Rikno sekarang disekolahkan ayahnya di desa. Dia ikut bibinya. Tetapi Rikno sudah mulai paham mengenai keadaan di luar sana yang seperti hukum rimba. Orang salah ngomong saja langsung dihakimi, seperti halnya dirinya. Hanya ingin tahu arti mem*k saja semua orang langsung memarahi dan mengumpatnya. Padahal dia benar-benar tidak tahu yang artinya mem*k. Hingga dia memasuki tahun ajaran baru di TK, rasa penasaran Rikno semakin menjadi-jadi. Cuma kali ini Rikno sadar akan posisinya. Yah, dia tak lagi berharap mengetahui jawaban dari orang-orang terdekatnya atau keluarganya. Sebab hal itu nantinya justru akan menambah masalah lagi. Sebenarnya rasa penasaran RIkno sangat besar dan ingin sekali menanyakan prihal mem*k ini ke bibinya. Tetapi lantas dia urungkan.
“Aku takut jika bertanya ke bibi, nanti masalah akan kembali panjang. Di sana saja aku sudah diusir ayah. Masa di sini juga harus diusir lagi. Ah, biarlah nanti aku tanyakan kepada bu guru saja. Mungkin bu guru bisa membantu kerisauanku.” Kata Rikno.
Masa orientasi sekolah TK sudah selesai. Kini Rikno memulai ajaran baru sebagai siswa kelas Nol Besar. Besar harapan Rikno di sekolah barunya ini dia akan menemukan jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Saat bu Yanti membuka ajaran pertama, dia kemudian bertanya kepada murid-muridnya.
“Hayo anak-anak, ada yang pengin bertanya?”
Semua murid diam. Tak ada yang berani bertanya. Saat itu kegundahan Rikno timbul tenggelam.
“Ini waktunya aku bertanya. Siapa tahu ibu Yanti bisa menjawabnya!” Seru Rikno.
“Hayo anak-anak siapa yang mau bertanya, kalau tidak ada ibu hitung tiga kali. Satu….dua…tiii…”
“Saya bu…” terdengar jawaban dari belakang bangku.
Rupanya Rikno yang mengacungkan tangan. Semua mata memandang pada anak berumur 5 tahun tersebut. Anak yang duduk di bangku depan serempak menoleh ke belakang, berharap ingin tahu pertanyaan yang diacukan temannya itu.
“Anu bu, Riknomau tanya, tapi ibu jangan marah ya…”
“Lho buat apa ibu marah, lha wong kamu aja belum bertanya!” Seru Ibu Yanti.
“Tapi…tapi…”
“Rikno ga usah takut, bilang saja apa yang mau kamu tanyakan.”
“Biasanya kalau Rikno bertanya demikian ini, semua orang pada marah ke Rikno.”
“Rikno, tidak ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Semua pertanyaan pasti ada jawabannya. Mungkin mereka marah karena sedang capek saja.”
“Bukan itu bu, kata mereka pertanyaan Rikno ini tidak sopan.”
“Rikno apa kata ibu barusan. Kamu tidak perlu takut. Ibu pasti akan menjawabnya sebisa mungkin. Ayo ngomong saja ke ibu ada apa?” Desak Ibu Yanti.
“Rikno cuma pengin tahu sebenarnya mem*k itu apa?”
“Apa, Rik…” Seketika raut wajah sang ibu guru menjadi memerah.
Rikno sudah merasa bahwa pertanyaannya bakal memicu polemik. Dia sadar apa yang diucapkanya tidak sopan. Tetapi dikarenakan rasa keingintahuan Rikno yang besar, maka dia memberanikan bertanya ke gurunya, tak peduli apakah pertanyaannya itu sopan atau tidak.
“Kamu yakin dengan pertanyaanmu itu Rik?” Sang guru bertanya balik ke Rikno.
Rikno mengangguk dengan pandangan mata serius.
“Halah, ga usah dijawab bu. Wong cuma Rikno aja kok. Masa cuma nanya hal-hal yang tidak berbobot gitu.” Sahut teman-teman Rikno sekelas.
“Iya bu, pertanyaan Rikno sungguh lucu. Masa cuma nanya mem*k. Lucu banget.”
