Jumat, 14 November 2008

kumpulan bob marley

Bob Marley --- NABI PARA RASTA


Reggae jadi mendunia karena satu orang yang bernama Bob Marley. Para duta besar regage berebut memberi label atau penghargaan kepada Bob Marley. Dari tangan cowok blasteran ini lahirlah hits klasik seperti No Woman No Cry, I Shot the Sheriff, dan Waiting in Vain.

Bob Marley memiliki nama lengkap Robert Nesta Marley Bob Marley seorang penyanyi, penulis lagu, gitaris dan aktivis Jamaica. Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945 di Nine Miles, Saint Ann Parish dan besar di lingkungan miskin di Trenchtown, Jamaika. Bob Marley berayahkan seorang kulit putih dan ibu kulit hitam. Pada tahun 1950-an Bob beserta keluarganya pindah ke ibu kota Jamaika, Kingston. Tinggi badannya 172 cm
Di kota inilah obsesinya terhadap musik sebagai profesi menemukan pelampiasan. Waktu itu Bob Marley banyak mendengarkan musik R&B dan soul, yang kemudian hari menjadi inspirasi irama reggae, melalui siaran radio Amerika. Selain itu di jalanan Kingston dia menikmati hentakan irama Ska dan Steadybeat dan kemudian mencoba memainkannya sendiri di studio-studio musik kecil di Kingston.
Karier profesional dimulai ketika Bob masih remaja berusia 16an, bersama dua temannya, Bunny Livingston dan Peter McIntosh (Peter Tosh). Ia pertama kali rekaman pada tahun 1962, bersama The Teenagers atau yang juga dikenal sebagai The Wailing Rudeboys. Album perdana mereka keluar tahun 1963 dengan hit “Simmer Down”. Lirik lagu mereka banyak berkisah tentang “rude bwai” (rude boy), anak-anak muda yang mencari identitas diri dengan menjadi berandalan di jalanan Kingston.
The Wailing Wailers bubar pada pertengahan 1960-an dan sempat membuat penggagasnya patah arang hingga memutuskan untuk berkelana di Amerika. Tahun 1966, setelah menikahi Rita Anderson. Dan Rita-lah yang memperkenalkan Bob pada Rastafarianism.
April 1966 Bob kembali ke Jamaika, bertepatan dengan kunjungan HIM Haile Selassie I —raja Ethiopia– ke Jamaika untuk bertemu penganut Rastafari. Kharisma sang raja membawa Bob menjadi penghayat ajaran Rastafari pada tahun 1967, dan bersama The Wailer, band barunya yang dibentuk setahun kemudian bersama dua personil lawas Mc Intosh dan Livingston, dia menyuarakan nilai-nilai ajaran Rasta melalui reggae. Penganut Rastafari lantas menganggap Bob menjalankan peran profetik sebagaimana para nabi, menyebarkan inspirasi dan nilai Rasta melalui lagu-lagunya.
The Wailers bubar di tahun 1971, namun Bob segera membentuk band baru bernama Bob Marley and The Wailers. Tahun 1972 album Catch A Fire diluncurkan. Menyusul kemudian Burning (1973–berisi hits “Get Up, Stand Up” dan “ I Shot the Sheriff” yang dipopulerkan Eric Clapton), Natty Dread (1975), Rastaman Vibration (1976) dan Uprising (1981) yang makin memantapkan reggae sebagai musik mainstream dengan Bob Marley sebagai ikonnya.
Reggae sendiri merupakan irama musik yang berkembang di Jamaika. Reggae mungkin membekas di perasaan sebagian besar musik Jamaika, termasuk Ska, rocksteady, dub, dancehall, dan ragga.
Barangkali istilah pula berada dalam membeda-bedakan gaya teliti begitu berasal dari akhir 1960-an, apalagi sejak masa kepindahan Bob Marley. Musik reggae mulai membumi dan dikenal dunia.
Reggae sendiri berdiri di bawah gaya irama yang berkarakter mulut prajurit tunggakan pukulan, dikenal sebagai "skank", bermain oleh irama gitar, dan pemukul drum bass di atas tiga pukulan masing-masing ukuran, dikenal dengan sebutan "sekali mengeluarkan". Karakteristik, ini memukul lambat dari reggae pendahuluan, ska dan rocksteady.
Namun demikian, kepindahan Bob ke Amerika Serikat tidak bertahan lama. Dirinya tidak betah. Lantas Bob memutuskan untuk pulang dan memilih menyempurnakan lagu yang ditulisnya. Tahun 1973 bersama Island Records, Bob merekam dan merilis Catch a Fire.
