memang dikemudian hari dia Ratu Adil, ya syukurlah. Kalau tidak, maka tak perlu dibahas lagi. Biar saya ceritakan sedikit mengenai apa itu pemimpin. Seorang pemimpin mampu melintasi horizon esoterisme yang sangat luas dan meniupkan ruh baru dalam eksistensinya. Dia mampu menciptakan sebuah kreasi baru, karena perbuatan kreatifnya merupakan sesuatu yang hanya dapat dihasilkan oleh perasaan terdalam. Dalam tradisi tasawuf, pemimpin ibarat puncak tertinggi, namun seperti halnya setiap puncak selalu berhubungan dengan rangkaian pegunungan lain. Dia muncul pada saat spiritualitas telah membentuk kesempurnaan tradisi yang subur.
Yang melengkapi kepekaan sang pemimpin sejati adalah kejujuran. Kesadarannya akan kesucian dan kecakapannya memberi petunjuk terhadap hampir setiap permasalahan yang dihadapi bawahannya, bukan atas kemauannya sendiri. Namun kejujuran itu acapkali disalahartikan dan terkesan ekstrim. Dan akhir dari hasil suatu ucapan tentang kebenaran itu adalah "bermeditasi dalam kurungan". Inilah ucapan tentang kebenaran yang berakhir dengan sangat tragis sekali.
Orang-orang bijak masa lampau telah menyimpulkan tiga kriteria yang menjadi penyebab hancurnya suatu negeri di belahan dunia: Pertama, jika sang penguasa negeri menganggap bahwa negeri yang dikuasainya itu adalah milik nenek moyangnya sendiri. Kekuasaan semata penggeraknya–paksa, tindas, bunuh, rampas dan tumpas. Sehingga ia merasa berhak untuk melakukan apapun di negeri itu dengan tanpa merasa takut dan merasa malu. Bumi diibaratkan sawah ladang tempat manusia bercocok tanam di atasnya, dan manusia akan memetik dari apa-apa yang ia tanam di bumi itu. Kedua, jika hukum suatu negeri dikendalikan oleh sang penguasa negeri yang lalim, maka kebajikan akan lenyap di negeri itu. Jika kebajikan lenyap, maka orang akan menonjolkan cinta kasih. Jika cinta kasih lenyap, maka orang akan menonjolkan keadilan. Jika keadilan lenyap, maka orang akan menyusun peraturan dan undang-undang. Jika hal ini terjadi, maka ini menjadi pertanda bahwa kesetiaan dan kejujuran dari rakyat jelata sudah menipis. Sehingga kekalutan mulai merajalela karena moral semakin merosot. Ketiga, jika hak-hak azasi manusia diselewengkan dan disembunyikan serta diabaikan, maka keluhan dan jeritan tangis akan mewarnai negeri itu dan sebuah negeri akan menjadi kacau tak terkendali.
Demi kursi kebesaran, manusia tak segan-segan menghalalkan berbagai cara dari cara yang paling ringan (halus) sampai cara yang paling berat (kasar) yang pada akhirnya banyak memunculkan skenariowan-skenariowan kambuhan yang memanfaatkan situasi dan kondisi yang tak ubahnya bagaikan lingkaran setan. Bahaya kesombongan adalah merupakan awal kehancuran kharisma seorang pemimpin menjadi penguasa–lazimnya diktator. Petikan Anonymous: ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi kebenaran. Silahkan kau renungkan sendiri sejarah lengsernya double S: Soekarno dan Soeharto.
Sebaliknya kediktatoran memang bukan semata-mata warisan sistem feodal masa lampau. Biasanya, bangsa yang memilih sendiri pemimpinnya, atas nama demokrasi, beberapa kali terjebak dalam rezim dictator–semoga hal ini tidak terjadi pada bangsa ini. Contoh ekstrim adalah Hitler, yang menjadi pemimpin Jerman pada dekade 30-an karena sebagian besar rakyat Jerman menghendakinya. Namun ternyata, Hitler membawa jutaan rakyatnya ke jurang Perang Dunia II. Lalu ada pula nama-nama penguasa yang sudah tidak asing bagi kita, sebut saja Vladimir llyich Lenin, Fidel Castro, Joseph Stalin, Mao Tse Tung, Bennito Mussolini, dimana kesemua penguasa ini adalah prototipe dari manusia-manusia baja tanpa belas kasihan. Kekuasaan diktatorialnya sering diarahkan untuk meniadakan kelas dalam masyarakat, dengan harapan semua kekayaan bangsa dapat terbagi rata. Atau diktator jenis lain, dimana muncul dari keadaan ketika kelas penguasa merasa terancam. Kelas penguasa ini berusaha mengamankan kekuasaannya dengan mempertahankan situasi revolusioner. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan gejolak sosial melalui teror, penipuan dan ancaman.
Tapi yang saya lihat–semoga tidak keliru–apa yang dimiliki Sri Sultan jauh dari kata kekuasaan, diktator. Pikiran-pikirannya lahir dari beribu perubahan yang terjadi dalam jiwa masyarakat pribumi. Perampasan tanah dan lapangan hidup yang kurang menyebabkan orang menjadi patriotik, lebih dari itu, menjadi nasionalis sejati. Bukan cuma Sri Sultan, tapi saya, kau, dan semua pribumi bisa melakukannya. Inilah yang terjadi pada kondisi masyarakat kita. Sudah saatnya Indonesia berubah. Negeri ini butuh seorang pemimpin yang bisa mengayomi dan bukan sekedar melibaskan diri dengan kata dan janji muluk. Negeri ini butuh seorang pemimpin yang kata-katanya didengar: Sabdo Pandhito Ratu.
Konsep pluralisme sendiri yang dianut Raja Jawa menuju RI 1 ini cukup beralasan. Kandidat mana saja pasti akan menyatakan begitu, awalnya…teorinya saja. Entah bagaimana prakteknya. Tapi saya melihat konsep Sri Sultan sangat menarik–bukan berarti saya pro Sri Sultan–melainkan ide-ide dan pemikirannya patut diacungi jempol. Dalam beberapa kesempatan dia pernah mengatakan bahwa negeri ini sudah memasuki dalam jajahan baru, yap, saya setuju itu. Jajahan baru yang dimaksud adalah bahaya laten yang datangnya dari luar yang tidak kentara. Sebut saja ketika investor memasuki negeri ini dan membawa pulang 100 prosen keuntungannya tanpa meninggalkan apapun bagi bangsa ini, apa itu bukan penjajahan namanya. Saya menyebutnya penjajahan modern. Hanya saja kita belum banyak yang menyadarinya. Inilah yang sebenarnya patut menjadi sorotan utama bukan cuma Sang Raja, juga seluruh pemimpin negeri ini. Sudah lama negeri ini jatuh ke dalam tangan asing. Kenapa di jaman modern seperti sekarang ini masih ada juga penjajahan serupa–malah tidak kentara. Menyedihkan.
