Mengantasipasi pendangkalan aqidah, keluarga Amrozi dan Ali Ghufron mengaktifkan “pasukan” Anti-Syirik. Sebab, sejak Amrozi dikubur, tanah kuburan banyak dicuri untuk “kesaktian”
Akibat perilaku aneh-aneh sebagian orang, kini, keluarga (alm) Amrozi dan Mukhlas harus mengaktifkan pasukan anti-syirik untuk menjaga kuburan. Sikap ini terpaksa dilakukan akibat banyaknya kejadian aneh semenjak terpidana Bom Bali 1 ini dikubur.
“Semenjak kakak saya dikubur, banyak orang-orang tidak bertanggungjawab mencuri tanah kuburan untuk kesaktian,” ujar Ali Fauzi, adik kandung Amrozi.
Menurut Ali Fauzi, pihaknya, terpaksa harus harus melakukan penjagaan yang akan dilakukan para kerabat dan sahabat terdekat secara bergantian.
Selain itu, menurut Ali Fauzi, sikap pihak keluarganya ini juga sesuai dengan keinginan almarhum beberapa hari menjelang eksekusi mati.
“Jangan sampai nanti kuburan saya dijadikan bahan kesaktian rawe-rontek,” ujar Ali Fauzi menirukan pesan Amrozi beberapa hari sebelum dieksekusi.
Menurut ustad Chozin, kakak kandung Amrozi, semenjak adiknya dikubur, tiba-tiba gundukan tanah kuburan yang tadinya tinggi kini menjadi rata. “Itulah mengapa Amrozi berpesan tidak ingin dikubur di makam umum,” ujar Ali Fauzi. [cha/www.hidayatullah.com]
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 November 2008
Senin, 03 November 2008
MAKNA GANDA EKSEKUSI DAN TERORISME

JELANG eksekusi mati pelaku Bom Bali I, Amrozi Cs, kawasan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah telah diseterilkan. Dari apa? Alasannya kawasan tersebut harus steril dari siapapun, tak terkecuali penduduk setempat yang mata pencahariannya nelayan. Aneh, ini siapa yang salah sebenarnya. Mengapa yang salah malah diperlakukan bak raja? Saya bingung menjawabnya.
Ponakan saya yang masih duduk di bangku SMP bertanya: Mengapa orang jahat kok dielu-elu, bukankah mereka telah membunuh puluhan orang tidak berdosa?
Pertanyaan ponakan saya tidak salah. Kalau saya bisa menjawab tentu saat itu akan langsung saya jawab. Tapi tidak, pertanyaan semacam itu butuh waktu. Sampai sekarang saya masih mencari jawabannya. Mengapa eksekusi mati Amrozi Cs begitu penting? Sebaliknya mengapa mereka malah diperlakukan seperti moderat ulung yang baru turun dari podium? Apa yang membuat mereka begitu special di mata hukum, masyarakat umum maupun masyarakat korban Bom Bali I?
Pertanyaan demi pertanyaan ini seolah-olah memunculkan dua sisi yang saling berlawanan. Otak kiri dan otak kanan saya saling berbicara dan beradu, lalu menghasilkan apa yang dinamakan pro dan kontra. Seperti contohnya:
Mengapa untuk mengeksekusi mati Amrozi Cs butuh waktu 6 tahun?
Pro: karena pemerintah sedang dan tengah menggodok undang-undang eksekusi mati–yang kata kamus Amrozi tidak jelas alias mengada-ada. Otak kanan saya yang pro ini juga menganggap bahwa waktu yang diulur-ulur tersebut sedianya dilakukankan untuk memberi efek jera bagi pelaku. Bahkan kalau perlu 20 tahun penjara, baru setelah itu dieksekusi, seperti halnya kasus Sumiarsih. Di pihak lain, otak kanan saya berbicara, mungkin aparat hukum sedang melakukan penyidikan mengenai keterlibatan Amrozi Cs dengan jaringan Al-Qaeda.
Kontra: bisa jadi pemerintah dibuat ketakutan oleh Amrozi Cs, mengingat barangkali apa yang dilakukan oleh pelaku Bom Bali ada benarnya. Sewaktu-waktu Bali memang perlu dikasih pelajaran agar tidak sembarangan membiarkan pihak asing menginjak-injak harga diri pribumi. Sehingga ketika eksekusi mati dijalankan, mereka takut kuwalat atau terkena karma. Ada satu dugaan yang membuat otak kiri saya memilih kontra; saat ini pemerintah sedang malas mengungkit masa lalu mengingat masih banyak hal-hal pelik yang perlu penangan lebih dini ketimbang masalah Amrozi Cs. Yakni seperti mengusut kasus pelanggaran korupsi. Selain korupsi, masalah teroris adalah nomer dua.
Benarkah Amrozi Cs. layak diperlakukan bak pahlawan yang baru turun dari medan laga?
Pro: Ya, iyalah, masa iya iya dong. Sebagai pejuang agama wajarlah jika beberapa pihak menganggap Amrozi Cs. termasuk pahlawan. Ketika tuntutannya tidak pernah didengar atau digubris oleh dunia, saat itulah mereka mulai bermain dengan aksi atau tindakan. Dunia butuh penindak, bukan pembicara. Tampaknya Amrozi Cs. telah siap menerima resiko dari jalan kekerasan yang dipilihnya. Namun demikian aksi terorisme dalam bentuk apa pun selalu berkaitan dengan rasa takut yang ekstrem dalam masyarakat karena coraknya yang ekstranormal: melebihi batas-batas pelanggaran yang dapat diterima secara sosial. Rasa takut itu akan bergejolak pada masyarakat yang memiliki rentang mulai dari berpihak, netral, sampai menentang terorisme. Para teroris memilih bermain pada lapangan yang paling menakutkan manusia: kematian.
Kontra: Amrozi Cs. bukan pahlawan tapi pecundang. Seorang pejuang bukan saja berjuang demi agama, tapi juga demi negara dan bangsa. Perjuangan Amrozi Cs. sekedar memenuhi panggilan agama agar sekiranya dapat memuaskan guru ngajinya, teman-temannya, dan keluarganya. Dikatakan demi negara dan bangsa, masih sangat jauh, mengingat apa yang mereka lakukan adalah sengaja bertujuan melukai orang-orang senegara dan sebangsanya. Saya rasa itu bukan pejuang nasionalis melainkan agamis.
Perlukah Amrozi Cs. ditembak mati?