The Wailers berkolaborasi dengan Lee Scratch Perry, menghasilkan hit-hit unggulan seperti Soul Rebel, Duppy Conquerer, 400 Years dan Small Axe. Kolaborasi tersebut berakhir pahit karena Perry menjualnya di Inggris tanpa persetujuan the Wailers. Namun peristiwa tersebut berbuah manis, Chris Blackwell, pemilik Island Records mengontrak the Wailers dan memproduseri album mereka CATCH A FIRE dan BURNIN.
Album inilah yang menyebarkan demam Reggae ke seluruh dunia. Pada saat itu Bob mampu memberikan pilihan baru kepada penggemar rock, bahwa dalam reggae Bob Marley menghadirkan kepercayaan diri, pemberontakan, dan keadilan.
Akhir yang Tragis
Pada tahun 1976, Bob Marley hijrah ke Inggris. Kreatifitasnya tak mereda, EXODUS berhasil nangkring di British charts selama 56 minggu. Kesuksesan ini diikuti album berikutnya, yaitu KAYA. Kesuksesan tersebut mampu mengantarkan musik reggae ke dunia barat untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1977, Bob Marley divonis terkena kanker kulit, namun disembunyikan dari publik. Bob Marley kembali ke Jamaica tahun 1978, dan mengeluarkan SURVIVAL pada tahun 1979 diikuti oleh kesuksesan tur keliling Eropa.
Sampai tahun 1979, Bob jadi orang super sibuk karena turnya laku digelar di seluruh penjuru dunia dan juga di Madison Square Garden, venue yang waktu itu jadi barometer buat popularitas seorang artis kelas dunia.
Bob Marley melakukan 2 pertunjukan di Madison Square Garden dalam rangka merengkuh warga kulit hitam di Amerika Serikat. Namun pada tanggal 21 September 1980, Bob Marley pingsan saat jogging di NYC's Central Park. Kankernya telah menyebar sampai otak, paru-paru dan lambung. Tim dokter memastikan bahwa kanker yang mula-mula hanya ada di kaki sudah menjalar ke mana-mana, mulai dari ke otak, paru-paru, bahkan sampai ke liver.
Penyanyi reggae inipun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Miami Hospital pada 11 Mei 1981 di usia 36 tahun, dengan meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.
Walaupun telah meninggal, nama Bob Marley seakan tidak pernah lenyap dari dunia musik, khususnya musik Reggae. Bahkan musik Reggae pun semakin diterima dunia. Mungkin ini lah salah satu cara yang harus dilakukan oleh sang dewa Reggae untuk tetap menghidupkan musik Reggae.
Bob Marley, sang legenda reggae, memang pantas menjadi legenda. Kesadarannya untuk mengajak orang memperjuangkan hak asasi mereka, kental tertuang dalam petikan salah satu syair lagunya yang sangat populer. Kesadaran dan kepeduliannya pada persoalan-persoalan sosial-politik bermetamorfosis dalam lagu-lagu ciptaannya sebagai satu kekuatan tersendiri yang menggelitik para penggemarnya. Itulah Bob Marley. Sikap dan perjuangannya jelas. Tak heran jika ada yang menjuluki Bob Marley sebagai nabinya para rasta, nabinya para reggae atau bahkan nabinya para pecandu.
Di Indonesia, kita punya Gombloh. Legenda penyanyi jalanan negeri kita yang tak berumur panjang itu, menggugah semua penggemarnya lewat lagu-lagu heroik untuk mencintai negerinya.
Sampai kini, lagu Kebyar Kebyar masih kerap berkumandang di sekolah-sekolah, di kampung-kampung kumuh, atau di lapak-lapak kaki lima. "Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangat...." Syair sederhana yang dinyanyikan dengan tulus ini, tetap mampu menggetarkan sanubari dan merindingkan jiwa kita. Itulah Gombloh. Sikap dan perjuanganya juga jelas.
Gombloh memang telah tiada. Bob Marley pun sudah lama hengkang dari kejamnya dunia. Tapi sikap dan semangat perjuangan mereka terus hidup dan bisa kita rasakan melalui lagu-lagu mereka. Dan untuk mengubah kondisi Indonesia saat ini, perpaduan sikap dan semangat perjuangan Gombloh dan Bob Marley, sangatlah pas. Kita butuh semangat cinta bangsa cinta negeri yang tulus seperti yang didendangkan Gombloh. Kita juga perlu semangat keberanian untuk memperjuangkan hak-hak kita seperti yang dinyanyikan Bob Marley.