Untuk bisa maju, maka, kata Sri Sultan, negeri ini butuh alat pemersatu bangsa. Apa itu? Pancasila. Hanya saja selama ini Pancasila sekedar dianggap sebagai sesuatu yang ada namun belum terealisasi dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
“Ini sudah harga mati, dan tidak bisa ditawar.” Kata Sri Sultan.
Lantas bagaimana dengan perbedaan yang terjadi di negeri ini, yang kemudian menimbulkan kekacauan dimana-mana. Dapatkan sekiranya seorang pemimpin seperti Sri Sultan mampu mengentaskan mereka dari perbedaan, mengingat image yang terbangun di masyarakat Sri Sultan berasal dari Jawa.
“Sudahkah Anda lupa dengan Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan itu suatu hal yang biasa. Justru itulah kekuatan negeri ini yang tidak dimiliki negeri lain. Kita sekarang ini bukan hidup di jaman sumpah palapa melainkan sumpah pemuda.” Lanjut Sri Sultan.
Lho, bukankah Sumpah Palapa sudah terbangun jauh sebelum bangsa ini berdiri? Bukankah Sumpah Palapa merupakan alat pemersatu bangsa saat itu?
Sedikit mengulas perbedaan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda. Sumpah Palapa, seperti yang saya baca di buku-buku sejarah, merupakan deklarasi yang dicanangkan Maha Patih Gajah Mada Majapahit, untuk menyatukan seluruh nusantara menjadi Jawaisme. Memang pada saat itu Gajah Mada sanggup men-jawaisme-kan seluruh nusantara menjadi satu, tapi masih sebatas Jawa. Sedikit banyak terdapat di dalamnya pemaksaan budaya. Berbeda dengan Sumpah Pemuda yang dicanangkan 28 Oktober, kala itu pemuda-pemuda Indonesia merumuskan perbedaan yang ada menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu tanah air, satu darah, satu bahasa. Dalam perspektif kaidah bahasa, memang terdapat pemaksaan namun bukan pada pemaksaan budaya melainkan pemaksaan perbedaan menjadi satu kesatuan bangsa.
Namun demikian, untuk bisa menyatukan bangsa yang berbeda-beda ini, Sri Sultan, dari yang saya amati harus sanggup melepaskan diri dari keterikannya dari orang yang berasal dari kalangan bangsawan, yakni Raja Jawa. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh beliau. Dan pada kesempatan itu Sri Sultan memang sudah bertekad untuk melepas jubah kebangsawanannya. Nah, inilah satu kelebihan sekaligus kekuatan Sri Sultan yang tidak dimiliki pemimpin-pemimpin lain. Ibarat pepatah: lehernya dipertaruhkan.
Dalam banyak hal saya melihat Raja Jawa yang satu ini sangat berbeda dari pemimpin lainnya–dimana masih mengandalkan kekuatan imagenya. Sementara Sri Sultan adalah kebalikannya. Dia berasal dari ningrat tinggi jawa, merasa tahu akan kemubaziran keningratannya dan membuang segala gelarnya. Jiwanya penuh dengan rangsangan dan ledakan-ledakan untuk menyatakan diri pada dunia: bukan sebagai Wong Agung, cuma wong biasa.
Pemunculan Sri Sultan sebagai capres dapat saya nilai sebagai suatu keajaiban. Memang dalam keadaan jiwa mendambakan tindakan-tindakan begini, tak puas, biasa saja orang membuat suatu lompatan tak terduga-duga. Lompat, Sri Sultan, lompat! Sejak mendeklarasikan diri, seketika itu statusnya sebagai Wong Agung resmi diletakkan dan berbaur dengan wong cilik. Dia memang telah melakukan suatu lompatan, jauh dan sewaktu-waktu akan terjatuh, di samping itu dia takkan bisa keluar dan atau kembali menjadi Raja Jawa yang dielu-elukan rakyatnya. Itulah konsekuensinya. Dia bukan saja melakukan permainan angkling atau petak umpet anak-anak kecil, melainkan sebuah permainan penuh pertaruhan. Dengan pengalamannya memimpin, dan dengan pengalamannya sebagai Raja Jawa, boleh jadi ia akan berhasil. Ia hendak menunjukkan dengan caranya sendiri, bahwa jaman kolonial yang sekarang mewabah di negeri ini bukan masalah setempat, tapi sudah menjadi masalah nasional. Dan ia hendak mengimbanginya dengan menyatukan semua rakyat. Jika kalah, di kemudian hari mungkin orang akan menertawakannya karena telah mengambil prakarsa yang bukan berasal dari kebutuhan dan keputusan rakyat yang diembangnya–Yogyakarta.
Memang, semakin gencarnya pertarungan politik di negeri ini, menunjukkan bahwa negeri ini mengalami perkembangan aneh, seakan-akan sudah mulai terpisah dari konsep semula. Semua yang ada hanya bersumber demi kepentingan pribadi, kelompok dan atau golongan. Apa yang tidak mungkin terjadi lima tahun mendatang, pasti akan terjadi juga. Pergolakan politik semakin besar. Akibatnya keadaan negeri semakin sulit diperkirakan maupun dibendung. Terjadilah kemerosotan penghasilan negeri, penyusutan tenaga kerja, meningkatnya harga bahan makanan, malahan panen tidak banyak berhasil di banyak tempat. Semua itu menggelumbangkan perasaan tidak puas dari kota hingga pedesaan. Dan jika hal itu terjadi, maka jangan tanya apa yang bisa dilakukan negaramu, tapi tanyalah apa yang bisa dilakukan olehmu untuk negaramu. Saat ini, yah, sudah saatnya golongan bangsawan dari kerajaan untuk memimpin serta menjadikan negeri ini makin dipandang oleh dunia, bukan malah dilecehkan maupun diporak-porandakan. Pergeseran dalam tata susun sosial di Jawa memang sudah banyak kita lihat dimana-mana. Dari Brahma menjadi Kstaria, dari Brahma menjadi Waisya, atau malah dari Brahma menjadi kaum Sudra yang menyamar untuk dapat mendekatkan diri dengan wong cilik. Memang selama ini kaum nigrat selalu mendasarkan kedudukannya pada jabatan-jabatan tinggi negeri, mendapatkan kedudukannya hanya karena kebangsawannya, tapi hal itu mulai ditinggalkan mentah-mentah oleh bangsawan, jika, nanti, mereka, menjadi, Presiden.
Saya melihat gejala perkembangan baru ini dengan asyik. Tidak sebagai sesuatu yang ditentang, justru saya dan kau mesti menghadapinya sebagai problema sosial semata yang seolah-olah tak punya persangkutan dengan diri kita. Perkembangan baru itu wajar, sekalipun pembiakannya lebih bersemangat daripada sebelum-sebelumnya. Kalau ada kekecualian, dan kalau boleh saya mengatakan: ini bukan lagi reformis praktis tapi jelang revolusi.