“Emang kalian tahu apa itu mem*k?” Ibu guru balik bertanya ke murid satu kelas. Seketika itu suasana yang tadinya hingar bingar menjadi hening. Semua anak saling beradu pandangan. Mencari-cari jawaban yang pas, tetapi justru mereka sendiri tidak tahu yang namanya mem*k.
“Gimana apa kalian tahu apa itu mem*k?”
Semua anak membisu. Sebagian menggeleng kepala.
“Rikno , apa kamu yakin pengin tahu apa itu mem*k.”
“Iya bu.” Jawab Rikno mantab.
“Apa kamu sudah siap mental?” Tanya ibu guru Yanti.
“Iya bu. Rikno sudah siap lahir dan batin.
“Baiklah kalau itu kemauanmu. Ibu tidak akan menjelaskan padamu, sebab kamu sendiri pasti tidak akan mengerti. Ibu akan menunjukkannya padamu.”
Semua anak baik Rikno tak sabar menanti detik-detik mendebarkan itu.
“Rikno…” kata Ibu guru Yanti dengan yakin sambil berdiri di depan Rikno, “kalau kamu pengin tahu yang namanya mem*k. Ini dia mem*k.” Seketika itu si ibu guru membuka rok dan cdnya tepat di depan Rikno dan murid-murid satu kelas lainnya. Dia lalu menunjuk ke arah mem*k yang dimaksud.
“Akh…akhh…ibu guru jorok….ibu guru jorok..” Seketika ruangan kelas menjadi hingar. Para murid saling berhamburan keluar. Mereka yang melihat ulah sang ibu guru tidak tahan, lari tunggang langgang, kecuali Rikno.Dengan penuh kesabaran dan rasa keingintahuan yang sangat tinggi, Rikno memperhatikan meme*k sang ibu guru.
“Jadi ini yang dinamakan mem*k itu?” Tanya Rikno.
Ibu guru Yanto mengangguk.
“Jadi ini yang membuat Rikno keluar ke muka bumi ini?”
“Iya Rikno. Dari sinilah kamu, ibu, dan orang tua sedunia ini dilahirkan. Jadi kamu sudah tahu kan yang namanya mem*k!” Jawab ibu guru yang kemudian menutup kembali auratnya dengan cd dan menurunkan roknya. (Bersambung lagi coy/novi)
NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.
Selasa, 01 Desember 2009
Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag II)
Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah tidak sabar untuk menunjukkan makna mem*k yang sebenarnya kepada anaknya.
Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.
“Nah, itu dia yang namanya mem*k!”
“Gajah itu mem*k,” Rikno garuk-garuk kepala, “wah besar sekaleeee…”
“Husy, bukan gajah, tapi ituuuu….”
“Yang mana yah…” Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.
“Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,” jawab ayahnya sedikit geram.
“Yang mana, apa yang panjang itu!” Seru Rikno.
“Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.”
“Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.” Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.
“Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.” Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.
Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.
“Ah, ini dia,” celetuk sang ayah, “monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.”
“Rik…Rik…sini cepat!” Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.
“Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,”
“Kenapa dengan mereka yah.”
“Lihat saja dulu.”
“Sudah yah.”
“Ya itu mem*k.” Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, “hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.”
“Yah…yah…” Rikno menarik baju ayahnya, “Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?”
“Oh duasar anak guob…” buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.
“Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.” Rikno menggeleng.
“Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.” Rikno mengangguk.
“Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.” Rikno mengangguk paham.
“Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?” Rikno menggeleng.
“Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.”
“Sudah yah, jadi itu ya yah.”
“Ya nak, itu yang namanya mem*k.” Sahut ayahnya.
“Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.” “Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.” Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, “Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.”
Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.
“Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?”
“Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.”
“Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.”
***
Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.
Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.
“Bapak siapa?”
“Hei, anak kecil, kamu siapa juga?”
“Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.” Celetuk Rikno dalam hati. “Bapak siapa kok?” Rikno bertanya merengek.
“Saya anggota dewan.”
“Apa itu anggota dewan?” Rikno balik bertanya.
“Wakil rakyat.” Jawab sang pejabat singkat.