Penghargaan sang legenda
Pemerintah Jamaika menyatakan, pihaknya akan mendeklarasikan rumah Bob Marley di Kingston sebagai sebuah monumen nasional, 25 tahun setelah kematian legenda reggae itu.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Maxine Henry Wilson, pernah mengemukakan penghormatan itu diberikan sebagai pengakuan terhadap segala yang telah dikerjakan Marley untuk mempromosikan tanah airnya di Karibia di luar negeri.
Pada tahun 1978, Bob Marley pernah menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Sayang, kanker mengakhiri hidupnya pada 11 Mei 1981 saat usia 36 tahun di ranjang rumah sakit Miami, AS, seusai menggelar konser internasional di Jerman. Sang Nabi kaum Rasta telah berpulang, namun inspirasi humanistiknya tetap mengalun sepanjang zaman.
One Love! One Heart!
Lets get together and feel all right.
Hear the children cryin (One Love!);
Hear the children cryin (One Heart!)
(One Love / People Get Ready)

Marley, yang meninggal dunia akibat kanker di Amerika Serikat pada 1981, akan genap berusia 62 tahun pada Mei ini. Dikenal sebagai Tuff Gong International, rumah Marley kini merupakan sebuah studio musik dan tujuan kunjungan wisata terkemuka bagi para turis.
Marley, yang masih tetap dianggap sebagai salah satu bintang pop musik paling dikenal, menerima Bintang Jasa (Order of Merit), penghargaan nasional tertinggi ketiga Jamaika, tak lama setelah kematiannya.
Namun demikian, para pejabat pemerintah telah berulang kali tak menanggapi seruan agar menjadikan Marley sebagai pahlawan nasional.
Sebagai penganut Rastafarian yang taat, dan seseorang yang menggunakan marijuana sebagai bagian kepercayaan agamanya, Marley telah lama berjuang bagi legalisasi dedaunan yang dikenal secara lokal sebagai ganja.
Belum diketahui secara pasti kapan upacara peresmian Tuff Gong, yang dalam bahasa slank Jamaika berarti suara keras, menjadi monumen nasional akan diselenggarakan.(*)

Lahirnya Rambut Gimbal
Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.
Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.
Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur.
Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.
Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan.
Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).
Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.
Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.
Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.

