Selasa, 18 November 2008

GAULI ISTERIMU DARI ARAH SESUKAMU


Buku ini terkategori aneh, karena judul dan isinya tidak siginifikan. Judulnya sangat “bombastis,” namun isinya “agamis”.
Kemungkinan karena balutan bisnis, dipilih judul yang menarik sehingga buku akan terjual laris manis.
Isi buku ternyata membeberkan sebuah pedoman Islami dalam menggauli seorang isteri.

Senin, 17 November 2008

JAMUS KALIMOSODO


Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

PAPAT yang ke empat
adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).

Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:

Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).
ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2. Ka Hewanan ( sifat binatang).
ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3. KaRobanan.
Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4. Kasetanan.
Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5. KaTuhanan.
artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

NGELMU KYAI PETRUK

Kuncung ireng pancal putih,
Swarga durung weruh,
Neraka durung wanuh,
Mung donya sing aku weruh,
Uripku aja nganti duwe mungsuh.

Ribang bumi ribang nyawa,
Ana beja ana cilaka,
Ana urip ana mati,
Precil mijet wohing ranti,
Seneng mesti susah,
Susah mesti seneng,
Aja seneng nek duwe,
Aja susah nek ora duwe.

Senenge saklentheng susahe sarendheng,
Susah jebule seneng,
Seneng jebule susah,
Sugih durung karuan seneng,
Ora duwe durung karuan susah,
Susah seneng ora bisa disawang,
Bisane mung dirasakake dhewe.


Kapiran kapirun sapi ora nuntun,
Urip aja mung nenuwun,
Yen sapimu masuk angin tambanana,
Jamune ulekan lombok,

Bawang uyah lan kecap,
Wetenge wedhakana parutan jahe,
Urip kudu nyambut gawe.

Pipi ngempong bokong,
Iki dhapur sampurnaning wong,
Yen ngelak ngombea,
Yen ngelih mangana,
Yen kesel ngasoa,
Yen ngantuk turua.

Pipi padha pipi,
Bokong padha bokong,
Pipi dudu bokong,
Onde-onde jemblem bakwan,
Urip iku pindha wong njajan,
Kabeh ora bisa dipangan,
Miliha sing bisa kepangan,
Mula elinga dhandhanggulane jajan.

Pipis kopyor sanggupira lunga ngaji,
Le ngaji nyang be jadah,
Gedang goreng iku rewange,
Kepethuk si alu-alu,
Nunggang dangglem nyengkelit lopis,
Utusane tuwan jenang,
Arso mbedhah ing mendhut,
Rame nggennya bandayudha,
Silih ungkih tan ana ngalah sawiji,
Patinira kecucuran.

Ki Daruna Ni Daruni,
Wis ya, aku bali menyang Giri,
Aku iki Kyai Petruk ratuning Merapi,
Lho ratu kok kadi pak tani?,

Sumber: buku Air Kata-Kata, karangan Sindhunata.

SEJARAH BENDERA MERAH PUTIH


Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing. Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma–cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.

1. Menurut sejarah, Bangsa Indonesia memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina. Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan. Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti matahari dan Candra berarti bulan. Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.

Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.

Pada Zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getah-getih. Getah-getih yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih. Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih dan getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.

2. Pada permulaan masehi selama 2 abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi. Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan gendering besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali gendering ini disebut Nekara Bulan Pajeng yang disimpan dalam pura. Pada nekara tersebut diantaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung. Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat kuburan berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.

Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya? Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar. Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.

Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah. Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya. Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.

Pada abad XIX tentara napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi. Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara. Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.

Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.

Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.

Tata cara pengibaran dan pemasangan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.

3. Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII. Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur , dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu dindingnya terdapat “pataka” di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar. Kata dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobuur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih. Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.

Prabu Erlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau burung merah putih. Denikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.

4. Kerajaan Singosari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singosari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan bendera merah – putih , tepatnya sekitar tahun 1292. Pada saat itu tentara Singosari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji – panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi. Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singosari, padahal pasukan Singosari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak. Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singosari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto. Berkibarlah warna merah – putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan piagam merah – putih, namun masih terdapat salinannya. Pada buku Paraton ditulis tentang Runtuhnya Singosari serta mulai dibukanya Kerajaan Majapahit dan pada zaman itu pula terjadinya perpaduan antara Ciwaisme dengan Budhisme.

5. Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar – pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah – putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem. Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah – putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan. Dalam Keraton Solo terdapat panji – panji peninggalan Kyai Ageng Tarub turunan Raja Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji – panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Gula Kelapa . dilihat dari warna merah dan putih. Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.

6. Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu baling. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman. Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul – umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera , di atas tiang armada Bugis yang terkenal. Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya. Dalam aliran animisme Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat. Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum wanita. Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara – upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.

7. Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah – tengah pasukan Diponegoro yang beribu – ribu juga terlihat kibaran bendera merah – putih, demikian juga di lereng – lereng gunung dan desa - desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah - putih. Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra – putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.

Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.

Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain : Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.

Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah – putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.

Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Sumpah Pemuda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda – Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :

Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah – putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah – putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah – putih. Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah – putih.

Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak – gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.

Pengibaran Bendera Merah-putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan. Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.

Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera merah-putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.

Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.

Bendera merah-putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958. Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.

Jumat, 14 November 2008

Wawancara Imaginer Bersama Roh 3 Terpindana Mati Bom Bali I >> “DISKUSI MASUK SURGA”


Hebohnya eksekusi mati tiga terpidana mati Bom Bali I; Amrozi, Imam Samudera, dan Mukhlas, menyisakan banyak pertanyaan sebagian pihak. Kelompok-kelompok moderat kerapkali menafsirkan kematian mereka tidak syahid. Sementara kelompok garis keras (Islam radikal) menganggap ketiganya mati sebagai syuhada. Soal itu tentu urusan Yang Di Atas. Manusia punya akal untuk berpikir, tapi Tuhan yang menilai.

Di sini saya tidak membahas mengenai berbagai julukan yang disematkan kepada mereka. Saya cuma ingin mengetahui sampai sejauh mana perjalanan ketiga terpidana mati Bom Bali di alam baka sana. Tentu saja ini sekedar wawancara imaginer yang selalu merasuki daya pikir (alam bawah sadar) saya sebagai jurnalis. Tanpa melibatkan integritas kebenaran yang ada, semua wawancara ini sifatnya fiktif belaka, tentunya agar sekiranya kau dapat menerimanya sebagai versi saya.

Saat ini saya sedang berada di alam kubur. Hal ini saya lakukan mengingat sebagian orang telah menganggap kuburan ketiga “syuhada” mampu mendatangkan kemujuran. Sebagian peziarah datang dan pergi sambil membawa tanah kuburan untuk jimat. Tak heran jika di sekelilingnya timbul kecemasan, tak terkecuali keluarga ketiga mantan terpidana mati tersebut. Adanya sebagian orang yang datang ke makam membuat saya merasa harus meluruskan segalanya. Maka, saya pun masuk jauh menembus ke liang lahat ketiga terpidana. Di situ saya pun mendapati ketiganya sedang duduk-duduk membahas sesuatu yang (menurut pengamatan saya) penting. Dilihat dari keadaannya tampaknya mereka baik-baik saja. Awalnya saya beruluk salam.

Saya: Assalamualaikum…!!!

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: Waalaikumsalam…!!! (berbarengan).

Amrozi: Allahuakbar! (sambil mengepalkan tangannya).

Mukhlas: Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! (tiga kali takbir).

Imam Samudera: Allahuakbar! (menyambut kata-kata temannya).

Saya: Bagaimana kabarnya?

Amrozi: Alhamdulillah baik-baik saja.

Imam Samudera: kami sedang membahas keadaan di negara baru ini. Silahkan masuk!

Mukhlas: Dari mana, Mas?

Saya: Saya dari Surabaya. Saya ke sini mau wawancara Anda bertiga.

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: Silahkan, Mas. Oh iya, kalau boleh tahu Mas ini dari koran apa? (ketiganya menjawab hampir bersamaan).

Saya: Dari media Jejak Manusia.

Imam Samudera: Wah, bagus benar namanya. Berarti Mas ini selalu meliput segala berita yang bersangkutan dengan jejak atau perjalanan manusia. Apa itu termasuk yang sudah meninggal?

Saya: Iya.

Mukhlas: Trus jabatan Mas ini apa?

Saya: Reporter. Hanya saja saya bagian meliput mereka yang sudah tiada. Dulu saya juga pernah meliput Raja Iblis lho.

Amrozi: Wah, hebat tuh! Terus sekarang apa yang hendak Anda tanyakan!