“Jadi bapak tahu segalanya.” Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.
Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.
“Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.”
“Pak, boleh Rikno bertanya?”
“Silahkan!”
“Tapi bapak jangan marah ya.”
“Tergantung pokok pembahasannya.”
“Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.”
“Tidak…tidak…kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.”
“Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.”
“Iya, apakah itu?” Sang pejabat penasaran.
“Apa itu mem*k, Pak?” Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.
“Diamput…dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.”
“Tuh kan bapak pasti marah.”
“Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh…akkhhh…panggil orang tuamu, cepat!” Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.
“Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!”
“Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo…..” sang ayah memanggil dengan gusar.
Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.
“Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?” Rikno mengangguk.
“Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.” Ancam sang ayah. Dan…tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.
“Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.” Ancam ayahnya.
“Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!” Ancam ibunya.
(Bersambung lagi coy/novi)
NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.
Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.
“Nah, itu dia yang namanya mem*k!”
“Gajah itu mem*k,” Rikno garuk-garuk kepala, “wah besar sekaleeee…”
“Husy, bukan gajah, tapi ituuuu….”
“Yang mana yah…” Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.
“Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,” jawab ayahnya sedikit geram.
“Yang mana, apa yang panjang itu!” Seru Rikno.
“Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.”
“Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.” Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.
“Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.” Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.
Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.
“Ah, ini dia,” celetuk sang ayah, “monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.”
“Rik…Rik…sini cepat!” Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.
“Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,”
“Kenapa dengan mereka yah.”
“Lihat saja dulu.”
“Sudah yah.”
“Ya itu mem*k.” Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, “hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.”
“Yah…yah…” Rikno menarik baju ayahnya, “Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?”
“Oh duasar anak guob…” buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.
“Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.” Rikno menggeleng.
“Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.” Rikno mengangguk.
“Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.” Rikno mengangguk paham.
“Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?” Rikno menggeleng.
“Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.”
“Sudah yah, jadi itu ya yah.”
“Ya nak, itu yang namanya mem*k.” Sahut ayahnya.
“Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.” “Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.” Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, “Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.”
Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.
“Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?”
“Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.”
“Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.”
***
Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.
Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.
“Bapak siapa?”
“Hei, anak kecil, kamu siapa juga?”
“Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.” Celetuk Rikno dalam hati. “Bapak siapa kok?” Rikno bertanya merengek.
“Saya anggota dewan.”
“Apa itu anggota dewan?” Rikno balik bertanya.
“Wakil rakyat.” Jawab sang pejabat singkat.
“Jadi bapak tahu segalanya.” Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.
Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.
“Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.”
“Pak, boleh Rikno bertanya?”
“Silahkan!”
“Tapi bapak jangan marah ya.”
“Tergantung pokok pembahasannya.”
“Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.”
“Tidak…tidak…kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.”
“Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.”
“Iya, apakah itu?” Sang pejabat penasaran.
“Apa itu mem*k, Pak?” Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.
“Diamput…dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.”
“Tuh kan bapak pasti marah.”
“Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh…akkhhh…panggil orang tuamu, cepat!” Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.
“Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!”
“Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo…..” sang ayah memanggil dengan gusar.
Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.
“Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?” Rikno mengangguk.
“Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.” Ancam sang ayah. Dan…tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.
“Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.” Ancam ayahnya.
“Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!” Ancam ibunya.
(Bersambung lagi coy/novi)
NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.
Catatan Rindu Sang Hamba
Aku mencintaimu seperti seorang hamba. Jika pandangan mataku tertambat padamu, duhai betapa jiwaku tergetar. Engkau tempati hatiku di seluruh dunia dan akherat. Maka, aku sangat merindu jiwamu untuk senantiasa menyertai kegersangan hatiku. Tidakkah kau mendengar debaran hatiku ini sayang. Oh betapa bahagia dan indahnya saat ini.
Catatan Piala
Aku telah mengepakkan sayapku padamu. Tlah kusampaikan harapan dan mimpiku padamu. Sungguh aku tlah mempersembahkan piala yang memabukkan diriku hingga tak tersisa sedikitpun.
Jumat, 27 November 2009
Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)
Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.
"Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa toh, Cu!" Seru sang nenek penasaran.
"Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?"
"Apa???" Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, "dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?"
