Selasa, 23 Desember 2008

OESIN JAGAL MANUSIA DARI MOJOKERTO


Negeri ini pernah digemparkan ulah seorang-orang muda bernama "Ryan", melalui tangannya banyak orang yang mati. Mutilasi kata tepatnya. Dulu tak jauh dari kota tempat Ryan praktik mutilasi, ternyata ada yang mengawali. Seorang-orang bernama Hoesein, yang selanjutnya dikenal dengan OESIN adalah jagal manusia yang mengerikan dan menghilangkan puluhan nyawa.
Pada tahun 1964 peristiwa itu terjadi, mendadak kota Mojokerto terkenal seantero bumi, bahkan tempat kejadian pembunuhan itu menjadi tontonan, maklum letaknya tidak jauh dari jalan raya. Ketika itu PKI masih berjaya, dan kala itu "GERWANI" salah satu organisasi saya PKI mengutuk keras peristiwa ini. Bahkan terdapat seorang-orang mahasiswa keturunan Arab ingin memberikan klarifikasi atas kasus ini. Hal ini dilakukan karena Hoesien adalah keturunan Arab, denga klarifikasi itu diharapkan masalah ini tidak ditarik ke ranah rasial.

Minggu, 21 Desember 2008

MENJAUH DAN MENDEKAT

Makhluk hidup memiliki kecenderungan,
Menjauhi sesuatu yang tidak disenangi,
Mendekati sesuatu yang disenangi dan enak,
Itu adalah ciri khas nafsu,
Membuat makhluk mendekati maupun menjauhi,

Tidak ada yang salah dengan itu,
Justru itu adalah benar,
Paling tidak mekanismenya memang seperti itu,
Kalau tidak memenuhi mekanisme seperti itu berarti tidak benar,
Tidak memenuhi kaidah alamiah,

Yang dipermasalahkan dalam agama bukanlah,
Ada tiadanya nafsu,
Namun, bagaimana mengarahkan nafsu itu sendiri,
Baik kecenderungan makhluk untuk mendekat maupun menjauh,

Tumbuhan memiliki daya pembeda mendekati sumber kehidupan,
Ia akan mendekati sumber cahaya dan mendekati sumber makanan,
Itulah yang disebut sebagai daya tarik terhadap apa yang dibutuhkan atau syahwah,
Namun belum bisa menjauh dari apapun yang membahayakan,
Kecuali beberapa jenis tumbuhan,
Yang memiliki karakter hewani,

Hewan memiliki daya pembeda menjauhi bahaya,
Ia akan menjauhi sumber bahaya dan mendekati tempat dimana bahaya itu tiada,
Itulah yang disebut sebagai daya tolak atau gadhab,
Namun belum bisa membedakan dengan pembeda tertinggi,
Kecuali beberapa jenis hewan yang tingkat intelegensinya tinggi,
Yang sedikit memiliki karakter mirip-mirip manusia,

Manusia memiliki daya pembeda lebih tinggi,
Ia dapat membedakan mana sumber bahaya dan mana yang bukan,
Ia dapat membedakan mana sumber kenikmatan dan bukan,
Itulah yang disebut sebagai daya intelektual atau akal,
Namun sering sekali belum bisa membedakan mana yang haq dan bathil,
Karena tingkat fakultasnya masih di nabati,
Maupun hewani,
Termasuk diri saya sendiri ini,

Keinginan manusia untuk memenuhi hasrat seksuil,
Merupakan seuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu ingin berhubungan seksuil,
Ataukah dengan wanita pelacur,
Ataukah dengan wanita simpanan,
Ataukah dengan pegawainya,
Ataukah dengan pasangan syahnya,
Yang syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Keinginan manusia untuk menjauhi apa yang membahayakannya,
Meruapakn sesuatu hal yang benar, itu tidak salah,
Namun, dimanakah ia menempatkan kecenderungan itu untuk mempertahankan diri,
Apakah dengan memberontak terhadap tatanan yang telah ada,
Ataukah dengan memberontak terhadap tatanan negara,
Ataukah dengan memberontak terhadap aturan organiasi,
Ataukah dengan meletakkan diri dengan menjalankan tanggungjawab,
Tanggungjawab syah menurut hukum yurisprodensi maupun syah menurut ketentuan-Nya,