Saya: Begini, saat ini di alam fana Anda bertiga dianggap sebagai syuhada. Bagaimana perasaan Anda?

Imam Samudera: Ah, biasa aja, itu hanya perasaan mereka saja.

Amrozi: Alhamdulillah (manggut-manggut, sambil memegangi jenggotnya)

Mukhlas: Itu terserah anggapan orang, Mas!

Saya: Tapi apa Anda tidak merasa bertanggung jawab terhadap keimanan mereka. Sebagian dari mereka telah musyrik. Ada yang menganggap Anda pahlawan yang mendatangkan kemujuran kemudian mengambil tanah di pekuburan Anda dan menjadikannya ajimat.

Amrozi: Wah, wah kalau itu jangan sampai deh.

Imam Samudera: Iya, yang patut disembah hanya Allah. Tiada selain Dia.

Mukhlas: Kalau saja kami bisa hidup lagi kami pasti akan mencegah mereka. (kata-kata Mukhlas ini diikuti anggukan Imam S dan Amrozi)

Saya: Bagaimana menurut Anda tentang eksekusi kemarin?

Mukhlas: Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Mas!

Imam Samudera: Iya, karena hal itu tidak ada gunanya. Lagipula kami sudah pindah alam.

Amrozi: Sekarang yang kita pikirkan adalah perjalanan kita berikutnya.

Saya: Setelah ini Anda mau kemana?


Amrozi, Imam Samudera, Muklas:
Perjalanan kami masih panjang, Mas. Insya Allah, kami juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan kami kepada Yang Di Atas.

Saya: Menurut Anda apakah perbuatan kali mengebom Bali dibenarkan?

Amrozi: Allahuakbar! (kembali mengepalkan tangan)

Imam Samudera: Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Muklas: Allahuakbar! (mengikuti takbir sahabat-sahabatnya)

Saya: Anda selalu menyebut Allahuakbar, apakah Anda sudah menemuinya.

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: (ketiganya saling pandang-pandangan)

Amrozi: Kita harus yakin bahwa Allah selalu ada di hati kita.

Imam Samudera: Allah tidak pernah meninggalkan kami.

Mukhlas: Dia selalu di sisi kami. Apapun yang kami lakukan semua itu demi Allah.

Saya: Tapi bukankah orang-orang di Bali yang menjadi korban peledakan Anda juga makhluk Allah. Bisa saja berarti Anda juga melukai Allah!

Muklas: Itu hanya pendapat, Mas!

Saya: Yang benar gimana?

Amrozi: Yang kami tentang adalah Amerika. Kaum zionis. Yahudi. Kafir.

Imam Samudera: Mereka semua kafir. Allahuakbar! (sekali lagi gema takbir meraung-raung di alam kubur).

Saya: Bukankah yang menilai kafir dan tidaknya adalah Allah. Anda kan manusia. Bagaimana Anda bisa menilai manusia itu salah dan benar?

Amrozi: Lihat saja Rasulullah.

Saya: Emangnya kenapa dengan Rasul?

Mukhlas: Rasulullah adalah makhluk Tuhan paling suci di muka bumi ini. Dan itu bisa dilihat dari akhlaq beliau.

Imam Samudera: Akhlaq beliau sungguh mulia. Tiada seorang pun makhluk yang mampu menyamainya.

Saya: Korelasinya dengan pertanyaan saya tadi?

Amrozi: Itu artinya benar dan salah bisa dilihat, bisa dinilai. Tidak perlu harus menunggu perintah Allah. Semua sudah tersebutkan dalam kitab suci.

Saya: Apakah dengan melukai sesamanya juga termasuk dalam kitab?

Mukhlas: Itu jihad namanya.

Saya: Tapi jihad kan tidak perlu harus melukai, bahkan membunuh!

Imam Samudera: Anda ini wartawan kok ngeyelan. Yang namanya jihad itu harus dilakukan dengan tindakan. Kalau lewat omongan tidak berhasil, maka jalan satu-satunya adalah tindakan.

Saya: Lho, lho, kenapa Anda harus marah!

Mukhlas: Bukan marah, kami hanya menjelaskan saja. Sebab Anda orangnya ngeyelan sih!

Saya: Lho bukannya itu tugas saya sebagai wartawan.