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
"Riri...Riri...kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua." Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
"Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga."
"Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua."
"Ada apa toh tole?" Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
"Ndak kok bu..."
"Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek." Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
"Rikno...Rikno...cuma pengin tahu....ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!"
"Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!"
"Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?"
"Hah," plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, "dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi," plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
"Hua....hua...hua..."
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
"Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu."
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
"Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?"
"Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab." Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata "pornografi" semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
"Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?" Tanya ayahnya.
"Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?" Tuding Riri.
"Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?"
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
"Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!" Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
"Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok."
"Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya..."
"Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya."
"Percaya kok yah."
"Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?"
"Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?"
"Hmm...jadi itu yang kamu tanyakan." Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
"Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?"
Rikno menggeleng.
"Ya, dari mem*k itu." Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
"Bagaimana kamu sudah paham?" Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
"Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?" Rikno balik bertanya.
"Hmmm...gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?"
Rikno mengangguk.
"Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu."
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)
NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.
"Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa toh, Cu!" Seru sang nenek penasaran.
"Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?"
"Apa???" Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, "dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?"
Rikno diam saja.
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.
"Riri...Riri...kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua." Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.
"Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga."
"Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua."
"Ada apa toh tole?" Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.
"Ndak kok bu..."
"Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek." Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:
"Rikno...Rikno...cuma pengin tahu....ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!"
"Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!"
"Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?"
"Hah," plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, "dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi," plok! plok!
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.
"Hua....hua...hua..."
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.
"Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu."
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.
"Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?"
"Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab." Jawab Riri geram.
Rikno yang mendengar kata "pornografi" semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.
"Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?" Tanya ayahnya.
"Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?" Tuding Riri.
"Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?"
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.
"Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!" Sang ayah terus mendesak.
Rikno malah menggeleng.
"Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok."
"Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya..."
"Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya."
"Percaya kok yah."
"Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?"
"Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?"
"Hmm...jadi itu yang kamu tanyakan." Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.
"Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?"
Rikno menggeleng.
"Ya, dari mem*k itu." Jawab ayahnya.
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.
"Bagaimana kamu sudah paham?" Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.
"Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?" Rikno balik bertanya.
"Hmmm...gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?"
Rikno mengangguk.
"Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu."
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)
NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.
SORAK-SORAI DUNIA ES KALA RAMADHAN
Perjalanan menuju Pare Kandangan buaerat puol. Ketika terik mentari sudah di atas ubun-ubun, seketika itu aku meihat sekumpulan es-es bertelanjang di jalanan. Tersebutlah es teler, es degan, es dawet, es fanta, es sprite, es coca-cola, es teh, es buah. Ah, segar...
Sayang, hari ini aku puasa. Tapi itu tidak menghentikan pandangan mereka terhadapku. Mereka semakin gencar menyerang pendalamanku.
Ada yang mengolok-olok begini:
"Aha, ada anak manusia lewat, hai noviyanto, godain kita dong. Yuhuuuu...kita sudah telanjang nih. Di sini aku disebut es teler karena aku selalu sempoyongan bila sudah melihat tenggorokan manusia yang sedang berpuasa."
"Maaf, saya sedang menjalankan perintahNya!" Kata saya.
"Ah, kan Dia pemaaf, sekali ini saja ya." Goda es teler melalui pendalamanku.
Alhamdulillah, es teler berhasil kulalui dengan indah. Belum genap kegembiraanku terpantulkan oleh cermin spion motor, tiba-tiba es degan dengan tenang dan penuh kesabaran seraya melambaikan serat-serat tubuhnya yang sedang dikelupas.
Katanya:
"Assalamualaikum, ya anak manusia bernama Noviyanto. Sudahkah ini waktu berbuka? Kalau begitu silahkan nikmati aku. Aku adalah degan yang diambil dari pohon kelapa, dimana di sana aku banyak membantu manusia. bahkan aku sering dijadikan bahan perbandingan saat pak yai mengajarkan santrinya. Katanya aku degan di luarnya adalah syariat. Ketika dibelah dan yang terihat warna putih, itulah tarikatnya. Maka, manakala aku diperas menjadi santan, maka itulah hakekat. Belum selesai sampai di situ, santan tadi yangakan diolah kembali menjadi minyak wijen, itulah makrifat. Yah, betapa hebatnya diriku bila kau bisa merasakannya melalui tenggorokanmu. Akh..." Bangga es degan.