Tidak ada yang salah dengan penggunaan akal,
Pun menempatkan syahwah dan gadhab pada tempatnya,
Yang jadi permaalahan adalah, rukunnya atau kaidah-kaidahnya,

Bahkan dalam olah qolbu-pun harus menggunakan akal,
Karena akal adalah rukunnya,
Bagaimana bisa membedakan mana haq dan bathil apabila tidak dengan akal,
Itulah lobang keterjebakan ahli-ahli spiritual,
Mereka merasa tidak membutuhkan akal pembeda dalam berspiritual,
Jadi sering sekali Iblispun-pun dianggap malaikat,
Karena pada tingkatan yang lebih tinggi, Iblispun bisa berwujud manusia ganteng,
Dan malaikatpun bisa berbentuk garang,

Pembeda, tarik dan tolak,
Pemahaman ini diperlukan,
Seiring dengan prosesi pembersihan qolb,
Dalam tingkatan tertinggi spiritual,
Ma’rifah,
Hanya dapat diperoleh dengan kebersihan qolb,
Namun tanpa akal,
Syaithan dan Malaikatpun sama,
Yang membedakan adalah,
Malaikat mengakui eksistensi manusia,
Sedang Iblis tidak,

Mengenal diri (eksistensi manusia),
Adalah mengenal Allah (eksistensi Tuhan),
Kalau Iblis menghindarkan manusia dari mengenal diri,
Sama pula menghindarkan manusia dari mengenal Tuhan,

Jadi, mengenal diripun harus menggunakan akal,
Namun akalpun harus ada rukunnya,
Dan akal yang terbaik adalah al-Furqon,
Al-Qur’anul Kariim,
Yang dibaca dengan hikmah,
Hikmah adalah ngelmu,
Ngelmu adalah knowledge,
Knowledge hanya diperoleh melalui laku atau doing,
Dengan hikmah,
Dalam hidup inilah kita belajar hikmah,

Hikmah mengenai inti,
Dualitas daya tarik dan tolak,
Manifetasinya dalam wujud kehidupan,

Nafsu itu harus ada,
Namun katanya harus dikekang,
Sebagaimana legenda empat kuda,
Yang menarik kereta,

Empat kuda,
Ammarah, Lawamah, Sufiyah, Muthmainnah
Keempatnya penting sekali,
Untuk menarik kereta kencana Sang Raja,

Siapa bilang nafsu itu tidak boleh,
Justru diperbolehkan, dan diharuskan ada,
Selama kita masih menarik nafas,
Namun bagaimana mengaitkan tali pada keempat nafsu itu,

Konon, inilah simbol dari ikat kepala tradisional Arab,
Untuk mengikat fikiran yang menjadi sarana liarnya keempat nafsu,
Begitu pula inilah simbolisasi dari ikat kepala udeng dalam khazanah tradisional Jawa,
Blangkon sebagai simbolisasi di kraton,

Hampir semua budaya yang dilewati Islam,
Memiliki terminologi akan ikat kepala,
Karena akal berada di kepala,
Bisa mengendalikan atau dikendalikan,
Tergantung dimana memposisikan,

Dikendalikan perut ataukah mengendalikan perut,
Dikendalikan selangkangan ataukah mengendalikan selangkangan,
Nafsu, rentan ditumpangi Iblis,
Nafsu yang tidak terkendali, bisa ditumpangi Iblis,
Nafsu itu bukan Iblis, tapi Iblis bisa menguasai nafsu,

Nafsu inilah yang membawa para pengusaha Arab,
Ziarah ke Puncak di Jawa Barat,
Keliru tempat dalam memasukkan benang ke dalam lobang jarum,
Tidak bisa membedakan mana selangkangan istri dan bukan,
Namun bisa membedakan mana yang bahenol dan mana yang bukan,
Menempatkan akal tidak pada tempatnya,
Sehingga meletakkan daya tarik pada yang bukan tempatnya,
Dan terdorong pada ketertarikan yang bukan pada tempatnya,

Lalu, apakah definisi “pada tempatnya”,
Tergantung ente sendirilah membedakan,
Bukankah hidup ini adalah pembelajaran,
Disinilah kita belajar untuk membedakan,

Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan kekayaan,
Pun untuk menafikkan kemiskinan,
Hidup ini bukanlah tempat untuk menafikkan pangkat keduniawian,
Pun untuk mengejarnya tanpa reserve,
Namun bagaimana meletakkan pada proporsinya,
Itulah Pekerjaan Rumah kita semua,

Saat inilah, aku mulai belajar kembali,
Menyadari bahwasanya aku kemaren-kemaren belum bisa mengendalikan nafsu,
Terutama yang berhubungan dengan perut.
Marilah bersama-sama mengendalikan nafsu,
Sebelum nafsu ditumpangi oleh Iblis,
Nafsu yang ditumpangi oleh Iblis,
Akan membawa pada nafsu pemberontak,
Karena kebencian pada sesuatu yang diberontak,
Dan pemberontakan yang paling besar adalah memberontak terhadap Allah,
Namun, kalau kita jeli, apakah mungkin kita benar-benar memberontak terhadap Allah,
Berfikirlah dab, berfikir,

Tidak mungkin,
Kalau bingung,
Cobalah gunakan berfikir pendulum,
Maupun filosofi melar mengkeret Ki Ageng Suryo Mataram,

Kalau sudah ketemu berarti,
Kamu sudah menguasai ilmu Titik,
Titik di bawah titik Ba’
Seberapapun engkau menjauh, engkau akan bertemu dengan titik,
Seberapapun engkau mendekat, engkau akan bertemu dengan titik,

(Sebelumnya dipublikasikan oleh blogger Alang-alang)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 6) - Hamil Wajib Menari Bugil

(Sebelumnya)

Caesonia tak bisa menolak. Ia mulai melepas pakaian yang dikenakan. Satu demi satu busana wanita ini dilepas. Dari penutup payudara sampai penutup bagian bawah. Wanita ini bugil. Tubuh mulusnya tak terhalangi selembar kain pun. Perutnya yang membesar nampak indah. Pusarnya menonjol. Dan di daerah vitalnya, rimbun perdu menggumpal.
Payudara wanita ini sangat indah. Kelihatan montok dan kencang. Bagian itu tak terlalu besar, tetapi jelas-jelas kelihatan subur. Itu sebagai pertanda, usia kehamilan wanita ini sudah tua. Setelah bugil, ia melangkah ke depan. Langkah yang agak ragu dan sedikit tertekan karena merasa dilecehkan.
Musik pun mulai bergema. Geraknya tertata. Ia melenggak-lenggokkan pinggulnya yang mulus dan berisi. Payudaranya bergoyang-goyang menggairahkan. Dan tangannya merentang menirukan gerak burung seperti sering yang diimpikan Caligula.
francesco-vezzol-caligulaSecara berirama, kaki wanita ini bergerak lincah. Tarian yang dibawakan wanita ini begitu mempesona. Menyita perhatian yang hadir. Dan menyihir para laki-laki yang malam itu ikut menyaksikan penampilan wanita mantan gundik yang kini menjadi permaisuri raja itu.
Gerak dari tubuh bugil Caesonia itu membangkitkan nafsu birahi. Ada banyak wajah-wajah menegang yang terbuai dengan gerakan tubuh wanita ini. Namun yang hadir tak berani menggoda atau berteriak kasar. Sebab mereka sadar, yang sekarang telanjang dan menerbitkan birahi itu bukanlah orang sembarangan. Ia adalah permaisuri raja. Salah sedikit saja memberi apresiasi, bisa-bisa nyawa taruhannya.
Caligula nampaknya terpesona dengan penampilan istrinya itu. Ia memberi applaus. Ia menyingkirkan dua gundik yang merayapi tubuhnya. Setelah itu ia berdiri, merangkul, dan mencumbu istrinya yang bugil itu.
caligula_oneCaesonia sebagai wanita yang profesional dalam menservis laki-laki, menyambut cumbuan itu. Tubuhnya bergelenjot mesra. Melalui mulut dan tangannya, wanita ini melakukan perangsangan. Saat Caligula mulai terbangkitkan nafsunya, Caesonia pun dibopong masuk peraduan. Di tempat itulah Caligula dan Caesonia melepas hajatnya. Tapi adakah hanya itu? Tidak, sebab ada prajurit yang harus menjadi korban pesta malam itu? (bersambung/JOSS)

NB: Bagi yang belum dewasa dilarang membaca naskah ini.