Pro: Tidak. Karena eksekusi termasuk perbuatan pembunuhan negara terhadap pribadi, bila menyimak kata-kata Abu Bakar Ba’asyir. Negara tidak berhak menjatuhkan hukuman apalagi bila melihat eksekusi tembak tidak sesuai dengan syariah agama. Penerima hukuman jelas akan merasakan sakit atau tersiksa. Apalagi tidak ada yang perorongan atau kelompok atau negara menyatakan bahwa hukuman mati itu sopan. Semua yang dinamakan hukuman mati tidak sopan, bahkan sadis. Kendati demikian, Amrozi Cs. telah siap menerima semua keputusan negera. Bahkan mereka sebelum keputusan dijatuhkan TPM (Tim Pembela Muslim) jauh hari telah mengajukan hukuman apa yang pantas bagi kliennya selain hukuman tembak, yakni pancung.
Kontra: Dilihat dari perbuatannya, tentu saja tindakan Amrozi Cs. patut mendapat hukuman yang setimpal. Lalu mengapa mereka harus bingung membahas hukuman mati. Singkatnya, jika tidak mau dihukum mati, ya, jangan membunuh orang. Yang namanya hukuman mati adalah pembunuhan. Tidak ada orang yang dihukum mati terus bisa berlenggang hidup. Orang yang dihukum mati pastilah mati. Hanya saja setiap negara memiliki aturan dan perundang-undangan sendiri bagaimana menindak terpidana mati. Amerika punya banyak cara menghukum orang mati. Di bagian negara ini, ada diterapkan hukuman mati dengan cara disuntik. Lalu di bagian negara lain, hukuman mati diterapkan dengan jalan disetrum. Di Cina, hukuman mati dijalankan dengan cara ditembak. Di Malaysia; digantung. Sedang di Arab; dipancung. Sementara jika saat ini Amrozi Cs. mengajukan PK (peninjauan kembali)–walau sudah terlambat–toh, bagaimana juga mereka tidak bisa mengatur negara. Hukuman mati tetaplah hukuman mati, tidak bisa diatur seenak perutnya sendiri. Kalau di Indonesia ditembak, ya, ditembaklah.
Mengenai Eksekusi Mati
Banyak tata cara melaksanakan hukuman mati. Ada yang bilang hukuman mati sebaiknya dilakukan dengan sikap-sikap sopan santun, sehingga ketika pelaksanaan dilakukan mereka tidak mengalami kesakitan. Kali ini saya tidak pro dan kontra lagi, sebab cara pandang saya mengenai pelaksanaan eksekusi mati dilihat dari sudut pandang yang berbeda jadinya akan begini:
Dari yang saya ketahui tiada seorang yang menjalankan eksekusi mati bangun dari kuburnya dan berkata: sewaktu ditembak, saya merasakan penderitaan. Atau sewaktu dipancung, saya merasakan enak. Dan atau ketika digantung tubuh saya bagai diangkat para malaikat.
Seorang pejuang asal Kuba, Che Guevara yang ditembak mati tentara Bolivia tentu tidak akan berdemo di liang lahatnya bahwa hukuman mati tembak dirasa terlalu berat. Begitu juga seorang Saddam Husein yang dihukum gantung tidak akan menyalahkan eksekutornya gara-gara kesakitan ketika dieksekusi. Setahu saya sampai sekarang tidak ada seorang pun yang sanggup membuktikan bahwa hukuman mati memiliki sopan santun. Yang saya tahu semua hukuman mati sama saja, tergantung dari orang yang menjalaninya. Menurut kitab, kematian seseorang bukan dinilai bagaimana cara dia mati, melainkan apa saja yang diperbuatnya selama hidup. Seseorang itu akan mati menderita bila dosa menggunung. Sebaliknya, kematian seorang nabi, wali, ulama, akan terasa sangat ringan ketika rohnya keluar dari jasad.
Kata kyai saya di pengajian mengatakan: Golongan Nabi akan dicabut rohnya melalui wajah, mengingat tiada dosa dimiliki mereka kecuali amalan ibadah. Sementara golongan ulama dan pelaku ibadah akan dicabut rohnya melalui punggung. Saking sedikit dosa-dosanya, sampai-sampai diceritakan malaikat maut merasa malu mencabut rohnya sebab semasa hidup seluruh anggota tubuhnya digunakan untuk meramal saleh. Sedang orang-orang yang berdosa, maka, ketika ajal menjemput mereka akan mengalami sakaratul maut yang tiada tara sakitnya. Tidak peduli bagaimana cara mereka mati, yang jelas semua kematian dijalani pribadi-pribadi sesuatu dengan amalah ibadah mereka.
Nah, kalau saja sampai sekarang kita masih meributkan masalah hukuman mati apa yang pantas bagi pelaku-pelaku kriminal berat, saya rasa hal itu sedikit berlebihan. Apalagi eksekusi mati ini harus dibahas di Mahkamah Agung. Betapa memalukannya bila saya yang duduk sebagai penggugat seperti Tim Pembela Muslim (TPM) atau tergugat–dalam hal ini negara.
Memang selama ini Undang-Undang Negara kita masih mengikuti pola-pola lama, yakni masih bertautan dengan sistem kolonial. Namun demikian, undang-undang tidak dibuat semata-mata demi kebaikan sang terpidana, juga pembuatannya, saya yakin dilakukan melalui proses yang lama.
Kalau saja Amrozi Cs. beranggapan bahwa hukuman pancung dapat menghilangkan penderitaan, saya rasa hal itu terlalu berlebihan. Mereka memandang hukuman pancung hanya dilakukan oleh Negara Arab, dimana kala itu timur tengah tidak pernah dijajah oleh kolonial. Bahwa kolonial hidup di masa sesudah Islam, otomatis hukuman yang diterapkan adalah hukum Islam, yakni pancung. Apalagi kala Islam berjaya (di masa Rasulullah), mereka tidak mengenal yang namanya senjata api. Wajar jika kemudian tata pelaksanaan hukuman mati dilakukan melalui pedang atau kampak. Berbeda dengan bangsa ini, ketika dimana tata cara atau perundang-undangan belum disahkan, masuklah kolonial yang kemudian membuat undang-undang pelaksanaan eksekusi mati. Hal ini, secara tidak langsung, mau atau tidak mau harus dipatuhi. Maka, jangan heran jika saat ini aturan atau tata cara eksekusi mati dilakukan dengan cara tembak.
Terorisme
Betapa simplenya kata-kata TERORISME. Diambil dari kata dasar Teror, lalu dengan mudah dibubuhi Isme. Sejak itu kata ini menjadi kata-kata paling menakutkan. Untuk menjelaskan makna terorisme, saya tentu tidak selihai dengan pengamat inteligen atau pengamat jaringan Al-Qaeda. Namun yang jelas, para pelaku teror ini tentu memiliki sesuatu yang berbeda bila dipandang dari sisi lain.