Amrozi: Sudah tidak perlu dibahas lagi. Sebab itu sudah masa lalu.

Saya: Tuh kan, Anda emosi lagi. Ini kan wawancara imaginer. Kenapa Anda harus marah. Lagipula Anda bertiga sudah mati. Jadi tak ada yang perlu disesali lagi. Seharusnya yang berhak emosi adalah saya. Sebab saya masih hidup, dan saya masih memiliki nafsu untuk marah. Sebaliknya, Anda kan hanya roh. Masa roh bisa marah.

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: (Ketiganya menunduk malu).

Saya: Anda yakin setelah ini akan masuk surga?

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: (Ketiganya tidak menjawab)

Saya: Lho kok diam saja.

Amrozi:
Kami belum ketemu Mungkar dan Nakir.

Imam Samudera: Iya, makanya kami sekarang sedang mencari mereka. Kiranya apa yang hendak ditanyakan oleh mereka ya…

Muklas: Mungkin mereka takut dengan kami, atau tidak sudi menemui kami.

Saya: Bagaimana seandainya Anda dimasukkan neraka?

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: Wallahua’lam.

Saya: Mungkinkah Anda akan menuntut?

Amrozi: Bisa iya, bisa tidak.

Saya: Kok jawabannya tidak yakin.

Imam Samudera: Makanya sekarang ini kami sedang membahas itu. Yang jelas tujuan kami adalah surga.

Saya: Untuk ke sana Anda harus menghindari Malik.

Mukhlas: Iya, itu rencana kami. Sedianya kami memang hendak menemui Ridwan agar diijinkan masuk surga.

Saya: Kalau gitu saya doakan semoga cita-cita Anda terwujud.

Amrozi, Imam Samudera, Muklas: Amin.

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI --- CALIGULA


Caligula memerintah kerajaan Romawi hanya singkat, dari tahun 37-41 Masehi. Namun begitu, kaisar ini amat terkenal. Itu karena sang raja merupakan sosok yang bengis dan keji. Gampang membunuh dan suka melakukan petualangan seks. Jika ada pengantin baru perempuannya diperawani Sang Kaisar, sedang pengantin laki-lakinya disodomi dengan amat kasar. Yang lebih mencengangkan, adik perempuannya sendiri juga dijadikan budak nafsu. Di tahun 80-an kisah Caligula pernah diangkat dalam sebuah pagelaran di New York, dan terjadi kegemparan di negara demokrasi. Itu bisa dipahami, karena semua pemainnya telanjang bulat. Mereka melakukan adegan seks gila-gilaan. Dari oral seks, heteroseks, anal seks, sampai yang dikenal sebagai bestiality. Mencari kepuasan melalui penyiksaan alat vital.

Ada masa seks dipuja dan dijadikan simbol kekuatan. Dalam catatan sejarah, kisah seperti itu salah satunya terjadi di kerajaan Romawi kuno. Lingga dan yoni dijadikan sarana pemujaan. Dan dari penyatuan kemaluan laki-perempuan itu dipercaya mendatangkan kekuatan. Seks sebagai sumber energi.

Kerajaan Romawi kuno memang melakukan ritual penyembahan seperti itu. Akibatnya, raja yang dipercaya sebagai keturunan dewa, dikelilingi gadis-gadis muda yang cantik jelita. Mereka harus melayani kebutuhan seksnya yang tinggi. Dan para gadis itu wajib mendalami berbagai gaya bercinta untuk memuaskan Sang Raja.

Tak cuma itu. Istana sebagai pusat titah juga diberi simbol-simbol lingga (kemaluan laki-laki) dan yoni (kemaluan perempuan). Tujuannya agar memberi vibrasi kekuatan bagi penghuni istana, yaitu para raja dan keluarganya, serta para menteri yang menjalankan titah raja.
Untuk itu, segala sudut istana dikerumuni para dayang bugil yang siap memberi servis raja. Dan yang mengerikan, tiap ruang dipajang aktifitas seksual. Dari wanita yang melakukan masturbasi dengan kayu yang dibentuk lingga, dari laki-laki yang melakukan onani untuk diambil dan ditampung spermanya, sampai pembunuhan keji dengan menancapkan kayu di kemaluan wanita atau payudaranya, atau laki-laki yang dirusak penisnya.