Rabu, 08 Oktober 2008

K@ta Bij@k ~ TOKOH TERNAMA

~ Pengecutan yang paling besar adalah ketika kita membuktikan kekuatan kita kepada kelemahan orang lain (Jacques Audiberti)

~ Yang terpenting adalah menguasai diri sendiri (Eckermann)

~ Seorang Intelektual adalah orang yang pikirannya menjaga pikirannya sendiri (Albert Camus)

~ Kerendahan hati merupakan ruang tunggu bagi kesempurnaan ( Marcel Ayme)

~ Kebahagiaan lebih banyak menipu daripada kesusahan (Martin Luther)

~ Jiwa-jiwa yang kuat tidak iri hati dan tidak takut. Iri hati merupakan kesangsian dan takut merupakan kekerdilan (Balzac)

~ Prasangka dibenci bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia menyebabkan ornang-orang mempercayainya (Marcel Atland)

~ Hari adalah bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan (Steve Orlen)

~ Jangan takut dengan kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari kesalahan (Paul Galvin, founder Motorola)

~ Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan (Samuel Butler)

~ Saya harus mencintai negara saya dan keadilan ( Albert Camus)

~ Diam bukanlah cara untuk membuktikan kesalahan ( Henry Wheeler Shaw)

~ Orang yang tidak sabar akan menunggu dua kali (Mack McGinnis)

~ Gagasan tidak turun dari langit yang abstrak, tetapi muncul dari tanah dan pekerjaan ( Alain)

~ Alasan mengapa kekuatiran membunuh lebih banyak orang dibanding dengan kecelakaan kerja, adalah karena lebih banyak orang yang penuh kekuatiran dari pada bekerja. (Robert Frost)

~ Diberkatilah orang yang terlalu sibuk untuk kuatir pada siang hari, dan terlalu lelah untuk kuatir di malam harinya (Phil Marquart)

~ Apabila perjalanan menjadi sulit, orang yang ulet akan berjalan terus. (Knute Rockne)

~ Di dunia ini benda-benda tidak akan berubah, kecuali kalau ada yang mengubahnya . (James A.Garfield)

~ Hari bagai sepatu yang harus dipakai untuk berjalan (Steve Orlen)

~ Jangan buang hari ini dengan mengkuatirkan hari esok. Gunung pun terasa datar ketika kita sampai ke puncaknya. (Phi Delta Kappan)

~ Sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan harta yang memiliki mereka (Robert G. Ingersoll)

~ Bukan masalah-masalahmu yang mengganggumu,tetapi cara Anda memandang masalah-masalah itu.Semuanya bergantung pada cara Anda memandang sesuatu ( Epictetus)

~ Compassion is the basic of all morality (Arthur Schopenhauer)

~ Emas yang murni diperoleh melalui proses pembakaran dengan api dan penyaringan
Expresi sejati dari diri manusia adalah pada saat ia berdansa sesuai irama dan musiknya.Tubuh tidak pernah berdusta. (Agnes de Mille)

~ Tak ada yang menarik,jika Anda tidak merasa tertarik (Helen MacInnes)

~ Aturan nomor satu bagi masyarakat yang benar-benar beradab adalah membiarkan manusia berbeda-beda (David Grayson)

~ Hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi justru di situlah letak daya tariknya (Edgar Alnsel Mowrer)

~ Anda tidak dapat merencanakan masa yang akan datang berdasarkan masa lalu (Edmund Burke)

~ Kita tidak bisa mengingkari kesan bahwa manusia umumnya menggunakan standar yang keliru. Mereka mencari kekuatan,sukses dan kekayaan untuk diri mereka sendiri, memuji diri mereka di hadapan orang lain dan mereka memandang rendah pada apa yang sebenarnya berharga dalam hidup (Sigmund Freud)

~ Demokrasi itu baik.Saya mengatakan demikian karena sistem yang lain buruk. (Jawaharlal Nehru)

~ Kebencian seperti halnya cinta, berkobar karena hal-hal kecil (Balzac)

~ Penderitaan adalah pelajaran (Aesop)

~ Universitas ada hanya untuk menemukan dan menyampaikan kebenaran (Robert Maynard Hutchins)

~ Orang berkulit putih, orang berkulit hitam, orang berkulit kuning, semua air matanya asin (Claude Aveline)

~ Sukses adalah keberhasilan yang anda capai di dalam menggunakan talenta-talenta yang telah Allah berikan kepada Anda (Rick Devos)

~ Tidak ada masa depan yang gemilang bagi mereka yang telah kehilangan pengharapan dan imannya. (Samuel Rutherford)

~ Hiduplah sedemikian rupa sehingga Anda tidak akan merasa malu ketika orang laing berbicara tentang keluarga Anda. (Will Rogers)

~ Manusia merencanakan, namun Tuhan yang menentukan. (Thomas A. Kempis)

~ Milioner yang suka tertawa jarang dijumpai. Pengalamanku adalah kekayaan mudah membuat senyum hilang (Andrew Carnegie)

~ Karakter seperti berlian yang mampu menggores semua bebatuan lainnya. (Cyrus A.Bartol)

~ Bekerja keras sekarang, merasakan hasilnya nanti; bermalas-malas sekarang, merasakan akibatnya nanti. (John C. Maxwell)

~ Kehilangan kekayaan masih dapat dicari kembali, kehilangan kepercayaan sulit didapatkan kembali. miskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang. ( John D.Rockefeller)

~ Bekerja keras sekarang, merasakan hasilnya nanti ; bermalas-malas sekarang, merasakan akibatnya nanti (John C Maxwell)

~ Realitas selalu lebih konservatif daripada ideologi (Raymond Aron)

Kamis, 11 September 2008

Sebuah Puisi Untukmu...


Untuk pagi yang lupa menyapa selamat pagi
Dan untuk matahari yang abadi berdiri di atas langit
Memandangi apa yang tak ada di hari-hariku
Yang hilang diantara luapan asa antara iya dan tidak…
Ada cinta yang melupakan betapa banyak keringat dan air mata untuk tetap tersenyum
Bukan cinta katanya kalau kau tidak tertawa di buatnya
Hanya ungkapan selamat malam yang tidak pernah dan akan terucap di ujung lidah kelu
Diantara jari yang tidak berhenti memencet tuts piano dan keyboard laptop walau hari ku mulai larut
Jam 4 pgi menggigil melawan bosan melawan masa depan hampa penuh omong kosong

Bukan ini yang kulihat dan kata mereka hidup itu bukanlah pilihan tapi bagaimana kau menjalaninya walau harus menangis darah
Tak peduli kalau kau punya jalan pintas, yang meskipun itu ada, semua orang bilang jalan pintas itu tidak ada
Padahal kau merasa, kau menghirup, kau meraba, itu ada

Jadi untuk malam yang lupa mengucapkan selamat malam
Katakan padaku bagaimana cara menina bobo kan dunia
Disaat Nokia berdering jam 4 pagi mentertawakan peluh dan sumpah serapah pada rentetan angka
Sampah marketing dan makroekonomi yang aku sendiri persetan akan arti dan makna

Aku ini seni
Aku ini lantunan simfoni
Guratan acrylic
Dan warna lensa

Aku adalah malam yang tidak menyapa selamat malam
Dan pagi yang meludahi selamat pagi.

Aku ini aku
Yang kata mereka tidak ada

AKU...NOVIYANTO AJI YANG PATAH HATI PADAMU...
Aku terpesona
Engkaukah itu?
Ah …tidak seperti biasa?
Sebab dulu dirimu putih…
Sebab dirimu dulu begitu lembut….
Sebab dirimu dulu begitu sunyi…
Bukan kah engkau telah mengatakan?
Aku adalah kedamian
Aku adalah adalah kecerahan
Aku adalah kelembutan
Aku adalah kesunyian
Tetapi
Aku tetap terpesona
Walau dirimu telah berubah
Walau dirimu telah berganti
Melalui pagi yang cerah
Dalam dekapan cinta sang fajar

Kali ini tidak ada cinta
Tidak ada lagi kasih dan sayang
Tidak ada lagi mimpi
Tidak ada lagi harapan
Kamu t’lah pergi
Tinggal kan mimpi dan asa
Hidup tak lagi bermakna
itulah jiwaku tanpa mu
aku tak percaya lagi
Untuk merajut kepingan hati
Aku harus terus melangkah
Tak akan terhenti tak akan menepi…
“Itulah aku”

saat ku mencari cinta
cinta yang selama ini kudamba
tak pernah kubayangkan sebelumnya
jika yang kudapat hanya luka
kenapa selalu aku yang kalah
terjatuh, terinjak dan teraniaya
oLeh kejamnya cinta yang sempurna
inikah cinta??
yang katanya buat kita bahagia
inikah cinta??
rasa yang hanya bisa buat kita terluka
tak adakah cinta untuk ku
yang bisa terangkan langkahku
tak adakah cinta untuk ku
yang bisa kuatkan aku