Sebut saja Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron, kebenaran mereka adalah menganggap segala sesuatu di dunia ini bersifat atributif, baik kebenaran tentang pendapat, hukum, filosofi, agama, tidak pernah dianggap substansiatif. Atau memang dimata mereka kebenaran tidak pernah menjadi kodrat tetapi selalu hanya merupakan sifat saja. Adapun ketiga pelaku tersebut dan atau kelompok tertentu yang sepaham memiliki paham "kebenaran suksesif", yaitu paham bahwa kebenaran agama terakhir menghapus dan menggantikan kebenaran agama-agama sebelumnya. Istilahnya jihad demi syahid. Paham ini teramat eksklusif dan ternyata sekaligus melawan kenyataan di lapangan. Karena kenyataannya agama-agama sebelumnya juga terus berkembang, diperbaharui, dan memiliki penganut baru yang semakin banyak. Maka bila ada paham bahwa mereka itu semuanya kafir dan pahamnya harus dibasmi dari muka bumi ini maka ciri otoriter pun nampak jelas sekali, sekaligus tidak membawa ciri 'pembawa damai' bagi seluruh alam. Bagi mereka darah syuhada (pejuang agama) adalah benih umat beriman baru. Padahal sebenarnya istilah jihad sendiri adalah bersungguh-sungguh berbuat kebaikan dengan keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah. Benarkah jihad yang dilakukan Imam Samudra adalah jihad kebaikan atau sebaliknya?
Yang jelas setiap penjuang seperti kelompok Imam Samudra cs selalu akan berhadapan frontal dengan pemerintah yang sah karena mereka selalu memilih jalan Terorisme daripada Demokrasi, yang dinilai sebagai 'agama baru' dari masyarakat kafir barat atau kebarat-baratan. Kapan dan dimana pun mereka selalu akan melecehkan muslim pejuang demokrasi atau yang akrab dengan umat agama lain seperti Aa Gym, Gus Dur, Nurcholis Madjid, Ulil, dan sebagainya. Kelompok mereka adalah 'penjuang kebenaran sejati' sedangkan kelompok moderat adalah pengecut yang senang "berzinah" dengan komunitas kafir.
Tindakan teroris bagi mereka bukanlah tindakan irasional, melainkan rasional. Kerasionalan kelompok ini terlihat jelas dalam idealisme yang diperjuangkan. Dalam setiap aksinya, kelompok teroris selalu mempropagandakan perjuangan yang belum selesai atau aspirasi yang belum tersalurkan. Tetapi perlu dilihat juga aksi tersebut juga sebagai frustrasi yang muncul dalam idealisme mereka. Pertanyaannya: mengapa terorisme selalu dijadikan instrumen perjuangan ideologi? Mengapa mereka memilih strategi perlawanan dengan bom? Dan, yang sering kali terlupakan, mengapa mereka mampu merekrut pengikut-pengikut loyal yang notabene adalah kaum muda? Pertanyaan-pertanyaan ini mestinya dilihat dengan kacamata psikologi politik. Atau mungkin mereka hanya sekedar alat sejarah tanpa disadarinya.
Namun aku setuju dengan teori psikososial Erikson dalam memahami memahami perilaku “gila” ini. Pencarian jati diri adalah permasalahan sentral dalam hidup manusia. Mencari jati diri berarti berusaha menemukan diri (siapa sih aku ini?).
Cermatilah pelaku-pelaku bom bunuh diri itu! Mereka adalah pemuda-pemuda yang masih remaja atau dewasa awal. Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka memisahkan diri dari masyarakat dan masuk ke dalam subkultur radikal seperti itu? Menurut Erikson, perkembangan jati diri manusia berjalan melalui delapan tahap yang meliputi: kepercayaan lawan ketidakpercayaan (0-1 tahun), otonomi lawan keraguan (2-3 tahun), inisiatif lawan rasa bersalah (4-5 tahun), kerajinan lawan rasa rendah diri (6-11 tahun), identitas lawan kebingungan peran (masa remaja), keintiman lawan isolasi (masa dewasa awal), generativitas lawan stagnasi (masa dewasa madya), integritas lawan keputusasaan (lanjut usia).
Dari sini kemudian saya membayangkan Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron di dalam sel yang pastilah mereka akan berfikir seperti ini: Ohh, senangnya, sebentar lagi kami akan masuk surga. Disambut oleh para bidadari bertelanjang dada. Di sana kami akan mandi di sungai susu. Selesai mandi kami akan menunjuk 4 bidadari jelita untuk melayani kami.
Setidaknya mereka akan tersenyum lega karena hendak masuk surga yang kekal abadi sebagai imbalan jasanya berjuang atas nama agama. Sementara teman-teman terorisnya yang belum tertangkap, lega karena dengan di berangkatkannya Imam Samudra dkk ke surga, informasi tentang mereka yang masih tersembunyi di kepala Imam Samudra cs akan tertutup selamanya. Aman. Begitu juga keluarga yang ditinggalkan para korban, meski hal itu tidak akan mengembalikan orang-orang terkasih yang kehilangan nyawa akibat kekuatan iman Imam Samudra cs, setidaknya hal itu bisa sedikit melegakan. Di sisi lain, pemerintah berhasil membantu mereka berhalusinasi, merasa sudah melaksanakan kewajibannya untuk menegakkan hukum. Semoga saja hukuman yang sama juga bisa ditimpakan pada para koruptor. Dan yang terakhir, guru-guru Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron, terutama guru-guru spiritualnya, mereka pasti sangat terharu dan bangga, melihat murid-muridnya sukses menjadi orang yang berguna bagi agama, bukan nusa atau bangsa.
Kini, kita pun mulai berbicara soal sebuah negara berpenduduk 200 jiwa yang terseok-seok menghadapi ancaman teror bertubi-tubi. Sebuah negara besar yang lemah dalam nyaris segala hal, kian terombang-ambing dalam apa yang disebut sebagai “Perang melawan terorisme” yang dihembuskan oleh negara-negara maju. Semua itu membuatku berpikir, pantaskah nyawa seseorang yang baik dikorbankan demi sebuah negara? Dulu di jaman Pangeran Diponegoro kita memang pernah meyakininya, begitu pula pada masa Bung Karno kita berkorban demi memerdekakan diri. Tapi sekarang, pantaskah nyawa itu dikorbankan sia-sia di negeri yang indah ini? Benarkah kata Taufiq Ismail: Malu aku jadi orang Indonesia!
