Pulang dari Kediri naik bus. Lihat ibu-ibu naik dari Jombang membawa dua anaknya yang masih kecil. Saya punya nama panggilan buat mereka. Yang kecil saya namai Eki. Umur 1 tahun. Yang besar saya panggil Pasha. Umurnya 2 tahun. Awalnya biasa-biasa saja. Tak lama Pasha tiba-tiba menangis. Entah siapa yang mengganggu, dia merengek kepada ibunya. Rupanya si ibu ini bukan seorang yang sabar.
Dengan lantang dia mengancam anaknya begini:
"Husy, jangan nangis..." katanya sambil meletakkan jari telunjuk di mulutnya.
Tapi Pasha tetap saja rewel dan tak mau berhenti.
Dan...plok...tiba-tiba mendarat tamparan di pipi Pasha karena geramnya si ibu.
Saya cuma bisa istighfar melihatnya.
Ya Allah, apa benar yang dilakukan si ibu ini?
Si anak belum juga reda tangisannya. Malah menjadi-jadi. Rengekannya, kalau boleh saya artikan, sampai membuat seisi penumpang terbangun.
Mungkin si ibu saking jengkel dan malunya, dia kembali melemparkan berpuluh-puluh ancaman dan makian. Dari yang saya kutip begini:
"Kalau kamu masih berani, akan ibu lempar sekarang juga dari bus." Ancamnya.
Padahal saat itu bus melaju cukup kencang.
Saya khawatir kalau ancaman itu benar-benar jadi kenyataan. Apalagi si ibu dan anaknya duduk di deretan kursi paling belakang, tepat di samping pintu. Sedang saya berada di sebelahnya.
Mendengar ancaman si ibu, saya pun mulai pasang kuda-kuda. Kalau hal itu sampai terjadi saya siap menyelematkan nyawa Pasha. Tapi rupanya semua itu hanya gertakan sambal saja. Mungkin cuma ingin menakut-nakuti si bocah. Namun demikian ancaman itu semakin bertambah kencang. Si bocah yang tak mau diam terus-terusan dihujani ancaman yang menurut saya tidak pantas didengar.
Salah satunya ini:
"Kamu kalau masih belum diam, ibu turunkan di sini. Ibu sudah ga mau menganggapmu sebagai anak. Dasar bandel. Lihat adikmu saja diam."
Plok...suara tamparan kembali menimpa mulut Pasha kecil.
Aih...benar-benar kasar kata-kata si ibu. Saya terus bertanya, kira-kira apa sudah benar cara mendidik ibu ini. Mungkinkan si kecil mau menuruti kata-kata ibunya, walau sebenarnya sangat merugikan dirinya.
Berulang kali saya memutar otak, menyalahkan pringai si ibu dan ketidakberdayaan Pasha dan Eki, yang tak lama ikut menangis karena tak tahan mendengar omelan ibunya kepada kakaknya.
Eki yang nangis juga tak luput dari omelan si ibu:
"Kamu juga, kalau ikutan nangis, nanti ibu buang di sini biar ditemu orang lain. Biar saja sekalian ibu tidak memiliki anak-anak seperti kalian tidak apa-apa"
Ya Allah, seketika pikiran saya langsung lemas. Apa tidak salah kata-kata si ibu ini. Masakah karena menangis saja mereka mau dibuang. Saya memang berusaha tidak mempedulikan, tetapi telinga saya sepertinya tak bisa dibohongi. Setiap dialog yang terjadi antara si ibu dan anak-anaknya, selalu masuk ke telinga kanan dan kemudian merangsek memasuki hati nurani. Berkali-kali saya menyumpahi si ibu. Tapi kemudian ada kekuatan lain yang merong-rong pendalaman saya. Katanya begini: seorang ibu tahu apa yang dilakukan, apa yang terbaik bagi anak-anaknya?
Benarkah itu? pikiran saya tetap tidak menentu.
Tak lama seorang penjual tahu naik.
"Tahu...tahu..."
Si anak kembali merengek, meminta dibelikan tahu. Sebaliknya si ibu malah marah.
"Kan sudah ada. Ga usah beli."
Rengekan Pasha kembali memuncak. Si ibu malah berang. Berkali-kali mulutnya ditampar agar diam.