Belumlah sempat mengenal mu…
Belumlah sempat hati ini berlabuh…
Ternyata ada lebih dulu yang mengisi hati mu
Mengapa selalu waktu datang pada
saat yang tidak tepat…
Mengapa selalu ada duka menyertai…
Dia tak mengerti dan tak akan pernah tau
Cukup dari sini kulihat hari-harimu
Cukup indah kulihat senyum mu
Dimana kerinduan jadi bara..
Dimana airmata bukan lagi duka..
Seandainya waktu datang lebih awal…

Di dalam kehidupan ini
Kita pasti semua mempunyai impian.
Tetapi tak semua mesti terjadi.
Dan terkadang saat aku merasa Impianku
Sudah diambang nyata.
Sang waktu membuatku terjaga.
Dan disaat engkau beranjak pergi
Aku merasa hatiku remuk redam.
Namun aku mencoba tuk Bersyukur
bahwa ini yang terbaik tuk kita
yang pasti ada hikmah tersembunyi dibalik
semua ini yang bisa membuatku
lebih bijak dalam meniti hidup ini

aku tak peduli seberapa besar maupun kecilnya
rasa bencimu padaku. . .
dan aku tidak memintamu untuk tidak membenciku. . .
tapi aku peduli seberapa besar maupun kecil
rasa sayangmu padaku. . .
jika memang dirimu menginginkan diriku
dekat denganmu
selalu mendampingimu, selalu di sisimu. . .
aku akan selalu senantiasa bersamamu. . .
akan tetapi jika dirimu tidak menginginkan diriku
untuk selalu di dekatmu. . .
aku akan dengan ikhlas hati melepas dirimu. . .
karena aku tidak mau kehadiranku
membuatmu menjadi tidak nyaman dan merasa risih. . .

KETAHUILAH OLEHKU
duNia seAkan teRbagi dUa
aNtaRa ciNta dan ciTa-ciTa
mEmiSahkaN loRong-Lorong kasih
yang seharusnya bertemu pada titik bahagia
ciNta yang haRusnya beRpaRaskan bAhagia
kiNi puPus diTeLan hati peNuh keinginan
cIta-ciTa yang mEstinya beRLantunkan bangga
kiNi mAti tenggeLam daLam LuBuk keBimbangan
mAnuSia yang tAk peRnah pUas
sELaLu beRtAutan denGan keseRakahan
aPakah aQu haRus mEmiLih?
diMana piLihan iTu meStinya miLiki
sUatu Ruang tEmu yang beRaLaskan kEbaHagiaan
teRoMbang-aMbinG daLam LauTan kEpuTusasaan
ciNta dan ciTa-ciTa…….
sEmoga peRsatUanLah jaLan akHiR kiSah keLabU pEnuh tangis ini…

Aku pernah Mencintai seorang Wanita
Yang terindah dalam Hidupku
dan tak terbantahkan kesucian Dirinya
Aku Pernah Menyayanginya
dengan sepenuh Hatiku
Juga…
Aku Pernah Menyakitinya
dengan sebuah Dusta
Tapi, apa yang kudapatkan
sebuah Ketulusan Hati dari Cintanya
tuk Mencintaiku
Seumur Hidupnya

Sayangku,
seandainya kubisa meminta
bawakan aku senyum terindahmu
karena didalamnya dapat kudengar ungkapan hatimu.
Sayang,
seandainya tiada belenggu bernama norma,
kuingin memintamu disini
menyelami indah tatapmu,
biar kuterjemahkan bahasa rindu
yang menggantung disana, sayang...

SETAPAK ASMARA YANG KITA LALUI SUDAH BEGITU PANJANG
DISANA,TERCIPTA BANYAK KENANGAN DIANTARA KITA
YANG TAKAN PERNAH TERHAPUS DARI LEMBARAN MEMORI JIWA KU
SAYANG….
AKU TAK TAHU DENGAN CARA APA KU BISA MENEPISKAN SEGALA RASA YANG ADA
SUNGGUH KU TERLALU SAYANG KAMU
UNTAIAN KATA-KATA INDAH DALAM GORESAN PENAH, TIDAKLAH CUKUP UNTUK MENGUNGKAPKAN BONGKAHAN RASA CINTA INI UNTUK MU
BEGINILAH CINTA KITA,,,
KADANG KU BERLARUT-LARUT DALAM DUNIA KU,,DUNIA AIR MATA
KARENA SERING KU MERASA KALO AKU DI CAMPAKAN.
MUNGKINKAH KU SALAH MENCINTAI????
ATAUKAH CINTA KU BERTEPUK SEBELAH TANGAN??
ENTALAH… WAKTU YANG MENJAWABINYA..
WAKTU MENGANTARKU SAMPAI DETIK INI
UNTUK SELALU MENCINTAI DAN MENEMANI MU
APAPUN KEADAANMU…KU TETAP MENERIMA MU SEBAGAI YANG PERTAMA DAN TERINDAH DALAM HIDUP KU
AKU HANYA BISA MEMPERSEMBAHKAN SEGALA PERASAANKU LEWAT TIGA KATA INDAH PENUH MAKNA….I LOVE U

Kamis, 04 September 2008

DUA PEKERJAAN PENULIS

Selama ini mungkin Anda mengira pekerjaan seorang penulis adalah menulis, mengirimkannya kepada penerbit. Kemudian Anda tinggal duduk manis di rumah, bersantai, sambil merem melek membayangkan berapa besar royalti yang akan dibayarkan kepada Anda.

SALAH BESAR. Uraian di atas hanyalah satu dari dua pekerjaan seorang penulis. Pekerjaan lain yang HARUS dilakukan seorang penulis adalah MENJUAL. Ya betul. Anda harus menjual.

Tunggu sebentar! Mungkin ada yang menolak untuk melakukannya. Pikirnya, daripada saya repot-repot menjual buku kesana kemari, mendingan saya menulis buku lagi. Kan lebih banyak buku, lebih banyak royalti. Merem meleknya bisa lebih afdol. Urusan menjual, serahkan saja ke penerbit. Yah, hidup memang pilihan. Anda bisa memilih cara seperti ini. Tetapi sebelum Anda memilih jalan ini, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan.

Jangan biarkan hanya penerbit yang melakukannya untuk Anda. Itu adalah hasil karya yang Anda kerjakan siang malam. Kebanyakan penerbit tidak mengetahui persis yang Anda tulis. Andalah yang tahu persis isi buku Anda. Maka tenaga penjual yang paling hebat adalah Anda sendiri.

Karena Anda yang paling mengetahui isi buku Anda, maka tentu saja Anda mengetahui siapa saja yang mau membeli buku Anda. Jaringan penerbit kemungkinan tidak akan sanggup menggapai semua kalangan. Misalnya Anda menulis buku tentang hobi fotografi. Belum tentu semua orang yang gemar fotografi akan berada di toko buku. Justru mereka sedang asyik memotret di luar. Andalah yang perlu mendatangi mereka, dan menceritakan tentang buku Anda. Andalah yang paling tahu calon konsumen buku Anda .