KETIKA PLURALISME RAJA JAWA DIPERTARUHKAN OLEH TAHTA

28 Oktober kemarin, menjadi peringatan bersejarah kian bersejarah. Peringatan Sumpah Pemuda yang dilakukan di alun-alun Yogyakarta diwarnai peristiwa penting, yakni deklarasi Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon Presiden 2009. Dengan alasan panggilan ibu pertiwi, Sri Sultan mendeklarasikan diri masuk dalam bursa pencalonan Pilpres 2009. Benarkah Raja Jawa itu murka dengan ketidakbecusan pemerintah dalam mengurus rumah tangganya? Seandainya benar lalu apa yang musti dilakukan Sang Raja?
Teka-teki kesediaan Sri Sultan maju sebagai Presiden 2009, akhirnya terjawab sudah. Selama ini Sri Sultan dinilai banyak kalangan nggelembosi alias tidak serius. Tapi setelah deklarasi dibacakan Sri Sultan, sebaliknya, hai kalian, para kandidat presiden harus bersiap-siap menghadapi lawan yang tangguh dan sepantaran dengan kalian.
Seorang teman berkata kepada saya demikian: saya rasa perpolitikan Indonesia tahun 2009 akan semakin menarik. Sri Sultan adalah tokoh yang digadang-gadang bakal membuat Indonesia berubah. Semenjak runtuhnya kepemimpinan orde lama dan orde baru, hingga 10 tahun masa reformasi, bangsa ini cenderung lari di tempat. Bangsa ini selalu mengimpikan datangnya gong, si Messias, si Imam Mahdi, si Ratu Adil. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Kekuatan yang mampu mengubah seluruh bangunan dan isi alam pikiran, tak kunjung muncul. Setiap kali muncul orang bertopeng Ratu Adil, dari kampung mana pun, negara mana pun, dengan segala macam jubah dan kopiah, membawa cita-cita perubahan, disambut dan diterima, untuk kemudian kembali beku dalam penungguan pada penopeng Ratu Adil baru yang kurang lebih membosankan. Mereka seolah tahu bagaimana mengatasi keadaan dan melakukan perubahan, padahal tidak. Mereka tak pernah tahu bagaimana padi ditanam, tiang rumah didirikan, tak pernah mengerti bagaimana kondisi wong cilik. Hanya berkelahi ide pemikiran yang diajarkan, dan sekodi wejangan agar jadi kekasih Tuhan, menjadi semakin bukan manusia. Mengibakan. Selama ini masyarakat sudah tidak percaya dengan partai politik yang katanya menjadi motor atau mesin perjuangan bangsa. Bullshit. Pun kandidat yang ditawarkan setiap partai membuat bosan; tokohnya, ya, itu-itu saja. Puihh!
Lalu apa hubungannya Sri Sultan Hamengkuwono dengan Ratu Adil?
Saya tidak berani bilang apakah dia Ratu Adil atau bukan. Terlalu dini untuk melangkah ke arah sana. Kalau memang dikemudian hari dia Ratu Adil, ya syukurlah. Kalau tidak, maka tak perlu dibahas lagi. Biar saya ceritakan sedikit mengenai apa itu pemimpin. Seorang pemimpin mampu melintasi horizon esoterisme yang sangat luas dan meniupkan ruh baru dalam eksistensinya. Dia mampu menciptakan sebuah kreasi baru, karena perbuatan kreatifnya merupakan sesuatu yang hanya dapat dihasilkan oleh perasaan terdalam. Dalam tradisi tasawuf, pemimpin ibarat puncak tertinggi, namun seperti halnya setiap puncak selalu berhubungan dengan rangkaian pegunungan lain. Dia muncul pada saat spiritualitas telah membentuk kesempurnaan tradisi yang subur.
Yang melengkapi kepekaan sang pemimpin sejati adalah kejujuran. Kesadarannya akan kesucian dan kecakapannya memberi petunjuk terhadap hampir setiap permasalahan yang dihadapi bawahannya, bukan atas kemauannya sendiri. Namun kejujuran itu acapkali disalahartikan dan terkesan ekstrim. Dan akhir dari hasil suatu ucapan tentang kebenaran itu adalah "bermeditasi dalam kurungan". Inilah ucapan tentang kebenaran yang berakhir dengan sangat tragis sekali.
Orang-orang bijak masa lampau telah menyimpulkan tiga kriteria yang menjadi penyebab hancurnya suatu negeri di belahan dunia: Pertama, jika sang penguasa negeri menganggap bahwa negeri yang dikuasainya itu adalah milik nenek moyangnya sendiri. Kekuasaan semata penggeraknya–paksa, tindas, bunuh, rampas dan tumpas. Sehingga ia merasa berhak untuk melakukan apapun di negeri itu dengan tanpa merasa takut dan merasa malu. Bumi diibaratkan sawah ladang tempat manusia bercocok tanam di atasnya, dan manusia akan memetik dari apa-apa yang ia tanam di bumi itu. Kedua, jika hukum suatu negeri dikendalikan oleh sang penguasa negeri yang lalim, maka kebajikan akan lenyap di negeri itu. Jika kebajikan lenyap, maka orang akan menonjolkan cinta kasih. Jika cinta kasih lenyap, maka orang akan menonjolkan keadilan. Jika keadilan lenyap, maka orang akan menyusun peraturan dan undang-undang. Jika hal ini terjadi, maka ini menjadi pertanda bahwa kesetiaan dan kejujuran dari rakyat jelata sudah menipis. Sehingga kekalutan mulai merajalela karena moral semakin merosot. Ketiga, jika hak-hak azasi manusia diselewengkan dan disembunyikan serta diabaikan, maka keluhan dan jeritan tangis akan mewarnai negeri itu dan sebuah negeri akan menjadi kacau tak terkendali.
Demi kursi kebesaran, manusia tak segan-segan menghalalkan berbagai cara dari cara yang paling ringan (halus) sampai cara yang paling berat (kasar) yang pada akhirnya banyak memunculkan skenariowan-skenariowan kambuhan yang memanfaatkan situasi dan kondisi yang tak ubahnya bagaikan lingkaran setan. Bahaya kesombongan adalah merupakan awal kehancuran kharisma seorang pemimpin menjadi penguasa–lazimnya diktator. Petikan Anonymous: ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi kebenaran. Silahkan kau renungkan sendiri sejarah lengsernya double S: Soekarno dan Soeharto.