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 5) -- Caligula Tampar Drusila

(Sebelumnya)

Malam di istana. Seperti biasa, malam itu sedang digelar pesta. Selain makanan dan minuman sebagai menu utama. Yang tak bisa ditinggalkan adalah para wanita. Gadis-gadis telanjang disuruh menemani dan merangsang laki-laki. Dan kalau birahi telah memuncak, mereka pun sah-sah saja untuk disetubuhi di arena pesta itu.

Caligula datang di pesta ini bersama Drussila dan Caesonia. Ada yang berubah dalam diri wanita ini. Tubuhnya tak langsing lagi. Ia agak gemuk. Itu bisa dimaklumi. Sebab perut permaisuri ini kelihatan buncit. Ia sedang hamil.

Ketiga orang terhormat ini dipersilahkan duduk di singgasana tanpa kursi. Mereka bertiga menempati itu. Tak lama kemudian datang tiga gadis cantik. Mereka datang untuk menemani Sang Raja. Mereka telanjang. Duduk manis menunggu perintah. Perintah Sang Raja terhadapnya.

Perintah itu sudah bisa diterka. Kalau tidak untuk ditowel dan dimainkan bagian tubuh sensitifnya. Tentu, ia disuruh untuk merangsang Sang Raja. Rangsangan dari tingkat rendah, hanya sekadar menciumi dan mengelus-elus tubuh raja. Sampai rangsangan tingkat tinggi, memainkan oral seks, heteroseks hingga sodomi.

Itu semua dimaklumi. Raja sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan, didalamnya secara implisit juga terkandung kekuatan seks dan pemenuhan kebutuhan itu. Maka tak berlebihan, dimana saja raja berada, maka perempuan cantik selalu tersedia. Caesonia, sebagai permaisuri yang bekas gundik istana, sangat paham soal itu.

Saat Caligula dan rombongan telah duduk, laki-laki ini menepuk tangan. Tiga dara bugil itu pun mendekat. Ia bergelenjot di tubuh raja muda ini, dan dengan buahdada serta mulutnya, gadis-gadis itu menggesek-gesek punggung, paha, dan bagian sensitif raja. Dirangsang seperti itu, Caligula biasa-biasa saja.

Untuk memulai acara, musik pun mulai bergema. Suara dari berbagai perkusi itu menghidupkan pesta. Caligula dengan gagahnya berdiri. Ia mengatakan, hari itu ia ingin bergembira. Dan untuk menyemarakkan pesta itu, ia ingin Caesonia menari.

Mendengar itu Caesonia protes. Ia sudah hamil tua. Tak mungkin itu dilakukan. Kalaulah dipaksa, ia takut akan keguguran. Bayi yang dikandungnya gugur. Protes Caesonia ini juga diperkuat Drussila. Ia menolak keinginan raja.

Caligula bersikukuh. Ia berdiri sambil marah. Ia menampar Drussila, Sang Adik. Drussila pun keluar pesta. Ia lari. Kabur ke kamarnya. Yang mengejutkan, kemarahan Caligula itu membawa korban lain. Seorang prajurit yang berdiri menghalangi, disuruh dibunuh. Ia ditangkap dan digelandang ke ruang eksekusi. (bersambung/JOSS)

NB: Bagi yang belum dewasa dilarang membaca naskah ini.

Kamis, 11 Desember 2008

AL-HALLAJ -- "ANA AL-HAQ"

Husain ibn Mansur al-Hallaj barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran”, ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodok, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid’ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.

Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, “Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, ‘Akulah Kebenaran’, padahal itu kata-kata Allah sendiri!”. Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, “Kata-kata ‘Akulah Kebenaran’ adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir’aun adalah kezaliman.”

Kehidupan Al-Hallaj
Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.

Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj. Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasika n apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur’annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.

Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu.

Al-Hallaj bergaul dengn Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, (Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasan politis lantaran hubungan al-Aqta) Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.

Enam tahun berlalu, dan pada 892M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan setiap hari dihabiskannya dengan puasa dari siang hingga malam hari. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid.

Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menunjukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.
Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.
Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya.

Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.

Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.

Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.

Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, “Akulah Kebenaran” (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi “hewan kurban”. Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. Ia menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginkan tiang gantungan.

Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: “Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh.” Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, “Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka.”

Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan kelas penguasa. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat dan, dengan harapan meraih kekuasaan, berusaha memanfaatkan pengaruhnya pada masyarakat untuk menimbulkan gejolak dan keresahan. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial. Di atas segalanya, berbagai gejolak pun muncul dan sudah pasti berakhir secara dramatis.

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangan nya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Tak lama kemudian, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Demikian, al-Hallaj dibunuh secara brutal. Akan tetapi ia tetap hidup dalam kalbu orang-orang yang merindukan capaian rohaninya. Dengan caranya sendiri, ia telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih Berbagai legenda dan kisah tentang al-Hallaj Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar –penggaru segenap Kalbu– karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.

Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini:
Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan.

Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. “Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak sedemikian jauh dalam waktu singkat”! serunya.

Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

Al-Hallaj terkenal bukan hanya karena keajaibannya, melainkan juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego)-nya dari setiap agama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat wajib, dengan shalat wajib ini ia melakukan wudhu jasmani secara sempurna.

Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya –yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani.
Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, “Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar.”

Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejumlah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid’ah, “Akulah Kebenaran.” Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, “Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain (al-Hallaj) telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian.”

Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, “Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan. ” al-Hallaj di jebloskan ke penjara. Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara mencari-carinya. Mereka heran. Ternyata selnya kosong. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang!

Pada malam ketiga, segala sesuatunya kembali normal. Para sipir penjara itu bertanya, di mana engkau pada malam pertama? ia menjawab, “pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali!”

Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: “Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini,” kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. “Engkau tidak ikut bersama kami?” tanya mereka “Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!” jawabnya

Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua.
“Mengapa engkau tidak sekalian pergi?” tanya mereka.
“Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman,” jawabnya.

Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, “Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!” Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, setiap kali pukulan mengenai tubuhnya terdengar suara gaib berseru, “Jangan takut, putra Manshur.”

Mengenang hari itu, seorang sufi syekh Shaffar, mengatakan aku lebih percaya pada akidah sang algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Sang algojo pastilah mempunyai akidah yang kuat dalam menjalankan Hukum Ilahi sebab suara itu bisa didengar demikian jelas, tetapi tangannya tetap mantap.

Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, “Haqq, Haqq, ana al-Haqq –Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran.”

Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan mengetahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.

Al-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. “Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?” tanya orang-orang. “Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku, ” jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian:
Kekasihku tak bersalah Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,
laksana tuan rumah perhatikan sang tamu Setelah berlalu sekian lama,
dia menghunus pedang dan menggelar tikar pembantaian Inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama bersama dengan singa tua di musim panas.

Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu.

Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, “Apa itu tasawuf?” al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. “Adakah yang lebih tinggi dari ini?” tanya Syibli “Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya! “, jawab al-Hallaj. Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, “Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?”

Al-Hallaj menjawab, “Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik.”

Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, “Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?

Al-Hallaj menjawab “Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya. ”

Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, “Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah.” (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, “Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya! ”

Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah.
“Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?” tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati.

“Mengapa,” tanya mereka, “Engkau membasahi lenganmu dengan darah?” Ia menjawab, “Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah.”

Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, “Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu. ” Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur’an:

“Orang-orang yang mengingkari Hari Kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar.”
Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase “Cukuplah sudah satu kekasih.”

Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Setiap bagian tubuhnya berseru, “Akulah kebenaran”, sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.

Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. Malahan, abu jenazahnya berseru,

“Akulah Kebenaran.”

Al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir, pada hari ketiga ketika abu jenazahnya diterbangkan oleh angin ke sungai. Permukaan air pun terbakar, air mulai naik, dan sang pembantu melakukan apa yang diperintahkannya, permukaan air pun surut, api padam, dan abu jenazah al-Hallaj pun diam.

Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, “Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami.”

Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, “Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?” Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. Keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.(@lang2)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI -- CALIGULA (Bag. 4) -- Caesonia Jadi Permaisuri

(Sebelumnya)

Siang di taman sari. Puluhan gadis, janda, serta gundik istana dikumpulkan. Mereka semuanya adalah wanita pilihan. Dipilih yang berwajah cantik, bertubuh indah, dan berkulit bersih mulus. Mereka ditempatkan di sebuah taman yang dipenuhi bunga warna-warni. Di tengahnya, sebuah kolam renang dengan tangga berundak memutar.