Kamis, 13 November 2008

PAHLAWAN-PAHLAWAN YANG DI GUGAT


Ketika latar berwacana dibuka lebar, arena mengunduh informasi disediakan tanpa batas, tanpa kunci membuat siapa saja menggunakannya dan memanfatkan, tentunya untuk segala kepentingan. Kini informasi itu benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan mencandra para pahlawan. Menurut kebiasaan pencandraan itu berkonotasi positif, artinya pencandraan itu selalu menonjolkan hal-hal yang positif, atau yang dianggap keunggulan-keunggulan, namun buku ini sebaliknya, menerawang sisi gelap para pahlawan. Dari sisi gelap inilah yang dijadikan positioning buku ini, oleh karenanya buku ini menjuluki dirinya sebagai tafsir kontroversi. Tentunya kemarahan akan hadir, telinga meradang bahkan hati menjadi panas riuh dendam, namun jika berpikir dan mengajar naluri untuk dingin, waka semuanya dianggap sebagai kewajaran. Bukankah pahlawan itu juga manusia, sehingga dalam dirinya selalu mengkantongi hal-hal yang bermuatan "plus dan minus", mengapa kita harus latus mupus, dan berubah dri manis menuju bengis. Sebaiknya justru saat yang baikbagi kita semua, untuk mendengar suara yang berbeda.
Data Buku
JUDUL : Pahlawan-Pahlawan yang digugat --tafsir kontoversi sang pahlawan
PENULIS: Eka Nada Shofa Alkhajar
PENERBIT: Penerbit Katta. Jl. Bukit Cemara No. 1 gg. Untoloyo Mojosongo, Solo. Telp. 0271-7016320. E-mail :

bukukatta@yahoo.co.id Blog:bukukatta.blogspot.com
ISBN: 978-979-26-9807-7
CETAKAN: Pertama Juli 2008
TEBAL: 128 hlm: 15 x 20

SADAPAN RINGKAS:

Buku ini mengurai bahwa beberapa pahlawan nasional dipertanyakan kredibilitasnya ? Buku ini juga menguak data-data kontrovesi terkait jati diri dan perilaku sang pahlawan ketika itu.

KARTINI:
[Berjuang dari Kamar]
Segenap pekikirannya yang tertuang dalam buku berjudul Door Duisternis tot licht [habis gelap terbitlah terang] menjadi bukti bagaiman perjuang Kartini mengangkat harkat dan martabat kaumnya. Namun, muncul pandangan bahwa keotentikan dan orisionalitas pemikiran-pemikiran Kartini dalam suratnya diragukan..........

SULTAN AGUNG
[Ambisi Menjadi Raja di Seluruh Jawa]
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Kerajaan Mataran mencapai puncak kejayaan dan kebesarannya. Siapa yang tidak mengenal kegigihan Sultang Agung menggempur VOC di Batavia? Namun beberapa kalangan beranggapan bahwa niat utama Sultan Agung bukanlah mengusir penjajah VOC, tetapi untuk menjadi raja di seluruh wilayah Jawa..........

PANGERAN DIPONEGORO
[Membela Tanah Leluhur]
Pangeran Diponegoro mengobarkan Perang Jawa yang terkenal Dahsyat. Namun, benarkah sang Pangeran Berjuang secara murni melawan penjajah Belanda? Bukankah ia berperang karena membela harga diri dan kehormatan keluarganya.......

IDE ANAK AGUNG GDE AGUNG
[Pintar Membaca Arah Angin]
Ide Anak Agung Gde Agung dianggap berjasa dalam perjuangan politik Indonesia menuju Konferensi Meja Bundar [KMB] di Den Haag, Belanda. Tapi menurut saksi sejarah Bali, gelar itu dinilai tidak layak dan kontroversial karena pejuang Bali mengenalnya justru sebagai seorang pengkhianat.....