"Yah, kau memang membanggakan semua orang es degan. Tapi tidak sekarang. Rasa banggaku padamu akan kupersembahkan padamu ketika bedug magrib tiba. Maafkan aku!" Kataku.
Es dawet lain lagi, dimana-dimana dia selalu muncul dengan bermacam-macam aneka yang menyegarkan. Es dawet, dia adalah kegemaranku sewaktu kecil. Dan sekarang dia hendak menjadi musuhku di kala ramadhan ini. Tidak ingatkah dia terhadapku?
"Ananda Noviyanto, sudah lupakah dengan hamba?"
Aha, dia tetap sopan terhadapku meski sering melontarkan godaan di sepanjang perjalanan.
"Apa harus hamba yang mengingatkan Ananda?"
"Tidak Es Dawet, kau tetap menjadi idolaku. Tapi tidak untuk sekarang. Sekarang ini aku sedang membuktikan kepada penciptaku bahwa aku bisa menjalankan perintahnya. Untuk kali ini maafkan kesalahanku."
"Kau masih juga egois. Aku di sini yang sudah menunggumu, ternyata kau malah berpaling dariku dan memilih mengejar akherat. Berbahagialah dirimu!"
"Kau tetap menjadi sahabatku es dawet, tapi tunggu 3 jam lagi. Setelah itu aku akan berbagi kebahagiaan denganmu!"
Semua rintangan es telah kukibaskan. Tapi ada beberapa keluarga es yang benar-benar pongah dengan tingkah lakuku. Mereka serempak menyerangku dengan berbagai bintik-bintik air liurnya yang menempel pada dinding botol. Sekain itu, warna-warna yang ditonjolkan demikian menggoda jiwa-jiwa yang suci dan bersih. Beberapa malah sempat terbujuk dalam rayuan segerombolan es fanta, es sprite dan es coca-cola. Ketiga bersaudara ini benar-benar tidak peduli dengan rintihan orang yang sedang memuja Tuhannya. Justru kesombongan mereka ditunjukkan untuk menggoda anak Adam agar tercebur dalam "jurang kelupaan".
Es fanta dengan perkasa menunjukkan kesombongan warnanya:
"Hai, kalian orang-orang yang berpuasa, lihatlah warnaku yang merah ini, dengan berbagai rasa yang hmm...menyegarkan tenggorokan, aku akan mengiringi perjalanan kalian untuk melepaskan puasa. Silahkan nikmati diriku...!!!"
Es Sprite tak tetinggalan, dia mengikuti sodaranya berlaku angkuh dan arogan terhadap manusia:
"Kalian akan menyesal jika tidak mencicipi beningnya airku dan begitu menakjubkannya rasaku yang menyentak dalam tenggorokanmu. Ayo, datanglah padaku hai kau anak manusia yang bernama Noviyanto. Datanglah dan reguklah tubuhku untuk mengentaskan rasa dahagamu."
Es coca-cola yang menjadi saudara tertua kali ini berbicara, lambat laun pelan tapi lama-lama menjadi berkobar-kobar bagai api.
"Aku adalah yang pertama di keluarga ini. Aku adalah yang terenak. Dengan busaku yang menggembang bila dicambur dengan es batu, hanya sekejab saja rasa dahagamu akan terlepas. Apalagi jika kau sudah merasakan isi di dalam busa itu. Maka warnaku yang kecoklat-coklatan dan penuh busa serta rasa menyentak, akan senantiasa membuatmu jatuh dalam rengkuhanku. Aku adalah coca-cola, yang dipertamakan!!"
Begitulah dunia es tak urung selalu menggoda perjalananku. Semakin lama dewa surya yakni matahari mengurungku dalam kepanasannya, maka semakin berani gerombolan-gerombolan dan keluarga es berkoar-koar serta berdemo di ujung lidahku. Tapi seiring godaan mereka, hatiku tetap adem bersama surgawi yang berada di surgaloka sana, karena sebenarnya di sanalah kesejukan yang sebenarnya. Meski badan wadakku panas, tapi jiwa serta rohku tetap dingin bersama sang kala Ramadhan yang datang setahun sekali ini.