Para wanita itu berdiri berjajar. Mereka semua berpakaian sama. Kain putih tipis yang dibentuk mirip baju panjang (longdress). Tanpa penutup payudara. Juga tanpa memakai celana dalam.

Drussila, Sang Adik, memaksa Caligula memilih salah satu diantara sekian banyak wanita cantik itu. Lalu Caligula menunjuk Caesonia. Ia memang wanita hebat di ranjang, tapi rasanya tak pantas untuk menjadi permaisuri raja. Sebab profesinya selama ini adalah gundik istana. Gundik yang memberi kepuasan seksual terhadap raja terdahulu.
Caligula ngotot memilih Caesonia. Ia menyebut wanita itu sangat layak mendampinginya memimpin kerajaan Romawi. Alasannya, selain hebat di ranjang, ia juga cantik dan sangat dewasa.

Di kamar pentahbisan Caligula menyiapkan prosesi penyambutan. Sebuah altar tergelar, dan di ujungnya, patung Dewi Ishes yang disilang pedang nampak berdiri garang. Secara spiritual patung itu dianggap sebagai kekuatan dan penjaga kedaulatan kerajaan Romawi. Dan di ruang sakral seperti itulah Caligula ingin melakukan ritual penyatuannya dengan Caesonia.
Caesonia mendekati Caligula. Wanita yang berpengalaman melayani laki-laki di ranjang itu amat tegar berhadapan dengan raja Romawi yang masih belia itu. Ia mendekatkan wajahnya ke Caligula. Ia pasrah untuk diapakan saja.

Saat itulah tubuh ramping wanita ini dibanting di meja altar. Caligula mendekatkan pedang dan mentorehkan ke leher wanita ini. Darah mengucur. Dengan mulutnya, laki-laki itu menghisap darah itu. Dan Caligula pun bersiap-siap untuk menindihnya. Setelah itu Caesonia dijadikan permaisuri sang raja. (Bersambung)

NB: Bagi yang belum dewasa dilarang membaca naskah ini.

Selasa, 09 Desember 2008

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI -- CALIGULA (3) -- Caligula Jadi Raja

(Sebelumnya)
Siang di kastil. Caligula sedang bermesraan dengan Drussila di kamar. Keduanya bak pengantin baru. Bercumbu dan bermain seks sepuas-puasnya. Tanpa perlu berpikir panjang, bahwa mereka adalah adik dan kakak.

Saat itulah pintu kamar diketuk dari luar. Ketika terbuka, muncul sesosok laki-laki gagah berseragam pasukan Romawi. Dia adalah Macro. Teman Caligula, yang datang untuk menyampaikan berita dari raja. Caligula dipanggil ke istana.
Raja sendiri sudah sangat tua dan sakit-sakitan. Kalau sampai raja mati, ada tiga nama yang berpeluang menggantikannya. Pertama adalah Caligula yang gagah dan cukup dewasa. Kedua adalah Gemellus, saudara tiri Caligula yang masih kecil. Dan ketiga adalah Claudius, Sang Paman yang terkesan bloon. Namun itu kapan? Sebab para tabib istana terus berjuang keras, agar raja jangan sakit apalagi meninggal dunia.
Hari itu, ketika usia Caligula tepat 24 tahun, raja kembali ambruk. Ia sakit akut. Berbagai kerabat mulai dikumpulkan, dan mereka diminta agar bersiap-siap jika terjadi sesuatu. Saat itulah raja yang terbaring lemah itu memanggil Caligula, dan memanggil juru tulis yang merangkap bendahara istana. Dengan terbata-bata raja memberi wasiat. Jika terjadi sesuatu, maka Caligula yang bakal menggantikannya.

Habis mengungkapkan wasiat itu, raja tak sadarkan diri. Suaranya lirih, tak jelas apa yang dimaui. Caligula pun berinisiatif untuk membiarkan raja sendirian. Ia menepuk tangan, dan seluruh kerabat yang ada pun keluar ruangan.

Kini di ruangan itu tinggal Caligula dan raja Tiberius yang terbaring koma. Saat kritis itu, Macro datang. Sebagai teman setia, Makro bersedia melakukan perintah Caligula, yakni membunuh sang raja. Ia mengambil sebuah selendang. Dengan benda itu raja dicekik hingga mati.