Sebaliknya kediktatoran memang bukan semata-mata warisan sistem feodal masa lampau. Biasanya, bangsa yang memilih sendiri pemimpinnya, atas nama demokrasi, beberapa kali terjebak dalam rezim dictator–semoga hal ini tidak terjadi pada bangsa ini. Contoh ekstrim adalah Hitler, yang menjadi pemimpin Jerman pada dekade 30-an karena sebagian besar rakyat Jerman menghendakinya. Namun ternyata, Hitler membawa jutaan rakyatnya ke jurang Perang Dunia II. Lalu ada pula nama-nama penguasa yang sudah tidak asing bagi kita, sebut saja Vladimir llyich Lenin, Fidel Castro, Joseph Stalin, Mao Tse Tung, Bennito Mussolini, dimana kesemua penguasa ini adalah prototipe dari manusia-manusia baja tanpa belas kasihan. Kekuasaan diktatorialnya sering diarahkan untuk meniadakan kelas dalam masyarakat, dengan harapan semua kekayaan bangsa dapat terbagi rata. Atau diktator jenis lain, dimana muncul dari keadaan ketika kelas penguasa merasa terancam. Kelas penguasa ini berusaha mengamankan kekuasaannya dengan mempertahankan situasi revolusioner. Mereka menggunakan kekuasaannya untuk mengendalikan gejolak sosial melalui teror, penipuan dan ancaman.
Tapi yang saya lihat–semoga tidak keliru–apa yang dimiliki Sri Sultan jauh dari kata kekuasaan, diktator. Pikiran-pikirannya lahir dari beribu perubahan yang terjadi dalam jiwa masyarakat pribumi. Perampasan tanah dan lapangan hidup yang kurang menyebabkan orang menjadi patriotik, lebih dari itu, menjadi nasionalis sejati. Bukan cuma Sri Sultan, tapi saya, kau, dan semua pribumi bisa melakukannya. Inilah yang terjadi pada kondisi masyarakat kita. Sudah saatnya Indonesia berubah. Negeri ini butuh seorang pemimpin yang bisa mengayomi dan bukan sekedar melibaskan diri dengan kata dan janji muluk. Negeri ini butuh seorang pemimpin yang kata-katanya didengar: Sabdo Pandhito Ratu.
Konsep pluralisme sendiri yang dianut Raja Jawa menuju RI 1 ini cukup beralasan. Kandidat mana saja pasti akan menyatakan begitu, awalnya…teorinya saja. Entah bagaimana prakteknya. Tapi saya melihat konsep Sri Sultan sangat menarik–bukan berarti saya pro Sri Sultan–melainkan ide-ide dan pemikirannya patut diacungi jempol. Dalam beberapa kesempatan dia pernah mengatakan bahwa negeri ini sudah memasuki dalam jajahan baru, yap, saya setuju itu. Jajahan baru yang dimaksud adalah bahaya laten yang datangnya dari luar yang tidak kentara. Sebut saja ketika investor memasuki negeri ini dan membawa pulang 100 prosen keuntungannya tanpa meninggalkan apapun bagi bangsa ini, apa itu bukan penjajahan namanya. Saya menyebutnya penjajahan modern. Hanya saja kita belum banyak yang menyadarinya. Inilah yang sebenarnya patut menjadi sorotan utama bukan cuma Sang Raja, juga seluruh pemimpin negeri ini. Sudah lama negeri ini jatuh ke dalam tangan asing. Kenapa di jaman modern seperti sekarang ini masih ada juga penjajahan serupa–malah tidak kentara. Menyedihkan.
Untuk bisa maju, maka, kata Sri Sultan, negeri ini butuh alat pemersatu bangsa. Apa itu? Pancasila. Hanya saja selama ini Pancasila sekedar dianggap sebagai sesuatu yang ada namun belum terealisasi dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
“Ini sudah harga mati, dan tidak bisa ditawar.” Kata Sri Sultan.
Lantas bagaimana dengan perbedaan yang terjadi di negeri ini, yang kemudian menimbulkan kekacauan dimana-mana. Dapatkan sekiranya seorang pemimpin seperti Sri Sultan mampu mengentaskan mereka dari perbedaan, mengingat image yang terbangun di masyarakat Sri Sultan berasal dari Jawa.
“Sudahkah Anda lupa dengan Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan itu suatu hal yang biasa. Justru itulah kekuatan negeri ini yang tidak dimiliki negeri lain. Kita sekarang ini bukan hidup di jaman sumpah palapa melainkan sumpah pemuda.” Lanjut Sri Sultan.
Lho, bukankah Sumpah Palapa sudah terbangun jauh sebelum bangsa ini berdiri? Bukankah Sumpah Palapa merupakan alat pemersatu bangsa saat itu?
Sedikit mengulas perbedaan Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda. Sumpah Palapa, seperti yang saya baca di buku-buku sejarah, merupakan deklarasi yang dicanangkan Maha Patih Gajah Mada Majapahit, untuk menyatukan seluruh nusantara menjadi Jawaisme. Memang pada saat itu Gajah Mada sanggup men-jawaisme-kan seluruh nusantara menjadi satu, tapi masih sebatas Jawa. Sedikit banyak terdapat di dalamnya pemaksaan budaya. Berbeda dengan Sumpah Pemuda yang dicanangkan 28 Oktober, kala itu pemuda-pemuda Indonesia merumuskan perbedaan yang ada menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu tanah air, satu darah, satu bahasa. Dalam perspektif kaidah bahasa, memang terdapat pemaksaan namun bukan pada pemaksaan budaya melainkan pemaksaan perbedaan menjadi satu kesatuan bangsa.
Namun demikian, untuk bisa menyatukan bangsa yang berbeda-beda ini, Sri Sultan, dari yang saya amati harus sanggup melepaskan diri dari keterikannya dari orang yang berasal dari kalangan bangsawan, yakni Raja Jawa. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh beliau. Dan pada kesempatan itu Sri Sultan memang sudah bertekad untuk melepas jubah kebangsawanannya. Nah, inilah satu kelebihan sekaligus kekuatan Sri Sultan yang tidak dimiliki pemimpin-pemimpin lain. Ibarat pepatah: lehernya dipertaruhkan.
Dalam banyak hal saya melihat Raja Jawa yang satu ini sangat berbeda dari pemimpin lainnya–dimana masih mengandalkan kekuatan imagenya. Sementara Sri Sultan adalah kebalikannya. Dia berasal dari ningrat tinggi jawa, merasa tahu akan kemubaziran keningratannya dan membuang segala gelarnya. Jiwanya penuh dengan rangsangan dan ledakan-ledakan untuk menyatakan diri pada dunia: bukan sebagai Wong Agung, cuma wong biasa.