SULTAN HASANUDDIN
[Membangun Benteng Dengan Derita]
Dalam masa pemerintahnnya, terutama saat membangun benteng pertahan di Mariso, Sultan Hasanuddin ditegarai menindas serta menganiaya rakyat dan bangsawan Bone

TUANKU IMAM BONJOL
[Tokoh di balik layar Paderi]
Sudah tertanam sejak sekolah dasar bahwa gerakan Paderi adalah gerakan anti kolonial. Salah satu tokohnya adalah Tuanku Imam Bonjol yang gigih berjuang melawan Belanda. Namun, kini muncul gugatan melalui petisi onlinebahwa Imam Bonjol bertanggung jawab atas pembataian lokal. Gerakan bertanggung jawab atas pembantaian lokal. Gerakan Paderi diketahui sebagai gerakan anti Belanda, tetapi memilki tujuan utama, sesuai dengan paham Wahabi, ingin membersihkan Islam di Sumatera Barat dari unsur kultural. Sayangnya, pemurnian memakan korban besar. Keluarga Istana Pagaruyung dijagal dan di Tanah Batak, terjadi pembunuhan masal. Dalam tragedi itu disebutkan, banyak perempuan dirampas dan diperjualbelikan. Petisi tersebut meminta pemerintahan untuk mencabut gelar kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol yang telah diberikan pada tahun 1973.

TUANKU TAMBUSAI
[Sosok Utama Tragedi di Padang Lawas"
Tuanku Tambusi juga dikenal berjuang gigih melawan belanda dengan gerakan Paderinya di sekitar daerah Rao dan Mandailing, tak heran gelar Pahlawan Nasional pun disematkan kepadnya. Tapi. ada kalangan berpendapat bahwa Tuanku Tambusai telah melakukan pembantai kejam. Bahkan pasukan Tambusai kemudian memutilasi ratusan penduduk di Padang Lawas. Seorang pustakawan bahkan menemukan data-data dari pihak Belanda, yang membenarkan semua kisah tentang pembantaian yang dilakukan Tuanku Tambusai ini......

CERMIN KEHIDUPAN: GANDHI


Lumayan tua umur buku ini, fisiknya juga rada sesak di sana-sini. Buku yang berkisah tentang kehidupan Pejuang India ini, memberikan cerminan nurani yang begitu hebat, perhatiannya terhadap rakyatnya, serta tekad yang melekat pada dirinya, memberikan kesan mendalam.
Mahatma Gandi saat ini bukan menjadi monopoli bangsa India, namun lebih dari itu Gandhi telah menjadi panutan bangsa manusia yang mendiami dunia , termasuk Indonesia.
Dalam buku ini ajarannya di ungkap dengan rinci dan tajam, seakan pembaca bersetuhan langsung dengan Mahatma Gandhi.
Sekitar tahun 1950, buku ini terpasarkan. Diterbitkan oleh penerbit yang sangat cukup ternama di zamannya, yakni Penerbitan Djambatan Jakarta.
Terdapat hal yang menarik yang dapat diacu dari buku ini, yakni prinsip yang dimiliki Mahatma Gandhi, sebagai mana yang ditularkan kepda para anggota Asharam Satyagraha, sebuah perkupulan yang didirikan 25 Mei tahu 1915.
Prinsip itu adalah:
Satyagraha [kebenaran].,"Sebab, kebenaran berdasar pada Ke Tuhananan, pada yang esa dan pada kenyataan abadi."
Ahimsa {cinta, serba tidak berkekerasan]. "Tenaka aktif dari prinsip serba tidak berkekerasan ini ialah cinta."
Barhmacharya [Kesucian]. "Mereka yang berusaha mencapai kebenaran dan cinta harus membuang setiap pikiran kotor. Perhubungan antara laki-laki dan perempuan harus semata-mata berdasarkan kesucian murni
Sederhana. "maka itu perlu untuk dapat menguasai bada kasar. Tetapi ia tak boleh dijadikan tujuan semata-mata. Hindarkanlah segala foya-foya yang hanya bermaksud melepaskan diri dari kenyataan."
Jangan mencuri. "Alam setiap hari memberikan segala yang kita butuhkan. Jika kita ambil apa yang tidak dibutuhkan, tidak ada bedanya dari kita mencuri."