Pemandangan yang membangkitkan birahi sekaligus kengerian itu kian menjadi-jadi, tatkala kerajaan ini diperintah Caligula. Kaisar ini penderita psikopat. Ia bengis dan kejam. Ia juga hiperseks yang ngawur.

Betapa tidak. Adiknya sendiri disetubuhi. Ia senggamai istri temannya. Ia perawani tiap gadis yang mau dikawinkan, dan ia gelar pesta seks saban pekan. Saat itulah kaum homoseks dan lesbian pestapora. Mereka melakukan persetubuhan massal bersama para heteroseks di kerajaan ini.

Puncaknya, ketika para petinggi kerajaan ini terus menggelar pesta, kerajaan pun mengalami devisit keuangan. Apa solusi raja untuk menutupi operasional kerajaan? Ini yang cukup mengejutkan; istri dan putri para menteri serta senat dilego.

Wanita-wanita itu dijual bebas. Hanya dengan lima keping emas, putri dan istri pejabat terhormat itu bebas diapakan saja. Digagahi secara heteroseks, disodomi, atau disuruh melakukan oral seks dan masturbasi.

Kebijakan yang gila-gilaan ini berakhir tragis. Harga diri para pejabat tinggi itu merasa diinjak-injak. Mereka akhirnya bersekongkol untuk membunuh Caligula. Dalam satu kesempatan, secara bengis para pejabat yang telah kehilangan harga diri itu membunuh Caligula, istri, serta anaknya yang masih kecil.

Kekasih Temannya Diperkosa
Kisah Caligula ini bermula saat ia masih menjadi pangeran. Ia hidup di kerajaan Romawi yang diperintah Tiberius, kakeknya. Sang Kakek sangat otoriter dan keji. Selalu curiga dengan siapa saja, termasuk dengan anak dan cucu-cucunya. Itu pula yang menjadikan ayah dan ibu Caligula mati terbunuh.

Caligula punya teman bernama Macro. Laki-laki itu berperawakan besar, ganteng dan punya loyalitas tinggi. Dialah yang selalu melindungi Caligula dari berbagai ancaman. Baik dari keluarga sendiri maupun dari luar istana.

Suatu hari Macro berkenalan dengan gadis cantik yang bernama Ennia. Ia merupakan dara yang menonjol karena wajah dan pergaulannya. Macro terpana asmara. Ia tertarik gadis ini, dan selalu mencari kesempatan agar bisa berdekatan.

Nampaknya, Macro tak bertepuk sebelah tangan. Ennia yang tubuhnya selalu dibalut kain tipis tanpa penutup buahdada itu menyambut cinta laki-laki yang menjadi pengawal istana tersebut. Mereka pun bercinta. Keduanya merasakan tubuhnya seperti melayang di awang-awang. Pun keduanya telanjang berangkulan di sudut benteng.

Saat itu bulan sedang bersinar penuh. Di sudut benteng istana, Ennia dan Macro sama-sama telanjang sehabis bersebadan. Mereka telentang, merentang tangan, dan membiarkan semilir angin membuainya ke alam impian.

Tapi di keremangan malam, sesosok bayangan berkelebat. Tubuhnya agak ramping. Bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain. Di dekat dua manusia bugil yang tertidur pulas itu, sosok ini mendekat. Tangannya merayapi tubuh Ennia. Ia menciumi seperti bayi. Ennia membiarkan. Ia mengira yang melakukan rangsangan itu adalah kekasih tercintanya, Macro.

Birahi gadis ini kembali memuncak. Tatkala itu sudah terjadi, maka dengan sekali sentak laki-laki ini pun melakukan serangan mendadak. Akibatnya Ennia tak mengalami rasa nikmat, tetapi justru kesakitan. Ia menjerit keras. Darah mengucur dari kemaluannya, dan Macro yang tertidur disamping gadis ini terbangun.

Macro bangkit hendak memukul laki-laki yang memperkosa pacarnya. Tapi ketika ia tahu siapa laki-laki telanjang yang ada di atas tubuh Ennia, maka Macro pun melemah. Ia jongkok dan menyembah. Lirih ia berkata, "Silakan teruskan Pangeran."

Macro kemudian membisiki kekasihnya itu, dan menyuruh Ennia untuk memberikan pelayanan yang baik. Macro membantu merangsang pacarnya. Ia juga membantu memegangi Ennia, dan membiarkan sosok pemerkosa itu untuk memuaskan hasrat seksnya pada gadis ini.