Pemunculan Sri Sultan sebagai capres dapat saya nilai sebagai suatu keajaiban. Memang dalam keadaan jiwa mendambakan tindakan-tindakan begini, tak puas, biasa saja orang membuat suatu lompatan tak terduga-duga. Lompat, Sri Sultan, lompat! Sejak mendeklarasikan diri, seketika itu statusnya sebagai Wong Agung resmi diletakkan dan berbaur dengan wong cilik. Dia memang telah melakukan suatu lompatan, jauh dan sewaktu-waktu akan terjatuh, di samping itu dia takkan bisa keluar dan atau kembali menjadi Raja Jawa yang dielu-elukan rakyatnya. Itulah konsekuensinya. Dia bukan saja melakukan permainan angkling atau petak umpet anak-anak kecil, melainkan sebuah permainan penuh pertaruhan. Dengan pengalamannya memimpin, dan dengan pengalamannya sebagai Raja Jawa, boleh jadi ia akan berhasil. Ia hendak menunjukkan dengan caranya sendiri, bahwa jaman kolonial yang sekarang mewabah di negeri ini bukan masalah setempat, tapi sudah menjadi masalah nasional. Dan ia hendak mengimbanginya dengan menyatukan semua rakyat. Jika kalah, di kemudian hari mungkin orang akan menertawakannya karena telah mengambil prakarsa yang bukan berasal dari kebutuhan dan keputusan rakyat yang diembangnya–Yogyakarta.
Memang, semakin gencarnya pertarungan politik di negeri ini, menunjukkan bahwa negeri ini mengalami perkembangan aneh, seakan-akan sudah mulai terpisah dari konsep semula. Semua yang ada hanya bersumber demi kepentingan pribadi, kelompok dan atau golongan. Apa yang tidak mungkin terjadi lima tahun mendatang, pasti akan terjadi juga. Pergolakan politik semakin besar. Akibatnya keadaan negeri semakin sulit diperkirakan maupun dibendung. Terjadilah kemerosotan penghasilan negeri, penyusutan tenaga kerja, meningkatnya harga bahan makanan, malahan panen tidak banyak berhasil di banyak tempat. Semua itu menggelumbangkan perasaan tidak puas dari kota hingga pedesaan. Dan jika hal itu terjadi, maka jangan tanya apa yang bisa dilakukan negaramu, tapi tanyalah apa yang bisa dilakukan olehmu untuk negaramu. Saat ini, yah, sudah saatnya golongan bangsawan dari kerajaan untuk memimpin serta menjadikan negeri ini makin dipandang oleh dunia, bukan malah dilecehkan maupun diporak-porandakan. Pergeseran dalam tata susun sosial di Jawa memang sudah banyak kita lihat dimana-mana. Dari Brahma menjadi Kstaria, dari Brahma menjadi Waisya, atau malah dari Brahma menjadi kaum Sudra yang menyamar untuk dapat mendekatkan diri dengan wong cilik. Memang selama ini kaum nigrat selalu mendasarkan kedudukannya pada jabatan-jabatan tinggi negeri, mendapatkan kedudukannya hanya karena kebangsawannya, tapi hal itu mulai ditinggalkan mentah-mentah oleh bangsawan, jika, nanti, mereka, menjadi, Presiden.
Saya melihat gejala perkembangan baru ini dengan asyik. Tidak sebagai sesuatu yang ditentang, justru saya dan kau mesti menghadapinya sebagai problema sosial semata yang seolah-olah tak punya persangkutan dengan diri kita. Perkembangan baru itu wajar, sekalipun pembiakannya lebih bersemangat daripada sebelum-sebelumnya. Kalau ada kekecualian, dan kalau boleh saya mengatakan: ini bukan lagi reformis praktis tapi jelang revolusi.
Sabtu, 05 Juli 2008
Wawancara Imajiner Bersama Raja Iblis di Neraka Jahanam >> KETIKA OTORITAS IBLIS DIPERTANYAKAN
Jauh direlung sanubari manusia, tinggalah sesosok makhluk berperawakan seram. Gaya bicaranya lantang. Tidak mengenal aturan. Orang mengenalnya karena memiliki tabiat buruk; selalu menggoda manusia dan melawan Tuhan. Yang ia tahu hanya manusia, manusia, dan manusia. Serta bagaimana cara untuk menjerumuskan mereka ke lembah hitam (dunianya).
Ketika aku datang ke istananya (neraka jahanam) untuk wawancara, ia mengutuk, menyumpahi dan mengumpat-umpat diriku. Maklum, saat itu aku sedang melakukan interview mengenai kematian yang melanda negeri ini. Berikut wawancara imaginer bersama raja iblis.
Aku: Assalamualaikum?
Iblis: !!!???? (tidak menjawab)
Aku: Selamat malam Pak Iblis?
Iblis: Hei, kamu! Kenapa manusia seperti kamu bisa masuk ke tempat ini. Bagaimana caranya kamu masuk ke sini.
Aku: Maaf, saya ke sini karena punya press card. Saya dari wartawan. Kedatangan saya mau mewawancarai Anda.
Iblis: Ha, press card. Apa itu! Kok saya baru tahu sekarang.
Aku: Press card adalah identitas yang harus dimiliki oleh setiap wartawan. Oleh karena itu saya bebas melakukan apa saja. Sebab dengan press card, saya dilindungi undang-undang. Dengan kata lain, press card yang saya gunakan ini merupakan suatu amalan suci yang muncul dari rasa sehingga dapat menjadi akses bertemu dengan Tuhan. Maka dari itu mudah sekali menemukan Anda.
Iblis: Hmm, boleh juga nih press card. Kalau saja aku mempunyai press card itu, pasti aku akan dengan leluasa masuk ke dalam hati setiap manusia dan merong-rong mereka.
Aku: Oh iya, Pak Iblis. Anda kan dikenal orang suka menggoda manusia. Bagaimana Anda menangkap fenomena yang melanda negeri kita ini.
Iblis: Sontoloyo, siapa yang bilang saya membunuh orang. Suruh ke sini orangnya, biar kumakan hidup-hidup (Marah-marah).
Aku: Maaf Pak Iblis, saya tidak menuduh Anda membunuh manusia tapi menganggu. Nah, kedatangan saya ini hanya sekedar ingin tahu pendapat Pak Iblis.
Iblis: Soal kematian itu semua urusan Izroil. Sedang bencana yang turun sekarang adalah hasil dari ketrampilan Isrofil yang meniup sangkalanya atas perintahNya. Otoritas saya bukan di situ. Kamu tahu enggak soal tindakan tidak sinergi yang dilakukan Gus Nur, Dai dari Banten!
Aku: Tidak, emangnya kenapa?