Plok...
Yah, ditampar lagi, kata saya dalam hati. Kasihan benar nasib anak ini. Mungkinkah dia nasibnya akan seperti Ari Hanggara, sebuah peristiwa memilukan hati semua orang dimana akibat kemarahan orang tuanya, Ari Hanggara kemudian tewas.
Aku harus turun tangan, pikir saya waktu itu. Kalau si ibu tidak membelikan "tahu" itu, biar saya yang membelikannya. Tetapi sekali lagi ada rasa yang lain yang membuat saya menghentikan langkah. Yah, secara tiba-tiba saja rasa itu kembali menyeruak tajam dan berkata demikian, "seorang ibu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya?"
Duh, Gusti, apalagi ini...
Benar juga, saya pikir saya orang yang perlu campur tangan. Saya sekedar orang lain. Tidak sepatutnya saya campur tangan untuk urusan seperti ini, kecuali memang hal ini sangat emergency. Sepintas saya melihat memang tidak darurat. Cara penanganan si ibu menurut saya masih dalam batas kewajaran, tetapi iya begitu, dalam batas wajar yang tetap saja tidak wajar bagi hati nurani saya.
Apa mungkin saya harus membelikan "tahu"?
Tak lama si penjual tahu yang mengetahui rengekan si anak, tiba-tiba dia memberikan sebuahnya gratis.
Apa yang terjadi? Si ibu malah menolaknya.
Loh...loh...mana ini yang benar, pikir saya.
Si ibu berkata dengan wajah geram:
"Enggak pak, di tas sudah ada kok."
Saya tidak tahu apakah di tas ada atau tidak atau si ibu sengaja membohongi agar anak-anaknya patuh padanya. Yang jelas pada waktu itu saya bersyukur karena tidak jadi malu. Seandainya waktu itu saya berusaha turun tangan, entah mau ditaruh ke mana muka ini. Masih beruntung si penjual tadi, dia tidak akan malu karena memang profesinya sebagai penjual. Tugasnya menjual dan memberi. Andaikata ditolak atau tidak direken, itu hal yang biasa.
Setelah itu saya terus berpikir, apa yang sebenarnya ada dalam benak si ibu ini. Apakah ini salah bentuk pendidikan yang baik buat anak-anaknya. Dan lagi-lagi kata-kata yang muncul dalam benak selalu sama: seorang ibu tahu apa yang mesti dilakukannya. Seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya.
Benarkah itu? Pikir saya.
Tak lama...sebuah kejadian yang menurut saya ajaib terjadi.
Tak ada rengekan, tangisan, kerewelan di bus yang melaju dari Kediri menuju Surabaya tersebut. Saya heran. Apa yang terjadi?
Saya sempat melihat, Pasha dengan manja merajut ke pundak ibunya. Membelai pipi ibunya dengan manja. Si kecil, si Eki malah ngempong di dada ibunya. Mereka saling akur.
Saya bertanya-tanya dalam hati, lalu dimana semua ancaman tadi, ancaman yang tidak mau mengakui mereka sebagai anak, ancaman menampar dan memukul, ancaman yang hendak membuang mereka. Mana semua itu?
Kembali saya dihadapkan pada perkara semula. Yah...seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya. Kiranya hanya itu jawaban yang bisa saya terjemahkan dengan kejadian ini. Dan sebelum turun, si ibu sempat melemparkan senyum kepada saya. Senyum yang menurut saya sangat aneh dan sekaligus luar biasa. Senyum yang sulit diterjemahkan dengan semua kamus di dunia ini. Senyum yang mengundang hal-hal baru bagi kehidupan saya. Sebuah senyum yang penuh misterius yang sampai sekarang sulit saya tangkap dengan akal pikir saya sebagai seorang bujangan.
Catatan saya dari bus Harapan Jaya
Kediri menuju Surabaya
4 Nov 09. Pukul 15.00
Kamis, 26 November 2009
HAI SUARA, AKU SANGAT MENCINTAI DIA...
Cintaku padanya da sangat besar sebesar gunung Mahameru.
Saking besarnya sampai-sampai aku dibuatnya gusar, bingung, sumpek, stress, gila.
Suara: Siapa? Ana?
Aku: Eh, bukan.
Suara: Lalu siapa? Ani?
Aku: Bukan juga.
Suara: Di pesbuk itu banyak, ada Lia Kanzha, apa dia?
Aku: Nganu...emm...bukan dia...
Suara: Trus diapa dong?
Aku: Ada deh!
Suara: Ih, curang deh kamu, masa kamu boleh dengerin suaraku, tapi aku tidak boleh tahu pacarmu...
Aku: coba tebak aja?
Suara: Apa neni widayani?
Aku: Ah, enggak. Dia cuma teman kuliahku.
Suara: Aha, aku tahu tuh, pasti cinta mahar ya.
Aku: Bukan juga. Ah, masa kamu suara tidak bisa menebak sih. Apa kekuatanmu yang selalu disokong oleh angin, bumi, air dan api itu sudah hilang. Kacian deh lu...
Suara: Jangan begitu, aku tetap suara sebagaimana mestinya suara. Aku bisa mengetahui apa-apa yang orang tidak ketahui, yakni melalui tingkah laku mereka.
Aku: Tapi kamu kan tidak bisa menebak hati manusia. Sebab hati manusia itu sehalus sutra dan seluas samudera. Jangankan kamu, para malaikat yang duduk di langit saja tidak bisa tahu bagaimana hati manusia.
Suara: Tapi hati manusia bisa congkak juga, ya...kayak kamu itu!
Aku: Ah, itu perasaanmu saja. Aku biasa-biasa saja kok!!
Suara: Trus siapa dong kekasihmu itu. Apa dia anak orang kaya?
Aku: Ga tuh. Biasa-biasa saja tapi dia hebat sekali.
Suara: Apa dia Novi Kusuma?
Aku: Bukan!!!
Suara: Oh, aku tahu apa dia bernama Astrid Reva Angelica yang mantanmu dulu.
Aku: Salah besar.
Suara: Yah, di bukumu ada juga tulisan soal Kiftiya. Apa dia?
Aku: Wrong! Wrong! Wrong!
Suara: Trus siapa dong pacarmu yang sekarang. Oia aku baru tahu kemarin kamu ke Jogja kan. Trus ketemu cewek. Namanya sangat indah, menggambarkan betapa megahnya alam. Namanya Tunjung Pratiwi kan? Tunjung artinya bunga dan pratiwi berarti bumi pertiwi atau tanah air.
Aku: Emm...apa ya...malu aku ngomongnya. Tapi artinya memang bener itu. Dia bener-bener sosok yang luar biasa.
Suara: Iya kan bener dia. Aku sih no problem kamu sama dia!
Aku: Bukan.
Suara: Hah, bukan juga. Trus siapa dong?
Aku: Kamu mau tahu kekasihku yang telah membuatku jadi seperti ini, yang senantiasa membuatku bingung tujuh keliling, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, yang membuatku seperti terkontaminasi oleh polah tingkahnya dia, yang membuatku tergila-gila sampai nyaris aku dibuat stress, yang membuat seluruh panca inderaku mati rasa, yang membuat tubuhku bergetar hebat manakala dia kusebut namanya, yang membuatku...ah, pokoknya gundah gulana deh!
Suara: Iya, siapa....
Aku: Aku akan beritahu ke kamu, tapi jujur ya kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa.
Suara: Iya aku janji akan menutup suaraku.
Aku: Alah, yang namanya suara tidak bisa ditepati kata-katanya. Kau selalu ada dimana manusia ada. Kadang kau buruk, kadang kau baik hanya sesuai yang kamu ingini.
Suara: Trus maumu aku apa, diam selama-lamanya. Itu namanya kiamat bung...yang namanya kehidupan itu adalah pertumbuhan atau perkembangan. Suara akan selalu ada dimana ada manusia.
Aku: Ya sudah terserah kamu. Sini kubisikkan, dia...oleh orang-orang...dipanggil...Allah. Tapi aku lebih menyukai dia sebagai kekasihku.
Wallahua'lam bissawaf
Saking besarnya sampai-sampai aku dibuatnya gusar, bingung, sumpek, stress, gila.
Suara: Siapa? Ana?
Aku: Eh, bukan.
Suara: Lalu siapa? Ani?
Aku: Bukan juga.
Suara: Di pesbuk itu banyak, ada Lia Kanzha, apa dia?
Aku: Nganu...emm...bukan dia...
Suara: Trus diapa dong?
Aku: Ada deh!
Suara: Ih, curang deh kamu, masa kamu boleh dengerin suaraku, tapi aku tidak boleh tahu pacarmu...
Aku: coba tebak aja?
Suara: Apa neni widayani?
Aku: Ah, enggak. Dia cuma teman kuliahku.
Suara: Aha, aku tahu tuh, pasti cinta mahar ya.
Aku: Bukan juga. Ah, masa kamu suara tidak bisa menebak sih. Apa kekuatanmu yang selalu disokong oleh angin, bumi, air dan api itu sudah hilang. Kacian deh lu...
Suara: Jangan begitu, aku tetap suara sebagaimana mestinya suara. Aku bisa mengetahui apa-apa yang orang tidak ketahui, yakni melalui tingkah laku mereka.
Aku: Tapi kamu kan tidak bisa menebak hati manusia. Sebab hati manusia itu sehalus sutra dan seluas samudera. Jangankan kamu, para malaikat yang duduk di langit saja tidak bisa tahu bagaimana hati manusia.
Suara: Tapi hati manusia bisa congkak juga, ya...kayak kamu itu!
Aku: Ah, itu perasaanmu saja. Aku biasa-biasa saja kok!!
Suara: Trus siapa dong kekasihmu itu. Apa dia anak orang kaya?
Aku: Ga tuh. Biasa-biasa saja tapi dia hebat sekali.
Suara: Apa dia Novi Kusuma?
Aku: Bukan!!!
Suara: Oh, aku tahu apa dia bernama Astrid Reva Angelica yang mantanmu dulu.
Aku: Salah besar.
Suara: Yah, di bukumu ada juga tulisan soal Kiftiya. Apa dia?
Aku: Wrong! Wrong! Wrong!
Suara: Trus siapa dong pacarmu yang sekarang. Oia aku baru tahu kemarin kamu ke Jogja kan. Trus ketemu cewek. Namanya sangat indah, menggambarkan betapa megahnya alam. Namanya Tunjung Pratiwi kan? Tunjung artinya bunga dan pratiwi berarti bumi pertiwi atau tanah air.
Aku: Emm...apa ya...malu aku ngomongnya. Tapi artinya memang bener itu. Dia bener-bener sosok yang luar biasa.
Suara: Iya kan bener dia. Aku sih no problem kamu sama dia!
Aku: Bukan.
Suara: Hah, bukan juga. Trus siapa dong?
Aku: Kamu mau tahu kekasihku yang telah membuatku jadi seperti ini, yang senantiasa membuatku bingung tujuh keliling, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, yang membuatku seperti terkontaminasi oleh polah tingkahnya dia, yang membuatku tergila-gila sampai nyaris aku dibuat stress, yang membuat seluruh panca inderaku mati rasa, yang membuat tubuhku bergetar hebat manakala dia kusebut namanya, yang membuatku...ah, pokoknya gundah gulana deh!
Suara: Iya, siapa....
Aku: Aku akan beritahu ke kamu, tapi jujur ya kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa.
Suara: Iya aku janji akan menutup suaraku.
Aku: Alah, yang namanya suara tidak bisa ditepati kata-katanya. Kau selalu ada dimana manusia ada. Kadang kau buruk, kadang kau baik hanya sesuai yang kamu ingini.
Suara: Trus maumu aku apa, diam selama-lamanya. Itu namanya kiamat bung...yang namanya kehidupan itu adalah pertumbuhan atau perkembangan. Suara akan selalu ada dimana ada manusia.
Aku: Ya sudah terserah kamu. Sini kubisikkan, dia...oleh orang-orang...dipanggil...Allah. Tapi aku lebih menyukai dia sebagai kekasihku.
Wallahua'lam bissawaf
KALIAN SEMUA PELACUR....
PELACUR YANG BAGAIMANA YANG MENURUT KALIAN BAIK?
APAKAH MEREKA YANG SELALU MELAYANI HASRAT PEMBELINYA...
SELALU MENGELAP SPERMA YANG BERCECERAN DIMANA-MANA....
SLALU TERSENYUM PADA SETIAP ORANG YANG AKAN DAN HENDAK MEMBERINYA UANG....
SUKA DIAJAK CURHAT MANAKALA TAMU MEREKA SEDANG GUNDAH KARENA MENGHADAPI MASALAH KELUARGA DI RUMAH....
APA PELACUR ITU?
KESALAHANKAH...
KETELEDORANKAH...
KEMUNAFIKANKAH...
KEBOBROKANKAH...
KERUWETANKAH....
PENGHIANATANKAH...
KEMUNDURANKAH...
KALAU MEMANG SEPERTI ITU, APA KITA BISA DIGOLONGKAN SEBAGAI PELACUR?
BUKANKAH SEMUA HAL ITU PERNAH TERJADI PADA KITA!
LALU...APA BEDANYA KITA DENGAN PELACUR?
DAN, BOLEHKAH.... JIKA AKU BILANG BAHWA KALIAN SEMUA ADALAH PELACUR!
APAKAH MEREKA YANG SELALU MELAYANI HASRAT PEMBELINYA...
SELALU MENGELAP SPERMA YANG BERCECERAN DIMANA-MANA....
SLALU TERSENYUM PADA SETIAP ORANG YANG AKAN DAN HENDAK MEMBERINYA UANG....
SUKA DIAJAK CURHAT MANAKALA TAMU MEREKA SEDANG GUNDAH KARENA MENGHADAPI MASALAH KELUARGA DI RUMAH....
APA PELACUR ITU?
KESALAHANKAH...
KETELEDORANKAH...
KEMUNAFIKANKAH...
KEBOBROKANKAH...
KERUWETANKAH....
PENGHIANATANKAH...
KEMUNDURANKAH...
KALAU MEMANG SEPERTI ITU, APA KITA BISA DIGOLONGKAN SEBAGAI PELACUR?
BUKANKAH SEMUA HAL ITU PERNAH TERJADI PADA KITA!
LALU...APA BEDANYA KITA DENGAN PELACUR?
DAN, BOLEHKAH.... JIKA AKU BILANG BAHWA KALIAN SEMUA ADALAH PELACUR!
AKU SUKA MELACUR...
Sudahkah kuceritakan pada kalian kalau aku suka melacur?
Ternyata melacur itu enak, Kawan...
Tahukah kau bagaimana rasanya, Kawan...
Rasanya seperti...apa yah...
Nganu...itu...loh...
se...se...per...ti...:
Kotoran yang lengket pada dinding dan tidak akan hilang utk selamanya
se...se...per...ti...:
Muntahan yang penuh kebahagiaan karena terbebas dr penyakit
se...se...per...ti...:
bugil di tengah pasar tanpa seorang pun yang melihat
se...se...per...ti...:
menggorok leher sendiri dan melihat sidratul muntaha di dalamnya
se...se...per...ti...:
kacung yang disuruh majikan tapi tidak memberatkan sesuatu apapun padanya
se...se...per...ti...:
mendaki ke puncak gunung dengan cara digendong
se...se...per...ti...:
berada di singgasana dan akan turun sesuai keinginan kita
Kawan, tahukah kau bagaimana aku melacur?
AKU MELACUR KETIKA ORANG SUDAH MELUPAKANKU...
AKU MELACUR KETIKA SEMUA KEINDAHAN SERTA KEGLAMORAN TAK BERPIHAK PADAKU...
AKU MELACUR KETIKA IBU SUDAH MENINGGALKANKU...
AKU MELACUR SAAT SUARA-SUARA ORANG SUDAH TAK KUGUBRIS...
AKU MELACUR MANAKALA TIADA ATURAN YANG MENGIKATKU...
AKU MELACUR DAN BENAR-BENAR MELACUR SESUKA DAN SEPUAS HATIKU KETIKA TIADA SESUATU PUN YANG MEMBERATKANKU...
AKU MELACUR KETIKA TIADA LAGI BERPATOKAN KEPADA ARAH...
Kawan, tahukah kalian dengan siapa aku Melacur?
Dia...yang...oleh...orang-orang...dipanggil...ALLAH...
Dia...Kekasihku...
Tanpa menikah aku sudah bisa melacur denganNYA
Tanpa disatukan dengan ikatan aturan yang ada aku sudah berleha-leha denganNYA
Tanpa mendengarkan sumbang-sumbang suara orang aku sudah berdampingan denganNYA
Tanpa mempedulikan ibu, ayah, anak, istri, sodara, teman, aku sudah menyatu denganNYA
Kenapa begitu...karena Dia tak lagi memberatkanku
Kenapa begitu...karena memang harus begitu
Dan karena aku sudah menganggap Dia sebagai Kekasih Abadi
Ternyata melacur itu enak, Kawan...
Tahukah kau bagaimana rasanya, Kawan...
Rasanya seperti...apa yah...
Nganu...itu...loh...
se...se...per...ti...:
Kotoran yang lengket pada dinding dan tidak akan hilang utk selamanya
se...se...per...ti...:
Muntahan yang penuh kebahagiaan karena terbebas dr penyakit
se...se...per...ti...:
bugil di tengah pasar tanpa seorang pun yang melihat
se...se...per...ti...:
menggorok leher sendiri dan melihat sidratul muntaha di dalamnya
se...se...per...ti...:
kacung yang disuruh majikan tapi tidak memberatkan sesuatu apapun padanya
se...se...per...ti...:
mendaki ke puncak gunung dengan cara digendong
se...se...per...ti...:
berada di singgasana dan akan turun sesuai keinginan kita
Kawan, tahukah kau bagaimana aku melacur?
AKU MELACUR KETIKA ORANG SUDAH MELUPAKANKU...
AKU MELACUR KETIKA SEMUA KEINDAHAN SERTA KEGLAMORAN TAK BERPIHAK PADAKU...
AKU MELACUR KETIKA IBU SUDAH MENINGGALKANKU...
AKU MELACUR SAAT SUARA-SUARA ORANG SUDAH TAK KUGUBRIS...
AKU MELACUR MANAKALA TIADA ATURAN YANG MENGIKATKU...
AKU MELACUR DAN BENAR-BENAR MELACUR SESUKA DAN SEPUAS HATIKU KETIKA TIADA SESUATU PUN YANG MEMBERATKANKU...
AKU MELACUR KETIKA TIADA LAGI BERPATOKAN KEPADA ARAH...
Kawan, tahukah kalian dengan siapa aku Melacur?
Dia...yang...oleh...orang-orang...dipanggil...ALLAH...
Dia...Kekasihku...
Tanpa menikah aku sudah bisa melacur denganNYA
Tanpa disatukan dengan ikatan aturan yang ada aku sudah berleha-leha denganNYA
Tanpa mendengarkan sumbang-sumbang suara orang aku sudah berdampingan denganNYA
Tanpa mempedulikan ibu, ayah, anak, istri, sodara, teman, aku sudah menyatu denganNYA
Kenapa begitu...karena Dia tak lagi memberatkanku
Kenapa begitu...karena memang harus begitu
Dan karena aku sudah menganggap Dia sebagai Kekasih Abadi
NAMAKU...
NAMAKU...
AKU BUKAN ARI PRASETYA HADI
BUKAN PULA TUDJI MARTUDJI
ATAU NUNGKY W PRABOWO
AKU JUGA BUKAN DEDI SUGIANTO
ATAU BUDI ELYAS
BUKAN JUGA HANIF NASRULLAH
ATAU EKO BUDI NUGROHO
CEK SAJA KTPKU...
NAMAKU...
BUKAN ABDUL MUIS MASDUKI
ATAU RADEN ARIYANTO
JANGANKAN ITU SEMUA NAMA ITU
NAMAKU TETAP...
KAU TIDAK BOLEH MENYEBUTKU AGUS KARTOLO
JANGAN JUGA PANGGIL AKU ANDI WIBOWO
ATAU NAMA YANG MIRIP ANDI SANJAYA
ATAU JIKA DIBALIK ADI ARIYANTO
JANGAN JUGA KAU MEMANGGILKU BAMBANG SMIT KARENA MIRIP DENGAN NAMA AYAHKU
APALAGI BASIR AIDI
AKU YA AKU
KAU TAK BOLEH MENGGANTINYA DENGAN NAMA BUDIAWAN MERDEKA
ATAU BUNGKUSAN NEGARA
ATAU JUGA KRISTANTO WAHYU
INI AKU...MASIHKAH KAU LUPA...
BERAPA KALI KUKATAKAN BAHWA NAMAKU...
JANGAN KAU PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN LAIN SEPERTI DENNI N JA
ATAU DJOKO ADI WALUYO
ATAU RAMA ANDIKA
ATAU DUDUNG DUHITA
ATAU KLASIK HERLAMBANG
ATAU DIDIT ARIEF
ATAU ENDING IRAWAN
ATAU ERWAN QTHINK
ATAU JOKO SETIONO
ATAU SOIM ARDIYANSAH
ATAU AGUS SALIM
SEMUA ITU BUKAN AKU
NAMAKU TETAP SEPERTI KETIKA AKU LAHIR
BEGINI SAJA BIAR KUEJA UNTUKMU
NAMAKU A...D...A...L...A...H...
JANGAN LAGI KAU TAMBAHI ATAU GANTI
SEJAK LAHIR PROCOT DARI BUAH GARBAN IBU AKU SUDAH DIBERI NAMA...
BUKAN MALAH MENJADI SALEH MUKADAR ATAU DHIMAM ABROR
AKU YA TETAP AKU
JEJEGKU YA SEPERTI INI
TIDAK BEDA DENGAN MANUSIA LAIN
TAPI NAMAKU BUKAN VALIANT ALVARIZKY
ATAU ZAMZAMI PUTRA LANGIT
APALAGI JIKA NAMAKU KAU GANTI DENGAN NAMA PEREMPUAN SEPERTI LIA KANZHA
ATAU YULIANI FATIMAH
ATAU NOVI KUSUMA
ATAU WULAN
ATAU INDAH YULIANI
BUKAN...BUKAN...ITU...
NAMAKU TETEP...
INGAT BUKAN IKE MARTHA
ATAU INTANSETYAWARDHANI
ATAU INTAN ANTASARI
NAMAKU SAMPAI KIAMAT, SAMPAI AJAL MENJEMPUT NAMAKU TETAP...
AKU BUKAN ARI PRASETYA HADI
BUKAN PULA TUDJI MARTUDJI
ATAU NUNGKY W PRABOWO
AKU JUGA BUKAN DEDI SUGIANTO
ATAU BUDI ELYAS
BUKAN JUGA HANIF NASRULLAH
ATAU EKO BUDI NUGROHO
CEK SAJA KTPKU...
NAMAKU...
BUKAN ABDUL MUIS MASDUKI
ATAU RADEN ARIYANTO
JANGANKAN ITU SEMUA NAMA ITU
NAMAKU TETAP...
KAU TIDAK BOLEH MENYEBUTKU AGUS KARTOLO
JANGAN JUGA PANGGIL AKU ANDI WIBOWO
ATAU NAMA YANG MIRIP ANDI SANJAYA
ATAU JIKA DIBALIK ADI ARIYANTO
JANGAN JUGA KAU MEMANGGILKU BAMBANG SMIT KARENA MIRIP DENGAN NAMA AYAHKU
APALAGI BASIR AIDI
AKU YA AKU
KAU TAK BOLEH MENGGANTINYA DENGAN NAMA BUDIAWAN MERDEKA
ATAU BUNGKUSAN NEGARA
ATAU JUGA KRISTANTO WAHYU
INI AKU...MASIHKAH KAU LUPA...
BERAPA KALI KUKATAKAN BAHWA NAMAKU...
JANGAN KAU PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN LAIN SEPERTI DENNI N JA
ATAU DJOKO ADI WALUYO
ATAU RAMA ANDIKA
ATAU DUDUNG DUHITA
ATAU KLASIK HERLAMBANG
ATAU DIDIT ARIEF
ATAU ENDING IRAWAN
ATAU ERWAN QTHINK
ATAU JOKO SETIONO
ATAU SOIM ARDIYANSAH
ATAU AGUS SALIM
SEMUA ITU BUKAN AKU
NAMAKU TETAP SEPERTI KETIKA AKU LAHIR
BEGINI SAJA BIAR KUEJA UNTUKMU
NAMAKU A...D...A...L...A...H...