Tapi siapakah pemerkosa yang beruntung itu? Jangan kaget, dialah Caligula, Pangeran dari kerajaan Romawi.

Caligula terkapar lemas. Ia membiarkan tubuhnya telentang bugil. Di dekatnya, Macro duduk menjaganya. Sedang Ennia, mau tak mau gadis ini harus melayani nafsu seks dua orang itu. Dan untuk itu, ia harus bekerja ekstra keras lagi.

Bahkan saat tubuh Ennia menegang, gadis ini juga dipaksa untuk melakukan oral seks. Padahal, kalau Ennia sendiri belum berpengalaman. Namun mau dikata apa, dalam kondisi seperti itu, hasrat Ennia harus dipaksakan keluar. Dan ketika permainan sudah mencapai puncaknya, Ennia dipaksa untuk menelan sperma kedua laki-laki yang haus seks tersebut.

Setelah permainan usai, Caligula bangkit. Ia menciumi Ennia. Setelah itu ia rangkul Macro, seperti mengucapkan terima kasih atas pengertiannya. Dengan rasa hormat kekasih Ennia menundukkan kepalanya.

Angin Nakal Telanjangi Drussila
Setelah peristiwa itu, nasib Caligula mengambang. Bukan karena perkosaan yang dilakukannya terhadap Ennia, tapi semata karena tabiat raja Tiberius, kakek Caligula yang sinting.

Kesintingan raja itu membawa korban. Ayah Caligula, Humanikus, mati terbunuh. Juga ibu dan beberapa saudaranya yang lain. Yang tersisa akhirnya tinggal Caligula dan adik perempuannya yang cantik, Drussila.

Sejak itu Caligula keluar istana. Ia meninggalkan Macro, teman akrabnya yang menjadi orang penting istana, Ennia, gadis yang habis diperkosanya, serta para gundik yang selama ini memberinya kepuasan seksual.

Caligula bersama Drussila, adiknya yang cantik, tinggal di sebuah puri yang jauh dari kerajaan Romawi. Puri itu amat indah dan tenang. Suasana pedesaan amat kental. Puri itu dikitari tanaman rimbun. Penuh pohon oak dan cemara gunung.

Di daerah yang indah dan sejuk itu Caligula dan Drussila mukim. Saban hari yang dilakukannya adalah bermain. Main kejar-kejaran, petak umpet, dan menirukan gerak burung. Tingkah laku mirip anak-anak itu sebagai cerminan, bahwa dua remaja yang beranjak dewasa ini sebenarnya sudah mengalami gangguan jiwa. Mereka menderita psikopat akibat hidup dalam lingkungan yang diliputi kebiadaban, kekejaman dan demoralisasi.

Suatu siang, Caligula dan Drussila main kejar-kejaran. Ketika capek, di padang rerumputan, keduanya berjalan berangkulan. Tiba di sebuah pohon besar, Drussila telentang membaringkan tubuh untuk melepas lelah. Ia diam memejamkan mata. Sedang Caligula duduk bersandar pada pohon.

Tubuh Drussila yang padat berisi hanya terbalut kain tipis warna putih. Tanpa bh dan celana dalam.

Di tengah kelengangan alam itu, nampaknya nafsu Caligula terbangkitkan. Tangannya mulai merayap ke dada Drussila. Gadis itu terdiam karena menganggap biasa.

Kebetulan angin nakal bertiup. Kain tipis penutup bagian bawah gadis ini tersingkap. Mata Caligula terkesiap.

Tangan Caligula mulai berpindah. Ia mengelus paha mulus sang adik. Ia memelorotkan tubuhnya, dan berbaring di sebelah gadis ini. Mulutnya menyusuri paha Drussila. Setelah itu ia berguling menempatkan badannya di antara dua kaki gadis ini.

Ciuman Caligula itu menyusuri betis indah Drussila. Pelan-pelan ia merentangkan kedua kaki gadis ini. Kepalanya merambat ke atas. Dan paha bagian dalam gadis ini menjadi sasaran mulutnya.
Birahi Drussila naik. Ia mengatupkan mulutnya. Gadis ini kelihatan tetap tenang, tetapi nafasnya mulai memburu. Sentuhan itu membangkitkan gejolak bawah sadarnya. Ia mulai terjalari birahi.