Iblis: Dasar kamu ini manusia bebal, goblok, dan pendosa. Katanya wartawan tapi kok tidak tahu apa-apa. Pasti kamu wartawan grandong ya! Gus Nur itu asalnya dari Banten. Ia datang ke Pasuruan untuk melakukan aksi penguburan hidup-hidup.
Aku: Lalu apa hubungannya dengan kematian?
Iblis: Kamu itu guobloknya tidak ketulungan. Entar tak panggilkan Izroil baru tahu rasa kamu. Saya ini baru mau menjelaskan otoritas saya sebagai iblis. Kamu bayangkan saja, masa ada Dai, Ustad, atau Kyai (terserah apa namanya) ingin dikubur hidup-hidup dengan maksud dakwah. Begitu saya melihat Gus Nur, itulah kesempatan saya untuk menggodanya. Yang dilakukan Gus Nur bukan semata-mata karena Allah. Semua itu murni dari saya. Hahaha....(menyombongkan diri)
Aku: Berarti yang dilakukan Gus Nur salah dong.
Iblis: Dalam kamus saya tidak ada salah dan benar. Yang penting saya enjoy aja melakukan tugas. Apalagi ketika aksi itu diliput oleh televisi swasta, Gus Nur bilang, bahwa tujuannya dikubur hidup-hidup sekedar ingin merasakan bagaimana rasanya mati. Saya rasa itu adalah contoh yang sangat radikal bagi kebanyakan orang. Belum satu jam dikubur, 5 menit kemudian Gus Nur sudah minta tolong. Katanya sih konsentrasi buyar gara-gara terlalu banyak orang. Untung saja teman saya Izroil tidak datang. Sebab ia sibuk mengurusi nyawa-nyawa yang ada di Asia.
Aku: Oh begitu toh. Jadi selama ini jumlah kematian yang didera oleh bangsa Indonesia adalah salah satu dari refleksi keagungan Tuhan.
Iblis: Terserah bagaimana kamu memandangnya. Yang jelas, saya melihat dunia sudah terbalik. Orang hidup pengin mati, dan orang mati pengin hidup. Inilah tanda-tanda akhir jaman. Kejadian yang menimpa anak bangsa adalah sebagai akibat dari perbuatan manusianya sendiri. Sebenarnya Tuhan mengirimkan bencana ini sebagai peringatan kepada manusia agar segera bertaubat. Tapi jangan sampailah, sebab tugas saya nanti bisa terhambat. Kalau semua orang bertaubat, lalu saya makan apa. Pokoknya saya melihat Tuhan mempunyai maksud tertentu dibalik itu.
Aku: Kalau menurut pandangan Anda yang sudah lama bergelut di dunia per-iblisan, bahkan Anda pun telah naik jabatan karena prestasi gemilang menggoda manusia, lalu apa sih sebenarnya maksud Tuhan menurunkan bencana sebesar itu?
Iblis: Telah lama bangsa ini mengalami krisis moral (sekali lagi ia menyombongkan diri atas keberhasilannya). Para pejabat yang sudah duduk di atas sana, lupa terhadap nasib wong cilik. Mereka silih berganti memperkaya diri dengan cara mereguk uang negara. Korupsi terjadi dimana-mana. KKN menjadi momok menakutkan bagi kalangan kecil. Sehingga rakyat pun bengok-bengok ketika harga BBM naik. Presiden dan Wakilnya tidak berhasil memberantas kekejaman korupsi. Sebab yang melakukan korupsi adalah bawahannya sendiri.
Aku: Selain itu adakah tendensi lain atas ketidakteraturan negeri ini, termasuk bencana yang melanda negeri ini?
Iblis: Banyak. Saya melihat selain bencana itu murni faktor alam, rupanya Tuhan telah berkata lain. Ia (Tuhan) melihat begitu banyak ketidakteraturan yang menimpa negeri ini, bahkan negeri tetangga sekalipun (Thailand, Srilangka, Malaysia). Korban berjatuhan dimana-mana. Saya sempat tertawa melihatnya. Para malaikat tidak berhasil menggugah nurani manusia. Sehingga Tuhan pun murka.
Aku: Ha murka!!??? Emangnya Tuhan punya rasa, emosi dan hati sehingga ia dapat murka.
Iblis: Ya tidak sih. Setidaknya ia pernah murka kepada kami (para iblis) yang menolak diciptakannya manusia. Sehingga kami harus menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Kalau kamu mau jadi penghuni berikutnya, silahkan saja saya menerimamu dengan tangan terbuka. Bahkan kalau kamu bersedia kamu akan saya jadikan penasehatku. Gimana?
Aku: Tidak, terima kasih. Oh iya pak iblis, saya melihatnya kok tidak begitu. Tuhan tidak murka. Dalam Al-Quran tak pernah disebutkan bahwa Tuhan murka. Saya melihat semua itu hanyalah kehendakNya. Apa yang dilakukan Tuhan terhadap iblis adalah kehendakNya pula.
Iblis: Sontoloyo, aku bilang Tuhan murka, ya murka. Saya benci sama Dia.
Aku: Lho-lho Anda kok selalu marah sih. Tidak seharusnya Anda marah. Sebab tugas iblis adalah membujuk manusia ke jalan yang sesat. Jika Anda marah berarti di dalam Anda ada iblisnya juga dong. Apalagi wawancara ini hanya sekedar imaginer.
Iblis: Pergi sana dan jangan kembali lagi ke sini jika tak ingin nyawamu melayang. (Dia mengusir saya dari kerajaannya).
Ketika aku datang ke istananya (neraka jahanam) untuk wawancara, ia mengutuk, menyumpahi dan mengumpat-umpat diriku. Maklum, saat itu aku sedang melakukan interview mengenai kematian yang melanda negeri ini. Berikut wawancara imaginer bersama raja iblis.
Aku: Assalamualaikum?
Iblis: !!!???? (tidak menjawab)
Aku: Selamat malam Pak Iblis?
Iblis: Hei, kamu! Kenapa manusia seperti kamu bisa masuk ke tempat ini. Bagaimana caranya kamu masuk ke sini.
Aku: Maaf, saya ke sini karena punya press card. Saya dari wartawan. Kedatangan saya mau mewawancarai Anda.
Iblis: Ha, press card. Apa itu! Kok saya baru tahu sekarang.
Aku: Press card adalah identitas yang harus dimiliki oleh setiap wartawan. Oleh karena itu saya bebas melakukan apa saja. Sebab dengan press card, saya dilindungi undang-undang. Dengan kata lain, press card yang saya gunakan ini merupakan suatu amalan suci yang muncul dari rasa sehingga dapat menjadi akses bertemu dengan Tuhan. Maka dari itu mudah sekali menemukan Anda.