[....terdapat 11 prinsip, yang kami sadap hanya 5 prinsip. mohon maaf]

MOHAMAD ROEM BERBICARA PENCULIKAN PROKLAMATOR


Penculikan terhadap Proklamator itu memang terjadi, Mohamad Roem adalah seorang-orang diantaranya yang dekat dengan peristiwa itu.
Ingatnya yang setia melahirkan buku dengan judul: Penculikan Prklamasi dan Penialaian Sejarah. Kecermatan dan kepiawaiannya, memberikan sumbangan pada sejarah, bahawa generasi muda ketika itu memiliki kekawatiran khusus, utamanya terkait dengan Proklamasi. Tidak ingin nyali proklamator itu pudar dan padam.
Data Buku:
JUDUL: Pentjulikan Proklamasi dan Penilaian Sedjarah.
PENULIS: Mohamad Roem
PENERBIT: Hudaya Jakarta/Ramadhani Semarang
CETAKAN: Pertama—1970
TEBAL: 68 halaman

Buku ini sebenrnya merupakan kumpulan karangan, dan pernah diterbitkan sekitar pertengahan Agustus 1969 di Harian Abadi dengan judul Pentjulikan Proklamasi dan Penilaian Sedjarah. Buku ini juga dibangun dengan menarasi pidato Mohamad Roem, tanggal 14 April 1970 di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Catatan:
Cover buku ini adalah Foto Mohamad Roem, ketika beliau tidak memakai songkok/topi, sebagian besar foto beliau menggunkan songkok. Cover buku inilah, yang menjadikan buku ini istimewa.

DONGONING MALING—DOANYA PENCURI

Ada-ada saja, buku ini dapat “julukan” kategori aneh, dikatakan aneh karena judulnya sudah tidak lazim, Doa Pencuri. Judul dan isi bukupun ternyata melenceng, tidak ditemuai sedikit pun doa itu. Barangkali ini merupakan “kiasan”, nanum kalau dilihat isinya ternyata juga bukan.
Isi buku ini ternyata sebuah kumpulan artikel cerita pendek—Cerita Cekak [CEKAK], Puisi—Geguritan, Nyanyian—Tembang, dll. Semuanya berbahasa Jawa.
Detil Buku

JUDUL: Donganing Maling-Doanya Pencuri
PENULIS: Yohanes Siyamta PENERBIT: PISS—Griya Suryo F10. Jl. Dongkelan Minggiran Yogyakarta Telp. 0274-414768. E-mail: penerbit_aura@yahoo.com
ISBN: 979-17842-1-3
CETAKAN: 2008
TEBAL: 169 + xi hlm; 14 x 21
[Catatan Barangkali judul buku ini berasal dari "orang tua" agar dapat mencuri hati pembaca, dan akhirnya buku ini ludes terbeli]

BUNG TOMO


Sutomo (Surabaya, 3 Oktober 1920 - Makkah, 7 Oktober 1981) atau Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA dan berakhir dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, ia menjadi staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia juga pernah bekerja sebagai polisi di kota Praja dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor untuk perusahaan mesin jahit "Singer".

Pada usia 12 tahun, Sutomo meninggalkan pendidikannya di MULO karena ia harus melakukan berbagai pekerjaan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan HBS melalui korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus. Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat "Pandu Garuda".

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ia terpilih pada tahun 1944 menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru. Bulan Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat pada saat Surabaya diserang oleh tentara NICA dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radio yang penuh dengan emosi.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo pernah aktif dalam politik pada tahun 1950-an. Namun pada awal tahun 1970-an, ia berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara keras terhadap program-program presiden Soeharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah selama setahun karena kritik-kritiknya yang keras.

Pada tanggal 7 Oktober 1981, Sutomo meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya.

BIODATA

Nama : Sutomo (Bung Tomo)

Lahir : Surabaya, 3 Oktober 1920

Wafat : Makkah, 7 Oktober 1981

Ayah : Kartawan Tjiptowidjojo

Jabatan Penting : Menteri Negara Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956)