Ingat bahwa Anda bukan satu-satunya penulis. Misalnya Anda menulis tentang fotografi, ada juga orang lain yang menulis tentang fotografi. Lalu bagaimana orang akan memilih buku Anda. Pesaing Anda juga belum tentu buku tentang fotografi, tetapi juga buku lain. Di era ekonomi sulit seperti ini, orang akan cenderung mengurangi jatah menjual buku. Maka Anda harus aktif menjual buku Anda sendiri.

Sekali lagi, Anda bukan satu-satunya penulis. Penerbit kebanyakan memiliki banyak stok penulis. Kalau ada penulis yang bukunya best seller, penerbit dengan senang hati memberikan waktu dan perhatian lebih untuknya. Dibuatkan acara temu penulis, tanda tangan, konperensi pers, seminar, dll. Bagaimana dengan penulis lainnya, yang justru kebanyakan adalah penulis mid seller, bukunya terjual biasa-biasa saja. Ya, cuma gigit jari. Kecuali kalau Anda mengusahakan sendiri.

Ingat pula bahwa dengan menjual, Anda juga meningkatkan nilai Anda di mata penerbit. Jika buku Anda terjual dengan baik, untuk buku selanjutnya penerbit akan menerima kedatangan Anda dengan senyum manis. Kalau buku Anda tidak laku, penerbit akan berpikir dua, tiga bahkan seribu kali untuk menerbitkan buku Anda. Amit-amit, penerbit tidak akan mau kejeblos dua kali dengan penulis yang sama.

Dengan alasan-alasan di atas, apakah kini Anda berniat menjual buku Anda? Jika ya, berarti Anda benar-benar menjadi seorang penulis sejati.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara menjualnya. Beberapa orang akan dengan sigap memesan buku dari penerbit, kemudian dengan gaya seorang salesman berusaha menjual kepada setiap orang yang ditemui. Bukan seperti itu maksudnya. Cara di atas hanya satu dari pengertian menjual yang dimaksud di sini. Pengertian menjual di sini lebih luas lagi. Pengertian ini akan dibahas dalam tulisan lain.

PASAR BUKU NONFIKSI >> Kiprah Penerbit Menaklukkan Pasar Buku Serius

MEMASARKAN buku-buku nonfiksi, terlebih bertema serius, tebal, tampaknya menjadi momok bagi sebagian besar penerbit di negeri ini. Pengalaman menunjukkan, antusiasme masyarakat mengonsumsi buku-buku semacam ini minim, terlebih jika buku semacam ini dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi.

FAKTA semacam ini pula yang mengindikasikan kurang bergairahnya produksi buku-buku nonfiksi-di luar kategori buku pelajaran sekolah-jika dibandingkan dengan buku-buku fiksi. Sebagai gambaran, data penjualan buku-buku di bulan Mei 2005, yang dihimpun Kompas dari jaringan toko buku Gramedia dan Kharisma, memaparkan penjualan terbesar untuk satu judul komik sebanyak 6.815 eksemplar. Di sisi lain, penjualan terbesar untuk satu judul buku kategori fiksi sebanyak 974 eksemplar, sementara untuk satu kategori buku nonfiksi tidak lebih dari 453 eksemplar per judulnya. Angka ini menunjukkan, penjualan buku-buku nonfiksi terbawah tidak lebih dari separuh bagian buku-buku fiksi.

Sekalipun fakta mengungkapkan kondisi betapa tertinggalnya pemasaran buku-buku nonfiksi, hal itu tidak membuat surut langkah sebagian penerbit untuk tetap berkreasi memasarkan buku-buku serius semacam ini. Fakta pun menunjukkan, tidak jarang buku-buku demikian menuai sukses di pasaran.

Buku Batas Nalar karya Donald B Calne terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, misalnya, berhasil mematahkan argumen itu. Buku setebal 458 halaman yang membahas soal wawasan baru tentang hakikat dan peran nalar yang sesungguhnya ini sekarang telah dicetak ulang tiga kali dengan oplah sekitar 8.000 eksemplar, dalam tempo hanya tujuh bulan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila buku tersebut sempat tercatat menjadi salah satu buku laris untuk kategori buku nonfiksi di Pustakaloka edisi bulan Mei lalu.

Larisnya buku-buku dengan tema serius seperti yang terjadi pada buku Batas Nalar ini paling tidak telah memupus anggapan orang selama ini bahwa buku berat atau serius akan sulit terserap oleh pasar. Sebagai gambaran, buku serius yang umumnya merupakan buku nonfiksi bisa terjual 3.000 eksemplar dalam kurun waktu satu tahun sudah tergolong sangat bagus untuk ukuran dunia perbukuan di Indonesia. Umumnya, buku-buku nonfiksi dengan oplah 1.000 hingga 3.000 eksemplar baru terserap seluruhnya oleh pasar dalam waktu tidak kurang dua tahun.

Memang diakui, di belahan dunia mana pun buku nonfiksi sulit menandingi buku fiksi dalam soal jumlah penjualannya. Selain karena isinya kerap dianggap tidak semenarik buku fiksi, target pembacanya pun umumnya khusus dan jumlahnya terbatas. Sebagai contoh buku-buku yang bertutur tentang teori filsafat, mereka yang akan membaca atau membeli buku tersebut hampir bisa dipastikan merupakan kalangan yang sangat terbatas, seperti ahli filsafat, dosen filsafat, mahasiswa yang tengah mengambil mata kuliah filsafat. Buku semacam ini memang tidak menampik kehadiran pembeli dari luar kalangan itu, tetapi dipastikan jumlahnya sangat terbatas.

Hal ini sangat berbeda dengan buku fiksi. Buku fiksi, seperti novel serial teenlit yang saat ini digemari kaum remaja, penjualannya untuk satu judul dengan mudah bisa menembus angka puluhan ribu eksemplar dalam waktu kurang dari satu tahun.

Kendati sulit untuk menandingi omzet penjualan buku fiksi, dengan menarik pengalaman buku Batas Nalar, buku-buku nonfiksi pun tidak tertutup kemungkinan bisa laris di pasar. Persoalannya, apa yang harus dilakukan agar buku-buku serius itu bisa diserap dengan baik oleh masyarakat?

Menurut pengamat perbukuan Frans Parera, paling tidak ada dua kondisi yang perlu diciptakan agar buku bisa diserap secara luas. Pertama, menyangkut aspek psikologis yang di dalam teori pemasaran disebut segmentasi atau pengklasifikasian produk. "Segmentasi itu keluarnya dari kebutuhan psikologis orang," ungkap Parera.

Kedua, menyangkut aspek infrastruktur. Menurut Parera, infrastruktur bisa membuat pemasaran menjadi lebih baik. Jadi, bukan hanya dengan memengaruhi mental orang untuk membeli buku, mendidik orang membeli buku saja, tetapi juga ketersediaan infrastruktur, seperti toko buku dan keseluruhan sistem distribusi. Kedua faktor inilah yang dianggap memengaruhi penyerapan pasar.

Membidik komunitas

Pengalaman berbagai penerbit pun menuturkan hal serupa, betapa memasarkan buku serius atau pemikiran memang tidak mudah. Perlu kiat-kiat tertentu dan penanganan yang khusus pula. "Menurut saya, buku khusus harus dijual dengan cara khusus juga, Tidak bisa mengandalkan dengan penjualan seperti biasanya," kata Antonius Riyanto, Direktur Utama Grup Agromedia, yang membawahkan empat penerbitan, di antaranya penerbit Gagas Media. Cara khusus yang dimaksudkan tidak lagi hanya mengandalkan pola-pola penjualan konvensional dengan menggunakan toko buku sebagai outlet penjualan, tetapi juga mencoba berbagai alternatif pola penjualan lainnya.