Iblis: Hmm, boleh juga nih press card. Kalau saja aku mempunyai press card itu, pasti aku akan dengan leluasa masuk ke dalam hati setiap manusia dan merong-rong mereka.
Aku: Oh iya, Pak Iblis. Anda kan dikenal orang suka menggoda manusia. Bagaimana Anda menangkap fenomena yang melanda negeri kita ini.
Iblis: Sontoloyo, siapa yang bilang saya membunuh orang. Suruh ke sini orangnya, biar kumakan hidup-hidup (Marah-marah).
Aku: Maaf Pak Iblis, saya tidak menuduh Anda membunuh manusia tapi menganggu. Nah, kedatangan saya ini hanya sekedar ingin tahu pendapat Pak Iblis.
Iblis: Soal kematian itu semua urusan Izroil. Sedang bencana yang turun sekarang adalah hasil dari ketrampilan Isrofil yang meniup sangkalanya atas perintahNya. Otoritas saya bukan di situ. Kamu tahu enggak soal tindakan tidak sinergi yang dilakukan Gus Nur, Dai dari Banten!
Aku: Tidak, emangnya kenapa?
Iblis: Dasar kamu ini manusia bebal, goblok, dan pendosa. Katanya wartawan tapi kok tidak tahu apa-apa. Pasti kamu wartawan grandong ya! Gus Nur itu asalnya dari Banten. Ia datang ke Pasuruan untuk melakukan aksi penguburan hidup-hidup.
Aku: Lalu apa hubungannya dengan kematian?
Iblis: Kamu itu guobloknya tidak ketulungan. Entar tak panggilkan Izroil baru tahu rasa kamu. Saya ini baru mau menjelaskan otoritas saya sebagai iblis. Kamu bayangkan saja, masa ada Dai, Ustad, atau Kyai (terserah apa namanya) ingin dikubur hidup-hidup dengan maksud dakwah. Begitu saya melihat Gus Nur, itulah kesempatan saya untuk menggodanya. Yang dilakukan Gus Nur bukan semata-mata karena Allah. Semua itu murni dari saya. Hahaha....(menyombongkan diri)
Aku: Berarti yang dilakukan Gus Nur salah dong.
Iblis: Dalam kamus saya tidak ada salah dan benar. Yang penting saya enjoy aja melakukan tugas. Apalagi ketika aksi itu diliput oleh televisi swasta, Gus Nur bilang, bahwa tujuannya dikubur hidup-hidup sekedar ingin merasakan bagaimana rasanya mati. Saya rasa itu adalah contoh yang sangat radikal bagi kebanyakan orang. Belum satu jam dikubur, 5 menit kemudian Gus Nur sudah minta tolong. Katanya sih konsentrasi buyar gara-gara terlalu banyak orang. Untung saja teman saya Izroil tidak datang. Sebab ia sibuk mengurusi nyawa-nyawa yang ada di Asia.
Aku: Oh begitu toh. Jadi selama ini jumlah kematian yang didera oleh bangsa Indonesia adalah salah satu dari refleksi keagungan Tuhan.
Iblis: Terserah bagaimana kamu memandangnya. Yang jelas, saya melihat dunia sudah terbalik. Orang hidup pengin mati, dan orang mati pengin hidup. Inilah tanda-tanda akhir jaman. Kejadian yang menimpa anak bangsa adalah sebagai akibat dari perbuatan manusianya sendiri. Sebenarnya Tuhan mengirimkan bencana ini sebagai peringatan kepada manusia agar segera bertaubat. Tapi jangan sampailah, sebab tugas saya nanti bisa terhambat. Kalau semua orang bertaubat, lalu saya makan apa. Pokoknya saya melihat Tuhan mempunyai maksud tertentu dibalik itu.
Aku: Kalau menurut pandangan Anda yang sudah lama bergelut di dunia per-iblisan, bahkan Anda pun telah naik jabatan karena prestasi gemilang menggoda manusia, lalu apa sih sebenarnya maksud Tuhan menurunkan bencana sebesar itu?
Iblis: Telah lama bangsa ini mengalami krisis moral (sekali lagi ia menyombongkan diri atas keberhasilannya). Para pejabat yang sudah duduk di atas sana, lupa terhadap nasib wong cilik. Mereka silih berganti memperkaya diri dengan cara mereguk uang negara. Korupsi terjadi dimana-mana. KKN menjadi momok menakutkan bagi kalangan kecil. Sehingga rakyat pun bengok-bengok ketika harga BBM naik. Presiden dan Wakilnya tidak berhasil memberantas kekejaman korupsi. Sebab yang melakukan korupsi adalah bawahannya sendiri.
Aku: Selain itu adakah tendensi lain atas ketidakteraturan negeri ini, termasuk bencana yang melanda negeri ini?
Iblis: Banyak. Saya melihat selain bencana itu murni faktor alam, rupanya Tuhan telah berkata lain. Ia (Tuhan) melihat begitu banyak ketidakteraturan yang menimpa negeri ini, bahkan negeri tetangga sekalipun (Thailand, Srilangka, Malaysia). Korban berjatuhan dimana-mana. Saya sempat tertawa melihatnya. Para malaikat tidak berhasil menggugah nurani manusia. Sehingga Tuhan pun murka.
Aku: Ha murka!!??? Emangnya Tuhan punya rasa, emosi dan hati sehingga ia dapat murka.
Iblis: Ya tidak sih. Setidaknya ia pernah murka kepada kami (para iblis) yang menolak diciptakannya manusia. Sehingga kami harus menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Kalau kamu mau jadi penghuni berikutnya, silahkan saja saya menerimamu dengan tangan terbuka. Bahkan kalau kamu bersedia kamu akan saya jadikan penasehatku. Gimana?
Aku: Tidak, terima kasih. Oh iya pak iblis, saya melihatnya kok tidak begitu. Tuhan tidak murka. Dalam Al-Quran tak pernah disebutkan bahwa Tuhan murka. Saya melihat semua itu hanyalah kehendakNya. Apa yang dilakukan Tuhan terhadap iblis adalah kehendakNya pula.
Iblis: Sontoloyo, aku bilang Tuhan murka, ya murka. Saya benci sama Dia.
Aku: Lho-lho Anda kok selalu marah sih. Tidak seharusnya Anda marah. Sebab tugas iblis adalah membujuk manusia ke jalan yang sesat. Jika Anda marah berarti di dalam Anda ada iblisnya juga dong. Apalagi wawancara ini hanya sekedar imaginer.
Iblis: Pergi sana dan jangan kembali lagi ke sini jika tak ingin nyawamu melayang. (Dia mengusir saya dari kerajaannya).
Langganan:
Postingan (Atom)