Caligula secara liar mulai menyerang membabibuta wilayah sensitive sang adik. Lagi-lagi Drussila merintih. Kepalanya digoyang ke kanan dan ke kiri. Tangan Caligula kian atraktif. Kini ia tak lagi segan untuk bereaksi. Dan reaksi itu yang kian membangkitkan birahi Caligula. Sebab ia ingat, bagaimana rintihan serupa terjadi pada gundik dan Ennia yang telah memberinya kenikmatan seksual.

Laki-laki ini dengan beringas memainkan tubuh Drussila. Drussila sendiri lupa diri. Ia merintih dan mengerang. Saat kemaluan Caligula mulai menyentuh kemaluan Drussila, gadis ini tiba-tiba membalikkan badan. Ia membiarkan Caligula terbanting ke samping. Setelah itu, dengan menelungkupkan tubuh, Drussila mengumpat-umpat Caligula. "Aku adikmu. Ini seks yang dilarang," katanya terpekik. (Bersambung)

Memasung Kebebasan Demi Sebuah Materi


Teman wanita saya, Kiki, kemarin, memberitahu kelulusannya mendaftar calon perwira TNI AD. Ia berhasil menyelesaikan tes terakhir. Setelah ini, ia melanjutkan pendidikan di Bandung. Betapa getolnya sampai-sampai Kiki rela mengorbankan segala-galanya. Bahkan, kebebasannya pun–barangkali–rela dikorbankan. Setidaknya itu yang saya tangkap dari sorotan matanya.
Tak terhitung berapa banyak waktu Kiki terbuang hanya untuk mempersiapkan mental dan fisik menghadapi tes. Ia rela mengesampingkan urusan pribadi demi meraih cita-cita. Masalahnya, apakah itu termasuk cita-cita (mulia) ataukah sekedar pengharapan untuk meraih kehidupan yang layak. Yang jelas dua-duanya: SALAH.
Di tengah negara yang sedang kalut karena diapit krisis global –apa-apa serba susah–wajar jika banyak orang-orang menginginkan kehidupan layak dikemudian hari. Salah satu pekerjaan yang dianggap mampu mewadahi aspirasi mereka adalah yang berkaitan dengan negara–PNS, Aparatur Negara (POLRI, TNI, JAKSA), BUMN. Tetapi masalahnya tidak semudah itu bagi seseorang mengabdi demi negara?
Coba tengok; berapa juta orang yang gagal–menurut penilaian saya–mengabdi demi negaranya. Kebanyakan dari mereka cuma memikirkan perutnya sendiri. Substansinya tidak jelas. Padahal, untuk mengabdi demi negara dibutuhkan; niat, tekad, semangat yang gigih, tanpa pamrih, siap mati, dan bukan asal-asalan–mengisi formulir pendaftaran, menyelesaikan administrasi, mengikuti tes dan lulus. Saya tidak tahu apakah Kiki memiliki semua kriteria yang saya sebutkan di atas.
Sempat terlintas dalam benak saya beberapa orang memilih mengabdikan diri demi negara, karena sekedar ingin merubah image, itu yang pertama. Yang kedua, mereka ingin mendapatkan pekerjaan yang ringan tanpa harus bersusah payah. Bahwa kerja demi negara selama ini diartikan (sebagian besar orang) banyak nganggurnya, senang berleha-leha, ongkang-ongkang semaunya. Ketiga, pensiun. Kesemua prinsip “Pengabdian” itu tidak dilandasi oleh keinginan yang jujur dari dalam diri. Ini sama saja dengan memasung kebebasan, yah, membelenggu diri demi sebuah materi. Berbeda kalau mereka melakukannya karena ajakan hati nurani. Bukankah yang dinamakan pekerjaan atau pengabdian atau apalah itu adalah ketika mereka benar-benar menikmati apa dikerjakannya, bukan karena embel-embel ini dan itu. Biarpun mereka bekerja di lingkungan berdisiplin tinggi, tapi jika mereka menikmatinya sudah barang tentu kebebasan-lah yang didapat. Justru betapa miris bila semua orang memasung kebebasannya demi cita-cita–yang acapkali menjerumuskan pikiran.
