Selasa, 03 Februari 2009

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 12) -- Merangsang Birahi Sang Mayat

(Sebelum)

Melihat Drussila meninggal dunia, Caligula seperti tak percaya. Hatinya guncang. Ia panik. Laki-laki ini tak terkontrol lagi geraknya. Ia naik turun ranjang, dan tak jelas apa yang diinginkan. Saat itulah ia berteriak histeris. Ia mengusir seluruh yang hadir di ruangan itu untuk keluar ruangan.
Kini Caligula sendiri di kamar. Ia hilang akal. Ia mendekati patung Dewi Ishes yang selama ini dipercaya sebagai sumber kekuatan, kekuasaan, dan kelanggengan hidup. Di bawah patung ini ia menyembah. Ia menghiba seperti anak kecil, minta agar Drussila yang telah terpisah jiwa dan raganya disatukan kembali.

Tapi patung itu bisu seribu kata. Patung itu tak bergerak dan menjawab permintaan Caligula. Laki-laki ini pun sangat marah. Ia mengumpat dan mencaci patung itu. Dengan kekuatannya ia dorong dan banting patung itu hingga pecah berkeping-keping.

Dengan kebingungan laki-laki ini kembali mendekati mayat adiknya. Ia goyang-goyang dan dengarkan detak jantungnya. Tapi semuanya tetap sama. Drussila terdiam tak bernyawa. Saat itulah, seperti orang kesetanan, Caligula merobek satu persatu kain penutup tubuh gadis ini. Ia telanjangi mayat gadis ini.

Setelah bugil, tubuh Drussila diciumi. Dengan bernafsu, Caligula melakukan itu. Mulutnya bergerak bebas di wajah, leher, dan berhenti di payudara gadis yang telah menjadi mayat ini. Ia kulum payudara itu sepenuh hati. Ia perlakukan payudara itu seperti sumber kehidupan bagi seorang bayi. Caligula merasa tentram dengan melakukan ulah itu. Tapi harapannya agar Sang Adik hidup kembali taklah kesampaian.

Melihat adiknya masih lemas terkulai tak bernyawa, tubuh Caligula melorot ke bawah. Wilayah sensitif gadis ini diciumi dan diraba-raba. Jari tangannya bermain di wilayah terlarang gadis itu. Ia terus melakukan itu sambil nafasnya memburu, berusaha menjiwai sepenuh hati.
Tapi rangsangan itu tak membangkitkan nafsu birahi Sang Adik. Drussila tidak terangsang. Ia tetap terbujur kaku, tak ada tanda-tanda gadis ini akan kembali hidup lagi. (bersambung/JOSS)

NB: Bagi yang belum dewasa dilarang membaca naskah ini.

Tidak ada komentar: