Kamis, 26 November 2009

Seorang Ibu Tahu Apa yang Terbaik Buat Anaknya...

Pulang dari Kediri naik bus. Lihat ibu-ibu naik dari Jombang membawa dua anaknya yang masih kecil. Saya punya nama panggilan buat mereka. Yang kecil saya namai Eki. Umur 1 tahun. Yang besar saya panggil Pasha. Umurnya 2 tahun. Awalnya biasa-biasa saja. Tak lama Pasha tiba-tiba menangis. Entah siapa yang mengganggu, dia merengek kepada ibunya. Rupanya si ibu ini bukan seorang yang sabar.

Dengan lantang dia mengancam anaknya begini:
"Husy, jangan nangis..." katanya sambil meletakkan jari telunjuk di mulutnya.
Tapi Pasha tetap saja rewel dan tak mau berhenti.

Dan...plok...tiba-tiba mendarat tamparan di pipi Pasha karena geramnya si ibu.

Saya cuma bisa istighfar melihatnya.
Ya Allah, apa benar yang dilakukan si ibu ini?

Si anak belum juga reda tangisannya. Malah menjadi-jadi. Rengekannya, kalau boleh saya artikan, sampai membuat seisi penumpang terbangun.
Mungkin si ibu saking jengkel dan malunya, dia kembali melemparkan berpuluh-puluh ancaman dan makian. Dari yang saya kutip begini:
"Kalau kamu masih berani, akan ibu lempar sekarang juga dari bus." Ancamnya.
Padahal saat itu bus melaju cukup kencang.

Saya khawatir kalau ancaman itu benar-benar jadi kenyataan. Apalagi si ibu dan anaknya duduk di deretan kursi paling belakang, tepat di samping pintu. Sedang saya berada di sebelahnya.

Mendengar ancaman si ibu, saya pun mulai pasang kuda-kuda. Kalau hal itu sampai terjadi saya siap menyelematkan nyawa Pasha. Tapi rupanya semua itu hanya gertakan sambal saja. Mungkin cuma ingin menakut-nakuti si bocah. Namun demikian ancaman itu semakin bertambah kencang. Si bocah yang tak mau diam terus-terusan dihujani ancaman yang menurut saya tidak pantas didengar.

Salah satunya ini:
"Kamu kalau masih belum diam, ibu turunkan di sini. Ibu sudah ga mau menganggapmu sebagai anak. Dasar bandel. Lihat adikmu saja diam."
Plok...suara tamparan kembali menimpa mulut Pasha kecil.

Aih...benar-benar kasar kata-kata si ibu. Saya terus bertanya, kira-kira apa sudah benar cara mendidik ibu ini. Mungkinkan si kecil mau menuruti kata-kata ibunya, walau sebenarnya sangat merugikan dirinya.

Berulang kali saya memutar otak, menyalahkan pringai si ibu dan ketidakberdayaan Pasha dan Eki, yang tak lama ikut menangis karena tak tahan mendengar omelan ibunya kepada kakaknya.

Eki yang nangis juga tak luput dari omelan si ibu:
"Kamu juga, kalau ikutan nangis, nanti ibu buang di sini biar ditemu orang lain. Biar saja sekalian ibu tidak memiliki anak-anak seperti kalian tidak apa-apa"

Ya Allah, seketika pikiran saya langsung lemas. Apa tidak salah kata-kata si ibu ini. Masakah karena menangis saja mereka mau dibuang. Saya memang berusaha tidak mempedulikan, tetapi telinga saya sepertinya tak bisa dibohongi. Setiap dialog yang terjadi antara si ibu dan anak-anaknya, selalu masuk ke telinga kanan dan kemudian merangsek memasuki hati nurani. Berkali-kali saya menyumpahi si ibu. Tapi kemudian ada kekuatan lain yang merong-rong pendalaman saya. Katanya begini: seorang ibu tahu apa yang dilakukan, apa yang terbaik bagi anak-anaknya?

Benarkah itu? pikiran saya tetap tidak menentu.

Tak lama seorang penjual tahu naik.
"Tahu...tahu..."

Si anak kembali merengek, meminta dibelikan tahu. Sebaliknya si ibu malah marah.
"Kan sudah ada. Ga usah beli."

Rengekan Pasha kembali memuncak. Si ibu malah berang. Berkali-kali mulutnya ditampar agar diam.
Plok...

Yah, ditampar lagi, kata saya dalam hati. Kasihan benar nasib anak ini. Mungkinkah dia nasibnya akan seperti Ari Hanggara, sebuah peristiwa memilukan hati semua orang dimana akibat kemarahan orang tuanya, Ari Hanggara kemudian tewas.

Aku harus turun tangan, pikir saya waktu itu. Kalau si ibu tidak membelikan "tahu" itu, biar saya yang membelikannya. Tetapi sekali lagi ada rasa yang lain yang membuat saya menghentikan langkah. Yah, secara tiba-tiba saja rasa itu kembali menyeruak tajam dan berkata demikian, "seorang ibu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya?"

Duh, Gusti, apalagi ini...

Benar juga, saya pikir saya orang yang perlu campur tangan. Saya sekedar orang lain. Tidak sepatutnya saya campur tangan untuk urusan seperti ini, kecuali memang hal ini sangat emergency. Sepintas saya melihat memang tidak darurat. Cara penanganan si ibu menurut saya masih dalam batas kewajaran, tetapi iya begitu, dalam batas wajar yang tetap saja tidak wajar bagi hati nurani saya.

Apa mungkin saya harus membelikan "tahu"?

Tak lama si penjual tahu yang mengetahui rengekan si anak, tiba-tiba dia memberikan sebuahnya gratis.
Apa yang terjadi? Si ibu malah menolaknya.

Loh...loh...mana ini yang benar, pikir saya.

Si ibu berkata dengan wajah geram:
"Enggak pak, di tas sudah ada kok."

Saya tidak tahu apakah di tas ada atau tidak atau si ibu sengaja membohongi agar anak-anaknya patuh padanya. Yang jelas pada waktu itu saya bersyukur karena tidak jadi malu. Seandainya waktu itu saya berusaha turun tangan, entah mau ditaruh ke mana muka ini. Masih beruntung si penjual tadi, dia tidak akan malu karena memang profesinya sebagai penjual. Tugasnya menjual dan memberi. Andaikata ditolak atau tidak direken, itu hal yang biasa.

Setelah itu saya terus berpikir, apa yang sebenarnya ada dalam benak si ibu ini. Apakah ini salah bentuk pendidikan yang baik buat anak-anaknya. Dan lagi-lagi kata-kata yang muncul dalam benak selalu sama: seorang ibu tahu apa yang mesti dilakukannya. Seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya.

Benarkah itu? Pikir saya.

Tak lama...sebuah kejadian yang menurut saya ajaib terjadi.
Tak ada rengekan, tangisan, kerewelan di bus yang melaju dari Kediri menuju Surabaya tersebut. Saya heran. Apa yang terjadi?

Saya sempat melihat, Pasha dengan manja merajut ke pundak ibunya. Membelai pipi ibunya dengan manja. Si kecil, si Eki malah ngempong di dada ibunya. Mereka saling akur.

Saya bertanya-tanya dalam hati, lalu dimana semua ancaman tadi, ancaman yang tidak mau mengakui mereka sebagai anak, ancaman menampar dan memukul, ancaman yang hendak membuang mereka. Mana semua itu?

Kembali saya dihadapkan pada perkara semula. Yah...seorang ibu tahu apa yang terbaik buat anaknya. Kiranya hanya itu jawaban yang bisa saya terjemahkan dengan kejadian ini. Dan sebelum turun, si ibu sempat melemparkan senyum kepada saya. Senyum yang menurut saya sangat aneh dan sekaligus luar biasa. Senyum yang sulit diterjemahkan dengan semua kamus di dunia ini. Senyum yang mengundang hal-hal baru bagi kehidupan saya. Sebuah senyum yang penuh misterius yang sampai sekarang sulit saya tangkap dengan akal pikir saya sebagai seorang bujangan.

Catatan saya dari bus Harapan Jaya
Kediri menuju Surabaya
4 Nov 09. Pukul 15.00

HAI SUARA, AKU SANGAT MENCINTAI DIA...

Cintaku padanya da sangat besar sebesar gunung Mahameru.

Saking besarnya sampai-sampai aku dibuatnya gusar, bingung, sumpek, stress, gila.

Suara: Siapa? Ana?

Aku: Eh, bukan.

Suara: Lalu siapa? Ani?

Aku: Bukan juga.

Suara: Di pesbuk itu banyak, ada Lia Kanzha, apa dia?

Aku: Nganu...emm...bukan dia...

Suara: Trus diapa dong?

Aku: Ada deh!

Suara: Ih, curang deh kamu, masa kamu boleh dengerin suaraku, tapi aku tidak boleh tahu pacarmu...

Aku: coba tebak aja?

Suara: Apa neni widayani?

Aku: Ah, enggak. Dia cuma teman kuliahku.

Suara: Aha, aku tahu tuh, pasti cinta mahar ya.

Aku: Bukan juga. Ah, masa kamu suara tidak bisa menebak sih. Apa kekuatanmu yang selalu disokong oleh angin, bumi, air dan api itu sudah hilang. Kacian deh lu...

Suara: Jangan begitu, aku tetap suara sebagaimana mestinya suara. Aku bisa mengetahui apa-apa yang orang tidak ketahui, yakni melalui tingkah laku mereka.

Aku: Tapi kamu kan tidak bisa menebak hati manusia. Sebab hati manusia itu sehalus sutra dan seluas samudera. Jangankan kamu, para malaikat yang duduk di langit saja tidak bisa tahu bagaimana hati manusia.

Suara: Tapi hati manusia bisa congkak juga, ya...kayak kamu itu!

Aku: Ah, itu perasaanmu saja. Aku biasa-biasa saja kok!!

Suara: Trus siapa dong kekasihmu itu. Apa dia anak orang kaya?

Aku: Ga tuh. Biasa-biasa saja tapi dia hebat sekali.

Suara: Apa dia Novi Kusuma?

Aku: Bukan!!!

Suara: Oh, aku tahu apa dia bernama Astrid Reva Angelica yang mantanmu dulu.

Aku: Salah besar.

Suara: Yah, di bukumu ada juga tulisan soal Kiftiya. Apa dia?

Aku: Wrong! Wrong! Wrong!

Suara: Trus siapa dong pacarmu yang sekarang. Oia aku baru tahu kemarin kamu ke Jogja kan. Trus ketemu cewek. Namanya sangat indah, menggambarkan betapa megahnya alam. Namanya Tunjung Pratiwi kan? Tunjung artinya bunga dan pratiwi berarti bumi pertiwi atau tanah air.

Aku: Emm...apa ya...malu aku ngomongnya. Tapi artinya memang bener itu. Dia bener-bener sosok yang luar biasa.

Suara: Iya kan bener dia. Aku sih no problem kamu sama dia!

Aku: Bukan.

Suara: Hah, bukan juga. Trus siapa dong?

Aku: Kamu mau tahu kekasihku yang telah membuatku jadi seperti ini, yang senantiasa membuatku bingung tujuh keliling, yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak, yang membuatku seperti terkontaminasi oleh polah tingkahnya dia, yang membuatku tergila-gila sampai nyaris aku dibuat stress, yang membuat seluruh panca inderaku mati rasa, yang membuat tubuhku bergetar hebat manakala dia kusebut namanya, yang membuatku...ah, pokoknya gundah gulana deh!

Suara: Iya, siapa....

Aku: Aku akan beritahu ke kamu, tapi jujur ya kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa.

Suara: Iya aku janji akan menutup suaraku.

Aku: Alah, yang namanya suara tidak bisa ditepati kata-katanya. Kau selalu ada dimana manusia ada. Kadang kau buruk, kadang kau baik hanya sesuai yang kamu ingini.

Suara: Trus maumu aku apa, diam selama-lamanya. Itu namanya kiamat bung...yang namanya kehidupan itu adalah pertumbuhan atau perkembangan. Suara akan selalu ada dimana ada manusia.

Aku: Ya sudah terserah kamu. Sini kubisikkan, dia...oleh orang-orang...dipanggil...Allah. Tapi aku lebih menyukai dia sebagai kekasihku.


Wallahua'lam bissawaf

KALIAN SEMUA PELACUR....

PELACUR YANG BAGAIMANA YANG MENURUT KALIAN BAIK?

APAKAH MEREKA YANG SELALU MELAYANI HASRAT PEMBELINYA...

SELALU MENGELAP SPERMA YANG BERCECERAN DIMANA-MANA....

SLALU TERSENYUM PADA SETIAP ORANG YANG AKAN DAN HENDAK MEMBERINYA UANG....

SUKA DIAJAK CURHAT MANAKALA TAMU MEREKA SEDANG GUNDAH KARENA MENGHADAPI MASALAH KELUARGA DI RUMAH....