Memang, tiada seorang pun menginginkan hari tuanya susah; menderita. Sedikit banyak dalam benak mereka pasti tersimpan pikiran untuk membahagiakan keluarganya. Saya pun demikian. Dulu sempat terlintas dalam benak: ah, betapa enaknya bila suatu hari saya bisa menikmati uang pensiun. Saya bisa berleha-leha dan tinggal menunggu mati saja. Rupanya semua itu bualan belaka. Pensiun, menurut saya, adalah berhenti melakukan segala aktivitas–apakah itu bekerja atau berkarya–karena dianggap sudah tidak mampu lagi. Syaratnya: usia tua, cacat, meninggal, atau gila. Jadi, pensiun bukan diartikan berhenti bekerja lantas mendapatkan uang bulanan. Itu kan cuma pernak-perniknya saja.
Begitu juga mengabdi demi negara tidak lantas membuat orang tersebut bergabung dengan instansi pemerintahan, bila itu yang diartikan oleh Kiki. Saya sendiri sebenarnya sangsi apakah kelak Kiki bersedia–bila sudah menjadi perwira–dikirim ke medan laga. Mengingat ia anak semata wayang di keluarganya. Pasti keluarganya sedih melihat sang anak menantang maut. Mati di medan laga memang pahlawan, tapi mati tanpa membawa ideologi adalah sia-sia. Paling tidak yang terjadi; ia akan berusaha menyuap komandannya agar tidak ditugaskan jauh-jauh dari rumah, seperti paklik saya yang dinas di Koramil. Dulu, seusai mengikuti tes kenaikan pangkat, paklik saya sempat ditugaskan ke Madura, sebelumnya di Timor Timur. Itu pun dirasa berat. Nah, karena lokasi Madura dirasa terlalu jauh dari keluarga, ia kemudian menyogok pimpinannya agar kembali ditugaskan di dekat rumah saja. Dan, berhasil.
Inilah sebenarnya kekurangan yang tidak disadari banyak orang. Mereka tidak pernah melihat bahwa apa yang dimauinya kadang tidak sesuai harapan. Semestinya apapun yang diberikan negara buat kita, kita wajib menerimanya. Apalagi bila mereka murni mengabdi demi negaranya. Memang mengabdi demi negara bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada berpuluh-puluh ideologi yang perlu kita kembangkan dan diseriusi. Kadang satu saja belum berhasil, apalagi puluhan. Membayangkannya sudah membuat mata perih. Ah, betapa sulitnya seseorang memenuhi panggilan ibu pertiwi. Kita harus mati-matian mempertahankannya. Dan sebagai sipil yang berprofesi jurnalis tentu saya selalu dihadapkan pada pilihan yang mengacak-acak hati nurani. Tidak semua bisa saya lakukan. Satu hal yang menjadi acuan saya: always keep thinking positif. Kata orang, dengan begitu saya sudah berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Bukankah kata-kata ini yang sering kita dengarkan sewaktu di sekolah dasar. Pak guru sering menggembor-gemborkan dalam pelajaran PPKN mengenai hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Dan ini saatnya negara menuntut haknya, atau kita memiliki kewajiban memenuhi tugas sebagai warga negara yang baik. Bagaimana caranya? Memang sih tidak mudah untuk melakukannya. Perlu tantangan dan perjuangan. Bahkan kalau perlu nyawa taruhannya. Rasanya cocok filosofi yang dianut bangsa Amerika: Jangan tanyakan apa yang bisa dilakukan negaramu, tapi apa yang bisa kau lakukan untuk negaramu.
Kadang kala kita selalu bersikap pesimis dengan apa yang kita lakukan. Bahwa kata pengabdian sering kita persepsikan hanyalah milik orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Bullshit, itu pikiran salah, anggapan keliru. Saya sendiri yang menyalahkan. Untuk mengabdi kepada negara tidak semua orang harus menjadi PNS. Saya pun bisa mengabdi demi negara dengan menggeluti bidang yang saya kuasai. Seorang buruh pabrik bisa mengabdi demi negaranya dengan mengembangkan produksi-produksi pabriknya sebaik mungkin agar dapat dinikmati oleh orang banyak. Bahkan tukang becak sekalipun sanggup mengabdi untuk negaranya. Siapa bilang tukang becak hanya profesi rendahan. Tanpa mereka (orang kecil), toh Anda bukan siapa-siapa. Selama semua pekerjaan dan profesi digeluti dengan serius, maka sebenarnya kita sudah mengabdi demi negara.