From Joglo di Balaiurang Desa Patranrejo, Nganjuk
Pukul 15.57 Jumat, 11 Sept 09
Sayang, hari ini aku puasa. Tapi itu tidak menghentikan pandangan mereka terhadapku. Mereka semakin gencar menyerang pendalamanku.
Ada yang mengolok-olok begini:
"Aha, ada anak manusia lewat, hai noviyanto, godain kita dong. Yuhuuuu...kita sudah telanjang nih. Di sini aku disebut es teler karena aku selalu sempoyongan bila sudah melihat tenggorokan manusia yang sedang berpuasa."
"Maaf, saya sedang menjalankan perintahNya!" Kata saya.
"Ah, kan Dia pemaaf, sekali ini saja ya." Goda es teler melalui pendalamanku.
Alhamdulillah, es teler berhasil kulalui dengan indah. Belum genap kegembiraanku terpantulkan oleh cermin spion motor, tiba-tiba es degan dengan tenang dan penuh kesabaran seraya melambaikan serat-serat tubuhnya yang sedang dikelupas.
Katanya:
"Assalamualaikum, ya anak manusia bernama Noviyanto. Sudahkah ini waktu berbuka? Kalau begitu silahkan nikmati aku. Aku adalah degan yang diambil dari pohon kelapa, dimana di sana aku banyak membantu manusia. bahkan aku sering dijadikan bahan perbandingan saat pak yai mengajarkan santrinya. Katanya aku degan di luarnya adalah syariat. Ketika dibelah dan yang terihat warna putih, itulah tarikatnya. Maka, manakala aku diperas menjadi santan, maka itulah hakekat. Belum selesai sampai di situ, santan tadi yangakan diolah kembali menjadi minyak wijen, itulah makrifat. Yah, betapa hebatnya diriku bila kau bisa merasakannya melalui tenggorokanmu. Akh..." Bangga es degan.
"Yah, kau memang membanggakan semua orang es degan. Tapi tidak sekarang. Rasa banggaku padamu akan kupersembahkan padamu ketika bedug magrib tiba. Maafkan aku!" Kataku.
Es dawet lain lagi, dimana-dimana dia selalu muncul dengan bermacam-macam aneka yang menyegarkan. Es dawet, dia adalah kegemaranku sewaktu kecil. Dan sekarang dia hendak menjadi musuhku di kala ramadhan ini. Tidak ingatkah dia terhadapku?
"Ananda Noviyanto, sudah lupakah dengan hamba?"
Aha, dia tetap sopan terhadapku meski sering melontarkan godaan di sepanjang perjalanan.
"Apa harus hamba yang mengingatkan Ananda?"
"Tidak Es Dawet, kau tetap menjadi idolaku. Tapi tidak untuk sekarang. Sekarang ini aku sedang membuktikan kepada penciptaku bahwa aku bisa menjalankan perintahnya. Untuk kali ini maafkan kesalahanku."
"Kau masih juga egois. Aku di sini yang sudah menunggumu, ternyata kau malah berpaling dariku dan memilih mengejar akherat. Berbahagialah dirimu!"
"Kau tetap menjadi sahabatku es dawet, tapi tunggu 3 jam lagi. Setelah itu aku akan berbagi kebahagiaan denganmu!"
Semua rintangan es telah kukibaskan. Tapi ada beberapa keluarga es yang benar-benar pongah dengan tingkah lakuku. Mereka serempak menyerangku dengan berbagai bintik-bintik air liurnya yang menempel pada dinding botol. Sekain itu, warna-warna yang ditonjolkan demikian menggoda jiwa-jiwa yang suci dan bersih. Beberapa malah sempat terbujuk dalam rayuan segerombolan es fanta, es sprite dan es coca-cola. Ketiga bersaudara ini benar-benar tidak peduli dengan rintihan orang yang sedang memuja Tuhannya. Justru kesombongan mereka ditunjukkan untuk menggoda anak Adam agar tercebur dalam "jurang kelupaan".