APA PELACUR ITU?
KESALAHANKAH...
KETELEDORANKAH...
KEMUNAFIKANKAH...
KEBOBROKANKAH...
KERUWETANKAH....
PENGHIANATANKAH...
KEMUNDURANKAH...

KALAU MEMANG SEPERTI ITU, APA KITA BISA DIGOLONGKAN SEBAGAI PELACUR?

BUKANKAH SEMUA HAL ITU PERNAH TERJADI PADA KITA!

LALU...APA BEDANYA KITA DENGAN PELACUR?

DAN, BOLEHKAH.... JIKA AKU BILANG BAHWA KALIAN SEMUA ADALAH PELACUR!

AKU SUKA MELACUR...

Sudahkah kuceritakan pada kalian kalau aku suka melacur?

Ternyata melacur itu enak, Kawan...

Tahukah kau bagaimana rasanya, Kawan...

Rasanya seperti...apa yah...

Nganu...itu...loh...
se...se...per...ti...:
Kotoran yang lengket pada dinding dan tidak akan hilang utk selamanya

se...se...per...ti...:
Muntahan yang penuh kebahagiaan karena terbebas dr penyakit

se...se...per...ti...:
bugil di tengah pasar tanpa seorang pun yang melihat

se...se...per...ti...:
menggorok leher sendiri dan melihat sidratul muntaha di dalamnya

se...se...per...ti...:
kacung yang disuruh majikan tapi tidak memberatkan sesuatu apapun padanya

se...se...per...ti...:
mendaki ke puncak gunung dengan cara digendong

se...se...per...ti...:
berada di singgasana dan akan turun sesuai keinginan kita

Kawan, tahukah kau bagaimana aku melacur?

AKU MELACUR KETIKA ORANG SUDAH MELUPAKANKU...

AKU MELACUR KETIKA SEMUA KEINDAHAN SERTA KEGLAMORAN TAK BERPIHAK PADAKU...

AKU MELACUR KETIKA IBU SUDAH MENINGGALKANKU...

AKU MELACUR SAAT SUARA-SUARA ORANG SUDAH TAK KUGUBRIS...

AKU MELACUR MANAKALA TIADA ATURAN YANG MENGIKATKU...

AKU MELACUR DAN BENAR-BENAR MELACUR SESUKA DAN SEPUAS HATIKU KETIKA TIADA SESUATU PUN YANG MEMBERATKANKU...

AKU MELACUR KETIKA TIADA LAGI BERPATOKAN KEPADA ARAH...

Kawan, tahukah kalian dengan siapa aku Melacur?

Dia...yang...oleh...orang-orang...dipanggil...ALLAH...

Dia...Kekasihku...

Tanpa menikah aku sudah bisa melacur denganNYA

Tanpa disatukan dengan ikatan aturan yang ada aku sudah berleha-leha denganNYA

Tanpa mendengarkan sumbang-sumbang suara orang aku sudah berdampingan denganNYA

Tanpa mempedulikan ibu, ayah, anak, istri, sodara, teman, aku sudah menyatu denganNYA

Kenapa begitu...karena Dia tak lagi memberatkanku

Kenapa begitu...karena memang harus begitu

Dan karena aku sudah menganggap Dia sebagai Kekasih Abadi

NAMAKU...

NAMAKU...

AKU BUKAN ARI PRASETYA HADI

BUKAN PULA TUDJI MARTUDJI

ATAU NUNGKY W PRABOWO

AKU JUGA BUKAN DEDI SUGIANTO

ATAU BUDI ELYAS

BUKAN JUGA HANIF NASRULLAH

ATAU EKO BUDI NUGROHO

CEK SAJA KTPKU...

NAMAKU...

BUKAN ABDUL MUIS MASDUKI

ATAU RADEN ARIYANTO

JANGANKAN ITU SEMUA NAMA ITU

NAMAKU TETAP...

KAU TIDAK BOLEH MENYEBUTKU AGUS KARTOLO

JANGAN JUGA PANGGIL AKU ANDI WIBOWO

ATAU NAMA YANG MIRIP ANDI SANJAYA

ATAU JIKA DIBALIK ADI ARIYANTO

JANGAN JUGA KAU MEMANGGILKU BAMBANG SMIT KARENA MIRIP DENGAN NAMA AYAHKU

APALAGI BASIR AIDI

AKU YA AKU

KAU TAK BOLEH MENGGANTINYA DENGAN NAMA BUDIAWAN MERDEKA

ATAU BUNGKUSAN NEGARA

ATAU JUGA KRISTANTO WAHYU

INI AKU...MASIHKAH KAU LUPA...