JANGAN LAGI KAU TAMBAHI ATAU GANTI
SEJAK LAHIR PROCOT DARI BUAH GARBAN IBU AKU SUDAH DIBERI NAMA...
BUKAN MALAH MENJADI SALEH MUKADAR ATAU DHIMAM ABROR
AKU YA TETAP AKU
JEJEGKU YA SEPERTI INI
TIDAK BEDA DENGAN MANUSIA LAIN
TAPI NAMAKU BUKAN VALIANT ALVARIZKY
ATAU ZAMZAMI PUTRA LANGIT
APALAGI JIKA NAMAKU KAU GANTI DENGAN NAMA PEREMPUAN SEPERTI LIA KANZHA
ATAU YULIANI FATIMAH
ATAU NOVI KUSUMA
ATAU WULAN
ATAU INDAH YULIANI
BUKAN...BUKAN...ITU...
NAMAKU TETEP...
INGAT BUKAN IKE MARTHA
ATAU INTANSETYAWARDHANI
ATAU INTAN ANTASARI
NAMAKU SAMPAI KIAMAT, SAMPAI AJAL MENJEMPUT NAMAKU TETAP...
IBU....
Aku lahir dari perut ibu..
(bukan kata org...memang BENARKAN !!!.... ..)
Bila dahaga, yang susukan aku.....ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku....ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut....Ibu
Bila bangun tidur, aku cari....ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang ....ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati....ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu
Bila nakal, yang memarahi aku....ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma....ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....ibu
Bila takut, yang menenangkan aku....ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu
Aku selalu teringatkan ....ibu
Bila sedih, aku mesti telepon....ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada...ibu
Bila takut, aku selalu panggil... "ibuuuuu! "
Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga....ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku....ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau.... ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal.....ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku....ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu
Yang selalu memuji aku.....ibu
Yang selalu menasihati aku....ibu
Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ....ibu
Aku ada pasangan hidup sendiri....
Bila senang, aku cari....pasanganku
Bila sedih, aku cari....ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada.....ibu
Bila bahagia, aku peluk erat.....pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat.....ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa....pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
Entah kapan... aku ingin telepon ibu
Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan:
"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja....masih ingatkah kau pada ibu?
tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".
Berderai airmata jika kita mendengarnya. .......
Tapi kalau ibu sudah tiada....... ...
IBUUUU...RINDU IBU.... RINDU SEKALI....
Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya......
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya......
dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya...
NOTE: INI KEMARIN AKU DIKIRIMI PUISIA LEWAT EMAIL OLEH TEMANKU. SEMOGA KALIAN MENGHORMATI IBU KALIAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT.
(bukan kata org...memang BENARKAN !!!.... ..)
Bila dahaga, yang susukan aku.....ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku....ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut....Ibu
Bila bangun tidur, aku cari....ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang ....ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati....ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu
Bila nakal, yang memarahi aku....ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma....ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....ibu
Bila takut, yang menenangkan aku....ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu
Aku selalu teringatkan ....ibu
Bila sedih, aku mesti telepon....ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada...ibu
Bila takut, aku selalu panggil... "ibuuuuu! "
Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga....ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku....ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau.... ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal.....ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku....ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu
Yang selalu memuji aku.....ibu
Yang selalu menasihati aku....ibu
Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ....ibu
Aku ada pasangan hidup sendiri....
Bila senang, aku cari....pasanganku
Bila sedih, aku cari....ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada.....ibu
Bila bahagia, aku peluk erat.....pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat.....ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa....pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
Entah kapan... aku ingin telepon ibu
Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan:
"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja....masih ingatkah kau pada ibu?
tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".
Berderai airmata jika kita mendengarnya. .......
Tapi kalau ibu sudah tiada....... ...
IBUUUU...RINDU IBU.... RINDU SEKALI....
Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya......
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya......
dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya...
NOTE: INI KEMARIN AKU DIKIRIMI PUISIA LEWAT EMAIL OLEH TEMANKU. SEMOGA KALIAN MENGHORMATI IBU KALIAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT.
Menuju Cinta Sejati
Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.
Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…
Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.
Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…
Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)