Menurut Antonius, langkah pertama yang patut dilakukan dalam memasarkan buku pemikiran atau serius penerbit harus mampu mengidentifikasikan komunitas buku tersebut sehingga mengetahui siapa saja target pembelinya. Penerbit di bawah Grup Agromedia, misalnya, biasa menggunakan iklan di internet dan penyebaran informasi lewat surat elektronik atau e-mail.
"Buku khusus biasanya hanya dicetak sebanyak 1.500 eksemplar, maka jalan terbaik menggunakan internet karena, menurut saya, cara itulah yang memakan dana promosi sedikit. Jadi, kalau buku dicetak sedikit, dana promosinya juga sedikit," kata Antonius menjelaskan.
Tidak berbeda dengan Agromedia, penerbit asal Yogyakarta, Galangpress, pun menggunakan pendekatan komunitas untuk memasarkan buku-bukunya terutama buku-buku yang segmen pasarnya terbatas. Buku Bisik-bisik Remaja, misalnya, peluncurannya tidak di toko buku seperti biasanya, melainkan di sekolah-sekolah.

"Buku itu pasarnya memang anak-anak SMP dan SMA, jadi kami sengaja masuk ke sana (sekolah). Ternyata, respons untuk membeli cukup besar. Kalau di toko buku jumlah anak-anak sekolah yang masuk ke tempat itu lebih sedikit dibandingkan orang umum, otomatis pembelinya juga sedikit," kata Julius Felicianus, pemimpin Galangpress.

Tak hanya ke sekolah-sekolah, Galangpress juga mengadakan peluncuran-peluncuran buku di tempat-tempat mangkal para waria untuk memasarkan buku-buku bertema waria. "Beberapa waktu lalu kami coba di kota Malang di depan stasiun, tempat mangkalnya waria di sana. Buku yang kami bawa jumlahnya 25 habis dibeli, ternyata pembelinya teman-teman waria di sana," kata Julius menambahkan.

Hal serupa juga dilakukan penerbit ini dalam memasarkan buku Kesaksian Revolusioner Seorang Uskup di Masa Perang karya Romo Budi Subanar. Buku itu dicoba dipasarkan di toko buku ternyata tidak laku. Namun, setelah dipasarkan di komunitas-komunitas gereja, buku itu akhirnya bisa laku terjual.

Pengalaman penerbit KPG pun tidak berbeda. Sebelum sebuah buku terbit, KPG biasanya mulai mencari komunitas-komunitas yang diperkirakan akan menjadi pasar potensial. Pendekatan komunitas ini salah satunya dilakukan dalam memasarkan buku Orang Mandar Orang Laut. Berdasarkan informasi dari penulisnya, KPG berusaha untuk mendekati komunitas-komunitas Mandar yang merupakan satu daerah di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Dari pendekatan itu akhirnya ada pengusaha dan pemerintah daerah di wilayah itu tertarik untuk membeli buku tersebut dengan jumlah sekitar 1.000 eksemplar.

"Kami berusaha langsung ke komunitas yang berkepentingan. Jadi, apabila awalnya hanya akan dicetak 2.000 sesuai dengan daya serap toko buku, dengan adanya pasar di luar itu maka buku tersebut akan dicetak lebih dari 2.000 eksemplar," kata Aris Suwartono, Manajer Pemasaran KPG.

Perencanaan promosi

Jika ditelusuri, berbagai upaya dilakukan penerbit untuk memasarkan buku dengan melakukan pendekatan komunitas, iklan, pameran, bedah buku maupun kegiatan-kegiatan promosi lainnya yang dipersiapkan sejak awal sebelum buku diluncurkan ke pasar. Tak ubahnya komoditas lainnya dalam merebut pasar, memasarkan buku juga memerlukan strategi pemasaran dan rencana promosi yang matang.

Menurut Anton dari Grup Agromedia, hal yang pertama dilakukan adalah membuat segmentasi pasar secara tajam dan menyusun cara untuk bisa menembus pasar tersebut. "Setelah itu baru kami atur promosinya. Dibedakan kalau buku serius seperti apa, buku populer seperti apa. Jadi, kami harus merancang teknik promosi dan penyebaran buku sebelum buku itu diterbitkan," tutur Anton.

Pentingnya menyusun perencanaan promosi dan pemasaran buku dengan matang juga diungkap Aris Buntarman. "Orang promosi itu harus punya yang namanya promotion plan. Mereka harus tahu materi bukunya seperti apa, siapa pengarangnya, bagaimana latar belakang si pengarang, siapa target marketnya, kira-kira luas target marketnya berapa?" kata Aris, pemerhati perbukuan yang lama bergelut di bidang pemasaran buku.

Menurut Aris, dari informasi yang dikumpulkan tersebut dibuatlah sebuah rencana promosi atau rencana pemasaran. Oleh karena itu, orang marketing harus menjiwai peranan marketing is behaviour dan marketing adalah program. Pimpinan di bagian marketing harus mengidentikkan seperti jenderal perang. Ia harus mempunyai pasukan komando yang melayani outlet, mempunyai pasukan promosi yang menyusun provokasi dan propaganda maupun pasukan yang mendata pasar dan mendata alamat-alamat target dengan lengkap. Oleh karena itu, dalam marketing diperlukan sebuah team work yang kuat dan kompak, seperti layaknya sebuah perang.

Agar kegiatan promosi dan pemasaran bisa mendulang sukses, mau tidak mau penerbit harus secara khusus mengalokasikan sebagian dana dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut. Umumnya penerbit menyisihkan 5 hingga 8 persen dari ongkos cetak buku untuk kegiatan promosinya. Sementara itu, untuk pemasarannya, selain tenaga penjual, penerbit juga mempunyai checker-checker yang tiap harinya keliling ke toko-toko buku untuk mengecek ketersediaan buku-buku di tempat-tempat tersebut. Bahkan, penerbit seperti Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Grup Agromedia saat ini mempunyai tenaga salesman dan sales promotion girls (SPG) yang ditempatkan di toko-toko buku. "Tugas SPG kami untuk memperkenalkan buku GPU secara detail kepada setiap pengunjung," kata Danang Priyadi, Manajer Pemasaran GPU.

Kegiatan-kegiatan promosi memang penting, alokasi dana untuk promosi juga penting, ketersediaan infrastruktur pemasaran tak kalah pentingnya, namun dari semua itu yang paling penting adalah bagaimana buku itu sendiri bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk membeli. Menurut ahli pemasaran Hermawan Kartajaya, hal yang paling penting agar buku itu laku adalah diferensiasi.

"Bagaimana membuat buku kita menjadi berbeda dari yang lainnya, sebab buku yang sejenis itu kan banyak. Judul harus menarik, singkat tapi dapat membedakan dengan buku sejenis, harus melihat tren buku sekarang, dan juga jangan memaksa orang untuk membaca sesuatu yang susah. Kalau ada buku yang susah harus dikemas dengan bahasa yang enak, dan gambar-gambar yang menarik," kata Hermawan menjelaskan.