Es fanta dengan perkasa menunjukkan kesombongan warnanya:
"Hai, kalian orang-orang yang berpuasa, lihatlah warnaku yang merah ini, dengan berbagai rasa yang hmm...menyegarkan tenggorokan, aku akan mengiringi perjalanan kalian untuk melepaskan puasa. Silahkan nikmati diriku...!!!"
Es Sprite tak tetinggalan, dia mengikuti sodaranya berlaku angkuh dan arogan terhadap manusia:
"Kalian akan menyesal jika tidak mencicipi beningnya airku dan begitu menakjubkannya rasaku yang menyentak dalam tenggorokanmu. Ayo, datanglah padaku hai kau anak manusia yang bernama Noviyanto. Datanglah dan reguklah tubuhku untuk mengentaskan rasa dahagamu."
Es coca-cola yang menjadi saudara tertua kali ini berbicara, lambat laun pelan tapi lama-lama menjadi berkobar-kobar bagai api.
"Aku adalah yang pertama di keluarga ini. Aku adalah yang terenak. Dengan busaku yang menggembang bila dicambur dengan es batu, hanya sekejab saja rasa dahagamu akan terlepas. Apalagi jika kau sudah merasakan isi di dalam busa itu. Maka warnaku yang kecoklat-coklatan dan penuh busa serta rasa menyentak, akan senantiasa membuatmu jatuh dalam rengkuhanku. Aku adalah coca-cola, yang dipertamakan!!"
Begitulah dunia es tak urung selalu menggoda perjalananku. Semakin lama dewa surya yakni matahari mengurungku dalam kepanasannya, maka semakin berani gerombolan-gerombolan dan keluarga es berkoar-koar serta berdemo di ujung lidahku. Tapi seiring godaan mereka, hatiku tetap adem bersama surgawi yang berada di surgaloka sana, karena sebenarnya di sanalah kesejukan yang sebenarnya. Meski badan wadakku panas, tapi jiwa serta rohku tetap dingin bersama sang kala Ramadhan yang datang setahun sekali ini.
From Joglo di Balaiurang Desa Patranrejo, Nganjuk
Pukul 15.57 Jumat, 11 Sept 09
NOVIYANTO AJI JADI RAJA

Ayahanda:
Anakku, lihatlah duniamu yang sekarang ini, semua berada pada puncaknya, ada kalanya manis dan indah bukan? Tetapi ketahuilah, bahwa puncak itu tak kan ada jika di bawahnya tak ada landasan yang kuat yang mendungkungnya. itulah ibarat rakyat kecil, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya yang saat ini ada pada dirimu. Mereka adalah: tanganmu, kakimu, kepalamu, hidungmu, telingamu, matamu, mulutmu.
Bunda:
Oleh sebab itu, jikalau Tuhan memang mentakdirkan dirimu menjadi raja atas rakyat kecilmu, janganlah kau lupa kepada mereka yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan warisan nenek moyangmu. Maka, cintailah dan hargailah rakyatmu, terutama mereka yang begitu mencintai dan menghargaimu. Nah, Anakku Noviyanto Aji, setelah ini akan kau bawa kemana mereka? Yah, itu semua tergantung kamu, Anakku...
Noviyanto Aji:
Ayah dan bunda, mohon ampun bila keputusan saya tak sesuai dengan keinginan ayah-bunda, namun demi pertimbangan kemanusiaan: saya berkeberatan untuk menerima mahkota dan singgasana kerajaan.
Bagi saya tidaklah penting siapa yang duduk di atas singgasana dan menjadi raja, sebab kunci pelepas kesengsaraan kaum pribumi, yaitu seluruh bangsa kita tidak terletak pada soal: siapa yang menjadi raja, namun jawaban atas satu pertanyaan: siapakah yang mau berjuang membebaskan rakyat kita ini dari kemiskinan, kebodohan, keruwetan dan segala permasalahan ini. Sejatinya, selama saya bisa mengejawantah pada rakyat saya, itulah sebenar-benarnya raja yang melebihi segala raja.
Langganan:
Postingan (Atom)