Setelah mengeksekusi raja, Macro beranjak pergi. Ia menyuruh agar Caligula mulai mengambil kekuasaan. Mengumpulkan seluruh kerabat, dan mengumumkan dukacita. Tapi Caligula belum melakukan itu. Ia kini yakin, kekuasaan sudah di tangan.

Balairung. Pesta besar sedang digelar. Para jenderal, senat, dan pembesar istana yang lain hadir. Hari itu Caligula naik tahta, menggantikan raja Tiberius yang meninggal. Ia akan mengumumkan susunan kabinetnya.

Ada banyak yang was-was. Muka-muka cemas menghinggapi para elit politik yang datang. Ada ketakutan di wajah mereka. Takut posisinya yang nyaman selama ini dicabut atau dibatalkan oleh raja baru. Hanya ada satu pejabat negara yang yakin dengan dirinya. Dia adalah Macro, teman sekaligus Menteri Pertahanan Romawi.

Caligula mondar-mandir di ruang utama. Tangannya menggenggam segebok aturan. Tanpa pengantar yang tertata, ia mulai berpidato. Suaranya menggema, terkesan gagap dan gugup. Saat itulah para jenderal mulai berisik.

Caligula sadar kemampuannya diragukan. Untuk menggaet simpati, dengan suara keras Caligula berjanji. Ia tetap memberi hak istimewa bagi para pejabat negara. Dan tetap mempertahankan struktur yang ada. Saat itulah tepuk sorak bergema. Mereka secara aklamasi mendukung raja yang baru itu.

Usai berpidato dan dikukuhkan sebagai raja baru, didampingi para menterinya, Caligula memeriksa pasukan bersenjata Romawi. Wajah-wajah para menteri itu kini ceriah. Mereka merasa posisinya telah aman. Kembali ikut menikmati kemewahan dan kemegahan fasilitas kerajaan.

Namun saat di ruang utama upacara, tiba-tiba Caligula mengajak semua menterinya berhenti. Ia mulai membuka kronologis kematian raja Tiberius. Tiba-tiba Caligula menuding Macro telah membunuh raja.

Macro kaget. Ia ditangkap. Macro tak berdaya. Laki-laki yang loyal terhadap Caligula itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia digelandang pergi. Dijatuhi hukuman mati. Habis menjerat Macro, Caligula kembali ke peraduan. Ia menyuruh pengawalnya memanggil Ennia, istri Macro. Wanita yang belum tahu nasib suaminya itu dengan langkah manja mendatangi Caligula. Ia bergelenjot di tubuh Caligula. Dalam bayangannya, tak lama lagi, ia bersama suaminya bakal menjadi orang terpenting dalam kerajaan Romawi, bersama Caligula, Sang Raja, kekasihnya.

Caligula membiarkan sikap manja Ennia itu. Laki-laki ini seperti biasanya, memainkan payudara wanita ini. Dengan ekspresi manja dan minta dipuasi, Ennia menyambut rayuan Caligula itu. Mereka mulai bercinta di sofa. Bergulingan. Bertindihan, untuk saling merangsang birahi.
Setelah itu disusul irama rutin berupa rintihan dan lenguhan selama hampir lima belas menit. Keduanya tergolek lunglai di ranjang. Caligula buru-buru mengenakan pakaian, disusul Ennia. Wanita ini agak keheranan dengan sikap Caligula kali ini. Sebab biasanya ia tak secepat itu. Laki-laki ini awal sampai akhir sangatlah romantis. Tapi hari ini tak seperti itu.

Saat Ennia dan Caligula masih bermesraan di sofa dalam keadaan berpakaian lengkap, pintu pun diketuk. Pintu dibuka para dayang. Saat sudah terbuka, maka di pintu itu berdiri beberapa menteri minus Macro. Ennia pun bertanya, dimana suaminya.

Menteri Pertahanan baru yang menjawabnya. Ia menerangkan tentang apa yang barusan terjadi. Mendengar itu Ennia kalap. Ia marah dan meludahi muka Caligula. Tapi apa yang terjadi? Tanpa ekspresi Caligula menyuruh agar Ennia juga dibawa serta. Wanita itu ikut dijatuhi hukuman mati. Para pengawal disuruh mengangkut Ennia bersama sofa yang habis dibuatnya bercinta.(Bersambung)