Untuk itu, peran penerbit menjadi sangat vital dalam persoalan ini. Menurut dia, penerbitlah yang harus menyetir sehingga penulis bisa menyusun buku sesuai dengan keinginan pasar.
Hal semacam ini pula yang ditegaskan Frans Parera dalam memandang para penerbit di negeri ini. Menurut Parera, penerbit di Indonesia tidak tegas dalam merumuskan publishing policy atau editorial policy. Padahal, kedua kebijakan ini menjadi pijakan untuk mendekatkan penulis dengan pembacanya. Akibatnya, sering kali buku-buku karya penulis lokal tidak dapat memenuhi selera masyarakat. Karena itu, buku-buku tersebut tidak terserap pasar. Kalaupun laku, ia tidak akan menjadi best seller.

Jadi, penerbit harus berperan sebagai jembatan antara penulis dan pembaca. Di satu pihak harus dekat dengan pembaca atau konsumen agar tahu selera konsumen, sementara di pihak lain harus dekat dengan penulis agar bisa menulis dengan rutin, menulis dengan aspek-aspek menarik tentu saja.
(WEN/BIP/UMI/Litbang Kompas)

Minggu, 10 Agustus 2008

Mempertandai Jejak Multatuli


Bicara
adalah kebutuhan jiwaraga
dalam kehidupan
bangsa manusia.

Dalam alam totaliter
bicara merdeka
merupakan tindakan
jantan. 

BRUSSEL Juli 2008. Sekedar penyegar-bugaran ingatan. Iya, kadang kala ada saja orang bertanya, dari dulu hingga sekarang juga, kenapa aku -- sejak tahun 1972 -- bermukim di Brussel atau Belgia, bukannya di Amsterdam atau Belanda. Padahal di sini hanya sedikit saja adanya orang-orang asal Indonesia, sedangkan di Belanda puluhan ribu malah seratusan ribu lebih ?

Jawabanku essensinya sama saja, dari dulu sampai sekarang. Selain selaras keadaan obyektip, juga terutama sekali keadaan subyektipku sendiri. Selain Brussel atau Belgia sebagai « Tanah Pijakan Kaum Eksil », juga justeru lantaran diantara kaum eksilan itu adalah seorang pengarang Belanda yang terkenal bernama Eduard Douwes Dekker alias Multatuli. Terkenal dengan karyanya berjudul « Max Havelaar ». Selain itu, ada pula pengarang Belgia sendiri yang menggelitik hati dan pikiran, bernama Henri Conscience dengan novelnya berjudul « Batavia ». Maka ditambah pula adanya Akademi Senirupa Brussel, jatuhlah pilihanku untuk bermukim atau menjadi sitoyen alias penduduk kota ini. Menjadi sitoyen kota ini, selaku Etudiant lantas pekerja bebas (travailleur independent). Dengan segala suka duka yang aku alami, rasa betah bergulat dengan rasa gelisah resah selaku kaum eksilan. Tak urung, Multatuli menjadi guru yang meyakinkan akan kebenaran pilihan sebagai seniman engagée, yang memihak – berpihak pada misi bagi hidup kehidupan manusia yang manusiawi. Manusia yang mendambakan hidup kehidupan yang bebas merdeka, mendambakan kebenaran dan keadilan. Meskipun untuk dan dalam rangka menjaga semangat itu mesti menghadapi berbagai reaksi, pun ragam macam aral perintang. Seperti contohnya, dalam melakukan salah satu macam aktivitas-kreativitas tulis menulis di luar garis – seperti dalam rangka mengelola Majalah Sastra Dan Seni Kreasi ini. Yang sekalipun maknanya bak setetes air di lautan, ada keberadaannya tak mudah terhapuskan – selaras pepatah « Omongan mabur tulisan menetap ». Nyata adanya. Bisa dilacak, dikaji ataun disimak bagi yang berkehendak. Akan halnya pengakuan atau penilaian, saya serahkan saja kepada peminat atau pembaca yang bersangkutan masing-masing. Teriring asa untuk memeriksa keseluruhan aktivitas-kreativitas yang selang seling saling berkaitan. Secara obyektip adanya.

*

MENGENAI makna dan jasa seorang seniman -- tulis saya sebagai kalimat pertama naskah berjudul « Jejak Multatuli » pada halaman 11 Kreasi N° 7 itu -- pengakuan atas kebesarannya, seringkali sukar dilakukan orang atau apalagi penguasa. Karena kekerdilan hati dan pikiran serta pandangan, orang atau penguasa tidak mau mengakui bahkan seringkali memusuhi sang seniman yang menunaikan tugas sejarahnya. Karena, seringkali pula, penunaian kewajibannya itu harus dilakukan dengan menentang arus sebagaimana dikatakan Mochtar Lubis. Suatu sikap teriring tindakan yang sarat akan berbagai macam resiko. Resiko dari arus atau kekuatan kolot, dan dari kecemburuan atau arogansi kekuasaan.

Itulah sebabnya seorang seniman itu seringkali menjadi tokoh yang kontroversial, pariah atau menjadi korban belaka. Korban fitnahan sampai pada perlakuan yang paling keji, terhadap kreasinya ataupun dirinya sendiri. Tak terbilang banyaknya contoh-contoh dalam sejarah akan sikap dan tindakan yang didasari oleh kecemburuan atau arogansi penguasa – dari usaha menutup-nutupi makna atau jasa seniman sampai memberangus atau menumpas kreasi maupun jiwanya. Kekaliberannya memang lewat ujian atas makna dan jasanya, aktivitas dan kreativitasnya, kekonsekwenannya dalam perjuangan melawan keburukan dan kesulitan hidup masyarakat manusia dan sekaligus juga yang dialaminya sendiri.

Begitulah halnya kasus Eduard Douwes Dekker. Penderitaan hidup manusia yang disaksikannya dan penderitaannya sendiri, makna dan jasanya, masih merupakan persoalan yang aktual – setelah 100 tahun wafatnya ! Pengarang ini, kerna sedemikian rupa pengalaman dan perhatiannya atas penderitaan manusia hingga nama samaran yang digunakannya adalah MULTATULI – dari bahasa Latin yang berarti : Aku Yang Menderita. Sejarawan Belgia Aimé Bernaerts dalam bukunya yang berjudul « Proscrits, exilés et écrivains etrangers en Belgique » mengutarakan, bahwa :

« Multatuli lahir di Amsterdam tahun 1820, wafat di Nieder-Ingelheim, Jerman, tahun 1887. Sejak umur 18 tahun dia menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. Perlakuan yang tak berperikemanusiaan terhadap penduduk negeri jajahan menimbulkan kegusaran dalam dirinya. Ia mengambil sikap yang membela rakyat yang terhisap oleh pengusaha perkebunan kopi yang bersekongkol dengan bupati pribumi yang dilindungi oleh residen Belanda… Setelah dengan berani membela kaum yang tertindas di distriknya dengan melancarkan perjuangan melawan ketidak-adilan selama 20 tahun yang tak berhasil, dia meninggalkan Indonesia… Pada awal tahun 1858 dia tiba di ibukota Belgia, Brussel. Tinggal di kamar loteng sebuah penginapan bernama « In de kleine prins », Rue de la Fourche nomor 52. Di kamar kecil itulah lahir kreasinya yang kemudian menjadi termasyhur, berjudul « Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappij ». Dalam novel yang lebih merupakan otobiografi ini, dengan keras Multatuli mengecam pemerintah Belanda yang membiarkan berlakunya tindakan yang sewenang-wenang, dimana dia sendiri selaku saksi-mata. Di tempat penginapan itu Multatuli menderita kedinginan ; seringkali, untuk menggarap novelnya dia turun ke ruang tamu yang juga merupakan kabaret itu. Seperti halnya di tempat-tempat lain kemudian, semasa di Brussel pun dia sering berhutang-pinjam. Walaupun demikian, dalam kemelaratan dia mampu melahirkan karya besanya seperti « Max Havelaar » itu, selain « Minnebrieven » (Surat-surat cinta), « Dialog-dialog Jepang », « Ide-Ide », dalam 7 jilid (1862-1877) dan sebagainya. »

Sikap dan tindakan serta kreativitasnya yang kongkrit cukup membuktikan bahwa Multatuli adalah seorang pengarang sekaligus humanis yang besar. Selaku manusia, sebagaimana semua manusia, barang tentu dia mempunyai kelemahan-kelemahan. Sementara orang menuding kelemahannya terutama dalam hal keuangan dan wanita. Namun orang yang berpikiran waras dan tak munafik tentulah pandai membedakan segala sesuatunya dan menempatkannya pada tempatnya yang layak.