BERAPA KALI KUKATAKAN BAHWA NAMAKU...

JANGAN KAU PANGGIL AKU DENGAN SEBUTAN LAIN SEPERTI DENNI N JA

ATAU DJOKO ADI WALUYO

ATAU RAMA ANDIKA

ATAU DUDUNG DUHITA

ATAU KLASIK HERLAMBANG

ATAU DIDIT ARIEF

ATAU ENDING IRAWAN

ATAU ERWAN QTHINK

ATAU JOKO SETIONO

ATAU SOIM ARDIYANSAH

ATAU AGUS SALIM

SEMUA ITU BUKAN AKU

NAMAKU TETAP SEPERTI KETIKA AKU LAHIR

BEGINI SAJA BIAR KUEJA UNTUKMU

NAMAKU A...D...A...L...A...H...

JANGAN LAGI KAU TAMBAHI ATAU GANTI

SEJAK LAHIR PROCOT DARI BUAH GARBAN IBU AKU SUDAH DIBERI NAMA...

BUKAN MALAH MENJADI SALEH MUKADAR ATAU DHIMAM ABROR

AKU YA TETAP AKU

JEJEGKU YA SEPERTI INI

TIDAK BEDA DENGAN MANUSIA LAIN

TAPI NAMAKU BUKAN VALIANT ALVARIZKY

ATAU ZAMZAMI PUTRA LANGIT

APALAGI JIKA NAMAKU KAU GANTI DENGAN NAMA PEREMPUAN SEPERTI LIA KANZHA

ATAU YULIANI FATIMAH

ATAU NOVI KUSUMA

ATAU WULAN

ATAU INDAH YULIANI

BUKAN...BUKAN...ITU...

NAMAKU TETEP...

INGAT BUKAN IKE MARTHA

ATAU INTANSETYAWARDHANI

ATAU INTAN ANTASARI

NAMAKU SAMPAI KIAMAT, SAMPAI AJAL MENJEMPUT NAMAKU TETAP...

IBU....

Aku lahir dari perut ibu..
(bukan kata org...memang BENARKAN !!!.... ..)

Bila dahaga, yang susukan aku.....ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku....ibu

Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu

Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut....Ibu

Bila bangun tidur, aku cari....ibu

Bila nangis, orang pertama yang datang ....ibu

Bila ingin bermanja, aku dekati....ibu

Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu

Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu

Bila nakal, yang memarahi aku....ibu

Bila merajuk, yang membujukku cuma....ibu

Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....ibu

Bila takut, yang menenangkan aku....ibu

Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu

Aku selalu teringatkan ....ibu

Bila sedih, aku mesti telepon....ibu

Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu

Bila marah.. aku suka meluahkannya pada...ibu

Bila takut, aku selalu panggil... "ibuuuuu! "

Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu

Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga....ibu

Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku....ibu

Bila aku ada masalah, yang paling risau.... ibu

Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu

Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...ibu

Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal.....ibu

Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku....ibu

Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu

Yang selalu memuji aku.....ibu

Yang selalu menasihati aku....ibu

Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ....ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri....

Bila senang, aku cari....pasanganku

Bila sedih, aku cari....ibu

Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku

Bila gagal, aku ceritakan pada.....ibu

Bila bahagia, aku peluk erat.....pasanganku

Bila berduka, aku peluk erat.....ibuku

Bila ingin berlibur, aku bawa....pasanganku

Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu

Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku

Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"

Selalu.. aku ingat pasanganku

Selalu.. ibu ingat aku

Setiap saat... aku akan telepon pasanganku

Entah kapan... aku ingin telepon ibu

Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku

Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:

"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja....masih ingatkah kau pada ibu?

tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".

Berderai airmata jika kita mendengarnya. .......

Tapi kalau ibu sudah tiada....... ...

IBUUUU...RINDU IBU.... RINDU SEKALI....

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....

Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....

Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya.....

Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya......

Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya......

dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya...

NOTE: INI KEMARIN AKU DIKIRIMI PUISIA LEWAT EMAIL OLEH TEMANKU. SEMOGA KALIAN MENGHORMATI IBU KALIAN SAMPAI AJAL MENJEMPUT.

Menuju Cinta Sejati

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.