*

MEMANG sekalipun sudah sekian lama wafatnya, opini atas makna dan jasa Multatuli itu tetaplah macam-macam. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Hal mana tercermin dalam pernyataan-pernyataan sekitar peringatan ke-100 ultah wafatnya.

Yang paling menonjol adalah manifestasi yang diprakarsai oleh para pencinta perjuangan Multatuli dengan memasang patung ciptaan pemahat Hans Bayens. Upacara peresmian pemasangan patung dalam rangka memperingati hari ultah ke-100 wafatnya itu dihadiri pula oleh Ratu Beatrix. Salah seorang pembicara, Geert van Oorschot, telah berkesempatan menguraikan kedudukan penting sang pengarang terkenal itu. Ditekankannya antara lain bahwa walaupun Multatuli sudah wafat seabad yang lalu, namun semangat anti-kolonialisnya yang sangat berkobar-kobar itu hingga kini tetap memberi inspirasi yang pantang kunjung padam.

Dalam menilai sejarah kolonialisme Belanda, Geert van Oorschot secara tegas menunjukkan bahwa Nederland sebagaimana halnya negara-negara kolonial lainnya, terkenal sebagai negara yang « secara serampangan melakukan penghisapan, pencurian dan perampokan ». Dan jasa Multatuli justeru terletak pada keberaniannya sebagai perintis dalam mengungkapkan kekejian-kekejian tersebut.

Khusus menyinggung kehadiran Ratu Beatrix, G.v. Ooschot menyatakan terimakasih dan penghargaannya yang selaku « Ratu yang pertama yang tampil di mimbar tanpa dibebani nista kolonial ». Demikian antara lain menurut harian De Volkskrant 18 Mei 1987.

Kemudian, pada tanggal 10 Oktober 1987, koran Het Parool telah menurunkan tulisan Theodor Holman yang membela Multatuli dengan membantah tuduhan seorang walikota Belanda terhadap Multatuli yang dinyatakan sebagai mirip dengan tokoh NSB bernama Mussert, sekaligus diblejeti pula sikap orang Indonesia yang membawakan suara pemerintah.

Dengan sengit Theodor Holman mengecam ketololan dan kecerobohan mereka yang mencoba merusak nama Multatuli dengan mensejajarkan sikap pengarang itu dengan tokoh kolaborator fasis seperti Mussert dan seperti Botha presiden Afrika Selatan.

Atas sikap orang Indonesia, Profesor Suharno yang menjabat Atase Kebudayaan, Holman menyatakan bisa memahaminya kenapa dia tak suka kalau ada orang menyebut-nyebut nama Multatuli. Ini disebabkan karena Multatuli sangat menentang segala hal-ihwal yang melanggar hak-hak azasi manusia di Indonesia. Multatuli menghendaki supaya semuanya diubah. Itulah menurut pendapatnya isi yang terkandung dalam novel « Max Havelaar ». Selanjutnya Holman mengajukan serangkai pertanyaan yang tajam : Bagaimana keadaan di Indonesia dewasa ini ? Apakah sudah tidak ada diskriminasi ? Mengapa banyak orang Tionghoa telah diusir ? Apakah di Indonesia ada kebebasan ? Apa sebabnya sebanyak 600.000 orang Komunis telah dibunuh ? Mengapa sampai sekarang masih ada saja pengarang-pengarang yang harus meringkuk di dalam penjara ?

Atas sikap walikota yang bernama P. van Zeil, Theodor Holman antara lain bilang : Seperti halnya perbuatan yang dilakukan oleh walikota di zaman pendudukan Jerman Nazi, untuk menyenangkan fihak musuh, makan Piet van Zeil telah membikin senang Atase Kebudayaan, Profesor Suharno yang menganggap Multatuli sebagai seorang NSB.

Apa yang menyebabkan sehingga P. van Zeil tutup mulut tentang Multatuli itu ? Ia memang hanya sedikit sekali membaca karya-karya Multatuli yang sangat cemerlang itu. Dan apa yang telah dibaca dianggapnya tidak begitu menarik perhatiannya. Sebab, kalai ia menghargainya, maka ia pasti akan menyebut nama Multatuli dengan senang hati. Hal ini mungkin sekali disebabkan karena Multatuli itu bukan saja sangat menentang situasi buruk yang terdapat di Indonesia, tapi juga karena tulisan-tulisannya itu terutama ditujukan pada para pengarang bréngsék pada umumnya dan terhadap pemeluk agama Katolik khususnya. Kongkritnya tertuju pada orang-orang semacam Piet van Zeil dan Profesor yang menjabat Atase Kebudayaan itu. Singkatnya : tertuju pada mereka yang sudah biasa tutup mulut !

Peringatan ultah ke-100 wafatnya Multatuli selain di Belanda, juga diselenggarakan di Belgia, Jerman dan di Indonesia. Juga, dalam kaitan itu, Kumpulan Karya Max Havelaar jilid ke-18 telah diterbitkan dalam bahasa Tionghoa, dan di Kuba diterbitkan karya Multatuli dalam bahasa Spanyol.

Tak terbilang banyaknya karya tulis, pidato, acara radio dan televisi, pementasan dan pameran serta bentuk-bentuk kegiatan lainnya yang terwujudkan dalam memperingati 100 tahun wafatnya pengarang sekaligus humanis besar Belanda itu. ***

Jumat, 01 Agustus 2008

R.M. Tirto Adhi Soerjo >> Inilah tokoh Minke dalam tetralogi Pram sekaligus Bapak Pers Nasional


Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.

Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)
R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi. Melalui surat kabar Medan Prijaji, pemikiran beliau menjadi cikal bakal nasionalisme dengan memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat Indonesia tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.

TAHUN 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali.

“TAS pelopor pers nasional. Dia mendirikan surat kabar Medan Priyayi pada 1 Januari 1907. Melalui surat kabar tersebut, dia berkiprah di Jabar hingga akhir hayatnya. Bahkan makamnya pun berada di Bogor.” [Nina H. Lubis]

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880. TAS yang tak menyelesaikan sekolahnya di STOVIA Batavia pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, Januari 1904 TAS mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Selain di bidang pers, TAS juga aktif dalam pergerakan nasional, ia mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto, .

Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.

Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1 Bandung. Inilah harian pertama yang benar-benar milik pribumi. Masa kejayaan Medan Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.

Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.

Sekembali dari Ambon, TAS tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.

Kisah perjuangan TAS diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas TAS dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang, bahkan hendak diangkat ke film layar lebar.

Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Surjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Kabarnya Garin Nugroho akan menyutradai dan tokoh Annelies Melemma akan diperankan oleh Mariana Renata.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
[Dialog di dalam buku Bumi Manusia]